Impact Istighfar

Impact Istighfar

Kereta Api (KA) adalah kendaraan yang biasa saya gunakan saat kuliah hingga
saat ini. Kisah kecil ini terjadi di KA Ekonomi trayek Jakarta-Bogor saat
saya masih duduk di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu. KA yang akan
saya naiki dari stasiun Citayam tidak begitu penuh dengan penumpang dari
biasanya. Ya, kira-kira jam sepuluh pagi dimana frekuensi dan kuantitas
penumpang yang bekerja dari arah Bogor menuju Jakarta sudah mulai menurun.

Suara khas rem KA terdengar, KA tepat berhenti di depan saya. Tanpa
memperhatikan keadaan sekitar saya langsung menaiki KA. Seketika saja
beberapa orang langsung mengelilingi saya tanpa alasan yang jelas.
Sepengetahuan saya mereka berjumlah tak kurang dari enam orang. Salah
satunya berdiri di depan saya, dan yang lainnya berputar-putar. Ada juga
yang mengalihkan perhatian, agar saya lupa dan tidak menguasai keadaan.

Hampir jatuh saya dibuatnya, karena tangan kiri yang memegang pintu KA
terlepas. Saya baru sadar bahwa tangan saya yang kanan masih berada dalam
kantong celan jeans yang saya kenakan. Rupanya copet-copet (mohn ma'af,
nampaknya tepat jika saya juluki dengan kata ini) tersebut memang mengincar
telephone genggam yang masih saya genggam erat di kantong celana jeans saya
yang di sebelah kanan. Kontan ketika mereka masih melakukan aksi tidak
baiknya, saya baru ingat bahwa mereka adalah copet-copet yang senantiasa
beroperasi di KA ekonomi.

Astaghfirullah Al adzim...!!!! Teriak saya spontan. Ketika saya mengucapkan
lafadzh istighfar, dua orang dari mereka terjatuh ke lantai KA yang sudah
mulai menambahkan kecepatannya menuju stasiun Depok Lama. Beberapa dari
mereka ada berkata, ayo..cepat kita tinggalin aja... Saat itu pandangan
mereka kearah saya seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka
pun berpencar menjadi dua bagian seperti ingin cepat-cepat meninggalkan
saya. Saya pun kebingungan dan merasakan keanehan. Rupanya ketika perasaan
dan hati saya limbung dan kosong, ucapan istighfar yang keluar spontan dari
mulut seperti menghasilkan kekuatan yang ekstrim bagi copet-copet itu.
Akhirnya mereka pun menggagalkan rencana tanpa hasil.
"*Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan
Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang
penolong" (QS: 2.107)*

Saya baru teringat dengan cerita salah seorang guru mengaji saya, inilah
yang di namakan dengan matematika Allah. Jika kita berada pada posisi nol
atau pasrah tanpa kekuatan, maka disitulah akan datang satu kekuatan yang
Maha Dahsyat. Bilangan nol di bagi satu akan menghasilkan bilangan tak
terhingga (0/1=~). Itulah kekuatan Allah yang tak terhingga yang akan
menolong kita pada saat kita pasrah atau nol.
*Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat
lehernya, (QS 50.16)*

Subhanallah, saya bersyukur ternyata Allah masih melindungi saya dalam
situasi seperti itu. Lafadzh istighfar yang begitu singkat ternyata
memberikan impact dan pertolongan yang luar biasa jika kita ucapkan dengan
ikhlas dan pasrah meyakininya dalam situasi apapun. Wallahua'alam
bish-showab

Guru Untuk Peradaban Dunia

Resensi
Guru Untuk Peradaban Dunia
Penulis Haryanto

Rasulullah adalah pemimpin ulung dan manajer terhebat sepanjang sejarah kemanusiaan. Sisi kehidupannya sarat dengan hikmah yang dapat digali dari berbagai dimensi kehidupan.

Beliau bukan hanya seorang rasul, tapi juga seorang leader, manajer yang paling mumpuni, dan paling super di dunia ini. Khususnya dalam mengelola sumber daya manusia untuk mencapai visi dan misi kerasulan beliau, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pengertian manajemen yang sesungguhnya, unsur-unsur manajemen yang dapat dikembangkan, prinsip-prinsip manajemen yang dikembangkan oleh Rasulullah dan perbedaan antara manajer dan leader yang dikelola oleh Rasulullah saat itu.

Beliau adalah sosok yang digambarkan sebagai tokoh yang memiliki manajer handal dan leadership yang kuat dalam arti untuk kemaslahatan kehidupan umat serta keseimbangan sistem semesta alam.

Seorang guru dapat mencontoh Rasulullah dalam mengelola murid-muridnya. Karena manajemen Rasulullah terbukti menghasilkan murid-murid yang luar biasa semisal Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Seorang Jendral dapat mencontoh manajeman Rasulullah dalam melahirkan prajurit-prajurit yang hebat semacam Khalid bin Walid, panglima perang yang tiada tanding di medan perang sedangkan Usamah adalah panglima perang termuda berusia belasan tahun.

Seorang ilmuwan juga dapat mencontoh Rasulullah dalam melahirkan ilmuwan dan para pemikir ulung, semisal Umar yang terkenal dengan ijtihad-ijtihadnya yang berilyan. Abu Hurairah dengan kekuatan hafalannya dalam mengumpulkan hadits, dan Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas, Ali dan Aisyah yang merupakan ahli-ahli hukum kenamaan yang dimiliki Islam.

Manajemen Rasulullah memiliki keunikan dan menarik. Karena tugas beliau sebagai nabi dan rasul yang tidak dapat dipisahkan dengan tugas-tugas dakwah. Hal ini yang menjadikan gambaran bahwa Rasulullah memiliki agenda besar dalam dakwahnya. Bukan dilakukan secara kebetulan, semuanya dengan perencanaan.

SDM Rasulullah juga dapat dipetakan berdasarkan potensi dan kompetensinya. Ada yang potensinya tinggi namun kompetensinya randah. Atau kompetensinya tinggi tapi potensinya rendah. Atau yang paling parah, potensi dan kompetensinya sama-sama rendah namun ternyata Rasulullah dapat mengelola SDM tersebut sehingga menghasilkan yang terbaik.

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana prestasi dan kinerja Rasulullah dalam mengelola proyek-proyek besarnya. Di mulai dari proyek perbaikan umat manusia, proyek rekrutmen kader, proyek pembinaan keluarga, dan proyek pembinaan kader yang dikaitkan dengan teori pengembangan karir pegawai.

Ilmuwan AS, Michael H Hart mengakui prestasi Rasulullah sebagai tokoh nomor wahid dunia. Beliau tidak saja berhasil mengembangkan Islam, namun juga membangun peradabannya hingga jauh melampaui peradaban Persia dan Romawi.

Cara Rasulullah mengelola SDM yang unik dan menarik membuat penulis ingin mengkorelasikan dengan teori-teori SDM sehingga dapat dijadikan acuan para HRD untuk dapat mengelola karyawan dan dapat menjadi sebuah konstribusi yang besar dalam membangun SDM muslim yang berkualitas menuju umat yang adil, makmur, dan sejahtera. Rena Anggraini/Erlan.

Judul Buku: Rasulullah, Way of Managing People
Penulis: Haryanto
Penerbit: Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Group)
Cetakan Kedua
Tebal : 292 halaman

Airmata Keinsafan, Airmata Kebahagiaan

Oleh : m45key
From : daarut-tauhid

Jika Muhammad bin Munkadir menangis, dia mengusap wajah dan janggutnya dengan airmatanya, lalu berkata, “Aku mendengar bahwa api neraka tidak akan membakar tempat yang terbasuh oleh airmata.”

Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh kedua mata ini menangis, meskipun ada hati yang bersaksi atas kebohongan keduanya. Dan jika seorang hamba menangis di tengah-tengah orang banyak, maka orang-orang yang ada di sekelilingnya itu akan dirahmati tangis hamba itu.”

Ja’far bin Sulaiman adh-Dhab’i berkata, “Suatu ketika Malik bin Dinar memberi nasihat, maka dia mulai berbicara. Hausyab bin Muslim pun menangis, lantas Malik menepuk pundaknya dan berkata, “Menangislah wahai Abu Bisyr! Sesungguhnya kami mendengar kabar, bahwa seorang hamba akan selalu menangis hingga dia dikasihi oleh Tuhannya, maka dibebaskanlah dia dari api neraka.”

Abdullah bin Sarraj berkata, “Suatu hari kita sedang berada di majelis al-Hasan, ketika itu dia sedang memberi nasihat. Dari pojok majelis terdengar dengan jelas suara tangis seorang lelaki. Maka al-Hasan berkata, “Wahai orang yang menangis, keraskanlah! Sesungguhnya kita telah mengetahui, bahwa seorang yang menangis karena takut kepada Allah akan menjadi orang yang dikasihi pada hari kiamat.”

Hamzah al-A’ma berkata, “Suatu kali aku masuk rumah al-Hasan. Saat itu aku dapati dia sedang menangis. Pada kesempatan yang lain aku dan beberapa orang mendatanginya, kita pun mendapatinya sedang menangis. Terkadang aku datang pada saat dia sedang shalat, kemudian aku mendengarnya sedang menangis. Suatu ketika aku tanyakan hal ini kepadanya, ‘Wahai Abu Sa’id (panggilan al-Hasan), sungguh engkau orang yang banyak menangis?’ Maka dia pun menangis lagi, dan berkata, ‘Wahai anakku, lalu apa yang dapat dilakukan oleh seorang mukmin jika dia tidak menangis? Wahai anakku, sesungguhnya tangis adalah sebab turunnya belas kasih Allah. Jika engkau bisa menangis sepanjang umurmu, maka lakukanlah, semoga Allah melihatmu saat engkau menangis, lalu engkau dikasihi oleh-Nya karena tangisanmu itu, dan tanpa kau sadari, kau dapati dirimu telah selamat dari api neraka.”

Abdu Rabbih bin Ubaid al-Azdi berkata, “Dulu kita pernah bersama Mu’awiyah bin Qurah. Lalu dia bercerita sedikit, maka seorang lelaki terdengar jelas sedang menangis di sisi majelis. Mu’awiyah berkata kepadanya, ‘Semoga Allah menjadikanmu kaya atas apa yang kau tangisi’. Setelah itu majelis penuh dengan tangisan.”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Tidak ada seorang hamba yang menangis karena Allah, melainkan anggota badannya menjadi khusyu’ karenanya.”

Sahabatku, demi penyegaran batin kita, cobalah sesekali kita mengikuti acara muhasabah. Saat itu akan terasa keinginanmu untuk menangisi dosa-dosamu semakin kuat. Mendengar suara tangisan orang lain, engkaupun bertanya, mengapa orang itu menangis. Kemudian engkau dengarkan untaian kata-kata penuh hikmah yang disampaikan seorang penceramah. Engkau resapi. Engkau dalami. Engkau terpekik sadar. Hatimu remuk oleh rasa penyesalan yang mendalam. Akhirnya airmata meleleh membasahi pipi. Mulutmu berbisik, “Rabbighfirli. ..”

Subhanallah! Ini bukan cerita tentang kesedihan, tetapi inilah kebahagiaan sesungguhnya. Ini bukan cerita tentang kesakitan, tetapi kesegaran! Ini bukan cerita tentang orang yang akan mati, tetapi banyak pemuda menangis juga! Bagaimana mungkin airmata keinsafan dipandang sebagai airmata kesedihan dan kesakitan, sedangkan orang-orang saleh dari dulu hingga sekarang telah mewarisi tangisan?

Sahabatku, mereka adalah orang yang paling bahagia di dunia dan akhirat! Mereka adalah orang yang paling produktif beramal dan paling bersih hatinya. Justru orang-orang yang berakhlak buruk, jauh dari agama, adalah orang-orang yang sakit, gelisah dan keras hatinya.

Cinta Itu keikhlasan

Cinta Itu keikhlasan

By: agussyafii

Cinta terkadang membutuhkan keikhlasan menerima. keikhlasan dalam cinta menempatkan diri kita ke dalam diri orang lain. Memahami segenap perasaan dan keinginannya. Itulah yang juga terjadi pada diri seorang pemuda yang baru pulang bekerja di Arab. Pemuda itu menghubungi ayah dan ibunya yang berada dikampung.

'Ayah, ibu..saya akan pulang.' katanya.

'Syukurlah nak..ayah & ibu berbahagia.' jawab kedua orang tuanya.

'Tapi bu..' 'Tapi apa nak?'tanya ibunya.

'Saya akan membawa pulang teman. Teman ini mengalami kecelakaan kerja. Kaki dan tangannya patah. Bolehkah saya membawa ibu?' Kata pemuda itu.

'Kami turut berduka nak atas peristiwa itu, mungkin kita bisa membantunya untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak untuknya.' jawab ayahnya.

'Tidak ayah, saya ingin dia hidup bersama kita.'jawab pemuda itu.

'Sudahlah, cepatlah pulang. Kami, ayah dan ibumu sudah rindu pada dirimu nak..urusan yang lainnya nanti kita urusan setelah engkau tiba dikampung halaman.' jawab ayahnya.'

Setelah pembicaraan itu, seminggu kemudian ayah dan ibunya dikampung mendapatkan kabar dari polisi di jakarta bahwa putranya meninggal dunia akibat kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kedua orang tua itu langsung ke Jakarta diantar ke kamar jenazah untuk mengindentifikasi jenazah anaknya. Mereka mengenali dengan jelas wajah putranya namun betapa terkejutnya mereka, jenazah putranya hanya dengan tangan sebelah dan kaki sebelah.

Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta

By: agussyafii

Orang yang berada di dalam rumah atau orang-orang disekeliling kita juga termasuk anak-anak kita cenderung berbuat didasarkan apa yang dipikiran kita. Pikiran kita terkadang memiliki kekuatan menggerakkan orang-orang disekeliling kita. Misalnya ketika saya menulis tentang cerita cinta hampir setiap hari saya bertemu dengan berbagai orang dijalanan, di kantor, tetangga tumah bahkan termasuk anak dan istri saya yang senantiasa bertemu dengan wajah senyum. sayapun sempat berpikir, 'apa karena saya ge-er ya..?'

Namun setelah saya ingat, awalnya saya menelaah hadis Nabi tentang 'Man la yarham, la yurham' barang siap tidak menyayangi, tidak akan disayangi (HR Muslim) saya merasakan betul kekuatan cinta seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhamad SAW. Cinta menyebar bagaikan virus, menyebar keseluruh penjuru disetiap relung. Merubah energi negatif menjadi kekuatan yang membuat dunia menjadi indah.

Apa yang terjadi diri kita dengan orang-orang disekeliling kita adalah hasil pikiran dan perasaan kita itulah sebabnya kita bertanggungjawab terhadap apapun yang kita pikirkan. Keputusan kita untuk mengubah citra seseorang menjadi berbeda dalam kerangka positif membuat diri kita menjadi lebih nyaman terhadap diri sendiri. Dalam kesendirian kita suka berpikir, apakah kita bahagia? ternyata kita sendirilah yange menentukan pikiran dan perasaan kita untuk menciptakan kebahagiaan itu.

Hidup bahagia adalah wujud kekuatan cinta. Cinta merupakan bahan bakar yang sungguh dahsyat dalam diri kita yang melahirkan pengakuan diri, hubungan baik dengan orang lain. Energi cinta dan sentuhan menjadikan tubuh kita menjadi lebih lembut dan terbebas dari Energi negatif. Seperti malam ini Hana sebelum tidur menyempatkan mencium pipi saya dengan mengucap, 'Hana sayang ayah..' Itulah kekuatan cinta.

Kala Airmata Itu Mengalir

Kala Airmata Itu Mengalir

By: agussyafii

Kala airmata itu terus mengalir cukuplah Alloh SWT sebagai pelindungku, itulah yang diucapkan oleh seorang teman, perempuan yang begitu tegar dalam hidupnya tetapi senantiasa berpikir bahwa hidupnya penuh keberkahan. Pernikahannya yang pertama mengalami kegagalan. Hatinya gundah, airmatanya mengalir dengan kepasrahan bahwa hidup dan matinya hanya untuk Alloh semata.

Walau hanya dengan 'kaki sebelah' dirinya sanggup untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. perlahan semuanya membaik, Anak-anaknya bangkit. awal dirinya diterima disalahsatu perusahaan hingga dirinya dipercaya sebagai salah petinggi diperusahaannya, tantangannya semakin berat.

'Saya selalu membaca tulisan-tulisan Mas Agus dan semakin menguatkan saya, benteng perlindungan yang paling aman hanyalah Alloh SWT' begitu yang dikatakannya pada saya.

Beliau bertutur bahwa setiap kali dalam kesulitan selalu membaca ayat suci al-Quran seolah Alloh SWT menuntunnya untuk menemukan jawabannya. Pernah sehabis sholat subuh saya membaca surat an-Naml, seolah Alloh SWT mengingatkanku agar menjadi pemimpin yang arif dan bijak. aku selalu membaca surat al-kahfi agar diberi kekuatan lahir dan batin dalam mengaruhi hidup yang kian tidak menentu ini.

Tak lama ujian berikutnya tiba, ketika dirinya diharuskan berhadapan dengan pengadilan karena urusan sengketa. Sekuat apapun sebagai seorang perempuan dirinya hanya bisa bersujud dihadapan Alloh SWT memohon ampunanNya. 'Inilah bukti Alloh mencintai hamba-hambaNya yang dilimpahkan karunia dengan berbagai bentuk.' berkat doanya yang selalu dipanjatkan, kebiasaannya yang selalu membantu orang tetap saja dilakukan, disaat teman-temannya mengingatkan tentang dirinya yang terlalu baik terhadap orang lain.

Kebiasaannya yang selalu membantu orang lain, tetangganya yang selalu kesusahan menjadikan rumahnya sebagai pilihan pertama untuk meminta pertolongan tetap dilakukan sekalipun dirinya dirundung berbagai masalah, 'begitulah orang tua saya mendidik untuk selalu membantu orang lain.'katanya.

Sampai keputusan dipengadilan menyatakan dirinya menang, banyak teman-temannya yang terheran bagaimana mungkin dirinya bisa menang dipengadilan? 'hanya Alloh yang Maha Mengatur semuanya..'begitu jawabnya.

'Saya rasakan Alloh SWT melimpahkan karuniaNya buat kami sekeluarga, rizki yang kami terima juga mengalir untuk orang-orang disekeliling kami yang membutuhkan karena kami yakin, kami hanyalah pintu rizki bagi mereka..alhamdulill ah, terima kasih ya Alloh....ucapnya dengan penuh rasa syukur.

'Sesungguhnya Allah membantu dan menolong orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan' (QS. An-Nahl ayat 128)

Anak Perempuan Kecil itu dan ojek payungnya

Anak Perempuan Kecil itu dan ojek payungnya

Kejadiannya hari Jum'at di bulan February 2009 yang lalu, selesai makan
siang di Mall Ambasador.
Hujan deras, sementara aku harus segera kembali ke kantor, bagaimana pun
caranya.
Walaupun lokasi kantor dan Mall Ambasador sangat dekat (cuma nyebrang saja),
tapi hujan yang deras gak mungkin di terjang begitu saja. Alhasil Ojek
payung pun menjadi alternatif utama.

Ketika itu berdiri tepat didepanku seorang anak perempuan kecil yang masih
mengenakan seragam putih merah. Lusuh, basah kuyup, menggigil, sambil
memegang payung dan menawarkan jasa mengantar ku ke tempat tujuan.
Sempat sedikit terenyuh melihat wajah lugu anak perempuan itu, dan lalu
menerima jasanya untuk mengantarku kesebrang.
Sepanjang perjalanan itu sedikit pertanyaan terlontar dariku. Kira-kira
obrolan singkat kami seperti ini :

Tera (T) : "Kok masih pakai seragam sekolah?? bolos ya?"

Ojek Payung (OP) : "Udah pulang bu.. terus langsung ngojek payung.."

T : "Emang kamu kelas berapa sekolahnya?? kok enggak ganti baju dulu sih..??
Kan bajunya bisa kotor lho.."

OP : "Saya kelas 3 Bu. Enggak sempet bu, soalnya ibu saya udah nyuruh supaya
cepetan ngojekin payung disini.."

T : "Lhoo.. emang uang hasil ojek payung ini untuk apa?? untuk jajan kamu
atau untuk ibu kamu dek?"

OP : "Buat ibu saya Bu, trus kalo ada sisa baru deh buat beli buku tulis dan
pensil."

*aku sempet terdiam mendenger jawaban polos anak perempuan itu*

T : "emangnya bapak kamu kemana?? kamu punya kakak nggak??"

*dua pertanyaan itu sepertinya sedikit membuat bingung anak itu. Maka aku
ulangi dengan lebih pelan*

T : "Bapak kamu kerja dimana dek?"

OP : "Bapak saya enggak ada Bu.."

T : "Kemana..? " *duuhh ini sungguh pertanyaan bodoh yang spontan terlontar*

OP : "Enggak tau kemana. Dari kecil saya enggak pernah ketemu bapak saya
Bu.."

*aku bener-bener ngerasa bersalah atas pertanyaan itu. Sungguh, seketika
pengen banget peluk anak perempuan kecil itu dan bilang : tinggal sama kakak
aja yuk, biar gak perlu hujan-hujanan cari uang seperti ini... :((

T : "Kamu punya kakak??"

OP : "Enggak punya Bu. Adanya adek, 2 orang"

*haduuhhh, aku semakin terenyuh sama keadaan anak ini. Udah, aku
menghentikan pertanyaan yang akan makin membuat aku sedih itu*

Akhirnya, sampai juga kami didepan teras gedung kantor aku.
Sambil mengambil dompet, aku menatap iba anak perempuan yang sedang sibuk
melipat payungnya.

T : "Kamu udah makan siang dek?"

*anak itu hanya diam. Tapi aku mengerti maksut dari diamnya itu*

T : *sambil memberikan beberapa lembar rupiah* "Ini untuk ongkos ojek payung
barusan ya, terus ini saya tambahin untuk untuk makan siang kamu, yang ini
beneran buat beli makan siang ya, gak boleh untuk yang lain. Uang hasil ojek
payung hari ini, kamu kasih ke ibu kamu semuanya ya. Nah ini saya kasih lagi
ke kamu untuk beli buku tulis dan pinsil yah.."

*anak itu cuma bengong sambil melihat wajah aku dengan mata berkaca. Iya
berkaca-kaca beneran, terus dia salim (cium tangan) ke aku.*

T : "eh lho... gak apa-apa dek. Sekolah yang rajin yaa.. Nanti kalo pas
hujan ketemu lagi sama saya yaa.. ntar kita beli buku tulis yaa..."
*ucapanku sempet sedikkit bergetar karna menahan haru*

OP : "Terimakasih ya Bu..."

T : "Iya. Gih, tuh sana balik lagi.. masih banyak yang mau ojek payung..
yah.."

Anak itu pun berlalu. Dan aku menahan haru yang dalam banget.
Anak perempuan kecil kelas 3 SD yang tidak kenal siapa Bapaknya. Harus ikut
menanggung beban membantu ibunya mencari nafkah dan sekedar untuk membeli
buku tulis untuk sekolah.
Tanpa mengetahui persis latar belakang keluarganya, aku yakin pasti
kehidupan keluarga anak perempuan itu jauh dari kata baik.

Jelas saja jika aku merasa sangat terharu dan iba. Bahkan lebih merajam
bahwa HIDUP INI TIDAK ADIL UNTUK ANAK SEKECIL ITU yang seharusnya sedang
merasakan indahnya masa kecil dengan bermain, bermain dan belajar. Bukan
mencari nafkah!!

Sampai beberapa hari setelah moment mengharukan itu, aku masih sering
terbayang wajah menggigil yang menawarkan jasa ojek payung di teras Mall
Ambasador itu.
Berharap bisa bertemu lagi dengan anak itu dan sedikit meringankan bebannya
untuk membeli buku tulis dan pinsil.

Apa yang dunia tawarkan kepada anak itu, adalah kenyataan yang bener-bener
kejam.
Dan anak perempuan kecil itu bukanlah satu-satunya! !!

Berikanlah Cinta

Berikanlah Cinta


By: agussyafii

Setiap sore hari ketika saya pulang nampak dari kejauhan Hana sudah menyambut dengan senyuman. Senyum indah putriku..dengan teriakan, 'ayah..ayah. .' sambil membuka kedua tangannya berlari-lari terkadang membuat saya takut terjatuh. Luka dikakinya belum sembuh benar, kemaren kakinya terluka dengan 6 jahitan. rasanya hati saya masih teriris setiap kaki melihat luka dikakinya dengan 6 jahitan itu.

Satu-satunya kekuatan penyembuh luka bagi anak-anak kita karena faktor cinta kita sebagai orang tua. Cinta juga menjadi faktor yang menolong kita memecahkan berbagai masalah dengan anak-anak kita. Pernahkah anda bertanya pada diri sendiri bagaimana mungkin cinta dapat membantu kita? Ditengah kehidupan yang dituntut serba cepat dengan pusaran kegelisahan, kemarahan, keinginan untuk mengalahkan orang lain, cinta menjadi sebuah barang langka namun jika kita bisa menemukan cinta maka berarti kitalah pemenangnya.

Saya teringat satu ayat 'Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah'(Q.S. Al Baqarah 2: 165), cinta kita kepada Alloh SWT adalah landasan utama cinta kita kepada anak-anak kita dan cinta kita kepada pasangan hidup yang setia menemani karena Setiap cinta memberikan karunia dan hikmah. seperti cinta orang tua adalah karunia bagi anak-anaknya.

Itulah sebabnya anak-anak yang mengalami luka kecil atau sakit, mereka rewel, menangis, membutuhkan makan dan istirahat. Anak-anak ketakutan, membutuhkan perlindungan. Saat lututnya gemetar mereka membutuhkan kita. Masalah kecil bagi kita bisa jadi itu tragedi bagi anak-anak. Mereka menangis dan putus asa. Kita bisa melupakan semua dan membiarkan berlalu disetiap masalah tetapi anak-anak tidak mengerti. jadi tugas kitalah memberikan cinta, menghibur, menolong dan kehangatan pada Sang Buah Hati kita.

Wassalam,
agussyafii