Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

Teladan Kehidupan

By: M. Agus Syafii

Di dalam kehidupan sehari-hari seringkali tanpa kita sadari apa yang kita lakukan dipengaruhi oleh orang lain. Perilaku yang kuat, memiliki nilai positif senantiasa membekas ke lubuk hati kita. Seperti halnya seorang anak yang menyukai kebiasaan baik dari apa yang disukai oleh sang ayah. Ada seorang dokter tertarik dengan pekerjaannya karena ingin mengikuti jejak ayahnya. Ia tergugah melihat dedikasi ayahnya dalam melayani pasien. 'Menolong orang yang sakit di malam hari, orang yang tadinya sudah putus asa, tidak ada harapan menjadi bangkit dan bersemangat dalam hidupnya,' kenangnya disaat menceritakan awalnya ketertarikan di dunia kedokteran. Disaat ini ia telah menjadi dokter spesialis yang banyak dicari orang, pasiennya berdatangan dari berbagai kota.

Teladan kehidupan, disadari atau tidak, memang memiliki dampak yang begitu kuat dalam kehidupan kita, kekuatannya lebih dari proses belajar dan pengajaran. Teladan adalah faktor utama keberhasilan dalam pembentukan pribadi seseorang. Imam Syafii menyebutkan, 'Tidak ada yang lebih berpengaruh & lebih menentukan dalam kehidupan seorang anak daripada kekuatan mental sebuah teladan yang memberikan kenyamanan dan penuh pengertian.'

Disaat ini tentu saja anda teringat orang yang menginspirasi anda sehingga anda memilih karier seperti sekarang. Mungkin juga orang yang teladannya sangat berpengaruh dalam hidup anda. Bersyukurlah kepada Allah atas karuniaNya atas keberadaan orang tersebut yang telah memberikan teladan yang membuat hidup kita menjadi lebih baik. lantas bagaimana dengan kehidupan anda, sudahkah menjadi sumber inspirasi bagi orang lain?'

Wassalam,
m45key

Pak Salman Pemimpin Impian

oleh Anas Ayahara

Pagi-pagisekali Pak Salman sudah memberi makan nasi sisa dan pelet
padaIkan-ikan Lelenya , pelet dan nasi yang ia tebarkan ke kolam
terbuatdari terpal warna biru yang diletakkan di lubang dan gentong
berisi airdi pekarangan rumahnya.

Pagi itu lain dari biasanya SetiapTetangga yang lewat berteriak menyapa
dengan sapaan yang berbeda dandengan tambahan beberapa kata antara lain:

"Selamat ya Pak Salman …. Bapak Walikotaku,
Selamat Pagi Pak Walikota, tadi malam saya melihat perolehan suara bapak
unggul mutlak 70an% menurut survei perhitungan cepat"

"Oh ya. ?" jawab Pak Salman, sambil agak melotot

PakSalman memang tak begitu peduli dengan pencalonan dirinya
sebagaiwalikota, bahkan segala atribut dan spanduk, disiapkan dan
dimodalioleh kader sebuah partai yang masih saudara dan masih
tetangganya juga,dan tak disangka sangka, ternyata Pak Salman menang
pilkada terpilihsebagai walikota yang juga tetap merangkap bekerja
sebagai peternakikan lele.

Sebelumnya Pak Salman rajin mengikuti pengajian rutindengan niat ibadah
menambah ilmu di sebuah Pengajian yang tidakmengharamkan partai. Di
pengajian rutin itu Pak Salman memancarkanPesona Kecerdasan dan Pesona
Rendah Hatinya.

Karena rajinnyamengkuti kegiatan jamaah. Maka tak disangka para kader
partai memilihdirinya menjadi calon walikota dalam sebuah Pilkada. Dan
takdisangka- sangka Pak Salman bisa menang atas Izin Allah dan kerja
samayang solid dari tim suksesnya.

Kini Pak Salman mendapat duapenghasilan yaitu dari hasil penjualan
ternak Lele di halaman rumahnyadan penghasilan dari gaji sebagai
walikota.

Akibatnya,
Beliau menjadi punya kesempatan hidup bergelimang kemewahan, pulangpergi
bisa dikawal Polisi Patwal. tetapi dirinya tidak maubermewah- mewah. Pak
Salman tak mau mengambil satu rupiahpun darigajinya sebagai walikota.

Sehingga,
Uang Gajinya sebagai Walikota menjadi sering habis untuk:
• kegiatan-kegiatan sosial,
• menyumbang anak yatim,
• menambal jalan-jalan berlubang ,
• menyumbang sekolah yang rusak
• dan lain-lain sesuai keadaan yang dilaporkan anak buahnya atau
keadaan yang ditemuinya Langsung.

Suatuketika, Pak Salman ingin berbelanja dapur ke pasar, untuk
mengindaripengawala n dan pujian yang berlebihan dari rakyatnya, Pak
Salmanterpaksa menyamar menjadi orang biasa berpakaian sederhana,
berkacamatabening, memakai sendal Jepit, Pak Salman pergi ke pasar
berjalan kakitanpa pengawalan polisi, beberapa ratus meter menuju pasar,
beliaubertemu seorang laki-laki dari kota lain yang baru pulang
berbelanjasedang berjalan memikul barang bawaan sepertinya untuk dijual
lagi.barang bawaan dua karung plastik yang lumayan berat yang membuat
lelakiitu kelelahan.

Karena dia melihat Pak Salman yang hanya berpakaian sederhana, lalu
lelaki itu memanggilnya

"Pak… ..tolong bawakan barang ini sampai angkot 03 itu ya Pak, nanti
saya kasih upah"

PakSalman menurut saja, dia memikul salah satu karung tersebut
kepunggungnya dan mereka berjalan bersama sama. di tengah
perjalananmereka berpapasan dengan rombongan orang. Lalu rombongan itu
berhentidan mengucapkan salam berkata: "assalamu'alaykum" .

"waalaykumussalam wr. Wb" Jawab lelaki dan Pak Salman secara bersamaan.

Rupanya,salah seorang lelaki dari rombongan itu mengenali suara Pak
Salman danbergegas mendekati Pak Salman yang saat itu memakai topi.

orangitu menatap serius wajah Pak Salman sambil berkata: "eh Pak
Salmanya.... , biar saya yang bawakan Pak, waduh masak Bapak walikota
maurepot-repot membawa barang berat begini"

Pak Salman menolak,
Lelaki si pemilik barang tersentak kaget, dia baru sadar bahwa orangyang
membantunya membawakan barang ialah Pak Salman S.Kom sang walikotayang
terkenal dermawan itu yang Juga Peternak Lele yang sukses danlaris.

Lelaki pemilik barang itu menjadi salah tingkah danberusaha terus
menerus meminta maaf atas kelancangannya dan mencobamenarik karung yang
sedang dipikul Pak Salman.

"tidak usah, sebelum ku antarkan sampai angkot 03 itu" Jawab Pak Salman
menjawab sambil tersenyum...

"Kok masih ada ya walikota yang begitu" ku berkata dalam
hatiku,badankuyang baru saja mengulet dan bibirku menguap selesai bangun
tidur siang.
***

bila ada kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka
kisah di atas hanya rekaan yang suatu saat bisa terjadi,
semoga bisa saja terjadi di Indonesia Kita yang tercinta..

Membangun kemampuan mencintai

Membangun kemampuan mencintai

Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan
menumbuhkan orang lain. Selanjutnya adalah kemampuan baik yang menjembatani
gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan. Cinta yang
hanya berkembang di batas gagasan dan kemampuan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tidak berbuah.

Bagian cinta yang pertama dan kedua, gagasan dan kemampuan baik, biasanya
terbentuk dari serangkaian penghayatan akan nilai-nilai luhur kemanusiaan
dan keagamaan tentang kehidupan dan hubungan antar manusia didalamnya,
hubunga manusia dengan sang kholik dan hubungan manusia dengan alam. Sedalam
apa penghayatan itu dalam diri seorang pecinta sedalam itupula energi cinta
yang ada dalam dirinya.

Bagian ketiga cinta adalah kemampuan, memerlukan latihan dan proses
pembelajaran. Kalau kita mau memberi, kita harus melatih dan belajar
bagaimana memiliki. Kalau kita mau memperhatikan orang yang kita cintai,
kita harus belajar dan berlatih untuk tidak membutuhkan perhatian orang
lain. Kalau kita membutuhkan kekasih, kita harus belajar bagaimana bertumbuh
terlebih dahulu. Begitu seterusnya : memberi, memperhatikan, menumbuhkan,
merawat, dan melindungi mengharuskan kita memiliki kemampuan pribadi untuk
melakukan tindakan-tindakan produktif.

Produktifitas adalah indikator kematangan seorang pencinta. Seorang pecinta
yang tidak produktif adalah seperti pohon rindang yang tidak berbuah.

Sebuah pelajaran bagaimana kita mengembangkan diri menjadi
kemampuan-kemampuan baru, mengarahkan kemampuan baru itu menjadi sumber
produktifitas.

Mencintai dengan semua siklusnya adalah kerja dari dalam keluar. Seorang
pecinta sejati adalah seseorang yang mampu keluar dari dirinya sendiri
menuju orang lain. Tapi jauh sebelum seseorang mampu keluar dari dirinya
sendiri, ia harus masuk ke dalam dirinya sendiri. Sedalam mungkin. Pelajaran
cinta adalah pelajaran tentang bagaimana kita masuk kedalam diri sendiri
untuk kemudian keluar dengan cara yang lain. Ini latihan untuk menjadi lebih
baik, untuk kemudian menjadikan orang lain lebih baik. Dan akhirnya ini
adalah pelajaran tentang bagaimana mengubah kehidupan menjadi taman yang
indah dipandang dan lebih nyaman di huni. Karena disana kita bertumbuh.
Karena dalam pertumbuhan itu kita bahagia.

"Serial cinta", dari ustd. Anis Matta.

Inilah 10 Tips agar Anda Lebih Bahagia Saat Berbisnis Online


Aktivitas dan jadwal yang padat kadang mudah mendatangkan stres pada diri kita. Akibatnya pekerjaan yang kita lakukan menjadi tak maksimal dan berpengaruh pada kualitas pekerjaan. Sekalipun anda berbisnis online, yang bekerja hanya di depan komputer, namun rasa stres itu bisa saja menjangkiti.

Lalu bagaimana?

Untuk sukses, kita tak harus stres. Sukses bisa kita raih dengan penuh kegembiraan. Rasa riang dan bahagia justru memperbesar peluang kita untuk sukses. Sebab rasa bahagia merupakan cara terdahsyat meningkatkan produktivitas kita. Dan produktivitas merupakan penentu kesuksesan.

Dengan berbahagia, kita akan merasa senang menjalankan aktivitas itu. Dengan merasa happy, kita akan merasa nikmat melaksanakan pekerjaan kita. Sehingga hasil pekerjaannya menjadi maksimal. Rasa bahagia juga membangkitkan energi kreatif dalam tubuh anda. Ide-ide baru untuk pengembangan bisnis online anda akan terus bermunculan. Rasa bahagia juga akan merangsang pikiran anda menjadi lebih terbuka. Sehingga ilmu dan pelajaran baru bisnis online lebih mudah terserap.

Rasa senang juga membangkitkan sikap optimis bahwa bisnis online anda akan berhasil. Anda akan terus bersemangat dan menikmati setiap prosesnya.

Ok. Tapi bagaimana caranya agar sepanjang waktu kita selalu dilingkupi perasaan senang dan bahagia?

Berikut ini beberapa tipsnya:

  1. Bangun Mental Positif dalam Diri Anda. Mental positif berpengaruh besar bukan hanya pada bisnis online anda, tapi pada jalan hidup anda selanjutnya. Setahu saya setiap pebisnis online sukses selalu bermental positif. Mereka selalu mengembangkan sikap, pikiran, dan perasaan positif dalam hidupnya.
  2. Visualisasikan Tujuan Bisnis Anda. Dengan mengetahui tujuan anda, anda memiliki target yang jelas. Ini akan membantu anda lebih bersemangat untuk mencapai tujuan itu. Setiap anda merasa sedang kendor semangatnya, coba lihat kembali tujuan bisnis anda. Itu akan membuat anda lebih bersemangat dan berbahagia menjalaninya.
  3. Senyumlah. Bekerjalah sambil tersenyum. Senyuman tersebut akan merangsang seluruh anggota tubuh anda untuk merasa bahagia. Anda bisa mencobanya sekarang juga. Rasakan perbedaan suasana hati anda saat anda senyum dan saat anda cemberut. Mengenai manfaat tersenyum, coba baca di blog AndinaElegance.
  4. Lakukan Pekerjaan yang Anda Sukai Setiap Hari. Misalkan anda suka blogwalking, pastikan kegiatan tersebut tak anda lewatkan. Karena pekerjaan yang anda sukai itu akan menyalurkan rasa bahagia pada pekerjaan-pekerjaan selanjutnya.
  5. Mulai dari Pekerjaan yang Termudah. Melakukan pekerjaan yang termudah akan membantu membangkitkan semangat anda. Memulai pekerjaan dari yang termudah akan membuat anda lebih bersemangat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan berikutnya.
  6. Selesaikan Pekerjaan Satu Persatu. Selesaikan pekerjaan anda satu persatu. Dan nikmatilah! Dengan begitu setiap pekerjaan yang harus anda selesaikan bisa selesai dengan maksimal.
  7. Rayakan Keberhasilan Anda. Setiap prestasi yang anda raih, anda perlu merayakannya. Merayakan keberhasilan merupakan cara menghargai kerja keras anda. Rayakanlah bersama orang-orang di sekeliling anda.
  8. Salurkan Kebahagiaan Anda pada Orang Lain. Kebahagiaan itu bisa menular. Mengabarkan kebahagiaan anda pada orang lain bisa ikut manambah kadar bahagia di hati anda.
  9. Katakan Kalau Anda Bahagia. Setiap anda bangun pagi, katakan dengan tegas beberapa kali “saya bahagia hari ini!” Perkataan tersebut sebagai stimulus awal yang akan menyadarkan tubuh anda kalau anda tengah bahagia.
  10. Selalu Niatkan untuk Membantu Orang Lain. Apapun jenis bisnis online anda atau apapun produk atau jasa yang anda tawarkan, selalu niatkan untuk membantu orang lain. Dengan niat seperti itu akan lebih mendatangkan ketentraman bagi diri anda.

Melakukan ke-10 tips di atas bisa mendorong diri anda menjadi lebih bahagia. Dan yang jelas, untuk berbahagia tak harus menunggu hal-hal di luar diri anda menjadi seperti yang anda harapkan, seperti mungkin traffic yang meningkat tajam, atau mungkin penjualan yang meningkat. Karena kebahagiaan sejati itu pada hakikatnya bersumber dari dalam diri anda sendiri.

So, apakah anda sudah bahagia hari ini?

Jenaka dalam Kecerdasan

Jenaka dalam Kecerdasan
By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Semua kita pasti sudah pernah mendengar nama Abu Nawas.Jika orang menyebut nama Abu Nawas maka langsung terbayang sosok pelawak kesohor atau tentang fikiran akal bulus yang sangat lembut,- tetapi konotasinya negatip. Sesungguhnya tokoh Abu Nawas atau Abu Nuwas adalah seorang ahli hukum dan kritikus social yang sangat cerdas yang hidup pada zaman Daulah Abbasiyyah di Bagdad, dan sempat bertemu dengan dua khalifah (raja) pada periode hidupnya, yaitu Harun Al Rasyid dan al Ma`mun.. Ia juga seorang penyair sufi , tetapi kekhasan Abu Nawas adalah kemampuannya mengekpressikan kecerdasannya secara jenaka,bahkan termasuk kepada Tuhan.. Kumpulan puisinya tercantum dalam buku Diwan- Abu Nuwas yang di Fakultas sastra Arab bukunya dijejerkan bersama dengan kumpulan
puisi
Imam Syafi`i ,Diwan al Imam al Syafi`i dan puisi Ali bin Abi Thalib,Diwan al Imam ~Ali, Diwan Syi`r Imam al Bulagha. Kecerdasan dan kejenakaan Abu Nuwas dapat dirasakan dari kisah-kisah sebagai berikut.

Pertama
Suatu hari Raja iseng-iseng uji nyali staf di kerajaannya. Di halaman depan kerajaan ada pohon jambu yang sedang berbuah. Raja mengikat seekor orang utan yang besar dan galak di pohon itu, lalu Raja mengumumkan; barang siapa bisa mengambil sebutir saja jambu dari pohon itu akan diberi hadiah seribu dinar. Orang banyak berusaha untuk mengambilnya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa, karena setiapkali mendekat pohon,orang utan yang galak itu segera menyongsongnya. Abu Nawas yang kala itu sedang bertamu ditawari ikut. Abu Nawaspun bersedia dan dengan santai ia mengambil beberapa batu kecil. Dengan cermat Abu Nawas melempari orang utan itu dengan batu-batu kecil. Sudah barang tentu orang utan yang galak itupun marah, tetapi ia
tidak bisa menjangkau Abu Nawas karena kakinya terikat rantai ke pohon. Puncak kemarahan orang utan itu terjadi, ia petik jambu didekatnya dan dibalas melemparnya ke Abu Nawas. Nah Abu Nawas tinggal menangkap jambu itu, dan Abu Nawas memenangkan hadiah Raja sebesar seribu dinar.

Kedua
Pada suatu hari, salah seorang keponakan Raja yang bernama Jafar berceritera kepada Raja,bahwa ia bermimpi menikahi seorang gadis yang bernama Zainab, seorang gadis yang terkenal di Bagdad karena kecerdasan dan kecantikannya. Raja dengan tanpa berfikir mendalam langsung mengomentari ceritera mimpi ponakannya. Wah itu mimpi yang baik, mimpimu itu isyarat petunjuk Tuhan. Begini saja, kalau kamu memang mau menikah dengan Zainab, serahkan pada pamanmu ini,biar aku yang urus. Sudah barang tentu Jafar, sang keponakan sangat gembira. Esoknya, Zainab dan kedua orang tuanya dipanggil menghadap raja, dan kepada mereka disampaikan bahwa ada isyarat Tuhan yang harus
dilaksanakan , yaitu menjodohkan Jafar, keponakannya dengan Zainab. Biarlah kerajaan yang menyelenggarakan hajatannya. Kedua orang tua Zainab sudah barang tentu bersukacita, tetapi Zainab sendiri tidak bisa menerimanya. Hatinya menolak keras dijodohkan, apalagi hanya berdasar mimpi, tetapi mulutnya terkunci rapat. Kerajaan dengan bersukacita mengumumkan rencana pernikahan itu,dan tak lupa Rajapun menceriterakan kepada publik mimpi ponakanya yang ia fahami sebagai isyarat dari Tuhan yang harus dilaksanakan.

Di rumah, Zainab bingung tak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tuanya dan bahkan segenap keluarganya dalam suasana bahagia menyongsong hari perkawinan dirinya, tapi dia sendiri hatinya hancur karena tidak menyukai Jafar, ponakan raja yang ia ketahui perilakunya tidak terpuji.Inginnya ia kabur dari rumah, tetapi itu pasti mencelakakan keluarga karena mempermalukan kerajaan. Sekedar mencari ketenangan Zainab mengadu kepada Abu Nawas. Abu
Nawas
bertanya. Kamu ingin pernikahanmu dengan Jafar berlangsung atau inginya gagal? Pokoknya Saya tidak ingin menikah dengan Jafar, paman , jawab Zainab. Abu Nawas melanjutkan. Jika engkau ingin perkawinan itu gagal,engkau harus segera menghadap raja dan mengucapkan terima kasih karena Paduka telah menjalankan isyarat Tuhan melalui mimpi Jafar.. Tapi, tapi bagaimana ? Zainab protes. Pokoknya, kata Abu Nawas, jika engkau ingin perkawinan itu gagal,laksanakan kata-kata saya.

Dengan tidak begitu faham jalan fikiran Abu Nawas,Zainab menghadap Raja dan mengucapkan terimakasih. Sudah barang tentu Raja sangat senang mendengar kata-kata Zainab.

Suatu pagi, katika halaman kerajaan sudah didirikan tenda untuk acara pernikahan , Abu Nawas berada di atap istana raja, mencabuti genting-2 dan melemparkannya ke halaman. Sudah barang tentu gegerlah istana. Abu Nawas di tangkap dan langsung di sidang di depan raja untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya--. Abu Nawas diancam dengan hukuman berat. Ketika Abu Nawas ditanya oleh raja tentang motivasi dari apa yang dilakukan, dengan sangat sopan Abu Nawas menjawab. Paduka tuanku junjungan kami, ampunilah hamba orang kecil ini,hamba adalah orang kecil yang selalu mengidolakan baginda. Apapun yang menjadi kehendak paduka,kami selalu mengikutinya.Paduka junjungan kami,tiga malam berturut hamba bermimpi menaiki atap istana tempat paduka bersemayam. Hamba gelisah, dan akhirnya hamba yakin bahwa mimpi hamba adalah isyarat dari Tuhan untuk menyelematkan paduka, dari ancaman yang kita belum tahu. Jangan-jangan di atap ada ancaman terhadap baginda. Oleh karena itu sebelum bencana itu menimpa baginda,ham-ba segera naik atap untuk melaksanakan isyarat Tuhan yang kami dapati dalam mimpi kami.Mohon ampun baginda.

Sang Raja tercenung mendengar jawaban Abu Nawas. Raja sadar bahwa Abu Nawas itu orang cerdas. Raja pun sadar bahwa mengambil
keputusan berdasar mimpi Jafar,keponakannya adalah sangat tidak bijaksana,bahkan berbahaya. Terbayang dalam fikiran Raja,apa lagi yang akan dilakukan Abu Nawas besok-besoknya dengan alasan mimpi. Sungguh berbahaya. Akhirnya Raja membatalkan rencana menikahkan Zainab dengan keponakannya.

Ketiga
Suatu hari Raja yang repressip itu melakukan kunjungan incognito meninjau proyek pembangunan taman di pinggir sungai Tigris. Ketika berada di pinggir sungai dan jauh dari rumah tiba-tiba sang raja ingin buang hajat.Rupanya raja sedang kena diare karena salah makan. Dengan sigap pengawal melakukan langkah darurat,yaitumembuyat WC tenda di pinggir sungai. Rajapun apa boleh buat masuk ke WC darurat itu.

Melihat pemandangan itu,Abu nawas tiba-tiba lari ke arah hulu sungai dan langsung buang hajat di situ. Sudah barang tentu raja marah,karena tahi Abu Nawas pelan-pelan mendekati raja mengikuti arus air. Usai buang hajat, raja langsung memerintahkan
pengawal untuk menanangkapAbu Nawas. Abu Nawas di sidang dengan tuduhan menghina raja karena buang air besar di depan raja. Tetapi dengan amat sopan Abu Nawas menjawab. Aduh mohon ampun paduka junjungan kami. Sama sekali tidak ada setitikpun niat hamba menghina paduka.Hamba ini orang yang sangat mengidolakan paduka. Dalam keadaan apapun paduka adalah pemimpin kami. Hamba selalu patuh berada di belakang paduka.Sedikitpun kami tidakberani mendahului paduka.Tetapi kamu buang hajat di depanku, bentak Raja.

Adapun tentang buang hajat,mohon maaf paduka.Semula kami berada di belakang paduka, tiba-tiba hamba terkena diare.. Seandainya hamba langsung buang hajat di tempat,maka pasti tahi hamba akan mendahului tahi paduka yang mulia.Ini tidak boleh karena ini adalah satu penghinaan. Oleh karena itu paduka, dengan sangat berat kami—buru-buru lari ke depan untuk buang air di sana,agar tahi hamba tidak mendahului tahi paduka.

Mendengar
keterangan Abu Nawas, raja manggut-manggut dan bisa menerima alasan Abu Nawas.Abu Nawas bukan saja tidak dihukum,malah raja memberinya hadiah seribu dinar.

Keempat,
Abu Nawas jenaka bukan hanya kepada sesama manusia,kepada Tuhan pun ia suka bercanda. Salah satu candanya terekam dalam teks doa yang hinggga kini banyak dihafal orang. Kata Abu Nawas,Ilahy,lastu lil firdausi ahla. Wala aqwa `alannar aljahimi. Fahabl itaubatan waghfir dzunubi.fa innaka ghofirun dzambil`adzimi. Artinya.Ya Tuhanku, rasanya hamba tak pantas masuk surgamu. Tetapi untuk masuk neraka, waduh sorry,hamba tak kuaaaat. Oleh karena itu ya Tuhan,mudahkanlah hamba untuk bertaubat dan ampunuilah dosa kami. Bukankah Engkau Maha Pengampun bahkan terhadap dosa-dosa besar ?.

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Terjebak dalam Kegelapan

Terjebak dalam Kegelapan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani An-Naqshbandi QS
Lefke, Cyprus

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Uwais al-Qarani RA (para Awliya dimakamkan di dekatnya) tidak tidur, beliau hidup, di perut bumi. Awal mula kufur adalah keyakinan bahwa di dalam kuburnya, orang tidur dalam jangka waktu yang tak terhingga. Artinya, kalian tidak pernah bangkit lagi. Ketika kalian tidur—berakhirlah sudah, kalian tidur dan tidak pernah bangun lagi. Itulah pola pikir orang-orang yang bersifat materialis dan atheis.

Sekarang orang-orang mengikuti gaya hidup orang-orang Barat, dan mereka memberi ide-ide bodoh yang tidak masuk akal kepada orang-orang, membuat mereka tidak percaya kepada sesuatu yang berasal dari Surga. Mereka menyangkal keberadaan Rasul, kitab-kitab suci, dan segala yang berasal dari Surga. Dan itu adalah gaya hidup baru, sesuatu yang baru di mana Muslim juga berkata, “Tidur di sini selamanya, kalian tidak akan bangun, kalian tidak akan kembali lagi.

Kesempatanmu (firsat hayati) sudah berakhir, dan kalian berada di jalan yang tidak berujung. Kalian pergi dan baru saja terpisah dari kami dan kami tidak akan pernah bersamamu lagi.” Dan ini membuat orang-orang bertambah sedih, tidak bahagia, tidak punya harapan, dan jatuh ke dalam kegelapan dan akan berakhir di sana, dia tidak akan datang bersamamu lagi.

Setiap kejahatan berasal dari negri-negri Barat dan semua ide buruk berasal dari para filosof. Mereka mempunyai khayalan dan imaginasi, mereka membayangkan dan mengatakan sesuatu dan orang-orang yang tidak berpikir dengan cepat mengejar mereka dan berkata, “Engkau benar,” dan setiap gagasan yang berasal dari filusuf itu bertentangan dengan semua keyakinan surgawi. Mereka menggunakannya dalam berbagai hal, bekerja dengannya sampai ide itu membuat pengaruh pada pikirannya.

Mereka menggunakan surat kabar, majalah, TV, media penyiaran, bioskop, film, sinema, dan segalanya. Ide itu mereka tempatkan sebagai racun, dan lebih istimewanya lagi mereka mengontrolnya, mereka berusaha untuk mengontrol segalanya, termasuk di bidang pendidikan. Sejak awal mereka sudah memberikan ide-ide mereka kepada murid-murid sekolah dasar hingga sekolah tinggi dan universitas. Dan ketika mereka lulus, mereka menjadi atheis, tidak percaya kepada sesuatu yang bersifat spiritual. Mereka bagaikan batu atau kayu dan robot, mereka hanya makan, minum dan bekerja.

Di luar ide-ide ini mereka tidak pernah sanggup memikirkannya. Pikiran mereka menjadi rusak terhadap segala sesuatu yang berasal dari Surga. Mereka menjadi robot tanpa perasaan, pikiran atau pemahaman, karena mereka terjebak dalam sifat materialistik mereka dan mereka berada dalam kegelapan. Matahari tidak pernah menyinari mereka lagi di siang hari. Dan malam hari akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Lewat kegelapan mereka semakin ketakutan dan tidak punya harapan dan kesedihan yang mendalam menutupi mereka.

Itu adalah awal hukuman bagi orang-orang yang menyangkal spiritualitas dalam umat manusia dan makhluk spiritual dalam umat manusia. Itulah yang menjadi sumber semua krisis, masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dialami manusia. Itulah alasan utamanya. Tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka dengan aspek material. Mereka tidak dapat melakukan apa pun. Berlari, seperti orang yang terjatuh ke dalam sumur yang dalam—dia tidak dapat melakukan apapun kecuali menangkap apa yang dikirimkan kepadanya, misalnya seutas tali, dia bisa menangkapnya dan mungkin saja dia bisa dikeluarkan.

Jika dia tidak mengambil apa yang dikirimkan kepadanya itu, dia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dan selamanya akan berada di sana, tinggal di sana sampai mati. Itulah alasan bahwa Allah SWT mengirimkan tali surga-Nya kepada umat manusia agar mereka menangkap dan menjaganya, sehingga mereka bisa keluar dari segala krisis, kesulitan, penderitaan dan masalah. Biang masalah yang sejati adalah orang-orang atheis.

Pertama, mereka membuka pintu bagi semua bangsa dan masyarakat umum sehingga orang-orang mengejarnya. Ketika orang berduyun-duyun mendatanginya, tiba-tiba pintu itu tertutup.

Seperti orang-orang Mesir di masa lampau yang membawa mumi fir’aun, mereka masuk dan meletakkan mumi itu di sebuah ruangan yang telah disiapkan. Ada sebuah pintu masuk yang dibangun secara khusus agar mereka bisa memasukinya. Ketika mereka meninggalkan tubuh itu di sana, mereka lalu bergerak dari suatu tempat yang telah mereka persiapkan, sentuhan membuat bebatuan runtuh dan menutup ruangan di mana tergeletak tubuh fir’aun itu.

Jadi tak seorang pun yang tahu bagaimana mereka bisa masuk, karena keempat dindingnya terlihat sama, tidak tahu dari dinding yang mana mereka masuk untuk meletakkan tubuh itu. Kadang-kadang mereka juga membawa ratu bersamanya. Ratu itu juga mengalami hal yang sama dan mati di sana.

Pengikut Setan ini, orang-orang atheis, menempatkan orang-orang sedemikian rupa dan mereka menutup pintu keluar dari segala tempat sehingga orang - orang yang bersama mereka tidak dapat menemukan jalan keluar dan akan mati di sana. Oleh sebab itu kita katakan bahwa biang masalah yang utama adalah orang-orang atheis. Mereka semua menyangkal segala hal yang diturunkan dari langit. Mereka seperti bebatuan yang tidak pernah mengerti posisi surgawi, dan orang-orang mendatanginya, mereka menempatkan orang-orang itu di dalamnya, dengan ide-ide mereka, sampai akhirnya sudah terlambat bagi orang-orang itu untuk menyadari bahwa mereka telah tertipu.

Sekarang semua orang di dunia tengah terjebak, bagaikan fir’aun yang diletakkan di ruangannya; orang-orang terjebak melalui jebakan orang-orang atheis. Sepanjang mereka masih atheis, tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka. Mereka akan mati di sana dan tidak akan bahagia dan selamat, jalan satu-satunya, jika mereka dapat meraih tali yang dikirimkan dari Surga, barulah mereka bisa selamat. Semuanya akan mati, lima di antara enam orang akan tewas, karena semuanya terjebak dalam penjara materialis. Mereka percaya kepadanya dan akan mati di sana.

Tidak ada jalan lain, kecuali dengan meraih tali yang telah dikirim dari Surga. Sepanjang mereka masih menyangkal, mereka akan mati. Itulah Keadilan Ilahi. Sejak awal Muharram 1430 H satu per satu semuanya akan dibersihkan. Yang pertama akan mati adalah ketua-ketua mereka sementara markas besarnya akan diambil satu per satu. Kita berada di bagian permulaan sekarang. Kalian dapat menyaksikan kejadian yang terjadi di mana-mana. Kejadian itu akan berlangsung lebih banyak lagi sampai mereka semua mati—barulah krisis akan selesai.

Sekarang mereka berada dalam kegelapan, mereka berada dalam penjara bersama mumi fir’aun. Mereka senang untuk datang. Mereka berpikir bahwa mereka dapat mengatasi segalanya hanya dengan aspek material. Mereka akan melihat apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka akan mati. Ini adalah sebuah ringkasan bagi semua manusia dan sekaligus peringatan. Jika mereka bangkit sebelum memasuki penjara itu mereka akan bisa diselamatkan. Tetapi bila mereka masuk dan ditempatkan bersama fir’aun di sana… fir’aun menipu orang dengan mengatakan, “Aku adalah Tuhanmu, Aku akan menyelamatkanmu.”

Dan dia tidak pernah menyelamatkan dirinya sendiri. Dan orang-orang bodoh yang mengikutinya sekarang menunggu kapan fir’aun akan bangkit dan menyelamatkan mereka. Dan tiba-tiba dinding itu runtuh menimpa orang-orang yang mengharapkan sesuatu darinya sehingga mereka juga akan terkubur di sana. Semoga Allah SWT melindungi kita agar tidak bersama fir’aun, tiran, setan, tetapi agar kita bersama orang-orang yang mulia, para Nabi dan Rasul serta Awliya, dan agar kita senantiasa mempertahankan jalan mereka.

Siapa yang minta agar dirinya diselamatkan, dia harus mengikuti jalan orang-orang suci, Awliya dan Anbiya, serta Rasulullah yang paling mulia, Sayyidina Muhammad Sallallahu Alayhi Wasalam.

Wa min Allah at Tawfiq

wasalam, arief hamdani

Guru Sejahtera & Profesional mengantar Masa depan Bangsa

Oleh :Prof. Dr.Achmad Mubarok, MA

Disampaikan dalam Seminar Pendidikan yang diselenggarakan oleh Kelompok KerjaPengawasPendid ikan Kandepag Jakarta Barat, Rabu 28 Januari 2009





Pendahuluan

Pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi justeru transfer kebudayaan. Transfer pengetahuan atau pengajaran hanya bisa melahirkan orang pintar, tetapi belum tentu berbudaya. Kepintaran yang dimiliki oleh orang yang tidak berbudaya atau berbudaya rendah bisa menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Budaya adalah konsep, gagasan dan ide yang dianut oleh masyarakat dalam waktu lama dimana konsep dan gagasan itu memandu tingkah laku mereka dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Membudayakan manusia adalah memasukkan konsep dan gagasan agar dianut. Jika konsep berubah maka perilaku akan berubah. Pergantian orang tanpa perubahan konsep tidak akan mengubah perilaku.

Nah memasukkan konsep dan gagasan adalah pekerjaan pendidikan. Jadi pendidikan adalah kegiatan membudayakan manusia. Dalam perspektip ini maka guru menjadi sangat penting. Guru yang berbudaya tinggi akan efektip membudayakan manusia, sedangkan guru yang berbudaya rendah tidak akan efektip dalam membangun manusia yang berbudaya.

Konsep Peradaban.

Kebudayaan yang bersifat kota disebut peradaban. Kota mengandung arti modern, praktis, dan efektip,sementara desa mengandung konotasi tradisionil, berliku yang oleh karena itu lambat. Nabi Muhammad s.a.w. membangun peradaban manusia dengan konsep al Madinah al Munawwarah, dari kata tamaddun dan nur. Madinah artinya kota yang penghuninya memiliki kebudayaan yang tinggi. Al munawwarah artinya yang disinari. Jadi konsep al madinah al munawwarah adalah masyarakat yang berkebudayaan tinggi yang disinari oleh wahyu.

Setiaphari dalam semua aspek kehidupannya, Nabi adalah guru, bukan hanya pengajar. Pengajar mengajarkan ilmu pengetahuan. Ukuran keberhasilan pengajar adalah jika murid yang diajar mengerti akan ilmu yang diajarkan. Tingkatan pengertian murid dapat diukur dengan nilai ujian . Guru mentrasfer perilaku kepada murid. Ukuran keberhasilan seorang guru adalah jika muridnya berperilaku seperti yang dicontohkan oleh guru.oleh karena itu guru yang berkualitas adalah yang bisa di gugu dan bisa ditiru oleh muridnya.

Proses Berlangsungnya Pendidikan

Dalam ilmuKomunikasi dikenal istilah komunikasi intra personal. Seorang murid dalam menerima informasi dari gurunya melalui tahap-tahap sebagai berikut;
a. penerimaan stimulus informasi,disebut sensasi
b. pengolahan informasi, menjadi persepsi
c. penyimpanan informasi di dalam memori, dan
d. menghasilkan kembali informasi, melalui proses berfikir.

Jadi proses komunikasi intra personal itu meliputi sensasi, persepsi, memori dan berfikir.

Tingkatan berfikir

Ada empat tingkatan berfikir, yaitu :

a. melamun
b. Berfikir
c. Tafakkur
d. Tadabbur

Penarik Perhatian

Tidak semua yang berharga menarik perhatian, terkadang yang tidak berharga jika disajikan dengan benar bisa lebih menarik dibanding sesuatu yang berharga. Seorang guru harus bisa menarik perhatrian.Jika guru tidak menarik perhatian maka efektifitas pendidikannya rendah. Ada empat faktor penarik perhatian

a. Prinsip gerakan. Gagasan harus dinamis,yang statis tidak menarik. Sesuatu yang kecil yang bergerak lebih menarik dibanding sesuatu yang besar yang diam.
b. Prinsip kebaruan. Terkadang barang lama tapi dengan kemasan baru sudah cukupmenarik. Metode harus selalu diperbaharui.
c. Prinsip Kontras. Guru harus bisa lebih menonjol, suaranya lebih keras, kursinya lebih tinggi, penampilannya paling rapih.
d. Prinsip perulangan. Sesuatu yang semula tidak menarik jika diulang-ulang bisa menjadi menarik.

Membangun Perilaku

Dari penelitian psikologi diketahui bahwa 83 % perilakumanusia dipengaruhioleh apa yang dilihat, 11 % oleh apa yang di dengar dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus. Jadi nasehat guru atau orang tua hanya memiliki efektifitas 11 %, nah contoh teladan yang diberikan oleh orang tua dan guru memiliki tingkat efektifitas 83 %.

Tiga Pilar Masyarakat Bermartabat

Masyarakat bermartabat adalah mereka yang dalamkehidupannya menganut kebudayaan dan etika. Pilar masyarakat beretika adalah (a) hormat kepada orang tua,(b) hormat kepada guru,dan(c) hormat kepada pemimpin. Jika dalam suatu masyarakat pemimpin tidaklagi dihormati (seperti sekarang)maka guru pun di demo olehmuridnya, dan nanti pada gilirannya orang tua juga tidak dihormati oleh anaknya. Kehormatan itu melekat pada diri setiap piorang. Orang yang terhormat tetap terhormat meski tidak dihormati. Kehormatan guru adalah mana kala hidupnya mencerminkan apa yang selama ini diajarkan kepada murid-muridnya. Guru yang terhormat tetap terhormat meski digaji kecil. Guru adalah guru,bukan sekedar instrumen pendidikan.

Guru Profesional

Masyarakat kota (peradaban modern) mengenal istilah profesional, dan guru juga dimasukkan sebagai profesi. Menurut standard Bank Dunia, ciri profesional ada tiga;

a. Bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya
b. Keahliannya menyebabkan ia menjadi rujukan dalam decision meaking sistem.
c. Waktunya untukbekerja membawa implikasi nilai keuangan

Jadi guru yang profesional adalah guru lulusan sekolah guru atau fakultas pendidikan, yang diakui keahliannya oleh publik sehingga selalu menjadi rujukan setiapkali ada kasus2 yang berhubungan denganpendidikan. Karena dua hal itulah maka guru itu digaji dengan standard gaji profesional sesuai dengan golongannya. (Bandingkan gaji guru di Malaysia dengan di Indonesia).

Konsep Sejahtera
Mungkinkah dari pekerjaan sebagai guru hidupnya sejahtera ? Standard sejahtera itu berbeda-beda, ada ukuran kalori, ukuran derajat kesehatan, dan ada ukuran psikologis. Ketika tahun 1965 saya menjadiguru SD dengan gaji yang sangat minim (di kampung) saya merasa hidup saya sejahtera, tetapi ketika awalmula menjadi guru pada golongan IIIA (di Jakarta) justeru merasa tidak sejahtera. Hidup sejahtera adalah ukuran terpenuhinya standar hidup minimal disertai apresiasi dalam sistem sosial dimana ia hidup. Sosok guru Omar Bakry itu orang miskin tetapi ia masuk golongan sejahtera. Apresiasi sosial berhubungan dengan integritas guru, sistem pendidikan guru dan sistem birokrasi pemerintah. Sekarang guru belum didukung oleh sistempendidikan guru, sistem sosial dan sistem birokrasi, sehingga guru bergeser perannya dari guru menjadi instrumen pendidikan. Akibatbya banyakguru merasa hidupnya tidaksejahtera. Jika guru merasa tidak sejahtera maka
produktifitas pendidikannya rendah. Dampaknya terasa berupa demoralisasi masyarakat pendidikan, guru,orang tua dan murid.

Menggapai Masyarakat Cerdas dan Makmur

Konsep masyarakat makmur bisa diambildarihadis addunya bustanun, tuzuyyinat bikhamsati asyyaa. Jadi pilar masyarakat makmur ada lima atau enam, yaitu
a. derngan ilmunya ulama, yaitu konstitusinya, peraturannya, strukturnya dan sistemnya harus ilmiah
b. dengan keadilan umara,maksudnya pemerintah harus menjalankan peranturan secara benar
c. dengan kontribusi orang kaya, yakni berlakunya sistim sosial bahwa di dalam harta si kaya ada hak orang miskin. Wafi amwalihim haqqun lissaili wal mahrum.
d. Dengan kejujuran pengusaha, yakni trust harus terbangun melalui pengawasan yang ketat dari umara.
e. Dengan doa orang miskin, yakni orang miskin tidak dendamkepada orang kaya, tetapi malah mendoakan mereka.
f. Dengan disiplipara pekerja.

Menegakkan enam pilar ini syaratnya harus ada kepemimpinan( Umara) yang kuat atau sistem (budaya) yang kuat . Guru berada dalam posisi pahlawan takdikenal. Perannya penting tetapi sering terlupakan. Tetapi tidak ada kebenaran yang hilang.Pada akhirnya guru yang dedikatip akan memperoleh apresiasi hingga ke anak cucunya.

Guru Madrasah

Madrasah merupakan sistem pendidikan yang sudah tua di Indonesia, tetapi kurang bisa mengikuti dinamika zaman, karena warisan psikologis periode penjajahan dimana ulama melakukan konfrontasi budaya dengan Belanda yang mewakili budaya modern. Dibutuhkan kesadaran yang kuat untyuk kembali mengangkat mutiara-mutuara pendidikan madrasah dari lumpur modernisasi dan globalisasi Insyaaaaloh kita bisa asal mau bekerja sama karena hanya dengan bersama kita bisa.

Wallohu almuwaffiq ila aqwam al thoriq.

Kredibelitas dan Profesionalisme

Kredibelitas dan Profesionalisme
Oleh: Dr. Amir Faishol Fath


baitul-hikmah. com, Dua hal yang harus dipenuhi dalam usaha apapun
untuk mencapai tujuan yang diinginkan adalah kejujuran dan
profesionalisme (keahlian dalam menjalankan tugas). Ibarat sayap
keduanya merupakan satu kesatuan, saling mendukung tak terpisahkan.
Bila satu hilang, perjalanan usaha akan timpang dan akan menyebabkan
kecelakaan pada pihak- pihak terkait. Berbagai perusahaan atau
instansi bahkan negara mengalami krisis.

Karena hilangnya salah satu dari kedua unsur utama tersebut. Kejujuran
bagi profesionalisme ibarat ruh bagi jasad. Profesionelisme akan
tampil loyo, tak bertenaga bila terus digerogoti dengan tindak
kebohongan para pelakuknya. Begitu juga kejujuran tidak akan tampil
secara maksimal dengan hasil yang diharapkan tanpa dukungan
profesionalisme.

Allah SWT. menegakkan alam ini dengan sangat sempurna, tidak ada
sedikitpun tanda bahwa Allah main-main, tergambar didalamnya nilai-
nilai kejujuran dan profesionalisme. Allah berfirman: “Yang telah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak akan
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang
tidak seimbang atau cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi
niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan
sesuatu cacat” 67:3-4.

Tidak hanya itu, Allah SWT. membekali setiap Nabi dengan kejujuran dan
profesionalisme. Rasulullah SAW. sebelum menjadi Nabi sangat dikenal
di kalangan penduduk Makkah sebagai orang yang paling jujur dan
terpercaya al amin. Khadijah binti Khuwailid seorang janda kaya dan
terhormat tertarik kepada Rasulullah SAW karena kejujuran dan
profesionalismenya yang nampak ketika membawa dagangannya ke negeri
Syam. Keuntungan berlipat ganda diperoleh berkat kedua sifat yang
dimiliki Rasulullah SAW.

Pernah suatu saat orang Quraish Makkah berstegang leher sampai
ketingkat kemungkinan terjadinya pertumpahan darah, dalam hal siapa
yang peling berhak mengembalikan batu hitam al hajarul aswad
ketempatnya semula, setelah Ka’bah direhab. Masing-masing suku merasa
paling berhak. Akhirnya sampailah pada kesepakatan bahwa yang masuk
pertama kali ke masjidil haram dialah yang berhak melakukan
pengembalian al hajarul aswad. Ketika yang masuk pertama kali ternyata
Rasulullah SAW. mereka sangat gembira. Dari mulut mereka terucap al
amin radhiina (orang yang terpercaya, kami rela dan setuju).

Menariknya bahwa Rasulullah SAW. melaksanakan tugas tersebut bukan
sekedar karena dipercaya, melainkan ia juga tampil secara profesional,
surbannya dihampar dan diisi dengan al hajarul aswad lalu minta kepada
masing-masing kepala suku untuk mengangkatnya bersama-sama, dengan
langkah ini semua suku puas dan merasa terpenuhi apa yang mereka
perebutkan.

Nabi Yusuf as. ketika meminta agar ditempatkan sebagai penaggung jawab
keuangan dan kekeyaan negara, bukan karena ia tamak untuk memenuhi
kepentingan pribadi, melainkan karena ia menyadari akan kejujuran dan
ruh profesionalisme yang dimilikinya. Nabi Yusuf berkata: “Jadikanlah
aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang
pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS. 12:55).

Dari ayat ini dan ayat sebelumnya (QS. 12:46) Yusuf sebagai ash
shiddiq (sangat dipercaya) dan (QS. 12:54) makinun amiin (tinggi
kedudukan dan dipercaya), nampak bahwa telah tergabung dalam diri
Yusuf sifat kejujuran dan profisionalisme. Suatu indikasi bahwa Yusuf
yakin dengan kedua sifat ini bisa menegakkan ekonomi negerinya secara
seimbang. Tidak ada yang dizdalimi. Semuanya akan meresakan sejahtera
baik di masa subur maupun di masa peceklik.

Dari sini jelas bahwa dalam mengatasi krisis apapun dan pada level
apapun, tidak ada jalan kecuali dengan menegakkan kejujuran dan
profesionalisme. Wallahu a’lam bissh shawab. (Dr. Amir Faishol Fath)

http://www.baitul- hikmah.com/ kredibelitas- dan-profesionali sme-380/

Jabatan

Jabatan

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Sejarah juga menunjukkan tidak banyak pemimpin yang berhasil
melaksanakan ajaran Rasulullah Saw. Dalam hal keikhlasan dan proses
menjadi pemimpin saja, sesungguhnya telah banyak pemimpin-pemimpin
yang gagal di tengah jalan. Betapa banyak tokoh kita yang secara
ambisius dan terang-terangan meminta jabatan, bahkan jika perlu
merebutnya dengan segala cara. Padahal Rasulullah Saw. tidak menyukai
hal tersebut.

Pernah, sahabat Abu Dzar Ra, berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa
paduka tidak mengangkatku sebagai pejabat?" Mendengar itu Rasulullah
menepuk punggungnya seraya bersabda, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya
engkau orang yang lemah, padahal sesungguhnya jabatan itu adalah
amanah, yang pada hari kiamat nanti akan memunculkan cela dan
penyesalan, kecuali bagi orang yang dapat melak¬sanakan hak amanat itu
dan kewajibannya sebagai pejabat, sebagaimana seharusnya." (HR. Muslim
dan Abu Daud).

Petunjuk Rasulullah tadi bukan hanya dikemukakan kepada Abu Dzar saja,
tetapi juga kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai Abdurrahman!
Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai
diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu.
Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak
menjadi masalah bagimu". Bahkan kepada Abu Musa dan dua orang
keponakannya, Rasulullah kembali menegaskan, "Demi Allah, aku tidak
akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya,
apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya." (HR. Muslim).

sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Mencari Posisi Yang Bijaksana

Mencari Posisi Yang Bijaksana

Sewaktu lewat gang arah mau kerumah, saya berpapasan dengan teman yang hendak berangkat ke masjid walaupun waktu Isya masih sekitar 15 menit lagi. Didepan pintu rumahnya terlihat anaknya berusia satu setengah tahun menangis minta di gendong oleh ayahnya karena memang sang ayah baru pulang kerja lalu mandi dan pergi lagi ke masjid sehingga belum sempat bercengkrama dengan anaknya. Ketika saya bertanya 'mengapa mebiarkan anaknya menangis, dia menjawab dengan kutipan surat Al Kahfi "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS 18:46)

Sambil tersenyum saya coba memberi masukan " permasalahannya perhiasaan kehidupan itu sudah diamanahkan Allah dan kelak akan di mintai pertanggung jawabannya, kan masih ada waktu sekitar 15 menit ", sambil terus melangkah dia berkata " setiap orang punya pilihankan"

Kebijaksanaan bukanlah hanya bagaimana menentukan pilihan yang benar tetapi juga bagaimana menentukan pilihan secara benar. Rasululah sendiri pernah memundurkan waktu sholat ketika udara terasa sangat panas yang dianggap bisa mengganggu kekhusyukan sholat

Abu Dzar al-Ghifari berkata, "Kami bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, lalu muadzin mau azan untuk shalat zhuhur. Kemudian Nabi bersabda, '(Tunggulah hingga) dingin.' ('Tunggulah hingga dingin.' Atau, beliau bersabda, 'Tunggulah, tunggulah!' ). Kemudian muadzin itu mau azan lalu beliau bersabda, '(Tunggulah hingga) dingin.' (Kemudian muadzin hendak azan lagi, lalu beliau bersabda, 'Tunggulah hingga dingin.'), sehingga kami melihat bayang-bayang tumpukan tanah atau pasir. Nabi bersabda, 'Sesungguhnya panas yang amat sangat terik itu dari pengapnya Jahannam. Apabila udara sangat panas , maka shalatlah pada waktu panas itu reda.'" (Bukhari)

Dilain hari ketika sedang duduk di teras rumah, secara tidak sengaja terlihat banyak sekali semut hilir mudik secara tidak menentu melakukan aktivitas keseharian mereka, 'kira-kira apa yang dilakukan mereka ?'. Keesokan harinya ketika berada disalah satu gedung bertingkat, saya mencoba naik pada tempat yang paling tinggi dan melihat kebawah. Tampak berbagai macam manusia dengan berbagai kepentingan lalu lalang tak menentu, baik yang berkendaraan maupun yang jalan kaki terlihat seperti semut yang mencari pemenuhan hidup, tidak jelas dan hal ini membuat saya teringat dengan kutipan teman pada surat Al Kahfi tersebut.

Memang benar bahwa seluruh ayat-ayat Al Qur'an mengandung kebenaran dan pengajaran tetapi tidak kalah pentingnya mentadabburi isi dan kandungannya sehingga kita bisa meletakkan posisi ayat per ayat secara tepat pada kehidupan keseharian kita.

CERDAS : Menyiapkan “Warisan”


Salah seorang mitra kerja saya, Agus Santosa, pernah mengirimkan sebuah surat elektronik yang menuturkan cerita menarik dari seseorang bernama Willy Hoff Suemmer. Isinya sebagai berikut:
Di Perancis, seorang lelaki tua akhirnya hidup sebatang kara, setelah ditinggal mati oleh istri dan anak tunggalnya. Buat kebanyakan orang, untuk apa hidup terus? Kemudian ia meninggalkan rumahnya, memilih beberapa ekor domba, dan pergi ke lembah Cavennen, sebuah daerah yang sepi, jauh dari keramaian. Ia ingin melupakan masa lalunya disana.
Di daerah itu masih tersisa puing-puing reruntuhan lima desa yang telah ditinggalkan oleh penduduknya karena alasan-alasan yang tak diketahui-nya. Lelaki tua itu memperkirakan bahwa seluruh daerah itu akan menjadi gurun yang gersang bila tidak ada pohon yang tumbuh. Lalu ia memutuskan untuk bermukim di sana.
Dalam perjalanan menggembalakan domba-dombanya, lelaki tua itu memunguti biji-biji oak, memilih yang masih baik, dan merendamnya dalam seember air. Hari-hari berikutnya, dengan sebatang besi, dilubanginya tanah-tanah yang dilaluinya dan ditanamkannya biji-biji oak itu satu demi satu.
Dalam waktu tiga tahun, ia telah menanam 100.000 biji pohon oak. Ia berharap setidaknya 10.000 biji oak akan tumbuh. Ia juga berharap dapat diberi umur beberapa tahun lagi untuk terus melakukan hal yang sama.
Ketika ia akhirnya meninggal dunia di tahun 1947, dalam usia 89 tahun, lelaki tua itu telah berhasil menumbuhkan sebuah hutan yang paling indah di Perancis. Hutan itu terbentang sepanjang 11 kilometer dengan lebar 3 kilometer.
Apa yang terjadi sebagai hasil pertumbuhan hutan pohon oak itu? Kini, ada jutaan akar yang mampu menampung air hujan dan menyuburkan daerah itu. Aliran-aliran sungai kecil tercipta lagi. Rerumputan dan bebungaan tumbuh subur. Burung-burung kembali ke hutan. Kehidupan pun berubah disana. Sejumlah orang kembali menghuni daerah tersebut. Dan setiap orang kembali merasa bahagia, menikmati hidup dan menyelenggarakan berbagai pesta. [Sumber: 1.500 Cerita Bermakna karya Frank Mihalic; Penerbit Obor, 1997; hlm. 78-79]
Sebagai pembelajar di sekolah kehidupan Indonesia, saya sangat tersentuh oleh cerita sederhana itu. Pada saat-saat dimana pikiran saya bergulat dengan pertanyaan “Apakah yang akan kamu tinggalkan sebagai warisan yang berguna bagi sejumlah orang, bila kelak kamu di antar ke pemakaman?”, cerita semacam itu memberikan inspirasi. Setidaknya ia memberikan sejumlah pelajaran berikut ini.
Pertama, untuk dapat berbuat dan memberi makna pada hidup, kita pertama-tama perlu mengatasi kesedihan dan penderitaan hidup kita sendiri. Kita harus meninggalkan masa lalu, dalam arti tidak mengijinkan kenangan masa lalu membuat kita pasif, apatis, dan hanya menunggu mati. Kita tidak boleh terperangkap oleh “penjara memori”, tetapi harus maju bersama imajinasi kreatif yang menumbuhkan pengharapan akan kondisi yang lebih baik.
Kedua, jika kita bersedia membuka mata budi dan mata batin kita untuk menatap masa kini [realita], maka dengan segera kita akan melihat begitu banyak persoalan dan kondisi yang memprihatinkan. Begitu banyak “puing-puing reruntuhan” yang patut diduga akan mendatangkan “kegersangan dan kesengsaraan” bagi siapa saja yang hidup di masa depan. Dalam konteks kita di Indonesia, “puing-puing reruntuhan” itu bisa berarti banyak. Misalnya, hutan-hutan yang gundul akibat penjarahan atau penebangan yang tak bertanggung jawab; korupsi yang merajalela di hampir segala lapisan birokrasi; proses pembelajaran yang memberangus kreativitas anak-anak di lembaga-lembaga persekolahan; pelaksanaan hukum yang serba “atur-able”; angka-angka pengangguran yang terus meningkat; kesenjangan sosial yang begitu curam; politik uang yang mendominasi proses perebutan kekuasaan; pelecehan terhadap hak-hak asasi warga negara yang tak berpunya; konsumerisme-materialisme yang terus menganiaya idealisme kaum muda; rendahnya minat baca dan kemampuan menulis, juga di kalangan kaum terpelajar lulusan perguruan tinggi; dan sebagainya. Ini semua memerlukan penanganan serius. Dan agar dapat ditangani secara sungguh-sungguh, harus ada sejumlah orang yang bersedia untuk “bermukim” di sana, menggumuli isu-isu tersebut sepanjang sisa hidupnya.
Ketiga, kita tidak boleh berhenti pada keprihatinan saat menyaksikan kondisi-kondisi buruk semacam itu. Kita harus menemukan cara untuk memberikan tanggapan kreatif atas kondisi tersebut. Sambil tetap menjalani keseharian kita, mencari nafkah hidup secara wajar, kita perlu belajar “memunguti biji-biji oak”, lalu “memilih yang masih baik”, dan kemudian “merendamnya dalam seember air”. Artinya bagi saya adalah, kita perlu mendengarkan gagasan-gagasan yang ditawarkan banyak pihak, lalu memilih gagasan yang berkesesuaian dengan kemampuan dan kompetensi kita, lalu membersihkannya dengan niat yang tulus ikhlas, untuk kemudian kita nyatakan dalam perbuatan nyata, betapa pun kecil dan sederhananya tindakan itu [seperti melubangi tanah dan menanamkan biji-biji oak itu].
Keempat, agar usaha-usaha perbaikan sampai mengubah kondisi menjadi lebih baik, kita perlu menjaga konsistensi dalam memperjuangkan hal-hal kecil dan sederhana, tanpa berharap terlalu banyak dan terlalu cepat. Diperlukan apa yang disebut Eep Saifulloh Fatah sebagai “kesabaran revolusioner”. Kesabaran semacam ini perlu, terutama untuk menjaga semangat juang ketika hasil-hasil yang kita harapkan seolah-olah tak kunjung datang.
Dalam bahasa K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, untuk mengubah kondisi yang buruk di sekitar kita, harus ada keberanian untuk memulai dari diri sendiri [berhenti menuntut dan menyalahkan semua pihak]; memulai dari hal-hal yang kecil [yang sesuai dengan kapasitas dan lingkar pengaruh kita]; dan memulainya saat ini juga [tidak menunggu sampai segala sesuatu tersedia untuk bertindak]. Itulah formula sederhana yang akan sangat berguna bagi siapa saja yang berkeinginan kuat untuk memberikan tanggapan kreatif atas persoalan-persoalan kehidupan kita di negeri ini. Dan hemat saya, cerita lelaki tua dari lembah Cavennen itu bisa menjadi contoh konkrit dari formula Aa Gym tersebut.
Formulanya memang sederhana. Baik cerita lelaki tua di lembah Cavennen maupun gagasan Aa Gym tidak rumit berbelit-belit. Tidak diperlukan kecerdasan super untuk memahaminya. Namun, melaksanakan hal yang sederhana secara konsisten tidak pernah mudah. Ada begitu banyak tantangan yang menghadang dan menggoda kita, setidaknya orang seperti saya, untuk menyerah dan berhenti berusaha. Rasa frustasi dan putus asa begitu sering muncul menganiaya harapan. Begitu besar hasrat untuk mencari jalan pintas agar dapat segera melihat dan mungkin ikut menikmati hasil-hasil usaha kita.
Dalam kasus saya, agaknya pertanyaan “Apakah yang akan kamu tinggalkan sebagai warisan yang berguna bagi sejumlah orang, bila kelak kamu di antar ke pemakaman?”, masih harus terus saya jaga dalam ingatan. Di sekolah kehidupan Indonesia, saya masih harus banyak belajar untuk mencari wilayah-wilayah dimana saya bisa “bermukim” dan melakukan tindakan-tindakan sederhana sepanjang sisa hidup ini. Dan dengan menjaga konsistensi untuk tetap menuliskan pelajaran-pelajaran yang saya petik dari sekolah kehidupan Indonesia, serta tak jemu-jemu membagikannya kepada siapa saja yang bersedia membaca tulisan-tulisan sederhana semacam ini, saya berharap agar setidaknya kesadaran diri saya akan tetap terjaga. Ya, kesadaran bahwa saya sesungguhnya telah diberikan rahmat untuk mampu menanggapi segala persoalan di sekitar saya secara kreatif. Mudah-mudahan rahmat yang amat besar ini tidak saya sia-siakan. Siapa tahu kelak, ketika saya sudah tiada, akan muncul sebuah “hutan kecil” yang berguna bagi anak dan cucu di negeri tercinta ini.
Salam pembelajar mahardika.
*Andrias Harefa dapat dihubungi melalui email: aharefa@cbn.net.id
pembelajar.com

Basic : Mengukur Potensi



Apakah Anda berpotensi untuk menjadi wirausaha handal? Saya tidak tahu. Tetapi bila Anda bertanya-tanya apakah Anda dapat mengetahui seberapa jauh Anda berpotensi, mampu atau berbakat untuk menjadi wirausaha handal, maka cobalah menjawab sejumlah pertanyaan berikut :
 Apakah Anda lebih suka bekerja dengan para ahli untuk mengejar prestasi?
 Apakah Anda tidak takut mengambil risiko, tetapi akan berusaha berusaha menghindari risiko tinggi bila dimungkinkan?
 Apakah Anda cepat mengenali dan memecahkan masalah yang dapat menghalangi kemampuan Anda untuk mencapai tujuan?
 Apakah Anda tidak akan mengijinkan kebutuhan akan status mengganggu misi bisnis Anda?
 Apakah Anda rela berkorban dan bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang untuk membangun bisnis Anda?
 Apakah Anda memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mencapai keberhasilan?
 Apakah Anda tidak membolehkan hubungan emosional mengganggu bisnis Anda?
 Apakah Anda menganggap struktur organisasi sebagai satu halangan untuk mencapai sasaran yang Anda inginkan?
Jika semua pertanyaan itu Anda jawab dengan "Ya", maka Anda merniliki profil seorang wirausaha sejati. Paling tidak demikianlah menurut David E. Rye, pakar kewirausahaan yang mengajarkan hal itu di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Tetapi memiliki profil wirausaha belum berarti Anda akan sukses berwirausaha. Sebab sukses sebagai wirausaha itu ditentukan oleh sejumlah ciri-ciri lainnya. Cobalah mengidentifikasi apakah Anda memiliki ciri-ciri sukses yang menonjol untuk menjadi wirausaha handal dengan menanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut :
 Apakah saya ingin mengendalikan semua hal yang saya lakukan?
 Apakah saya menyukai aktivitas yang menunjukkan kemajuan yang berorientasi pada tujuan?
 Apakah saya mampu memotivasi diri sendiri dengan suatu hasrat yang tinggi untuk berhasil?
 Apakah saya cepat memahami rincian tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran yang saya tetapkan?
 Apakah saya akan menganalisis semua pilihan yang tersedia untuk memastikan keberhasilannya dan meminimalisasi risikonya?
 Apakah saya mengenali pentingnya hidup pribadi saya dalam hubungannya dengan usaha yang saya tekuni?
 Apakah saya selalu mencari suatu cara yang lebih baik untuk melakukan suatu pekerjaan?
 Apakah saya selalu melihat pilihan-pilihan yang tersedia untuk mengatasi setiap masalah yang mungkin menghadang?
 Apakah saya tidak takut mengakui kesalahan bila ternyata saya memang keliru?
Bila semua pertanyaan di atas Anda jawab dengan "Ya", maka makin jelaslah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi untuk menyempumakan keyakinan Anda, cobalah menjawab kembali pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
 Sukakah Anda bertanggung jawab terhadap situasi tertentu dan mengambil keputusan sendiri?
 Apakah Anda menikmati persaingan dalam suatu lingkungan bisnis yang kompetitif?
 Apakah Anda secara individual mampu mengarahkan diri sendiri dengan disiplin diri yang kuat?
 Sukakah Anda merencanakan masa depan dan secara konsisten berusaha mencapai tujuan atau sasaran pribadi Anda?
 Apakah Anda cukup mampu memanajemeni waktu dan sering menyelesaikan tugas-tugas secara tepat waktu?
 Jika Anda mulai berwirausaha, siapkah Anda untuk menurunkan standar hidup sampai usaha Anda menghasilkan pemasukan, yang cukup kokoh?
 Apakah kesehatan Anda cukup baik dan apakah stamina fisik Anda cukup kuat untuk bekerja dalam rentang waktu yang panjang?
 Dapatkah Anda mengakui bila melakukan kekeliruan dan menerima nasehat dari orang lain?
 Jika bisnis Anda gagal, siapkah Anda untuk kehilangan semua kekayaan?
 Apakah Anda memiliki kestabilan untuk bekerja dalam tekanan dan penuh ketegangan?
 Dapatkah Anda dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan dan melaksanakan perubahan bila diperlukan?
 Apakah Anda seorang yang berinisiatif untuk memulai dan bekerja sendiri tanpa bergantung pada orang lain (self-starter)?
 Dapatkah Anda mengambil keputusan dengan cepat dan tidak menyesali keputusan buruk yang mungkin Anda ambil?
 Apakah Anda mempercayai orang lain dan apakah mereka juga mempercayai Anda?
 Apakah Anda dapat memahami bagaimana memecahkan masalah dengan cepat, efektif, dan dengan penuh keyakinan?
 Dapatkah Anda mempertahankan suatu sikap yang positif meskipun dalam menghadapi kemalangan?
Apakah Anda seorang komunikator yang baik dan dapatkah Anda menjelaskan ide-ide Anda dalam kata-kata yang dapat dipahami orang lain?
Jika semua pertanyaan itu lagi-lagi Anda jawab dengan "ya", maka sekali lagi menurnt David Rye, sempurnalah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi bila dari 17 pertanyaan terakhir, empat atau lebih Anda jawab dengan "Tidak", maka sebaiknya Anda kembali memikirkan niat Anda untuk menjadi wirausaha.
Saya percaya bahwa teknik berdialog dengan diri sendiri dengan menggunakan berbagai pertanyaan seperti di atas sangat berguna untuk lebih mengenali potensi diri seseorang. Apalagi bila hal itu disusun berdasarkan suatu pengalaman dan diperkaya denganstudi atau penelitian khusus dengan metode yang ketat.
Masalahnya, saya juga percaya bahwa sebagian orang cenderung menilai dirinya secara tidak proporsional. Ia bisa menilai dirinya serba mampu, serba baik, dan serba hebat (superior), atau justrn serba tidak mampu dan banyak kelemahan (inferior). Belum lagi kenyataan yang menunjukkan bahwa potensi setiap orang itu dapat berkembang dari waktu ke waktu. Lewat proses belajar secara berkesinambungan orang dapat meningkatkan kualitas pribadinya dan mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidupnya.
Karenanya, apapun jawaban yang Anda berikan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, ijinkan saya untuk menyederhanakan semua itu menjadi satu saja, yakni : apakah Anda benar-benar ingin berwirausaha, sekalipun belum tentu Anda akan berhasil dan sekalipun Anda harus bekerja keras menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, serta sekalipun Anda hams selalu berusaha untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi? Jika Anda menjawab "Ya" terhadap pertanyaan tunggal ini, maka tak perlu ragu untuk mencobanya. Sebab hal itu berarti Anda telah membuat sebuah keputusan yang penting bagi masa depan Anda sendiri. Dan untuk menciptakan masa depan Anda sendiri, setidaknya hal ini disarankan oleh Michael Dell, adakalanya Anda tidak perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan tidak mampu Anda lakukan. Just do it (lakukan saja). Jangan biarkan orang lain mendikte hidup Anda. Cobalah mengecap suatu kenikmatan khusus untuk melakukan apa yang justru dianggap orang tidak mampu Anda lakukan.
Benarkah demikian?
*) Andrias Harefa, WTS (Writer, Triner, and Speaker) adalah Executive Director pada Institut Dharma Mahardika. Ia dapat dihubungi langsung di aharefa@cbn.net.id
pembelajar.com

LEADER : MENGERTI DAHULU SEBELUM DIMENGERTI


Seri Artikel Home Improvement

“Sungguh anak-anak jaman sekarang susah dimengerti…”, adalah sebuah kalimat terucap yang cukup membuat saya tercenung dan menjadi pemikiran minggu-minggu terakhir ini bagi saya. Kalimat itu diucapkan oleh salah sorang tetangga saya, tinggal tidak jauh dari rumah saya. Kebetulan anak sulung-nya saat ini mulai menginjak usia remaja.
Di tengah derasnya arus informasi seakan semakin hari semakin mudah saja untuk mengetahui apa pun yang ingin kita ketahui di dunia ini. Bagaimana tidak, coba saja bandingkan dengan beberapa tahun lalu, tidak usah jauh-jauh, cukup sepuluh tahun lalu. Kita lihat jumlah stasiun televisi hanya dapat dihitung dengan jari, tapi sekarang secara regional hampir setiap wilayah memiliki stasiun siaran televisi sendiri. Belum lagi media radio yang begitu banyak pilihan baginya. Media cetak, kita bisa melihat bermacam ragam media cetak sekarang muncul di pasaran dengan berbagai segmentasi yang di bidik. Dari masalah umum konvensional, fokus ke berita politik, ekonomi dan bisnis, masalah teknologi, khusus bicara masalah olah-raga, mode, automotif, komputer, film, dunia anak-anak, gadget bahkan tabloit yang khusus bicara masalah handphone atau game komputer saja begitu luar biasa oplahnya.
Belum lagi kalau kita bicara tentang dunia internet, sekarang sudah mulai menjadi hal biasa bagi terutama bagi generasi kita dan generasi anak-anak kita. Apa yang ingin kita mengerti seakan tinggal klik, dan ribuan informasi itu seakan berada di depan mata kita.
Lalu mengapa kita begitu susah untuk mengerti isi hati dan pikiran –justru- orang-orang di sekitar sendiri? Seperti ungkapan yang diucapkan tetangga saya di atas. Seperti yang menimpa banyak orang, dimana terjadi salah paham yang tak kunjung selesai antara mereka dengan pasangan mereka sendiri, orang-orang yang setiap hari selalu kita temui dan bercakap dengannya.
Terkadang kita ikut terharu menangis atau marah oleh kesedihan kisah rumah tangga orang lain yang hidup ratusan kilometer dari tempat kita tinggal, yang dengan sangat terbuka disampaikan oleh media infotaintment di televisi. Tapi seakan hati kita menjadi membatu ketika kita mendengar keluh kesah istri kita sendiri, anak-anak kita sendiri, atau tetangga di lingkungan kita sendiri.
Banyak orang yang bisa dengan panjang lebar bercerita tentang kehidupan –yang pribadi sekalipun- para selebriti, politisi atau pesohor-pesohor tingkat dunia. Tapi ketika ditanya tentang siapa dan bagaimana tetangga sebelah rumahnya, justru tidak sedikit pun bisa menjelaskan.
Di tambah lagi, sepertinya dari pengamatan saya, semakin hari, seolah jarak komunikasi antara generasi kita dan generasi anak-anak kita semakin lebar dan semakin lebar. Seperti yang kurang lebih saya utarakan di atas, orang tua lebih mudah mengerti duduk permasalahan masalah orang lain di koran atau televisi dari pada berusaha untuk mengerti apa yang menjadi keresahan anak-anaknya. Dan sebaliknya pun, anak-anak sekarang sepertinya kalau kita amati, mereka mudah percaya kepada teman sebayanya, kepada sahabatnya, juga saat ini sebagian dari mereka lebih percaya oleh teman-teman mereka di mailist yang mungkin belum pernah sekali pun bertemu dengannya, daripada percaya kepada orang tuanya.
Contoh ungkapan tetangga saya di awal tulisan saya ini, bisa jadi sebuah ungkapan yang juga ada di hati para generasi orang tua. Mungkin sekilas bisa saya utarakan, tetangga saya tadi kira-kira berusia hampir limapuluhan, sementara anak sulungnya saat ini duduk di bangku kelas dua SMA.
Dari cerita tetangga saya tadi, ada kebiasaan anaknya yang mulai dilakukan sejak bebrapa bulan terakhir ini. Yaitu, sepulang sekolah, anaknya rela menghabiskan uang saku hariannya dan berlama-lama duduk di warnet dan pulang ke rumah ketika sore hari. “Entah apa yang dilakukannya…”, keluh tetangga saya kemudian.
Dan mungkin bisa dimaklumi, tetangga saya ini adalah seorang pengusaha menengah, yang menurut pengakuannya belum pernah sekali pun menyentuh komputer. Sehingga dapat dimengerti bahwa tentunya sangat susah baginya untuk bisa memahami kenapa anaknya sampai betah berlama-lama di depan komputer. Ditambah lagi, saat itu sang bapak ini bercerita kepada saya, bahwa anaknya setiap pulang dari warnet selalu berbicara –yang menurut anggapannya- ngalor-ngidul yang tidak bisa sedikit pun dimengerti oleh sang bapak.
Itulah kemudian yang mungkin menjadi sumber kesalah pahaman, belakangan, setiap sang anak pulang ke rumah, bila mereka meluangkan waktu bersama, selalu saja yang disampaikan si bapak bukan dalam upaya semakin mengerti dan memahami si anak, justru si bapak tetangga ini seolah memaksakan apa yang menjadi ‘penglihatannya’. Belum sempat si anak berbagi hal-hal baru yang mungkin dia temui di dunia internet, selalu saja di potong oleh sang bapak –yang mungkin untuk menutupi ketidaktahuannya- dengan bercerita panjang tentang dirinya di waktu seusia dengan anaknya dulu. “Bapak dulu….,” adalah sebuah kalimat klasik yang selalu mengawali kata-kata si bapak terhadap anaknya.
Jadilah kemudian si anak ini, yang biasanya sehabis maghrib terlihat sering sekali bercengkerama dengan bapaknya di teras depan rumah, akhir-akhir ini si anak justru sering keluar rumah ketika malam hari. Dan yang terjadi kemudian adalah sang bapak yang memberi cap si anak sebagai ‘susah dimengerti’.
Ada sebuah cerita klasik mengenai analogi tentang hal ini dan hal-hal serupa yang saya yakin terjadi pada kita sebagai orang tua.
Terdapatlah seorang bapak dengan anaknya mengunjungi sebuah pameran lukisan di kotanya. Suatu saat keduanya berhenti di sebuah lukisan abstrak yang sangat besar. Beberapa jenak keduanya memandangi lukisan itu. “sungguh lukisan yang sangat luar biasa, Ayah..”, kata si anak.
“Hmm, menurut ayah kok tidak begitu bagus ya. Si pelukis sepertinya tidak punya dasar-dasar melukis yang pakem..”, jawab si bapak.
Cukup lama mereka si anak dan si bapak ini berdebat mengenai bagus atau tidaknya lukisan ini. Yang tentunya bagus atau tidak, bukanlah bisa menjadi monopoli seseorang saja. Sampai kemudian si bapak berkata kepada anaknya, “Nih, nak. Coba pakai kacamata bapak, mungkin bisa membantu kamu dalam memberi penilaian yang lebih bagus…”.
Aneh memang, tapi kalau kita mencoba merenung, analogi seperti itulah yang dilakukan tetangga saya terhadap anaknya. Analogi itulah yang sering kita lakukan ketika kita berselisih paham dengan anak kita, dengan pasangan kita, dengan teman-teman kita.
Ketika kita berselisih paham dengan mereka, yang pertama kali kita lakukan bukan dengan cara berusaha untuk mencoba ‘melihat’ apa-apa yang mereka ‘lihat’ sehingga mereka berpendapat demikian. Tapi justru pertama kali kita mencoba memaksakan ‘penglihatan’ kita kepada mereka. Selalu menganggap apa saja yang baik untuk kita pastilah baik untuk anak-anak kita. Selalu menganggap semua yang pernah kita lakukan dulu harus menjadi contoh yang baik untuk dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita.
Respon ‘otobiografik’ seakan menjadi respon baku bagi mereka yang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh orang lain adalah keliru.
Saat ini saya mencoba menghubung-hubungkan logika di kepala saya, sampailah saya pada kesimpulan sementara ini bahwa apa yang terjadi dengan tetangga saya, saya pikir justru dialah yang ‘susah dimengerti’. Karena justru sang bapak ini yang sudah menjalani hidup lebih lama dari anaknya yang seharusnya lebih bisa mengerti anaknya.
Hmm, mengerti dahulu sebelum dimengerti, terkadang memang susah untuk dimengerti..

13 Agustus 2006
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com - home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga
pembelajar.com

BIJAK : Jangan Pernah Berhenti Belajar


Action & Wisdom Motivation Training

Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, "Learning is never ending adventures." Yang artinya, pembelajaran adalah proses petualangan yang tiada akhirnya. Dikaitkan dengan strategi perang Sun Tzu, apa makna ungkapan ini?
Maknanya adalah, sekalipun musuh tidak menyerang, kita jangan hanya menunggu atau berdiam diri saja. Walaupun musuh sedang melemah, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan atau berhenti memperkuat pertahanan diri kita. Jangan menunggu diserang musuh baru kemudian berbenah. Sebab terlambat berbenah berarti kalah!
Dalam bidang bisnis, kita pun harus terus menjaga diri dan terus meningkatkan kewaspadaan. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan meningkatkan kekuatan dan kemampuan kita melalui proses pembelajaran yang kontinyu. Berikutnya, selalu mengamati dan menganalisis perkembangan situasi pasar yang makin kompetitif.
Contoh; dalam perusahaan, kita bisa meningkatkan kemampuan para staf kita melalui pelatihan-pelatihan di bidangnya masing-masing. Baik itu pelatihan yang sifatnya mendongkrak professional skill mereka maupun pelatihan untuk manajemen dan pengembangan diri.
Yang lain, kita bisa mengembangkan sebuah budaya kerja yang terkoordinasi dengan baik, profesional, produktif, serta memiliki disiplin yang sangat tinggi. Dan tidak boleh ketinggalan, kita harus kembangkan visi dan misi perusahaan yang jauh ke depan. Pada tahap inilah, seorang pemimpin perusahaan sangat besar peranannya dalam menggerakkan perusahaan pada arah dan tujuan yang sama.
Melalui proses pembelajaran ini, biasanya kita bisa lebih dalam mengevaluasi dan memperbaiki diri. Mengetahui titik-titik kelemahan maupun kekuatan perusahaan kita. Kita akan tahu divisi mana yang kuat atau lemah SDM-nya dan bagaimana memperbaikinya. Kita bisa tahu apakah perusahaan telah terjadi pemborosan sumber daya dan bagaimana menambalnya. Kita bisa tahu apakah target-target perusahaan bisa diraih dengan cara yang efektif dan efesien, atau sebaliknya justru melenceng dari sasaran. Kita juga bisa tahu apakah budaya dan etos kerja di perusahaan itu sehat dan mendukung diperolehnya profit maksimal, atau justru sebaliknya tercipta budaya kerja yang boros dan tidak produktif.
Apa pun bisnis atau bidang gerak perusahaan kita, selalu akan atau sudah ada kompetitor. Walaupun saat ini kita sedang menikmati puncak keberhasilan tanpa saingan berarti, jangan pernah mengurangi kewaspadaan sedikit pun juga, jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Hanya dengan cara demikian bisnis kita akan tetap eksis di tengah segala medan persaingan.
Demikian dari saya Andrie Wongso
Action & Wisdom Motivation Training
Success is My Right
Salam sukses luar biasa!!!
www.andriewongso.com

Leader : A Failure to Lead - A Failure to Communicate


Author: John Baldoni

John Baldoni is a leadership communications consultant who works with companies and non profits organizations. He is the author of several books on leadership including Great Communication Secrets of Great Leaders (McGraw-Hill, 2003).
He can be reached at jbaldoni@lc21.com and his website can be found at www.johnbaldoni.com.

Two recent high profile catastrophes cast light on an age old problem. The first was the breakup of the Columbia shuttle as it speed across the Texas sky on February 1st, 2003. The second was the sudden power outage on August 14th that affected some 80 million consumers in the Eastern part of the United States and Ontario. The first accident cost the lives of seven astronauts; the second accident cost a loss of faith in the power grid as well as billions of dollars. While both accidents were different in root causes, both shared a single similar fault – a failure to communicate.
The most glaring communication failures make headlines, but failure to keep people in the know or to report an emergent problem are hardly unique to disasters. Communication lapses in fact are so recurrent that the very phrase, "failure to communicate" - popularized a generation ago in the Paul Newman movie, Cool Hand Luke - seems to be a near universal. Communication beakdowns occur routinely, but it takes a spectacular event like the Columbia disaster or the Eastern power outage to remind us how consequential they can be. What can we do to ensure that communications flourishes to the betterment of the enterprise?
Scan the horizon. Nothing remains the same for very long. Leaders are responsible for looking outside the organization to discover what customers are thinking and purchasing - and how competitors are responding to the changing market conditions. By scanning the organization's horizon, leaders help their organization anticipate the future to avoid blindsiding by it.
Keep an ear to the ground. Leaders listen to what people are saying - but also what they are not saying. Problems occur in all organizations, but it is the well lead organization that learns about incipient problems before they emerge. Front-line military officers, for instance, frequently look over the shoulder of their troops not only to assure performance but also to learn of early warning signs of threats to performance.
Ask questions. One of the surest ways to find out what is going on within an organization is to pose questions. Jeff Bezos, founder and CEO of Amazon, is an inveterate questioner. He helps keep himself up to speed by incessantly posing queries during his many forays around Amazon facilities.
Create feedback loops. It is useful to install devices by which employees can voice an opinion and receive a response. Feedback systems are easy to implement with e-mail, but providing a thoughtful response requires a commitment to active communication. But then again, that's what communications is all about – two-way feedback and follow-up.
MBWA. David Packard pioneered "management by walking around" as he built Hewlett-Packard. Doing so took him out from behind his desk and into meeting, hallways, cafeterias, shop floors, and sales centers where the real work occurred, and his MBWA has become an industry standard.
Integrate communications into your disaster plans. Have a disaster plan in place with two way communications, and test it so that employees feel comfortable with it. Most fire, rescue, and trauma teams maintain such plans and rehearse them regularly. In the absence of a rehearsed disaster plan, effective communication is one of the first casualties of a catastrophe.
Communication is the glue that holds organizations together. It helps prevent calamity and fosters performance. Through self-conscious development and frequent practice of the art of organizational communication, communication failures should become communication successes.
Link to Wharton Leadership Digest