Showing posts with label Ibadah Sholat. Show all posts
Showing posts with label Ibadah Sholat. Show all posts

Menjadi Kaya

 Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
Ibnu Hajar Al-Asyqalani (wafat 852 H), suatu hari melintas dengan kereta mewahnya. Seorang Yahudi penjual minyak tar keliling mencegatnya.

Penampilan keduanya bertolak belakang; sang ulama tampak anggun dan mewah, sementara Yahudi dekil, compang-camping, berbau busuk dan kumal.

"Nabimu berujar bahwa dunia adalah penjara bagi si mukmin dan surga bagi kafir, benarkah demikian?" ujar Yahudi sinis.

Jawab Ibnu Hajar, "Betul, demikian sabda Nabi saw riwayat Imam Muslim." "Kalau begitu, akulah mukmin dan kamulah kafir!" hardik Yahudi.

"Oh gitu," sahut Ibnu Hajar sembari tersenyum lagi, "Mengapa begitu, hai Ahli Kitab yang malang?"  Yahudi menjawab, "Lihat saja keadaanku seperti ini, persis seprti di penjara. Sementara engkau bergelimang kemewahan, seperti di surga...!"

"Dunia, bagi kami yang beriman kepada Allah memang adalah penjara. Dikerangkeng dan dibatasi oleh syariat-Nya. Meski demikian kami sangat menikmatinya, bahkan  di antara kami telah mampu menaklukkannya. Sehingga jadilah dunia surga buat kami. Sementara bagi kalian yang tidak beriman, dunia ini sudah kalian sulap dengan kebebasan dan kemewahan. Dan tidak jarang, kalian terpenjara sendiri karena ulah nafsu liar kalian," jawab Ibnu Hajar bijak.

Tertunduklah Yahudi dan di hatinya kini membersit keimanan. Dan ujung cerita ini, mantan Yahudi ini  pun kemudian menjadi orang yang sangat kaya raya, namun sinar keimanannya menjadikan kekayaannya tidak lupa dan semakin mendekat kepada Zat yang mengkayakannya, Allah al-Mughny.

Saudaraku, petikan kisah ini pada akhirnya berpesan kepada kita, dunia boleh dicari bahkan Islam menganjurkan untuk menaklukannya.

Imam Ali karramallahu wajhah pernah berujar, "Kuasai dunia dan pimpinlah dia. Letakkan dia di tanganmu, tapi jangan sekali-kali menyimpannya di hatimu!"

Di era sekarang, masyarakat Muslim serba terbelakang dan berbenam kepapaan, mutlak bagi setiap individu muslim harus kaya, tapi jangan sampai gila harta, ia hanya washilah untuk meraih surga sebelum surga sebenarnya.
Bukankah kewajiban mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji, termaknai bahwa kita sebagai yang beriman kepada-Nya harus memiliki kemapanan financial.

Zakat, terutama zakat maal, diwajibkan hanya kepada mereka yang mampu (istitho’ah). Begitu juga dengan haji dan umrah. Mari saatnya kita rebut kemapaman diri untuk berupaya mengangkat harkat martabat Islam dan kaum muslimin. Wallahu A'lam.

Setelah Shalat Witir, Bolehkah Shalat Sunnah Lagi?

Setelah Shalat Witir, Bolehkah Shalat Sunnah Lagi?

by : khoirudin dari beberapa sumber

Mengenai masalah ini, ada dua pendapat di antara para ulama.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa boleh melakukan shalat sunnah lagi sesukanya, namun shalat witirnya tidak perlu diulangi. Pendapat ini adalah yang dipilih oleh mayoritas ulama seperti ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafi'iyah dan pendapat ini juga menjadi pendapat AnNakho'i, Al Auza'i dan 'Alqomah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari Abu Bakr, Sa'ad, Ammar, Ibnu 'Abbas dan 'Aisyah. Dasar dari pendapat ini adalah sebagai berikut.

Pertama, 'Aisyah menceritakan mengenai shalat malam Nabi shallallahu'alaihi wa sallam,
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka'at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka'at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka'at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka'at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku', beliau berdiri dari ruku'nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku'. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka'at." (HR. Muslim no. 738)

Kedua, dari Ummu Salamah, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu'alaihi wa sallam pernah melakukan shalat dua raka'at sambil duduk setelah melakukan witir (HR. Tirmidzi no. 471. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga, dari Jabir bin 'Abdillah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa di antara kalian yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka berwitirlah di awal malam lalu tidurlah, ..." (HR. Tirmidzi no. 1187. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dipahami dari hadits ini bahwa jika orang tersebut bangun di malam hari sebelumnya sudah berwitiri sebelum tidur-, maka dia masih diperbolehkan untuk shalat.

Adapun dalil yang mengatakan bahwa shalat witirnya tidak perlu diulangi adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam." (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pendapat kedua, mengatakan bahwa tidak boleh melakukan shalat sunnah lagi sesudah melakukan shalat witir kecuali membatalkan shalat witirnya yang pertama, kemudian dia shalat dan witir kembali. Maksudnya di sini adalah jika sudah melakukan shalat witir kemudian punya keinginan untuk shalat sunnah lagi sesudah itu, maka shalat sunnah tersebut dibuka dengan mengerjakan shalat sunnah 1 raka'at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi. Kemudian setelah itu, dia boleh melakukanshalat sunnah (2 raka'at - 2 raka'at) sesuka dia, lalu dia berwitir kembali.

Inilah pendapat lainnya dari ulama-ulama Syafi'iyah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari 'Utsman, 'Ali, Usamah, Ibnu 'Umar, Ibnu Mas'ud dan Ibnu 'Abbas. Dasar dari pendapat ini adalah diharuskannya shalat witir sebagai penutup shalat malam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir." (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Pendapat yang Terkuat Dari dua pendapat di atas, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama dengan beberapa alasan berikut.

Pertama, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah setelah beliau mengerjakan shalat witir. Perbuatan beliau ini menunjukkan bolehnya hal tersebut.
Kedua, pendapat kedua yang membatalkan witir pertama dengan shalat 1 raka'at untuk menggenapkan raka'at, ini adalah pendapat yang lemah ditinjau dari dua sisi.
1. Witir pertama sudah dianggap sah. Witir tersebut tidaklah perlu dibatalkan setelah melakukannya. Dan tidak perlu digenapkan untuk melaksanakan shalat genap setelahnya.
2. Shalat sunnah dengan 1 raka'at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi tidaklah dikenal dalam syari'at.

Dengan dua alasan inilah yang menunjukkan lemahnya pendapat kedua.

Kesimpulan

Dari pembahasan kali ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.

Pertama, bolehnya melakukan shalat sunnah lagi sesudah shalat witir.

Kedua, diperbolehkannya hal ini juga dengan alasan bahwa shalat malam tidak ada batasan raka'at sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu' Al Fatawa, 22/272). Jika kita telah melakukan shalat tarawih ditutup witir bersama imam masjid, maka di malam harinya kita masih bisa melaksanakan shalat sunnah lagi. Sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan imam masjid ketika imam baru melaksanakan shalat tarawih 8 raka'at dengan niatan ingin melaksanakan shalat witir di rumah sebagai penutup ibadah atau shalat malam. Ini tidaklah tepat karena dia sudah merugi karena meninggalkan imam sebelum imam selesai shalat malam. Padahal pahala shalat bersama imam hingga imam selesai shalat malam
disebutkan dalam hadits, "Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis
untuknya pahala qiyam satu malam penuh." (HR. Ahmad dan Tirmidzi.
Shahih).

Ketiga, adapun hadits Bukhari-Muslim yang mengatakan "Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir", maka menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam disini dihukumi sunnah (dianjurkan) dan bukanlah wajib karena terdapat dalil pemaling dari perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 395). Demikian pembahasan kami dalam rangka menjawab pertanyaan seputar shalat tarawih yang kami bahas.
Semoga bermanfaat dan menjadi ilmu yang bermanfaat.

Rujukan:
Majmu' Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Mawqi' Al Islam, Asy
Syamilah
Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 386-395, Al Maktabah At Taufiqiyah

__._,_.___

Kemuliaan Yang Tersimpan Dalam Adzan dan Shalat

Contributor: Habib Munzir bin Fuad Al musawa
Kemuliaan Yang Tersimpan Dalam Adzan dan Shalat

Sabda Rasulullah saw :
“Jika manusia itu tahu kemuliaan kemuliaan yang tersimpan pada Adzan &
Iqamah dan shaf pertama (dlm shalat), dan mereka tak bisa mendapatkannya
kecuali dengan harus diundi (bukan judi tentunya), maka mereka akan
melakukan perundian untuk mendapatkannya, dan apabila mereka mengetahui apa
yang tersimpan pada Tahjir (mendatangi shalat dhuhur saat panas terik), maka
mereka akan berlomba2 melakukannya, dan jika mereka mengetahui apa yang
tersimpan pada shalat isya dan shalat subuh (berjamaah), maka mereka akan
mendatanginya walau dengan merangkak” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Yang Maha Menerbitkan matahari di
permukaan bumi dan selalu dalam keadaan terbit berpindah dari tempat ke
tempat lain. Terbit di wilayah ini dan terus terbit ke wilayah yang lebih
Barat dan matahari terus terbit sepanjang waktu dan zaman. Akan tetapi di
satu tempat matahari akan terbit dan akan terbenam menunjukkan kehidupan
manusia yang akan hidup dan pasti akan wafat. Tiadalah matahari itu terbit
dari kegelapan terkecuali sudah muncul kepastian ia akan terbenam. Berbeda
dengan Sang Yang Maha Memiliki matahari, Yang Maha Menerbitkan matahari
selalu terbit dan berputar di permukaan bumi dan bumi berputar yang
menyebabkan matahari itu sebenarnya terus dalam keadaan terbit, berpindah
dari tempat ke tempat. Menunjukkan dan melambangkan Raja Alam Semesta yang
selalu terbit tiada pernah terbenam sepanjang waktu dan zaman.

Berbeda dengan manusia yang terikat dengan tempatnya. Maka ia tidak akan
pernah menemukan matahari selalu terbit karena berada di tempatnya. Demikian
juga kehidupan kita yang tidak bisa mengikuti satu generasi pada generasi
lainnya.

Maha Suci Allah Swt Yang Maha Menerbitkan Cahaya Tauhid di dalam jiwa, Kasih
Sayang dan Pengampunan dan Keridhoan Allah yang terbit dengan kalimat tauhid
“Laailahailallah Muhammad Rasulullah Saw” yang kalimat itu membawa terbitnya
berjuta matahari keridhoan Illahi. Matahari kemuliaan shalat, cahaya
kemuliaan puasa, cahaya kemuliaan zakat, cahaya kemuliaan shadaqah,
kemuliaan birrul walidain dan kemuliaan – kemuliaan lainnya. Yang kesemuanya
itu merupakan matahari yang abadi, yang akan menerangimu ketika kau
menghadap Rabbul Alamin. Sebagaimana di firmankan oleh Allah “yauma laa
yukhzillaahunnabiy walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim
wa bi aimaanihim” (hari dimana Allah tidak akan mengecewakan Sang Nabi saw
dan orang – orang yang bersama Sang Nabi saw dan cahaya mereka berada
mengitari mereka di kanan kiri dan seluruh mereka, terang – benderang dengan
cahaya yang bukan matahari karena matahari akan menemui terbenam di yaumal
qiyamah).

Dan matahari ibadah, matahari ketaatan kepada Rabb tidak akan pernah padam
karena itu adalah cahaya keridhoan Allah. Hadirin, dan cahaya itu akan
menerangi mereka bersama sirajan muniira Sayyidina Muhammad Saw. Rabbiy
pastikan kami selalu mendapatkan matahari hidayah. Ya Rahman Ya Rahim Ya
Dzaljalali wal ikram, jika ada diantara hadirin yang masih belum bakti pada
ibunya pastikan mulai malam ini ia tidak akan lagi menyakiti ibu dan
ayahnya. Ya Rabb cabut seluruh perbuatan buruk kami terhadap ibunda kami
jika ada diantara kami ada yang memperbuatnya, cabut perbuatan tidak sopan
kami terhadap ayah kami jika ada diantara kami yang masih memperbuatnya.
Jadikan malam ini malam terbitnya cahaya birrul walidain kepada semua kami
yang hadir Ya Rabb..

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Selanjutnya hadits minggu lalu yang belum kita lanjutkan adalah 3 hal yang
tersisa dari 7 orang yang dinaungi oleh Allah Swt di hari tiada naungan
kecuali naungan Allah. 7 hal, pertama imam yang adil, kedua pemuda yang
tumbuh dengan ketaatan pada Allah, ketiga orang yang hatinya terikat selalu
dengan masjid, keempat orang yang saling menyayangi karena Allah dan itu
sudah kita bahas.

Yang kelima adalah pria yang diajak berzina oleh seorang wanita yang indah
wajahnya dan mempunyai harta dan jabatan, ia menjawab “inniy akhafullah”
(sesungguhnya aku takut pada Allah). Hadits ini Al Imam Ibn Hajar Al
Asqalani didalam Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan ini bukan
khusus untuk pria tapi juga untuk wanita yang diajak berzina oleh pria yang
memiliki jabatan dan harta. Orang yang diajak berzina lalu ia menolaknya
dengan ucapan “inniy akhafullah” atau dengan bahasanya masing – masing
“sungguh aku takut dan risau kepada Allah”. Orang yang menjawab ini kepada
orang yang mengajak berzina, tidak dilupakan kalimat yang terucap dari bibir
dan hatinya, Allah naungi ia di yaumal qiyamah di hari tiada naungan selain
naungan Allah.

Hadirin – hadirat diriwayatkan didalam Mukasyafah Al Qulub yang juga
riwayatnya teriwayatkan didalam Shahih Bukhari secara ringkas. Ketika
seorang wanita tidak mempunyai kemampuan untuk menafkahi anak – anaknya
sehingga ia terjebak kepada kebutuhan dan ia mengetuk pintu seorang
penguasa. Seorang kaya – raya dan seorang kaya – raya membuka pintu “apa
niatmu wahai wanita?” wanita itu berkata “aku butuh uang untuk anak -
anakku” maka orang kaya itu berkata “kalau kau butuh uang padaku maka boleh
saja tapi aku mau berzina denganmu dan berkumpul denganmu. Kuberikan apa
yang kau mau”. Wanita itu menolak dan pulang, sampai dirumah melihat anaknya
yang lapar. Minta kesana – kemari tidak ada yang memberi dan akhirnya ia
putus asa dan kembali. Kembali kepada pria itu dan berkata “ya sudah kalau
begitu, aku pasrah saja”. Pria itu berkata “aku akan bantu kau dengan lebih
yang kau minta”. Tapi ketika ia sudah didekati oleh pria itu, bergetarlah
wanita ini dengan gemetar yang dahsyat. “Kenapa kau ini”, kata pria itu.
Wanita itu berkata “aku takut pada Allah”. Ucapan itu menggetarkan jiwa sang
pria yang kaya – raya ini karena keluar dari hati yang penuh iman. Kalau
hati yang penuh iman kau berucap menggetarkan orang lain. Maka wanita yang
tidak berdaya dan miskin berkata “aku takut pada Allah”. Pria kaya
ituberkata “kau ini sudah miskin, cobaanmu berat, sudah sulit hari – harimu,
mau menjual dirimu tidak mau karena takut pada Allah. Sedangkan aku diberi
kenikmatan yang banyak oleh Allah, aku mestinya lebih takut dan risau
daripada engkau. Sudah ini uang aku berikan kau pulang dan aku taubat pada
Allah”. Ini riwayat Shahih Bukhari.

Dalam riwayat lainnya Kitab Mukasyafah Al Qulub oleh Imam Al Ghazali, ketika
seorang pria senang dengan seorang wanita. Ingin dekat dengannya dan ingin
lebih dari itu. Diikutilah kemana wanita ini pergi. Sewaktu – waktu wanita
ini ingin pergi ke tempat yang jauh (kalau zaman dahulu namanya kafilah)
kalau sekarang pakai bus atau kereta api atau pesawat atau kapal laut. Ini
dengan kafilah (rombongan), wanita ini ikut ia juga ikut. Satu malam sepi,
banyak orang sudah tidur. Perempuan ini belum tidur, didekati olehnya.
Kenalan, mulai hal yang lebih wanita itu berkata “sebentar – sebentar
saudaraku sebelum kita teruskan kemauan kita”, kata sang wanita “lihat dulu
apa semua orang sudah tidur”. Pria dengan senangnya kesana – kemari “semua
sudah tidur”. Wanita berkata “apa ada yang melihat kita?”, “tidak ada yang
melihat, semuanya sudah tidur”. Wanita itu berkata “apakah Allah tidur?”,
pria itu kaget dan ia berkata “Allah tidak tidur”. Lalu wanita itu berkata
“apakah Allah tidak melihat?”, pria semakin terdesak dan ia menjawab “Allah
melihat”, “lalu kau mau terus berbuat dan Allah melihatmu?”. Pria itu
menangis dan berkata “aku bertaubat pada Allah Swt”. Berapa minggu kemudian
terdengar kabar oleh sang wanita bahwa pria itu wafat. Iamimpi didalam
tidurnya jumpa dengan pria itu didalam kenikmatan. “Engkaukah pria yang
jumpa di malam itu? hampir saja kita berbuat dosa dan tidak jadi”, “iya
betul”. “Koq sekarang kau begitu mulanya setelah kau wafat?”, ia berkata
“terima kasih wahai wanita yang sejak kau menegurku itu, aku bertaubat pada
Allah dan Allah membimbingku pada kemuliaan”. Hadirin – hadirat, demikian
indahnya taubat dan demikian Allah menaungi mereka.

Yang keenam adalah orang yang bershadaqah dengan sembunyi – sembunyi, kata
Rasul saw sampai tangan kanannya memberi dan tangan kirinya tidak tahu.
Maksudnya adalah ketika ia memberi itu sangat tersembunyi. Bagaimana
contohnya? Contohnya ada orang fuqara berdagang (orang miskin / orang susah
yang berdagang). Ini berapa harganya? misalnya Rp. 10.000,-. Tahu kita ini
harganya Rp. 8.000,- bayarkan Rp. 10.000,-, kalau saya tawar harganya Rp.
8.000,- pasti diberi karena memang harganya Rp. 8.000,- misalnya. Ia
langsung beli tanpa menawar. Maksudnya shadaqah untuk si penjual. Ini yang
disedekahi pun tidak tahu bahwa ia disedekahi. Sang penjual tahunya ini
orang tidak menawar langsung membeli, padahal sebenarnya ia mau bershadaqah.
Ini jangankan orang lain tahu, namun bahkan yang disedekahi pun tidak tahu
kalau ia sedang disedekahi. Orang yang seperti ini dinaungi oleh Allah Swt
di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika salah seorang yang mengumpulkan
hartanya yang banyak untuk bershadaqah sembunyi – sembunyi. Ia kumpulkan
uang sampai berjumlah sekian ribu dinar dalam 1 tahun. Kerja khusus untuk
bershadaqah tapi sembunyi – sembunyi. Sudah terkumpul, pergi keluar malam
hari. Dilihat ada seorang wanita tidur di jalanan. “Wah ini orang susah”,
kasih uang ia menutup wajahnya memberikan bungkusan uang itu dan lari supaya
tidak diketahui wajahnya. Pagi hari gempar di kampung. Ada pelacur diberi
shadaqah oleh orang sembunyi – sembunyi. Ia berkata “Subhanallah!! Salah
beri, aku kira wanita susah ternyata pelacur”, “Ya Rabb aku setahun
mengumpulkan uang untuk dapat pahala shadaqah yang sembunyi – sembunyi
ternyata uangku untuk pelacur”.

Tapi ia tidak putus asa, ia kumpulkan lagi uang sampai setahun yang
jumlahnya sekian ribu dinar. Sekarang aku tidak mau tertipu, pilih – pilih
dulu. Dilihatnya orang sedang duduk diam saja di satu tempat yang gelap.
“ini pasti orang susah”, diberi padanya lalu lari. Paginya gempar lagi,
pencuri sedang ingin mencuri mendapat uang shadaqah dengan jumlah uang yang
besar. “Ya Rabb 2 tahun aku bekerja khusus untuk memberi nafkah orang yang
susah dengan sembunyi – sembunyi. Tahun pertama pelacur, tahun kedua
pencuri”.

Ia tidak jera, kumpulkan lagi sampai 1 tahun. “Ya Rabb ini yang terakhir,
kalau sudah masih lagi sampai shadaqah bukan kepada mustahiq, selesai Ya
Rabb aku tidak mampu lagi”. Dia lihat orangtua tengah malam jalan sendiri
dengan tongkatnya tertatih – tatih. “Wah ini orang yang pasti berhak, malam
– malam begini orangtua jalan malam - malam dengan tongkat pasti orang
susah”. Dilemparnya uang itu “ini untukmu” dan ia pun pergi. Pagi hari
gempar lagi kampung, “ada kabar apa?” orang paling kaya dan paling kikir
dapat uang semalam oleh orang yang shadaqah sembunyi – sembunyi. “Ya Rabb
yang pertama pelacur, yang kedua pencuri, yang ketiga orang paling kaya dan
paling kikir di kampungnya. Ya Rabb apa arti dari perbuatanku?”.

Ia pun diam, sekian tahun kemudian... 20 tahun kemudian, Allah Swt sampaikan
kabar padanya ada dua orang ulama besar adik kakak. Muridnya puluhan ribu
dan ia termasuk orang yang asyik dengan ulama itu. Ini ulama adik kakak dua
– duanya orang yang sangat luar biasa ilmunya luas, pengikutnya puluhan
ribu. Ia berkata “Subhanallah!! ini ulama adik kakak siapa ayahnya?”. Kasak
– kusuk tanya kesana – kemari ternyata 2 orang anak itu adalah ibunya
seorang pelacur dulu tapi tengah malam ada yang memberi shadaqah sembunyi –
sembunyi. Ibunya itu melacur untuk nafkah anaknya maka ia taubat dari
pelacurannya dan ia sekolahkan kedua anaknya dengan hartanya itu. Allah
jadikan dengan harta itu anak ini jadi orang baik menjadi ulama besar dan
pahalanya kembali padanya. Airmatanya mengalir, ternyata yang kuberikan 20
tahun yang lalu Allah menjadikannya berlipat ganda sampai muncul 2 orang
ulama shalih sampai puluhan ribu orang yang beribadah mengikuti ilmunya dan
pahalanya untuk dia. Ini keikhlasan seseorang.

Tidak lama kemudian ia dengar lagi ada seorang wali shalih wafat. Masya
Allah ratusan ribu yang mengantar jenazahnya. Siapa orang itu? Orang itu
dulu pencuri, saat ia sedang mencuri ia berdoa kepada Allah “Ya Rabb beri
aku keluhuran kalau aku dapat rizqi malam ini aku taubat”. Ada yang
melemparinya uang lantas ia bertaubat ia bershadaqah, ia masuk ibadah dan ia
tidak keluar dari tempat ibadahnya sampai Allah angkat ia menjadi orang yang
shalih.

Lantas ia (orang ygersedekah yg terharu atas dua kabar itu berkata) berdoa
“Ya Rabb tinggal yang ketiga, bagaimana dengan orangtua yang paling kaya dan
kikir di kampung kami”. “oo orang itu sudah wafat tapi ia pindah ke tempat
lain berwasiat mengirimkan seluruh hartanya untuk membangun Baitul Maal bagi
para anak yatim sampai sekarang itu hartanya masih makmur”. Kenapa? gara –
gara dia malu tengah malam katanya, dia yg kaya kikir, tengah malam ada yang
sedekahi. Dia berkata “ini orang sedekah padaku, sementara aku tidak pernah
shadaqah. Aku nafkahkan seluruh hartaku dan harta ini untuk baitul maal” dan
untungnya terus berlipat ganda sampai 20 tahun tidak berhenti. Ini
pelipatgandakan di dunia dan pahalanya di hari kiamat dinaungi oleh Allah
Swt.

Yang ketujuh adalah pria yang mengingat Nama Allah, pria yang menyebut Nama
Allah maka mengalirlah airmatanya. Entah karena rindu, entah karena doa,
entah karena harapan, entah karena haru, entah karena risau akan dosa, entah
karena besarnya harapan ingin masuk surga tapi ketika ia menyebut dan
mengingat Nama Allah mengalir airmatany. Ternyata tetesan airmata dari
perasaan seperti ini dilihat oleh Yang Maha Melihat dan membuat ia di
nanungi oleh Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt. 7
kelompok diantaranya kelompok ini, kita berharap berada dikelompok yang
ketujuh. Kelompok yang selalu mengingat Allah mengalir airmatanya.

Ini hadirin – hadirat hadits yang kita baca belum sempat kita jelaskan,
waktu kita sempit. Kita bermunajat kepada Allah Swt dan sebelumnya saya
ingin menyampaikan pertanyaan tentang orang yang melakukan pengobatan dengan
menggunakan air dari 7 sumur, apakah itu syirik? Hadirin, hal itu sunnah,
jadi jangan dikatakan syirik. Orang zaman sekarang tidak tahu hukum bicara
syirik.

Mandi dengan 7 sumur diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul saw saat
sakit beliau minta air dari 7 qirbah (7 wadah air yang berbeda). Al Imam Ibn
Hajar Al Asqalani didalam Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan
bahwa riwayat ini menunjukkan bolehnya berobat dari 7 sumber air yang
berbeda, Imam Ibn Hajar dalam Fathulk Baari juga menukil riwayat Imam
Ath-Thabrani bahwa Rasul saw minta air pengobatan dari 7 sumur yang berbeda.
Jadi hal itu bukan hal yang sesat justru itu sunnah Nabi Muhammad Saw. Zaman
sekarang banyak hal – hal yang sunnah karena tidak dipahami sebagian saudara
kita dibilang bid’ah. Sampai ziarah saja kepada Rasul saw dipersulit sampai
orang tidak boleh berdoa menghadap ke makamnya Rasul saw. Apa salahnya makam
Rasul? Kalau doa menghadap kandang kuda tidak dilarang, kenapa menghadap
makam Rasul saw dilarang? Naudzubillah dari pelarangan seperti. Semoga Allah
membenahi aqidah, khususnya di bumi Jakarta dan diseluruh wilayah muslimin.

Kita bermunajat kepada Allah, Rabbiy untuk saudara – saudara kami di
Palestina. Mereka yang telah wafat, limpahkan kemuliaan syuhada bagi mereka
bersama para syuhada di yaumal qiyamah. Mereka yang terkena musibah gantikan
dengan keluasan rizqi di dunia dan di akhirat dan seluruh muslimin di
wilayah Poso, Khasmir, Irian Jaya dan seluruh wilayah barat dan timur yang
tertindas pecah – belahkan Rabbiy persatuan musuh – musuh Islam, persatukan
muslimin- muslimat. Benahi aqidah kami, benahi masjidil aqsa, benahi baitul
maqdis, benahi Makkah dan Madinah Al Munawwarah dari aqidah – aqidah yang
tidak benar. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram bangkitkan para
pecinta Nabi Muhammad Saw di bumi Jakarta dan di seluruh wilayah muslimin.

Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am kami bermunajat untuk diri
kami danuntuk ayahbunda kami dan untuk seluruh muslimin muslimat. Ya Allah
Ya Dzaljalali wal ikram, inilah kami mengadukan dosa – dosa kami, kesalahan
kami pada rumahtangga, pada ayahbunda, pada tetangga, anak istri, suami.
Rabbiy maafkanlah dan benahilah keadaan kami. Ya Dzaljalali wal ikram Ya
Dzaththauli wal in’am kami telah diajari oleh Nabi kami Muhammad Saw untuk
mendoakan orang – orang yang pernah kami caci bahwa Rasul saw pernah berdoa
“allahumma ayyumal mukmin sababtuhu fa ja’al dzalika lahu gurbatan ilaika
yaumal-qiyamah (wahai Allah jika da di antara orang mukmin atau orang Islam
yang sempat kucaci maka jadikan itu pahala dan kedekatan kepada-Mu di hari
kiamat). Rabbiy kami berdoa dengan doa Nabi-Mu Muhammad Saw. Jangan jadikan
lidah kami, lidah yang mencaci. Jadikan lidah kami lidah yang asyik
memuji-Mu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli
wal in’am, inilah kami hamba penuh dosa, inilah kami penuh kesalahan, inilah
kami penuh kekurangan dalam menjalankan syari’ah dan perintah – perintahMu
dan kamis elalu terjebak dalam larangan – laranganMu. Kami mengadukan
kehadirat-Mu Rabbiy, kami mengadukan kepada Yang Maha Dekat kami mengadukan
pada Yang Maha Mendengar.

Ya Rahman Ya Rahim wahai Yang Maha Mendengar getaran jiwa kami, wahai Yang
Maha Mendengar kesedihan kami atas perbuatan dosa kami, wahai Yang Maha
Melihat hati yang terharu dan terpanggil untuk taubat namun masih belum
berani melakukannya. Ya Rahman Ya Rahim Kau melihat dosa – dosa kami, Kau
melihat kesalahan kami, dan Kau Rabbiy yang menawarkan pengampunan maka
ampunilah kami Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am Ya Rahman Ya
Rahim Kau melihat perbuatan dosa kami yang tidak mampu kami hindari, yang
tidak mampu kami mundur dan mulai meninggalkannya atau perbuatan perintah-Mu
yang belum mampu kami melakukannya. Kau melihat kami tidak mampu Rabbiy maka
berikan kami kekuatan. Terbitkan matahari hidayah pada kami Rabbiy dengan
terang – benderang, kami yang telah dalam ketaatan tambahkan ketaatannya.
Yang dalam kehinaan angkat dalam kemuliaan, tambahkan kemuliaan diatas
kemuliaan. Ya Rahman Ya Rahim diantara kami yang mempunyai permasalahan
dalam rumah tanggganya, permasalahn didalam kehidupannya, didalam
sekolahnya, didalam pekerjaannya dan dari segala kesuliatannya angkat segala
kesulitan kami dan gantikan dengan kebahagiaan. Wahai Yang Maha Melimpahkan
Kebahagiaan siang dan malam tanpa pernah bosan.

Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram pastikan seluruh wajah ini tidak
pernah melihat api neraka, pastikan seluruh kami semua yang hadir disini dan
yang mendengar dilimpahi rahmat dan keberkahan. Ya Dzaljalali wal ikram

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya
Allah..Ya Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah
Laillahailallah Muhammadurrasulullah…

Hadirin – hadirat, sekaligus mohon doa dan kita ucapkan juga terima kasih
untuk RASfm dan seluruh radio yang meliput kita mohon doanya karena kita
telah meresmikan pesantren khusus untuk santri dan santriwati dari Irian
Barat, di wilayah Nanggewer, Sentul Jawa Barat dengan nama “Darul Rasul”.
Pesantren ini adalah dari perjuangan KH. Ahmad Baihaqi bersama Majelis
Rasulullah yang selama ini masih di kediaman beliau di Manggarai. Tapi kita
sudah meletakkan batu pertama di wilayah Nanggewer, Sentul diberi nama
“Darul Rasul”. Inilah pesantern kita, pesantren Majelis Rasulullah Saw yang
dikhususkan untuk santri dari Irian Barat dan pimpinan umumnya adalah saya
sendiri dan penanggung jawabnya adalah KH. Ahmad Baihaqi. Dan demikian mohon
doanya agar pesantren ini segera tegak dan terus kita mengambil santri dari
Papua, Irian Barat dan menegakkan bendera dakwah Nabi Muhammad Saw di
wilayah Irian Barat dan sekitarnya. Amin Allahumma Amin. Kita ucapkan
fatihah untuk tegaknya pesantren mulia ini, semoga Allah Swt melimpahkan
keberkahan. Wa illa hadratin Nabi Muhammad Saw Al Fatihah..

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Shalat Gerhana


Shalat Gerhana

Ketika terjadi gerhana umat Islam disunnahkan shalat gerhana serta
memperbanyak istighfar dan shadaqah. Tentu saja, renungan ayat-ayat
kauniyah juga harus ada, bukan sekadar aspek ibadahnya. Oleh
karenannya sangat disarankan pada saat puncak gerhana, jamaah
berkesempatan juga untuk melihat langsung proses gerhananya, bagaimana
bulan menutup piringan matahari sedikit demi sedikit, lalu keluar lagi
dari piringan matahari.

Kapan waktu shalat gerhana? Gerhana matahari waktunya ditentukan oleh
gerakan bayangan bulan melintasi suatu daerah. Jadi, berbeda dengan
gerhana bulan, kita harus melihat data gerhana untuk setiap daerah.
Kalau tidak cermat, kita bisa mengumumkan informasi yang keliru,
seperti yang termuat di Harian PR Selasa, 20 Januari 2009 tentang
seruan ormas-ormas Islam terkait dengan gerhana. Pada pengumuman itu
waktu gerhana merujuk pada data global gerhana matahari.

Untuk gerhana matahari 26 Januari 2009, seluruh wilayah Indonesia
dapat menyaksikan gerhana menjelang matahari terbenam. Waktu gerhana
di Bandung mulai pukul 15.20 - 17.49 WIB. Untuk daerah-daerah lain di
Indonesia
, waktu gerhana sekitar waktu itu plus-minus 10 menit. Jadi,
kalau perlu mengumumkan ke semua cabang ormas Islam di seluruh
Indonesia, disarankan rentang waktu shalat gerhana antara pk 15.40 -
17.30 WIB.

Bagaimana cara shalat gerhana? Shalat gerhana dilakukan berjamaah di
masjid dan sesudahnya ada khutbah, seperti shalat hari raya (Id)
dengan bacaan Al-Quran yang terdengar. Caranya seperti shalat hari
raya 2 rakaat, hanya setiap rakaat ada dua kali ruku. Jadi, setelah
ruku pertama yang agak panjang kembali berdiri lalu membaca Al-Fatihah
dan surat lainnya baru ruku lagi dan sujud seperti biasa. Khutbah
berisi anjuran istighfar (mohon ampunan Allah), bershadaqah, dan
menjelaskan tentang fenomena gerhana.

Apa sih maknanya? Gerhana adalah peristiwa alam yang menunjukkan
ketundukan alam pada Khaliqnya (Penciptanya) . Maka selayaknya kita
juga menunjukkan ketaatan kepada Allah dengan melakukan shalat
gerhana. Matahari dan bulan tak pernah penyalahi hukum-Nya, sehingga
manusia pun dapat memperkirakan secara tepat waktu terjadinya gerhana.
Manusia karena nafsunya sering kali, sengaja atau tak sengaja,
menyalahi hukum Allah, maka sudah selayaknya peristiwa gerhana
mengingatkan kita untuk memperbanyak istighfar.

Matahari dan bulan bisa beriringan dan berdampingan memperlihatkan
keharmonisan yang kadang menunjukkan fenomena cincin atau mahkotanya
yang indah (korona) yang biasanya tidak terlihat. Ini mengajarkan kita
untuk juga dapat berjalan beriringan dan berdampingan dengan sesama
manusia, maka sudah selayaknya itu direpresentasikan dalam bentuk
anjuran memperbanyak shadaqah. Lalu khatib pun perlu mengingatkan
bahwa gerhana matahari adalah fenomena alam yang tidak terkait dengan
kelahiran atau kematian seseorang dan tidak terkait dengan nasib
manusia atau bencana alam, tetapi merupakan sebagian tanda-tanda
kebesaran-Nya di alam.

"Pak, Kenapa Kami Sholat Justru Di PHK..?"

Prihatin, kenapa hal seperti ini bisa terjadi di negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia?...

"Pak, Kenapa Kami Sholat Justru Di PHK..?"
Ditulis Oleh : Redaksi
Perjuangan
tiga buruh PT Mewah Niagajaya (MN) Cimahi, Jawa Barat, untuk
mendapatkan haknya menjalankan ibadah shalat Jumat berujung pemecatan.
Secara sepihak, manajemen PT MN mengeluarkan surat pemutusan hubungan
kerja kepada tiga buruh pabrik tekstil itu.

Kami di-PHK terhitung tanggal 1 Januari 2009, ungkap salah seorang
buruh PT MN yang dipecat, Tusani, Senin (19/1). Keputusan manajemen
yang melakukan PHK terhadap tiga pegawainya itu mengundang protes dari
puluhan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota
Cimahi.

Mereka mendatangi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat dan menuntut
dilakukannya penyelidikan terhadap PT MN. SPN menilai, keputusan
manajemen PT MN yang mem-PHK ketiga buruhnya karena memperjuangkan
ibadah shalat Jumat telah melanggar aturan. Puluhan buruh dari SPN itu
menggelar aksi unjuk rasa di kompleks perkantoran Pemkot Cimahi.

Dalam orasinya, para buruh menuntut Disnaker tak berpangku tangan
terhadap sikap sewenang-wenang manajemen PT MN. ''Saya di-PHK karena
dianggap telah menciptakan suasana kerja yang tak kondusif,'' tutur
Tusani. Menurut Tusani, buruh PT MN memang sudah beberapa kali
menggelar aksi demo untuk menuntut berbagai hak dasar, terutama
diperbolehkannya menjalankan ibadah shalat Jumat.

Selain itu, para buruh juga menuntut adanya cuti haid serta memprotes
potongan tunjangan hari raya (THR). Perusahaan, kata dia, menilai
dirinya telah menyudutkan nama baik perusahaan. Sebenarnya, PT MN
sempat dipanggil ke DPRD dan Disnaker Kota Cimahi. Pemanggilan itu
dilakukan menyusul aksi unjuk rasa yang dilakukan para buruh PT MN.

Salah seorang buruh yang saat ini masih bekerja di PT MN, Ahna
Triyatna, mengaku sering ditegur dan dijatuhi sanksi lantaran
melaksanakan ibadah shalat Jumat. ''Supervisor memang memperbolehkan
saya shalat Jumat, tapi saya tidak diperbolehkan kembali bekerja ke
pabrik,'' papar Ahna. Menurut dia, PT MN sudah lama memberlakukan
pembatasan hak melaksanakan shalat Jumat bagi karyawan. Alasan
perusahaan, mesin pabrik beroperasi 24 jam.

Menanggapi keputusan PHK sepihak itu, Kepala Disnaker Dukcapi Cimahi,
Bambang Arie, menilai, manajemen PT MN telah melanggar aturan. ''Tapi,
untuk pastinya, saya akan tanyakan pada staf saya yang menangani,''
ujar Bambang menjelaskan. Menurut dia, melaksanakan shalat Jumat
merupakan hak sebagai karyawan dan kewajiban sebagai umat Islam yang
harus dilaksanakan.

Reaksi keras dilontarkan Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH
Athian Ali M Dai. Menurut dia, aturan perusahaan yang melarang
karyawannya untuk melaksanakan ibadah shalat, termasuk shalat Jumat,
merupakan sebuah bentuk kejahatan kemanusiaan. ''Perusahaan telah
menzalimi hak paling dasar seorang karyawan,'' tegas Athian.

Athian mengaku tidak habis pikir dengan sikap PT MN yang melarang
karyawannya melaksanakan ibadah shalat Jumat. Ini dasar alasannya apa?
Cetus Athian. Alasan PT MN dinilai dibuat-buat. Dia mengatakan,
seharusnya perusahaan menempatkan karyawan non-Islam untuk menjaga
mesin saat pegawai Muslim menjalankan shalat Jumat. ''Saya minta Pemkot
Cimahi bertindak tegas.''

Sebelumnya, Kabag Umum Personalia PT MN, Hendra Sutarli, membantah
perusahaan telah membuat larangan shalat Jumat. Menurut dia, di
perusahaannya terdapat mesin yang beroperasi 24 jam, sehingga tak bisa
semua pegawainya shalat Jumat. Hendra mengatakan, pegawainya yang
shalat Jumat kerap melebihi waktu yang ditetapkan perusahaan.

www.republika. co.id

Shalat Taubat

Shalat Taubat

Bagi mereka yang membiasakan shalat taubat mungkin ada yang masih terselip sebersit tanya di hati tentang dosa apa yang dilakukan sehingga harus melaksanakan shalat taubat [biasa, sabotase nafsu, tidak terima diberi beban]. Seakan shalat taubat hanya bagi mereka yang melakukan dosa besar saja, padahal setiap saat kita ini senantiasa melakukan dosa yang merupakan awal dari dosa-dosa yang lain, yaitu lalai dari mengingat Allah.

Ingat Allah bukan hanya dalam pengertian misalnya ketika kita ditanya, “Namamu siapa ?”, kemudian kita menjawabnya, “Fulan.”. Kita menjawab dengan menyebutkan nama kita karena kita memang ingat tentang nama kita. Itu namanya mengingat [recall memory] karena ada suatu sebab, bukan berkekalan dalam kesadaran setiap saat bahwa nama kita Fulan. Nah, lalai dari mengingat Allah ya seperti itu, kita ingat kalau Allah itu Tuhan kita, tetapi kesadaran kita tidak bersama-NYA, hati kita tidak untuk-NYA dan ketika nafsu kita menguat terjadilah perselingkuhan itu. Perselingkuhan antara diri kita dan nafsu kita yang akhirnya melahirkan setan, begitu yang saya pahami dari apa yang pernah diajarkan Syaikh Luqman. Berarti tanpa disadari setiap saat ketika kita lalai dari Allah, setiap saat itu pula kita memproduksi setan, lebih parah lagi kita juga sering menggoda setan untuk menggoda diri kita sendiri, “Setan godain kita dong !”.

Adakah maksiat yang terjadi ketika hati seseorang hadir kesadaran bersama Allah ?

Adakah kerelaan terhadap nafsu manakala hati hanya untuk Allah ?

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada celaan tidak ada pujian, semua kembali kepada-NYA.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada kesedihan tidak ada kegembiraan, semua pemberian-NYA.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada cobaan tidak ada peringatan tidak pula anugerah, semua Rahmat-NYA.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada kekhawatiran tidak ada ketakutan, semua jaminan-NYA.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada kekuatan tidak ada keunggulan, semua pemberian-NYA.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada siksa tidak ada pahala, semua ketentuan-NYA.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada yang lain, yang ada hanya ALLAH.

Bila hati dalam kesadaran Allah, tidak ada yang tidak ALLAH.

Bila hati lalai dari Allah, itulah awal dosa kita dan itulah yang harus selalu kita mohonkan ampunan setiap harinya, itulah awal taubat kita. Dadi ojo rumongso ora nate tumindak dosa.

MAKNA TERTINGGI SHALAT ARBAIN

MAKNA TERTINGGI SHALAT ARBAIN

Jemaah haji Indonesia yang
berangkat dalam gelombang I kini tengah berada di Madinah Al Munawarah.
Mereka berada di sana selama 8-9 hari lamanya. Berbagai
aktifitas ibadah mereka lakukan di sana.
Mulai dari shalat fardhu yang lima
waktu, ibadah-ibadah sunnah, berziyarah ke makam Rasulullah Saw dan para
sahabat, dan melakukan Shalat Arbain. Apa itu Arbain? Arbain adalah sebuah
silsilah ibadah shalat fardhu yang dilakukan sebanyak 40 kali tanpa terputus
sekalipun. Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang
berbunyi:

Dari Anas bin Malik yang
diriwayatkan secara marfu'' bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali
pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari
adzab dan kemunafikan. " (HR
Ahmad dan At-Thabrany)

Meski terdapat
perdebatan mengenai status hadits ini, namun yang perlu menjadi perhatian kita
semua adalah bagaimana hikmah terpenting yang dapat diambil dari pelajaran
Shalat Arbain bagi setiap jemaah haji yang melakukannya.

Rasulullah Saw pernah
bersabda bahwa shalat di masjid Nabawi pahalanya adalah 1000 kali lipat
dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana sabdanya:

Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali
dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di
Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR.
Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).

Hadits ini menjadi
stimulan dan motivasi bagi setiap muslim yang berada di Madinah untuk
memperbanyak ibadah di masjid Nabawi wa
bil khusus ibadah shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka tak jarang demi
mempertahankan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, terlihat banyak sekali jemaah
haji yang rela beri'tikaf di masjid berlama-lama hanya demi menunggu datangnya
waktu shalat berjamaah. Dari waktu shalat yang satu ke waktu yang lain mereka
semua menanti dengan penuh harap. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah Saw:

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bertanya,
'Maukah kalian aku tunjukan amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat
mengangkat derajat (di surga)?". Para Sahabat menjawab, 'Tentu, wahai
Rasulullah.' Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai,
memperbanyak langkah ke mesjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat.
Itulah yang harus kalian utamakan.'" (HR. Muslim)

Spirit yang mereka
rasakan saat menjalankan ibadah Shalat Arbain di Masjid Nabawi adalah betapa
mereka merasa sayang apabila tertinggal shalat berjamaah meski hanya satu kali,
sebab hal itu akan membuat Arbain yang hendak mereka capai menjadi gugur.

Pernah suatu saat ada
seorang jemaah haji dari Indonesia
yang begitu sigap menghadiri shalat
berjamaah di Masjid Nabawi. Namun begitu terdengar iqamah berkumandang,
tiba-tiba ia merasakan perutnya tidak beres dan ia pun pergi ke toilet untuk
mengambil air wudhu lagi. Ia hanya tertinggal takbiratul ihram imam shalat, bukannya tertinggal shalat berjamaah.
Namun ia menyatakan penyesalannya sebab ia datang terlambat menghadiri shalat
berjamaah.

Begitu bersemangat dan
pantang menyerah mereka mempertahankan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Dan
itulah gambaran kaum muslimin sejati yang sigap menjawab panggilan Allah Swt
saat adzan berkumandang.

Jemaah haji yang
tengah menjalani ibadah Shalat Arbain di Madinah tengah belajar menghilangkan
sifat kemunafikan dalam diri mereka dan menghadiri panggilan Allah Swt saat
adzan berkumandang. Hal itu seperti yang termaktub dalam hadits Shalat Arbain
di atas bahwa hikmah dari ibadah tersebut adalah membebaskan manusia dari sifat
munafik dan membebaskan mereka dari belenggu api neraka.

Hanya muslim yang
berpasrah diri kepada Allah yang ringan untuk menjawab pangggilan Allah Swt,
baik secara jiwa maupun harta. Maka ibadah shalat fardhu empat puluh waktu atau Arbain inilah yang melatih
mereka untuk menjadi hamba Allah yang tulen, yang terbebas dari kungkungan
dunia dan terbebas dari belenggu kemunafikan dirinya.

Semoga sekembalinya
para jemaah haji dari tanah suci, mereka akan terus diberi kekuatan untuk
menghadiri shalat berjamaah di rumah-rumah Allah yang berada di lingkungan
mereka. Amien!

Salam,
H. Bobby Herwibowo

Pembimbing Haji &
Umrah DD Travel