Lafadz Allah Hiasi Langit Masjidil Haram
Oleh : Muhammad Nur Hayid - detikNews
Makkah* - Subhanallah, Allahu Akbar itulah suasana saat beberapa jamaah
haji melihat jeleretan awan yang membentuk tulisan Allah di atas langit
Masjidil Haram. Kekhusu'an jamaah haji yang twowaf pun semakin
menjadi-jadi sambil melambaikan doa-doa dengan keras.
Wartawan detikcom *Muhammad Nur Hayid* yang menyaksikan langsung
jeleretan awan bertuliskan lafad Allah itu hanya bisa mengucapkan
subhanallla. .. Allahu Akbar. Setelah diamati, semua langit di atas
Masjidil Haram saat itu, sekitar pukul 09.00 WAS (10 dzulhijjah)
berwarna biru terang. Jadi sangat jelas sekali jeleretan lafald Allah itu.
Sayangnya, lafad jalalah itu gagal diabadikan oleh wartawan detikcom
karena situasi saat itu sangat padat akibat semua jamaah haji memilih
langsung melaksanakan tawaf ifadah setelah melontar jumrah aqobah.
Ruang berhenti untuk mengambil camera di tas dan memotret foto itu gagal
dilakukan karena kondisi saling dorong antar jamaah yang terus bergerak
menyelesaikan 7 putaran.
Wartawan RRI Nurhanuddin yang ikut menyaksikan lafadz Allah itu hanya
bisa mengucapkan tasbih dan takbir berkali-kali. Ia sangat senang karena
dapat menyaksikan kebesaran Allah secara langsung berupa tulisan lafadz
Allah di atas Masjidil Haram dalam keadaan Tawaf Ifadah.
"Subhanallah. . Subhallah.. Allah Akbar .. Allahu Akbar...ini kebesaran
Allah yang ditunjukkan pada kita," katanya di sela tawaf pada detikcom.
Usai tawaf, Nur menyampaikan pada detikcom rasa syukurnya pada Allah
atas kemurahannya menunjukkan lafald Allah.
"Alhamdulillah, kalau saya langsung tawaf semalam, mungkin nggak bisa
lihat ini. ini bukti Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Semoga doa
kita dikabulkan dan jadi haji mabrur," kata Nurhanudin
Hal yang sama disampaikan Novelisa, menurutnya munculnya lafad allah di
atas langit Masjidil Haram ini merupakan bukti kebesaran Allah yang
ditunjukkan pada hambanya yang sedang menyelesaikan prosesi ibadah haji
setelah wukuf di arafah.
"Subhanallah, ini kebesaran Allah. alhamdulillah. saya dapat menyaksikan
langsung. Semoga kita mendapatkan haji mabrur," katanya
Setelah dua kali putaran, wartawan detikcom Muhammmad Nur Hayid sudah
melihat jeleretan awan yang membentuk lafad Allah itu mulai melebar.
putaran ke 3 lafad Allah yang terletak diatas Maqom Ibrahim lurus dengan
daerah Multazam itu sudah kabur dan dan tek terlihat lagi tulisannya.
Subhanallah. astagrifullah. ...... hanya kata-kata itulah yang keluar
saat melihat keajaiban ini. Memang setiap kali menaiki pesawat, wartawan
detikcom berusaha untuk duduk di pinggir jendela. Harapannya dapat
memotret awan-awan yang melihat lafad Allah.
Sayangnya, Allah belum berkehandak. Justru disaat yang tidak
direncanakan itulah Allah menunjukkan kebesarannya langsung kalimah
Allah di atas langit masjidil haram.
Subhanallah. . Allahuakbar. ..la ilaaha illallah, Muhammadun Rasulullah
SAW. Allahummaj'alna hajjana hajjan mabruro wasa'yammaskuro wadzanbam
maghfuro watijarotan lan taburo...Amin (yid/mok)
Showing posts with label Ibadah Haji. Show all posts
Showing posts with label Ibadah Haji. Show all posts
MAKNA TERTINGGI SHALAT ARBAIN
MAKNA TERTINGGI SHALAT ARBAIN
Jemaah haji Indonesia yang
berangkat dalam gelombang I kini tengah berada di Madinah Al Munawarah.
Mereka berada di sana selama 8-9 hari lamanya. Berbagai
aktifitas ibadah mereka lakukan di sana.
Mulai dari shalat fardhu yang lima
waktu, ibadah-ibadah sunnah, berziyarah ke makam Rasulullah Saw dan para
sahabat, dan melakukan Shalat Arbain. Apa itu Arbain? Arbain adalah sebuah
silsilah ibadah shalat fardhu yang dilakukan sebanyak 40 kali tanpa terputus
sekalipun. Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang
berbunyi:
Dari Anas bin Malik yang
diriwayatkan secara marfu'' bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali
pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari
adzab dan kemunafikan. " (HR
Ahmad dan At-Thabrany)
Meski terdapat
perdebatan mengenai status hadits ini, namun yang perlu menjadi perhatian kita
semua adalah bagaimana hikmah terpenting yang dapat diambil dari pelajaran
Shalat Arbain bagi setiap jemaah haji yang melakukannya.
Rasulullah Saw pernah
bersabda bahwa shalat di masjid Nabawi pahalanya adalah 1000 kali lipat
dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana sabdanya:
Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali
dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di
Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR.
Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).
Hadits ini menjadi
stimulan dan motivasi bagi setiap muslim yang berada di Madinah untuk
memperbanyak ibadah di masjid Nabawi wa
bil khusus ibadah shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka tak jarang demi
mempertahankan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, terlihat banyak sekali jemaah
haji yang rela beri'tikaf di masjid berlama-lama hanya demi menunggu datangnya
waktu shalat berjamaah. Dari waktu shalat yang satu ke waktu yang lain mereka
semua menanti dengan penuh harap. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah Saw:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bertanya,
'Maukah kalian aku tunjukan amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat
mengangkat derajat (di surga)?". Para Sahabat menjawab, 'Tentu, wahai
Rasulullah.' Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai,
memperbanyak langkah ke mesjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat.
Itulah yang harus kalian utamakan.'" (HR. Muslim)
Spirit yang mereka
rasakan saat menjalankan ibadah Shalat Arbain di Masjid Nabawi adalah betapa
mereka merasa sayang apabila tertinggal shalat berjamaah meski hanya satu kali,
sebab hal itu akan membuat Arbain yang hendak mereka capai menjadi gugur.
Pernah suatu saat ada
seorang jemaah haji dari Indonesia
yang begitu sigap menghadiri shalat
berjamaah di Masjid Nabawi. Namun begitu terdengar iqamah berkumandang,
tiba-tiba ia merasakan perutnya tidak beres dan ia pun pergi ke toilet untuk
mengambil air wudhu lagi. Ia hanya tertinggal takbiratul ihram imam shalat, bukannya tertinggal shalat berjamaah.
Namun ia menyatakan penyesalannya sebab ia datang terlambat menghadiri shalat
berjamaah.
Begitu bersemangat dan
pantang menyerah mereka mempertahankan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Dan
itulah gambaran kaum muslimin sejati yang sigap menjawab panggilan Allah Swt
saat adzan berkumandang.
Jemaah haji yang
tengah menjalani ibadah Shalat Arbain di Madinah tengah belajar menghilangkan
sifat kemunafikan dalam diri mereka dan menghadiri panggilan Allah Swt saat
adzan berkumandang. Hal itu seperti yang termaktub dalam hadits Shalat Arbain
di atas bahwa hikmah dari ibadah tersebut adalah membebaskan manusia dari sifat
munafik dan membebaskan mereka dari belenggu api neraka.
Hanya muslim yang
berpasrah diri kepada Allah yang ringan untuk menjawab pangggilan Allah Swt,
baik secara jiwa maupun harta. Maka ibadah shalat fardhu empat puluh waktu atau Arbain inilah yang melatih
mereka untuk menjadi hamba Allah yang tulen, yang terbebas dari kungkungan
dunia dan terbebas dari belenggu kemunafikan dirinya.
Semoga sekembalinya
para jemaah haji dari tanah suci, mereka akan terus diberi kekuatan untuk
menghadiri shalat berjamaah di rumah-rumah Allah yang berada di lingkungan
mereka. Amien!
Salam,
H. Bobby Herwibowo
Pembimbing Haji &
Umrah DD Travel
Jemaah haji Indonesia yang
berangkat dalam gelombang I kini tengah berada di Madinah Al Munawarah.
Mereka berada di sana selama 8-9 hari lamanya. Berbagai
aktifitas ibadah mereka lakukan di sana.
Mulai dari shalat fardhu yang lima
waktu, ibadah-ibadah sunnah, berziyarah ke makam Rasulullah Saw dan para
sahabat, dan melakukan Shalat Arbain. Apa itu Arbain? Arbain adalah sebuah
silsilah ibadah shalat fardhu yang dilakukan sebanyak 40 kali tanpa terputus
sekalipun. Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang
berbunyi:
Dari Anas bin Malik yang
diriwayatkan secara marfu'' bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali
pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari
adzab dan kemunafikan. " (HR
Ahmad dan At-Thabrany)
Meski terdapat
perdebatan mengenai status hadits ini, namun yang perlu menjadi perhatian kita
semua adalah bagaimana hikmah terpenting yang dapat diambil dari pelajaran
Shalat Arbain bagi setiap jemaah haji yang melakukannya.
Rasulullah Saw pernah
bersabda bahwa shalat di masjid Nabawi pahalanya adalah 1000 kali lipat
dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana sabdanya:
Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali
dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di
Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR.
Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).
Hadits ini menjadi
stimulan dan motivasi bagi setiap muslim yang berada di Madinah untuk
memperbanyak ibadah di masjid Nabawi wa
bil khusus ibadah shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka tak jarang demi
mempertahankan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, terlihat banyak sekali jemaah
haji yang rela beri'tikaf di masjid berlama-lama hanya demi menunggu datangnya
waktu shalat berjamaah. Dari waktu shalat yang satu ke waktu yang lain mereka
semua menanti dengan penuh harap. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah Saw:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bertanya,
'Maukah kalian aku tunjukan amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat
mengangkat derajat (di surga)?". Para Sahabat menjawab, 'Tentu, wahai
Rasulullah.' Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai,
memperbanyak langkah ke mesjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat.
Itulah yang harus kalian utamakan.'" (HR. Muslim)
Spirit yang mereka
rasakan saat menjalankan ibadah Shalat Arbain di Masjid Nabawi adalah betapa
mereka merasa sayang apabila tertinggal shalat berjamaah meski hanya satu kali,
sebab hal itu akan membuat Arbain yang hendak mereka capai menjadi gugur.
Pernah suatu saat ada
seorang jemaah haji dari Indonesia
yang begitu sigap menghadiri shalat
berjamaah di Masjid Nabawi. Namun begitu terdengar iqamah berkumandang,
tiba-tiba ia merasakan perutnya tidak beres dan ia pun pergi ke toilet untuk
mengambil air wudhu lagi. Ia hanya tertinggal takbiratul ihram imam shalat, bukannya tertinggal shalat berjamaah.
Namun ia menyatakan penyesalannya sebab ia datang terlambat menghadiri shalat
berjamaah.
Begitu bersemangat dan
pantang menyerah mereka mempertahankan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Dan
itulah gambaran kaum muslimin sejati yang sigap menjawab panggilan Allah Swt
saat adzan berkumandang.
Jemaah haji yang
tengah menjalani ibadah Shalat Arbain di Madinah tengah belajar menghilangkan
sifat kemunafikan dalam diri mereka dan menghadiri panggilan Allah Swt saat
adzan berkumandang. Hal itu seperti yang termaktub dalam hadits Shalat Arbain
di atas bahwa hikmah dari ibadah tersebut adalah membebaskan manusia dari sifat
munafik dan membebaskan mereka dari belenggu api neraka.
Hanya muslim yang
berpasrah diri kepada Allah yang ringan untuk menjawab pangggilan Allah Swt,
baik secara jiwa maupun harta. Maka ibadah shalat fardhu empat puluh waktu atau Arbain inilah yang melatih
mereka untuk menjadi hamba Allah yang tulen, yang terbebas dari kungkungan
dunia dan terbebas dari belenggu kemunafikan dirinya.
Semoga sekembalinya
para jemaah haji dari tanah suci, mereka akan terus diberi kekuatan untuk
menghadiri shalat berjamaah di rumah-rumah Allah yang berada di lingkungan
mereka. Amien!
Salam,
H. Bobby Herwibowo
Pembimbing Haji &
Umrah DD Travel
Buktikan Syukurmu dengan Berqurban
Buktikan Syukurmu dengan Berqurban
Penulis : Muhammad Rizqon
KotaSantri.com : Rasulullah SAW adalah pemimpin ummat yang konsisten dalam menegakkan qiyamul lail. Beliau rela bersusah-payah menahan kantuk dan berdiri lama, bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau, demi menahan kantuknya itu, mengikatkan badan beliau pada suatu penahan agar beliau tetap tegak berdiri (tidak jatuh), padahal beliau telah dijamin oleh Allah SWT dengan surgaNya. Tak ayal, bengkak-bengkak pada kaki Rasulullah SAW pun timbul akibat lamanya beliau berdiri ketika bermunajat di sepertiga malam terakhir itu. Subhanallah. Ketika isteri beliau bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, kenapa engkau bersusah payah dalam beribadah padahal Allah telah menjaminmu dengan surga?" Dengan retoris, Rasulullah SAW menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hambaNya yang bersyukur?"
Kisah tersebut adalah kisah indah yang membekaskan banyak hikmah. Pertanyaan yang dilontarkan oleh isteri beliau seakan mewakili sebuah pertanyaan yang lazim pada diri kita sekarang ini. Kita heran ketika seorang hamba diberikan dispensasi untuk bersenang-senang atau bersantai-santai, dia justru tidak mau memanfaatkannya. Kita heran ketika menyaksikan orang yang sudah kaya, tetapi dia tetap terus bekerja. Kita heran menyaksikan orang yang sudah pintar, tetapi dia tetap terus belajar. Dan lain sebagainya. Pertanyaan ini boleh jadi timbul karena yang bertanya adalah hawa nafsu kita, bukan hati nurani kita. Hawa nafsu cenderung pada kesenangan yang menipu, namun hati selalu cenderung pada kesenangan yang hakiki.
Terus belajar, terus bekerja, terus berintrospeksi, dan memperbaiki diri adalah wujud kesenangan hati yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Dia rela melakukan semua itu sebagai wujud cinta, bakti, dan syukur kepada Allah SWT. Posisi yang menguntungkan bukan makin melemahkan semangat, justru makin melejitkan semangat untuk terus berbuat sesuatu yang berarti demi meraih ridhaNya.
Dalam kaitannya dengan ibadah qurban, saya mengambil pelajaran bahwa Rasulullah SAW bercapai-capai, bersusah-payah mengurbankan fisiknya menegakkan qiyammul lail hanya karena ingin membuktikan bahwa beliau adalah hamba Allah yang bersyukur.
Menjadi hamba Allah yang bersyukur (abdan syakuran) agaknya bukan menjadi hal yang mudah, terlebih bagi kita yang masih banyak berkubang dengan dosa. Membuktikan syukur tidak sekedar dengan cara lisan mengucap "Alhamdulillah" , tetapi yang lebih essensial adalah dengan ketatatan dan pengorbanan (baik harta atau jiwa) demi menegakkan suatu ibadah kepadaNya.
Cobalah kita renungkan, setiap ibadah pasti membutuhkan pengorbanan, baik materi maupun fisik. Shalat berjama'ah di masjid misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan pakaian yang menutupi aurat dan bebas dari najis. Dan secara fisik, ia mensyaratkan keringanan langkah menuju masjid. Mengenakan jilbab syar'i bagi muslimah misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan bahan pakaian yang tidak transparan, longgar agar tidak membentuk lekukan tubuh, nyaman dipakai, sedikit mahal, dan lain-lain. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kesabaran ekstra dari sang muslimah untuk istiqamah mengenakannya. Bukankah mengenakan busana muslimah terkesan lebih "ribet" bagi orang tertentu dibanding dengan hanya menggenakan celana pendek dan kaos oblong saja? Hal ini cukup menunjukkan bahwa mengenakan jilbab pun memerlukan pengorbanan fisik di sana.
Contoh yang lebih gamblang adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Secara materi, ia mensyaratkan sejumlah dana harus dikeluarkan. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kondisi kesehatan yang cukup prima untuk melaksanakannya. Dalam ibadah qurban pun, selain secara materi disyaratkan adanya sejumlah dana senilai hewan ternak tertentu, secara fisik dianjurkan adanya upaya tertentu, misalnya mengusahakan (memilih) kambing terbaik dan menyembelih sendiri hewan qurban itu.
***
Suatu ketika, Aripin, seorang anak muda yang bekerja di perkantoran elit, ditawarkan oleh ayahnya apakah ingin berqurban atau tidak, untuk masyarakat di sebuah desa kecil di Sipirok (kampung ayahnya). Sebagai anak muda yang baru beberapa tahun menikmati uang hasil dari bekerja, tentu keinginan yang ada di benaknya cukup beragam, yang jelas bukan untuk urusan ibadah seperti berqurban itu.
Namun kali ini, ia merasa bimbang. Sudah beberapa kali ia ditawari untuk berqurban oleh ayahnya, namun selalu saja ia mengelak dengan alasan masih banyak kebutuhan ini dan itu. Di tengah kebimbangan yang masih menggelayuti hatinya, di depan rumah ia bertemu dengan Pak Hasan, kawan ayahnya yang kini sama-sama sudah pensiun. Beliau adalah sahabat ayahnya yang jujur, terpercaya, dan sampai saat ini masih menjalin hubungan baik, meski terpisah dengan ayahnya yang kini berada Medan.
Pagi itu, Pak Hasan sedang berjalan-jalan mengelilingi komplek. Ketika bertemu di depan rumah, beliau berhenti dan menanyakan kabar ayahnya, "Assalamu'alaikum. Eh, Pin, gimana kabar papa? Katanya ada acara qurban di kampung papa."
"Wa'alaikum Salam. Baik, om. Iya, papa memang selalu berqurban untuk masyarakat di sana."
"Siapa aja yang berqurban? Kamu qurban juga nggak?"
Ia pun menyebutkan beberapa saudara yang telah berkomitmen menyerahkan hewan qurban untuk kampung papanya. Ketika menjawab pada pertanyaan yang menyangkut dirinya, ia berujar, "Kalau saya, nggak tahu nih, om. Penginnya sih berqurban, tapi kayaknya masih banyak kebutuhan, om."
Buru-buru Pak Hasan itu langsung menyahut dan memotong ucapannya, "Gini, Pin. Kalau di hati kamu sudah terbetik niatan untuk berqurban, jangan kamu tunda, berqurbanlah. Saya tahu, sebagai anak muda, kamu pasti pengin yang macam-macam. Bersenang-senang lah, jalan-jalan lah. Tapi yakinlah, dengan berqurban, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kamu akan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dibanding jika kamu tidak berqurban. Yakin itu."
Selanjutnya, mengalirlah dari mulut Pak Hasan itu beberapa kata hikmah tentang ibadah qurban dan pengalaman-pengalam an ibadah yang selama ini beliau lakukan.
Kata-kata Pak Hasan yang dipanggilnya om oleh Aripin itu, begitu menghipnotis dan mengunci mati keinginan hawa nafsunya yang masih ingin berhura-hura dan bersenang-senang itu.
Di akhir pembicaraan, tekad Aripin untuk berqurban pertama kali itu pun membulat. Hal itu dibuktikan dengan kata-katanya, "Iya dech, om. Saya akan berqurban. Terima kasih ya, om."
Pak Hasan tampak tersenyum puas karena bisa menundukkan jiwa anak muda yang semula diliputi kebimbangan itu.
***
Adakalanya kita bersikap seperti Aripin, tatkala muncul di hadapan kita peluang untuk menyisihkan sebagian harta guna berqurban. Tiba-tiba saja terbayang di benak kita aneka kebutuhan yang masih tertunda dan "harus" dipenuhi segera. Padahal jika kita pikir ulang, kebutuhan itu bukanlah kebutuhan sebenarnya yang bersifat mendesak, melainkan hanya sekedar keinginan hawa nafsu belaka.
Dalam kondisi seperti itu, bagi yang memiliki kelebihan harta, sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atau tidak. Bukankah harta yang diperoleh selama ini adalah anugerah dan pemberianNya? Kenapa ketika Allah SWT menghendaki kita menyisihkan sebagian kecil saja, timbul rasa berat di dalam jiwa? Sungguh jika kita mau berinstrospeksi betapa anugerah Allah SWT yang dilimpahkan kepada kita begitu banyak dan tak terhingga, hati kita akan merasa sangat ringan untuk berkorban.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. " (QS. 108 : 1-2).
Jelas bahwa Allah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Kita lahir dalam kondisi tidak memiliki apa-apa. Maka segala apa yang ada pada kita, kini adalah semata-mata karena nikmat dariNya. Guna mewujudkan rasa syukur atas kenikmatan itu, maka jalan terbaik adalah memperkuat ketaatan kepada Allah SWT. Dan ibadah qurban adalah salah satu bentuk ketaatan yang dianjurkan olehNya.
Semoga kita bisa membuktikan rasa syukur kita dengan berkorban. Secara simbolis kita memang mengorbankan hewan ternak, namun secara substansi kita mengorbankan sifat-sifat buruk dari dalam diri kita.
URL : http://kotasantri. com/beranda. php?aksi= Detail&sid= 1176
---
Qurban Bersama KSP di Daerah Binaan
Klab Santri Peduli : Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut Hari Raya Qurban tiba, dimana umat muslim disunnahkan untuk berqurban pada hari tersebut. Berqurban sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kita terhadap ketentuanNya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Ismail, dan Siti Hajar, karena qurban merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bertepatan dengan hari qurban, insya Allah KSP akan memfasilitasi pequrban untuk berqurban di daerah binaan KSP yang merupakan daerah minus dan rawan aqidah, yakni di Kp. Pasanggrahan, Desa/Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. KSP menawarkan qurban sapi (± 250 kg) berjama'ah untuk (maksimal) tujuh orang, dengan biaya Rp. 1.250.000,- per orang, dan kambing (± 30 kg) dengan biaya Rp. 1.200.000,- per ekor.
Selain itu, KSP menerima InfaQurban dan partisipasi dalam bentuk yang lainnya. InfaQurban tersebut akan digunakan untuk keperluan pelaksanaan qurban. Berapa pun dan dalam bentuk apa pun partisipasi yang diberikan, insya Allah akan sangat bermanfaat untuk kelancaran pelaksanaan qurban. Semoga semangat keluarga Nabi Ibrahim dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menggalang kekuatan dengan rela berkorban.
Selengkapnya : http://ksp.kotasant ri.com/blog. php/jurnal/ 2008/11/03/ qurban-bersama- ksp-di-daerah- binaan/
Penulis : Muhammad Rizqon
KotaSantri.com : Rasulullah SAW adalah pemimpin ummat yang konsisten dalam menegakkan qiyamul lail. Beliau rela bersusah-payah menahan kantuk dan berdiri lama, bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau, demi menahan kantuknya itu, mengikatkan badan beliau pada suatu penahan agar beliau tetap tegak berdiri (tidak jatuh), padahal beliau telah dijamin oleh Allah SWT dengan surgaNya. Tak ayal, bengkak-bengkak pada kaki Rasulullah SAW pun timbul akibat lamanya beliau berdiri ketika bermunajat di sepertiga malam terakhir itu. Subhanallah. Ketika isteri beliau bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, kenapa engkau bersusah payah dalam beribadah padahal Allah telah menjaminmu dengan surga?" Dengan retoris, Rasulullah SAW menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hambaNya yang bersyukur?"
Kisah tersebut adalah kisah indah yang membekaskan banyak hikmah. Pertanyaan yang dilontarkan oleh isteri beliau seakan mewakili sebuah pertanyaan yang lazim pada diri kita sekarang ini. Kita heran ketika seorang hamba diberikan dispensasi untuk bersenang-senang atau bersantai-santai, dia justru tidak mau memanfaatkannya. Kita heran ketika menyaksikan orang yang sudah kaya, tetapi dia tetap terus bekerja. Kita heran menyaksikan orang yang sudah pintar, tetapi dia tetap terus belajar. Dan lain sebagainya. Pertanyaan ini boleh jadi timbul karena yang bertanya adalah hawa nafsu kita, bukan hati nurani kita. Hawa nafsu cenderung pada kesenangan yang menipu, namun hati selalu cenderung pada kesenangan yang hakiki.
Terus belajar, terus bekerja, terus berintrospeksi, dan memperbaiki diri adalah wujud kesenangan hati yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Dia rela melakukan semua itu sebagai wujud cinta, bakti, dan syukur kepada Allah SWT. Posisi yang menguntungkan bukan makin melemahkan semangat, justru makin melejitkan semangat untuk terus berbuat sesuatu yang berarti demi meraih ridhaNya.
Dalam kaitannya dengan ibadah qurban, saya mengambil pelajaran bahwa Rasulullah SAW bercapai-capai, bersusah-payah mengurbankan fisiknya menegakkan qiyammul lail hanya karena ingin membuktikan bahwa beliau adalah hamba Allah yang bersyukur.
Menjadi hamba Allah yang bersyukur (abdan syakuran) agaknya bukan menjadi hal yang mudah, terlebih bagi kita yang masih banyak berkubang dengan dosa. Membuktikan syukur tidak sekedar dengan cara lisan mengucap "Alhamdulillah" , tetapi yang lebih essensial adalah dengan ketatatan dan pengorbanan (baik harta atau jiwa) demi menegakkan suatu ibadah kepadaNya.
Cobalah kita renungkan, setiap ibadah pasti membutuhkan pengorbanan, baik materi maupun fisik. Shalat berjama'ah di masjid misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan pakaian yang menutupi aurat dan bebas dari najis. Dan secara fisik, ia mensyaratkan keringanan langkah menuju masjid. Mengenakan jilbab syar'i bagi muslimah misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan bahan pakaian yang tidak transparan, longgar agar tidak membentuk lekukan tubuh, nyaman dipakai, sedikit mahal, dan lain-lain. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kesabaran ekstra dari sang muslimah untuk istiqamah mengenakannya. Bukankah mengenakan busana muslimah terkesan lebih "ribet" bagi orang tertentu dibanding dengan hanya menggenakan celana pendek dan kaos oblong saja? Hal ini cukup menunjukkan bahwa mengenakan jilbab pun memerlukan pengorbanan fisik di sana.
Contoh yang lebih gamblang adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Secara materi, ia mensyaratkan sejumlah dana harus dikeluarkan. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kondisi kesehatan yang cukup prima untuk melaksanakannya. Dalam ibadah qurban pun, selain secara materi disyaratkan adanya sejumlah dana senilai hewan ternak tertentu, secara fisik dianjurkan adanya upaya tertentu, misalnya mengusahakan (memilih) kambing terbaik dan menyembelih sendiri hewan qurban itu.
***
Suatu ketika, Aripin, seorang anak muda yang bekerja di perkantoran elit, ditawarkan oleh ayahnya apakah ingin berqurban atau tidak, untuk masyarakat di sebuah desa kecil di Sipirok (kampung ayahnya). Sebagai anak muda yang baru beberapa tahun menikmati uang hasil dari bekerja, tentu keinginan yang ada di benaknya cukup beragam, yang jelas bukan untuk urusan ibadah seperti berqurban itu.
Namun kali ini, ia merasa bimbang. Sudah beberapa kali ia ditawari untuk berqurban oleh ayahnya, namun selalu saja ia mengelak dengan alasan masih banyak kebutuhan ini dan itu. Di tengah kebimbangan yang masih menggelayuti hatinya, di depan rumah ia bertemu dengan Pak Hasan, kawan ayahnya yang kini sama-sama sudah pensiun. Beliau adalah sahabat ayahnya yang jujur, terpercaya, dan sampai saat ini masih menjalin hubungan baik, meski terpisah dengan ayahnya yang kini berada Medan.
Pagi itu, Pak Hasan sedang berjalan-jalan mengelilingi komplek. Ketika bertemu di depan rumah, beliau berhenti dan menanyakan kabar ayahnya, "Assalamu'alaikum. Eh, Pin, gimana kabar papa? Katanya ada acara qurban di kampung papa."
"Wa'alaikum Salam. Baik, om. Iya, papa memang selalu berqurban untuk masyarakat di sana."
"Siapa aja yang berqurban? Kamu qurban juga nggak?"
Ia pun menyebutkan beberapa saudara yang telah berkomitmen menyerahkan hewan qurban untuk kampung papanya. Ketika menjawab pada pertanyaan yang menyangkut dirinya, ia berujar, "Kalau saya, nggak tahu nih, om. Penginnya sih berqurban, tapi kayaknya masih banyak kebutuhan, om."
Buru-buru Pak Hasan itu langsung menyahut dan memotong ucapannya, "Gini, Pin. Kalau di hati kamu sudah terbetik niatan untuk berqurban, jangan kamu tunda, berqurbanlah. Saya tahu, sebagai anak muda, kamu pasti pengin yang macam-macam. Bersenang-senang lah, jalan-jalan lah. Tapi yakinlah, dengan berqurban, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kamu akan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dibanding jika kamu tidak berqurban. Yakin itu."
Selanjutnya, mengalirlah dari mulut Pak Hasan itu beberapa kata hikmah tentang ibadah qurban dan pengalaman-pengalam an ibadah yang selama ini beliau lakukan.
Kata-kata Pak Hasan yang dipanggilnya om oleh Aripin itu, begitu menghipnotis dan mengunci mati keinginan hawa nafsunya yang masih ingin berhura-hura dan bersenang-senang itu.
Di akhir pembicaraan, tekad Aripin untuk berqurban pertama kali itu pun membulat. Hal itu dibuktikan dengan kata-katanya, "Iya dech, om. Saya akan berqurban. Terima kasih ya, om."
Pak Hasan tampak tersenyum puas karena bisa menundukkan jiwa anak muda yang semula diliputi kebimbangan itu.
***
Adakalanya kita bersikap seperti Aripin, tatkala muncul di hadapan kita peluang untuk menyisihkan sebagian harta guna berqurban. Tiba-tiba saja terbayang di benak kita aneka kebutuhan yang masih tertunda dan "harus" dipenuhi segera. Padahal jika kita pikir ulang, kebutuhan itu bukanlah kebutuhan sebenarnya yang bersifat mendesak, melainkan hanya sekedar keinginan hawa nafsu belaka.
Dalam kondisi seperti itu, bagi yang memiliki kelebihan harta, sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atau tidak. Bukankah harta yang diperoleh selama ini adalah anugerah dan pemberianNya? Kenapa ketika Allah SWT menghendaki kita menyisihkan sebagian kecil saja, timbul rasa berat di dalam jiwa? Sungguh jika kita mau berinstrospeksi betapa anugerah Allah SWT yang dilimpahkan kepada kita begitu banyak dan tak terhingga, hati kita akan merasa sangat ringan untuk berkorban.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. " (QS. 108 : 1-2).
Jelas bahwa Allah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Kita lahir dalam kondisi tidak memiliki apa-apa. Maka segala apa yang ada pada kita, kini adalah semata-mata karena nikmat dariNya. Guna mewujudkan rasa syukur atas kenikmatan itu, maka jalan terbaik adalah memperkuat ketaatan kepada Allah SWT. Dan ibadah qurban adalah salah satu bentuk ketaatan yang dianjurkan olehNya.
Semoga kita bisa membuktikan rasa syukur kita dengan berkorban. Secara simbolis kita memang mengorbankan hewan ternak, namun secara substansi kita mengorbankan sifat-sifat buruk dari dalam diri kita.
URL : http://kotasantri. com/beranda. php?aksi= Detail&sid= 1176
---
Qurban Bersama KSP di Daerah Binaan
Klab Santri Peduli : Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut Hari Raya Qurban tiba, dimana umat muslim disunnahkan untuk berqurban pada hari tersebut. Berqurban sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kita terhadap ketentuanNya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Ismail, dan Siti Hajar, karena qurban merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bertepatan dengan hari qurban, insya Allah KSP akan memfasilitasi pequrban untuk berqurban di daerah binaan KSP yang merupakan daerah minus dan rawan aqidah, yakni di Kp. Pasanggrahan, Desa/Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. KSP menawarkan qurban sapi (± 250 kg) berjama'ah untuk (maksimal) tujuh orang, dengan biaya Rp. 1.250.000,- per orang, dan kambing (± 30 kg) dengan biaya Rp. 1.200.000,- per ekor.
Selain itu, KSP menerima InfaQurban dan partisipasi dalam bentuk yang lainnya. InfaQurban tersebut akan digunakan untuk keperluan pelaksanaan qurban. Berapa pun dan dalam bentuk apa pun partisipasi yang diberikan, insya Allah akan sangat bermanfaat untuk kelancaran pelaksanaan qurban. Semoga semangat keluarga Nabi Ibrahim dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menggalang kekuatan dengan rela berkorban.
Selengkapnya : http://ksp.kotasant ri.com/blog. php/jurnal/ 2008/11/03/ qurban-bersama- ksp-di-daerah- binaan/
HAJI : Ibadah Qurban (Informasi)
Qurban Peduli Negeri Dompet Peduli Ummat Jakarta
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka
dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya
orang-orang yang membencimu dialah yang terputus" (QS. Al Kautsar : 1-3)
Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid Jakarta Jelang Idul Qurban menyiapkan
diri untuk menyalurkan donasi Qurban anda ke pelosok negeri. Qurban Anda
kebahagiaan mereka.
Berkurbanlah, itu merupakan bukti engkau adalah abdi Allah SWT
Berkurbanlah, itu merupakan apresiasi seorang abdi Allah SWT
Berkurbanlah, itu sebagai syiar di bumi Allah SWT
Mari berbagi kebahagiaan di hari Idul Qurban melalui program "Belajar
Taqwa Dengan Qurban" bersama Daarut Tauhiid Jakarta. Hewan Qurban yang
terkumpul akan dibagikan ke 36 Kabupaten di 15 Propinsi di Indonesia.
Mari berbagi dan tebarkan kepedulian terhadap negeri.
Manfaat berqurban bersama Daarut Tauhiid Jakarta :
- Niat Qurban tersampaikan sesuai syariat Islam, pemotongan hewan
Qurban didokumentasikan dan dilaporkan kepada Donatur
- Donatur dapat melihat langsung ke lokasi pemotongan hewan Qurban
- Donatur akan mendapatkan sertifikat Qurban
- Donatur dapat memilih lokasi penyaluran Qurbannya ke daerah
sebaran Qurban yang kami tawarkan
- Hewan Qurban dipilih dan dipotong sesuai dengan ketentuan syariah
- Pemotongan Qurban dilakukan dengan amanah, tepat waktu dan tepat sasaran
Jenis Hewan Qurban :
- Kambing Tipe A @ Rp. 1.000.000,-
- Kambing Tipe B @ Rp. 770.000,-
- Sapi (Individu) @ Rp. 7.000.000,-
- Sapi (Jamaah) @ Rp. 1.000.000,-
Layanan Jemput Qurban: 021-93455133
Transfer Bank
Rekening a/n Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid Cabang Jakarta :
Rekening Qurban Bank BNI Syariah Cab Fatmawati 011.359.8105
Bukti Transfer mohon di Fax ke 021-7235258
Jadwal Kegiatan DT Jakarta :
http://www.dtjakart a.or.id/jadwal
HAJI : Berangkat Haji dengan Bekal Harta Haram
Berangkat Haji dengan Bekal Harta Haram
Ibadah haji adalah sebuah ibadah yang suci
nan sakral. Ini adalah ibadah perjumpaan dengan Allah Swt Yang Maha Suci di
rumahNya yang disucikan. Maka setiap hamba Allah yang hadir di sana hendaknya
menyibukkan diri untuk selalu mensucikan diri. Suci lahir dan batin termasuk
bekal yang ia bawa untuk ke sana.
Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang
sudah tidak sungkan berjumpa dengan Allah Swt di rumahNya dalam ritual haji dan
umrah dengan membawa bekal yang syubhat dan haram. Harta dari hasil menipu,
memperdaya orang lain, korupsi, mencuri, hasil riba, dan lain-lain. Belakangan
saya mendengar ada seorang ibu di Jawa Timur yang telah berkali-kali berangkat
haji ke Baitullah sebab dia seorang rentenir 'sukses' di daerahnya. Naudzubillah!
Rupanya manusia seperti ini menyangka bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah
Swt atas semua kezhaliman dan dosa yang telah mereka perbuat dengan cara
berhaji atau umrah.
Lalu bagaimana hukum haji atau umrah yang
seperti ini? Menurut hukum fiqh orang-orang seperti ini yang berhaji dengan
nafkah non-halal maka kewajiban haji mereka telah gugur. Mereka sudah dianggap
menunaikan rukun Islam yang kelima, namun ibadah haji yang mereka lakukan tidak
diterima oleh Allah Swt. Hal ini serupa dengan orang yang menjalankan puasa
namun masih senang menggunjing, berghibah, berdusta dan lain-lain. Sebagaimana
yang telah disampaikan Rasulullah Saw dalam sabdanya: "Siapa yang tidak
mampu meninggalkan ucapan & tindakan kotor, maka Allah Swt tidak akan menerima
(pengorbanannya) untuk meninggalkan makan dan minum saat berpuasa." HR.
Bukhari & Muslim.
Serupa dengan penuturan Rasulullah Saw di
atas tentang orang berpuasa yang masih kerap berbuat dosa lalu amalnya tidak
diterima oleh Allah Swt. Maka hal yang sedemikian berlaku bagi orang yang
berhaji ke Baitullah dengan bekal harta yang haram. Di sisi Allah Swt segala
bentuk pengorbanan yang mereka lakukan saat berhaji dan seluruh aktifitasnya
maka tidak akan menjumpa balasan kebaikan. Seolah menjadi sebuah aktifitas
sia-sia belaka!
Kini harus menjadi perhatian bagi para
calon tamu Allah yang akan berangkat haji tahun ini untuk memperhatikan bekal
yang mereka bawa. Sebab semua ibadah yang mereka lakukan akan tertolak oleh
Allah Swt.
Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan
sebuah hadits dari Rasulullah yang menuturkan tentang seseorang yang menempuh
perjalanan jauh dalam ibadah. Tubuhnya lesu dan rambutnya kusut. Seharusnya
kondisi safar dan terdesak (mudhthar) ini semestinya membuat Allah akan
mengijabah doanya.
Pria ini hampir putus asa dalam
melanjutkan perjalanan. Ia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit seraya
meminta kepada Allah Yang Maha Kaya. Ia memanggil Allah dengan ucapannya,
"Ya Rabbi...., Ya Rabbi!" Namun sayang Allah Swt tidak berkenan untuk
mengijabah doanya.
Apakah yang membuat Allah Swt tidak
berkenan mengijabah doanya, bukankah Allah Swt berjanji untuk mengabulkan
setiap doa hambaNya? Ternyata hal yang membuat Allah tidak berkenan mengijabah
doa adalah karena orang ini senantiasa makan dan minum dari harta yang haram.
Pakaian yang ia gunakan dibeli dari uang haram. Dan dari kecil ia selalu diberi
makan oleh orang tua dari hasil nafkah haram.
Kemudian hadits itu diakhiri dengan sebuah
kalimat tanya dari Rasulullah Saw yang berbunyi, "Bila demikian
kondisinya, lalu bagaimana doanya bisa dikabulkan?"
Perhatikanlah dengan seksama hadits di
atas bagaimana nafkah haram akan membuat ibadah kita ditolak oleh Allah Swt! Oleh
karenanya, hendaklah setiap hamba Allah yang berniat haji di tahun ini
memperhatikan bekal yang mereka bawa. Haji mungkin hanya sekali seumur hidup
kita lakukan. Bila yang sekali itu tidak akan diterima oleh Allah Swt sebab
ulah kita, lalu mengapa tidak kita lakukan dengan cara yang terbaik?! Jangan
pernah mengundang ridha Allah Swt dengan melakukan apa yang diharamkanNya.
Semoga Allah Swt memberi kita nafkah yang cukup dan berkah serta mendatangkan
keridhaanNya. Amien!
Salam,
Bobby Herwibowo
Subscribe to:
Posts (Atom)