HAK MUSLIM ATAS MUSLIM LAINNYA

HAK MUSLIM ATAS MUSLIM LAINNYA :



1. MEMBERI SALAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam:

1. Apabila engkau bertemu seorang muslim hendaklah memberi salam kepadanya
2. Apabila ia mengundangmu hendakalah engkau jawab undangannya
3. Apabila ia minta nasehat, berilah ia nasehat
4. Apabila ia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah ia
5. Apabila ia sakit hendaklah engkau jenguk ia
6. apabila ia meninggal, hendaklah engkau antar jenazhanya (HR. Muslim)

PENJELASAN:
Kata Hak pada judul di atas mempunyai arti tidak pantas bagi seorang muslim meninggalkan perbuatan yang enam tersebut karena itu hukum perbuatan tersebut digolongkan pada sunah muakkadah; sunah-sunah yang nggak pernah Nabi Muhammad tinggalkan. Berikut penjelasan Hak-hak Muslim atas muslim laiinnya per point:

MEMBERI SALAM

1. Hukum memulai salam sunah dan menjawabnya wajib

2. Berilah salam yang terbaik atau semisalnya
"Apabila kamu diberi salam dengan ucapan salam, maka balaslah salam tersebut dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)." (An-Nisa, 4: 86)

3. Jangan masuk kerumah seseorang muslim sebelum salam (An-Nur, 24:27) dan bila salam anda tidak terjawab sampai ketiga kalinya maka pulanglah jangan memasakan untuk masuk (Hadits)

4. Contoh kalimat salam yang diajarkan
Dari Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, dia berkata, “Rasulullah berkata kepadaku, ‘Ini jibril datang membacakan salam kepadamu’, Aku berkata, ‘Wa ‘alaykumus salaamu warahmatullahi wabarakatuh’” (HR. al Bukhari dan Muslim)

5. Salam sebelum kalam
"Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum mengucapkan salam, maka janganlah kalian menggubris pembicaraannya hingga ia mengucapkan salam." (Diriwayatkan Ath-Thabrani, dan Abu Nu'aim).

6. Etika memberi Salam
Sabda Rasulullah saw.,"Orang yang berada di atas kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, dan orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang banyak." (Muttafaq Alaih).

"Sesungguhnya para malaikat heran kepada seorang Muslim yang berjalan melewati seorang Muslim lainnya, namun ia tidak mengucapkan salam kepadanya.""Ucapkan salam kepada orang yang engkau kenal, dan orang yang tidak engkau kenal." (Muttafaq Alaih).

7. Salam ke Non Muslim
Bila seorang non muslim memberi salam kepada kita cukup jawab dengan "wa 'alaikum". Ini berdasarkan pada sebuah riwayat dimana nabi saw menegur Aisyah r.a yang mengucapkan Asa' 'alaikum (keburukan buat kamu) kepada tamunya non muslim.

8. Fadhilah Memberi Salam
"Tidaklah dua orang Muslim kemudian keduanya berjabat tangan, melainkan keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah." (Diriwayatkan Abu Daud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi).

“Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu kepada kalian, jika mengerjakannya kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam.”(HR. Muslim)

Referensi:
1. Kitab Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani
2. Kitab Subulus Salam oleh Imam al Shin'ani
3. Kitab Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi

Seluruh resume pengajian bisa dilihat di blog pengajian alif:

www.pengajianalif.blogspot.com

ANAK ADALAH BAGIAN DARI USAHA ORANG TUA

ANAK ADALAH BAGIAN DARI USAHA ORANG TUA



"Dan bahwasanya seseorang itu tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali dari
hasil usahanya sendiri" (An Najm: 39).

Ayat di atas merupakan kaidah ilmiyyah yang umum dan tetap di dalam
keumumannya dan tidak menerima pengecualian yang memang tidak ada sama
sekali: Bahwa seorang tidak akan mendapat pahala atau ganjaran kecuali atas
hasil usahanya sendiri.

Sedangkan anak adalah masuk ke dalam usaha orang tua
bahkan sebaik baik usaha mereka. Oleh karena itu anak masuk ke dalam
keumuman ayat di atas.

Maka, apa apa yang dikerjakan oleh anak yang shalih dari amal amal shalih,
maka kedua orang tua akan memperoleh ganjaran tanpa dikurangi sedikit pun
juga dari ganjaran anaknya. Karena anak adalah usaha kedua orang tua
sebagaimana penjelasan Nabi SAW. Sedangkan Allah telah berfirman bahwa
manusia tidak akan memperoleh kebaikan kecuali dari hasil usahanya.

Ringkasnya, SETIAP AMAL SHALIH YANG DIKERJAKAN ANAK MAKA KEDUA ORANG TUA AKAN MENDAPAT GANJARANNYA meskipun tidak diperuntukkan untuk kedua orang tua, seperti seorang yang menanam sebuah pohon atau tanaman, maka apa saja yang dimakan dari buah pohon tersebut atau tanaman tersebut yang ditanam
baik dengan seijin pemiliknya atau dicuri, baik oleh manusia atau hewan
niscaya pemiliknya atau yang menanamnya tetap akan memperoleh ganjaran...

Dan ini adalah KHUSUS anak terhadap orang tuanya. Hanya terbatas pada anak
tidak meluas kepada orang lain. Adapun orang lain tidak akan sampai
pahalanya. Tidak bisa seseorang yang bukan ANAK KANDUNG memberikan atau
menghadiahkan pahala amal shalihnya atau ibadahnya kepada orang lain seperti
bersedekah atas namanya atau menghajikannya atau mempuasakan (puasa nazar
menurut pendapat yang lebih kuat) dll.

Sekali lagi kami tegaskan, bahwa KEDUA ORANG TUA AKAN MEMPEROLEH GANJARAN DARI AMAL SHALIH ANAKNYA DARI DUA JALAN:

JALAN PERTAMA: Setiap amal shalih yang dikerjakan anak, maka orang tua akan
mendapat pahalanya meskipun tidak diperuntukkan kepada mereka. Yakni secara
umum amal shalih apa saja seperti seorang anak mendirikan shalat fardhu atau
shalat-shalat lain atau membaca Al Qur'an dll amal shalih, niscaya kedua
orang tua akan mendapat pahalanya.

JALAN KEDUA: Secara khusus dan ini terbatas pada yang ada nash atau dalilnya
saja tidak keluar dari dalil, seperti:
1. Anak bersedekah atas nama orang tuanya yang telah wafat.
2. Membayar puasa nazar orang tua.
3. Menghajikan orang tua yang masih hidup akan tetapi tidak ada kesanggupan untuk mengadakan perjalanan (safar haji) imma disebabkan usia tua atau sakit yang menahun
dan lain lain.
4. Menunaikan nazar haji orang tua yang telah wafat dan belum membayar nazar-nya.
5. Menghajikan orang tua yang telah wafat (yakni haji fardhu).
Itulah sebagian kutipan tentang "Anak adalah bagian dari usaha orang tua".
Bacalah pembahasan yang lebih luas di buku Menanti Buah Hati dan Hadiah
untuk Yang Dinanti karya Ust. Abdul Hakim Abdat. Dari pembahasan ini maka
kita ketahui bahwa sangatlah beruntung bagi mereka yang mempunyai BANYAK
ANAK dan semuanya SHALIH.

Oleh
Ustadz Abdul Hakim Abdat

Mencari Posisi Yang Bijaksana

Mencari Posisi Yang Bijaksana

Sewaktu lewat gang arah mau kerumah, saya berpapasan dengan teman yang hendak berangkat ke masjid walaupun waktu Isya masih sekitar 15 menit lagi. Didepan pintu rumahnya terlihat anaknya berusia satu setengah tahun menangis minta di gendong oleh ayahnya karena memang sang ayah baru pulang kerja lalu mandi dan pergi lagi ke masjid sehingga belum sempat bercengkrama dengan anaknya. Ketika saya bertanya 'mengapa mebiarkan anaknya menangis, dia menjawab dengan kutipan surat Al Kahfi "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS 18:46)

Sambil tersenyum saya coba memberi masukan " permasalahannya perhiasaan kehidupan itu sudah diamanahkan Allah dan kelak akan di mintai pertanggung jawabannya, kan masih ada waktu sekitar 15 menit ", sambil terus melangkah dia berkata " setiap orang punya pilihankan"

Kebijaksanaan bukanlah hanya bagaimana menentukan pilihan yang benar tetapi juga bagaimana menentukan pilihan secara benar. Rasululah sendiri pernah memundurkan waktu sholat ketika udara terasa sangat panas yang dianggap bisa mengganggu kekhusyukan sholat

Abu Dzar al-Ghifari berkata, "Kami bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, lalu muadzin mau azan untuk shalat zhuhur. Kemudian Nabi bersabda, '(Tunggulah hingga) dingin.' ('Tunggulah hingga dingin.' Atau, beliau bersabda, 'Tunggulah, tunggulah!' ). Kemudian muadzin itu mau azan lalu beliau bersabda, '(Tunggulah hingga) dingin.' (Kemudian muadzin hendak azan lagi, lalu beliau bersabda, 'Tunggulah hingga dingin.'), sehingga kami melihat bayang-bayang tumpukan tanah atau pasir. Nabi bersabda, 'Sesungguhnya panas yang amat sangat terik itu dari pengapnya Jahannam. Apabila udara sangat panas , maka shalatlah pada waktu panas itu reda.'" (Bukhari)

Dilain hari ketika sedang duduk di teras rumah, secara tidak sengaja terlihat banyak sekali semut hilir mudik secara tidak menentu melakukan aktivitas keseharian mereka, 'kira-kira apa yang dilakukan mereka ?'. Keesokan harinya ketika berada disalah satu gedung bertingkat, saya mencoba naik pada tempat yang paling tinggi dan melihat kebawah. Tampak berbagai macam manusia dengan berbagai kepentingan lalu lalang tak menentu, baik yang berkendaraan maupun yang jalan kaki terlihat seperti semut yang mencari pemenuhan hidup, tidak jelas dan hal ini membuat saya teringat dengan kutipan teman pada surat Al Kahfi tersebut.

Memang benar bahwa seluruh ayat-ayat Al Qur'an mengandung kebenaran dan pengajaran tetapi tidak kalah pentingnya mentadabburi isi dan kandungannya sehingga kita bisa meletakkan posisi ayat per ayat secara tepat pada kehidupan keseharian kita.

Merasa butuh Allah

Merasa butuh Allah



Pada tulisan terdahulu yaitu Tentang DOA, Syekh Abu al-Abbas al-Mursi menyampaikan bahwa sebenarnya manusia itu selalu membutuhkan Allah baik di dunia maupun di akhirat sebagai hakikat kehambaannya tanpa melalui sebab-sebab tertentu. Hanya saja kebanyakan manusia baru merasa butuh Allah jika sudah ada sebab-sebab tertentu dan ketika sebab itu hilang maka akan hilang juga rasa butuhnya kepada Allah. Padahal salah satu kunci dikabulkannya suatu doa adalah selalu merasa butuh.

Masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengondisikan hati kita untuk terus merasa butuh kepada Allah. Kemarin pun saya juga masih belum paham bagaimana caranya melatih hal itu, tapi alhamdulillah tiba-tiba saja ada pemahaman baru yang sementara ini bagi saya yang awam bisa menerimanya secara sederhana dan semoga kesadaran ini bisa terpatri dalam hati. Tiba-tiba saja terlintas kalimat yang sering kita baca yaitu : "Laa haula walaa quwwata illaa illaahil'aliyyil' adzhim." (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung). Dalam pemahaman saya, berarti kita itu NOL, tidak punya daya dan kekuatan bagai sesosok jazad tak bernyawa. Siapa bisa menjamin besok pagi ketika bangun tidur, kita masih bisa menggerakkan tubuh kita ? Siapa bisa menjamin satu jam ke depan kita masih segar bugar ? Siapa bisa menjamin nanti masih tergerak hati kita untuk sholat ? Kalau toh kita bisa beraktivitas dalam keseharian karena kondisi
tubuh kita yang sehat, dari mana sebenarnya kesehatan itu berasal ? Kalau toh kita berargumen bahwa tubuh kita sehat karena kita menerapkan pola hidup sehat dengan pola konsumsi makanan yang sehat, istirahat dan olah raga yang teratur, maka dari mana niatan atau kesadaran untuk berpola hidup sehat itu muncul. Beranikah kita mengklaim bahwa niatan atau kesadaran itu muncul karena kehendak atau kekuatan kita sendiri ? Atau ketika kita ringan dalam menjalankan ibadah kita, beranikah kita untuk juga mengklaim itu atas kekuatan kita sendiri atau lebih jauh beranikah kita memastikan di akhir hidup kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah ?

Sungguh, dalam setiap detik kehidupan kita tidak pernah lepas dari pengaturan Allah, karena sebenarnya kita itu faqir di hadapan Allah, sehingga kita semua sangat-sangat tergantung pada Allah, sangat-sangat butuh kepada Allah. Di dalam setiap gerak dan langkah kita, di dalam setiap tarikan dan hembusan napas kita, di dalam setiap detak jantung kita, di dalam setiap dzikir dan pikir kita, Allah-lah yang sejatinya menggerakkan dan memberi kita kekuatan.

Untuk itu dalam setiap kegiatan, kita awali dengan bacaan bismillah dan bersamaan dengan itu mari kita sama-sama belajar menggerakkan kesadaran hati kita untuk meng-NOL-kan diri kita agar bersamaan dengan itu pula kita selalu mengharapkan pertolongan Allah. Dalam setiap apa pun juga saya biasakan mohon kemudahan dari Allah : Mudahkan Yaa Allah – Mudahkan Yaa Allah. Insya Allah kita akan selalu diberikan kemudahan, sesulit apa pun situasi yang harus kita hadapi.

Semoga Allah mengangkat kita semua pada derajad hamba-hambanya yang selalau merasa membutuhkan- Nya. Aamiin.

Ketika Ajal Mendahului Taubat

sumber : http://www.warnaislam.com/
penulis : Addy Kuswoyo

Ketika Ajal Mendahului Taubat



Kita diberitakan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al
Ankabut:57 yang artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan" (lihat juga Qs. Ali
Imran:185, Al Anbiya’:35), yang dengan itu kita harus meyakini bahwa memang
kita akan mengalami kematian yang kita tidak akan tahu kapan kematian itu
akan datang menghampiri kita.

Berita duka cita kerap kali terdengar di telinga kita melalui pengeras
suara mushola atau masjid, berita perihal kematian salah satu tetangga di
lingkungan tempat tinggal kita. Berita duka cita itu disampaikan diiringi
dengan ucapan “Innalillahi wainnailaihi raji'un” yang terjemahannya
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”
(lihat Qs. Al Baqarah:156), kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa
(pernyataan kembali kepada Allah). Entah kapan yang kita tidak bisa
mengetahuinya, berita duka cita itu diumumkan untuk nama kita atau nama
dari keluarga kita. Tetangga kita semuanya mengucapkan “Innalillahi
wainnailaihi roji'un” dan mereka berta’ziah kerumah kita. Setelah
dimandikan mereka menshalati kita dengan takbir 4 kali dan juga ikut untuk
mengiringi rombongan keluarga ke tempat peristirahatan terakhir kita.

Bagi orang yang beriman dan beramal shalih kematian adalah sesuatu yang
tidak akan pernah ditakutinya, karena kematian awal dari dirinya untuk
berjumpa dengan sang Maha Pencipta Allah SWT Tuhan Semesta Alam, yang telah
memberikannya semesta nikmat selama ia hidup didunia dan ia senantiasa
mensyukurinya, menjalankan perintah dan menjauhkan larangannya yang dengan
kata lain ia berusaha menjadi hamba-hamba rabbani yang tersemat didalam
dirinya ketaqwaan dan penuh dengan keikhlasan. Dan bagi orang yang beriman
dan beramal shalih itu Allah menyebut mereka Khairul Bariyah (sebaik-baik
makhluk) dan dijanjikan balasan syurga yaitu syurga ‘Adn dan mereka kekal
didalamnya (Qs. Al Bayyinah:7-8). Tetapi sebaliknya, mereka yang memilih
kekafiran dan melakukan kemusyrikan sewaktu hidup didunia Allah menyebut
mereka Syarul Bariyah (seburuk-buruk makhluk) dan mereka akan dimasukkan
kedalam neraka jahanam selama-lamanya. (Qs. Al Bayyinah:6)

Bagi mereka yang jauh dari perintah Allah dan tidak menjalankan perintah
Nya, asyik terlena dengan fatamorgana dunia, mereka menunda-nunda untuk
bertaubat dan tidak bergegas untuk kembali ke jalan Nya, maka sungguh
mereka termasuk orang-orang yang merugi yang telah menyia-nyiakan waktu
yang diberikan oleh Allah SWT, yang seharusnya untuk melakukan ibadah
kepada-Nya. (Qs. Al Ashr:1-5)

Dan ketika mereka mendengar tentang kematian mereka akan merasa takut,
mereka tidak siap ketika ajal akan menjemput. Tetapi sesungguhnya ketika
keputusan Allah telah datang bahwa kita akan mati pada detik ini juga, maka
kita tidak akan bisa menolaknya. Seperti yang Allah firmankan di dalam Al
Qur’an Surat Al Munafiqun:11 yang artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak
akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu
kematiannya….”

Ketika kita sudah menjumpai ajal berarti sudah selesai perjalanan hidup
kita di alam dunia dan tinggal kita tunggu waktu Allah SWT akan menghitung
amalan-amalan kita selama hidup didunia. Kita tidak bisa kembali ke dunia
untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan dan sungguh amat
menyesal mereka yang lalai dan hanya memperturutkan hawa nafsunya ketika
berada di didunia.

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim menggigit dua tangannya,
seraya berkata: 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama
Rasul.’ (Qs. Al-Furqan:27)

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali
(ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka
berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka
amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak
akan keluar dari api neraka. (Qs. Al Baqarah:167)

Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami
menjadi orang-orang yang beriman. (Qs. Asy Syu'araa':102)

Jangan sampai ajal yang telah Allah tentukan kepada kita mendahului taubat
yang sering kita tunda-tunda, kita tidak bersegera untuk kembali ke
jalan-Nya. Maka ketika ajal mendahului taubat, tidak ada lagi waktu dan
kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk kembali hidup didunia
untuk menebus kesalahan dan kekeliruan yang telah kita perbuat. Semoga kita
adalah hamba yang senantiasa bertaubat atas kesalahan yang terlakukan
dengan “Taubatan Nashuha” dan Allah SWT berkenan menerima akan taubat kita.
Amin.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan
nashuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai…” (Qs. At Tahrim:8)

“…Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(Qs. At-Taubah:118)

Wallahu a’lam bishshawab

Jika Dokter Mengatakan "Tidak Ada Harapan"

Jika Dokter Mengatakan "Tidak Ada Harapan"

By: agussyafii



Di rumah bercat putih itu saya diundang oleh satu keluarga. Ibu dari
pemilik rumah itu cukup ramah. Hari itu kehadiran saya untuk memenuhi
undangan tasyakuran. Sambil menunggu tamu lainnya datang saya
mendengarkan penuturan sang ibu. Katanya sejak setahun yang lalu
suaminya terbaring koma dirumah sakit. hampir seminggu dua kali
dirinya dan putrinya selalu menjenguk kondisi suaminya tidak berubah.
Kesembuhan suaminya kata dokter, "tidak ada harapan." Bahkan sang
dokterpun sudah menyerah. selalu saja sang ibu menyakini "Alloh al
Musta'an." (Allohlah tempat meminta pertolongan) .

Sampai suatu hari ditengah kunjungannya melihat posisi tidur suaminya
mulai berubah. tanda-tanda tersadar nampak dari gerakan. terbuka
kelopak matanya membuat derai airmatanya bercururan. akhirnya alat
bantu pernapasannya juga dicopotnya. Dokter terheran bagaiamana
mungkin ini bisa terjadi.

"Doa apa yang ibu mohonkan untuk kesembuhan bapak?" tanya saya.

"Saya pergi mengunjungi rumah anak yatim, membantu dan mengurus orang
tuanya yang janda sedang sakit dengan tujuan bertaqarrub kepada Alloh.
supaya Alloh SWT memberikan kesembuhan kepada suami saya." Jawabnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, ibu itu mengatakan, "Alloh tidak
menyia-nyiakan harapan dan doa saya."

Dari cerita itu saya memahami bahwa ibadah sholat, doa, dan
mengeluarkan shodaqoh dan bertaqarrub kepada Alloh dengan kita
membantu orang lain yang sedang kesusahan.Maka Alloh SWT akan
menyelesaikan masalah kita sebab hanya Allohlah sang penolong kita.

"Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah
2:186).

sumber, http://agussyafii.blogspot.com

Masa Depan Milik Islam

Fiqh Da'wah
Masa Depan Milik Islam

Oleh: Tim dakwatuna.com



Allah swt. sebagai Pencipta alam semesta dan segala
isinya, tidak mungkin mencelakakan ciptaan-Nya. Dalam berbagai ayat
disebutkan bahwa Allah rabbul aalamiin. Imam Ibnul Jawzi dalam
tafsirnya Zaadul Masiir mengatakan bahwa kata "ar-Rab" mengandung tiga
makna: (a) pemilik seperti dikatakan rabbud daar (pemilik rumah) (a)
pemelihara seperti dikatakan rabbusy syai' (pemelihara sesuatu) (c)
tuan yang ditaati, seperti dikatakan dalam ayat: fayasqi rabbahu
khamra (maka ia memberi tuannya minuman khamer). Semua makna ini
menunjukkan betapa Allah swt. akan menjaga kelestarian ciptaan-Nya
sampai pada saat yang Dia tentukan. Dan untuk mewujudkan kelestarian
ini, Allah telah meletakkan hukum atau sistem mengatur perjalanan
segala wujud di alam semesta, dan jalan hidup manusia.

Islam Sebagai Way Of Life

Khusus mengenai sistem yang mengatur jalan hidup manusia Allah
menyebutnya dengan nama Al-Islam. Allah berfirman:

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam."
(QS. Ali Imran: 19).

Dalam ayat yang lain:

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali
tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran 85).

Ini menunjukkan bahwa hanya Islam yang Allah akui sebagai jalan hidup
manusia. Tanpa Islam manusia akan celaka. Sebab otak manusia yang
Allah ciptakan kapasitasnya bukan untuk mengarang agama sendiri.
Karenanya agama apapaun karangan otak manusia tidak mungkin bisa
menjadi pegangan.

Islam Agama Fitrah

Lebih jauh, Allah menciptakan manusia dengan bekal fitrah yang sesuai
dengan ajaran-Nya (baca: Islam). Karenanya manusia sepanjang sejarah
tidak akan pernah bisa lari dari seruan fitrahnya. Bila ia menjauh
dari seruan fitrah tersebut, ia pasti akan meronta-ronta. Kegelisahan
demi kegelisahan akan terus mencekam dalam jiwanya. Tak terhitung
kasus yang membuktikan bahwa begitu banyak manusia yang bunuh diri
hanya karena kekeringan jiwa, padahal secara kebutuhan materi mereka
bisa dikatakan terpenuhi. Hasil penelitian WHO, seperti diungkap
harian Republika 11/10/2006, membuktikan bahwa 873 ribu manusia
melakukan bunuh diri di dunia setiap tahunnya. Dan setiap 45 tahun
terakhir angka tersebut rata-rata naik 60%. Bahkan di Jepang -negara
yang terkenal maju secara teknologi- sempat terdata bahwa angka bunuh
diri dalam satu tahun mencapai 30 ribu orang. Sebab utama tindakan
bunuh diri ini rata-rata karena ketercekaman jiwa. Tidak hanya ini
yang mereka lakukan, di internet begitu banyak jumlah situs yang
mengajarakan bagaimana seseorang melakukan bunuh diri dengan cepat.
Betapa kenyataan ini semua menunjukkan bahwa manusia benar-benar
diambang kehancurannya ketika tidak mengikuti Islam. Mereka tidak akan
pernah bahagia di dunia maupun di akhirat tanpa kembali kepada Islam.
Sebab hanya Islam yang Allah seting paling sesuai dengan panggilan
fitrahnya.

Karena itulah, sekalipun manusia berusaha menghancurkan Islam
sepanjang sejarah, Islam tidak akan pernah musnah. Dibanding
agama-agama lain, Islam adalah agama yang paling banyak dimusihi.
Allah berfriman:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka
untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan
harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan
dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu
dikumpulkan. " Al-Anfal 36).

Dalam surat Ath Thariq 15:

"Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan
sebenar-benarnya. "

Di ayat lain:

"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut
(ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya
meskipun orang-orang kafir benci." (QS. Ash-Shaf 8).

Tetapi Allah berjanji bahwa sampai kapanpun manusia tidak akan pernah
berhasil melakukan tindakan makarnya. Allah berfirman:

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al
Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan- Nya atas segala agama,
walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (QS. At-Taubah 33).

Perhatikan ketika Allah yang menjamin untuk menjaga agama ini, nampak
bahwa segala upaya yang ditempuh para musuh, Allah mentahkan. Lebih
dari itu, jumlah pemeluknya justru semkain bertambah dari masa ke
masa. Ini adalah fakta yang membuktikan bahwa manusia cerdas masa
depan pasti akan kembali kepada Islam. Mereka tidak akan pernah
menerima agama yang tidak otentik dan tidak sesuai dengan fitrahnya.
Mereka pasti akan segera mengkritisi berbagai penyimpangan yang
terdapat dapat ajaran agama-agama tersebut.

Islam Agama Kemanusiaan

Islam adalah agama yang sangat menghargai kemanusiaan. Karenanya dalam
Islam setiap prilaku yang yang tidak manusiawi harus diperangi. Tidak
ada dalam Islam pembedaan antar sesama muslim hanya karena perbedaan
kulit atau ras. Pun tidak ada perbedaan antara laki-laki dan
perempuan, semua muslim adalah sama sederajat seperti barisan gigi
sisir. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Hanya kwalitas
ketaqwaan yang membedakan di antara mereka. Artinya siapa yang paling
tinggi derajat ketakwaannya, dialah yang paling tinggi derajat
kemanusiaanya di sisi Allah.

Dalam beribadah pun Islam melarang cara-cara beribadah yang tidak
manusiawi. Rasulullah saw. pernah suatu saat menegur tiga orang
sahabatnya yang masing-masing ingin melakukan ibadah dengan cara tidak
manusiawi: Yang pertama ingin menegakan shalat malam dan tidak tidur,
yang kedua, ingin berpuasa dan tidak berbuka dan yang ketiga tidak
ingin menikah. Lalu Rasulullah saw. dalam tergurannya tersebut
menyebutkan:

"Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku juga tidur dan menikah.
Maka barangsiapa menolak sunnahku bukan termauk golonganku." (Ahmad).

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. memberikan contoh yang manusiawi
dalam beribadah. Dengan kata lain seperti yang dikatakan Imam An
nawawi al iqtishaad fil ibadah artinya tidak terlalu menyepelekan dan
tidak terlalu menyiksa diri di luar batas kemanusiaannya (lihat
Riyadhush shaalihiin, Imam An nawawi, Darul Warraq 1996, h.7).

Syeikh Abul Hasan An Nadwi, seorang pemikir muslim dari India, menulis
sebuah buku judulnya " maadzaa khasiral aalam bin khthaathil
muslimiin" (kerugian yang menimpa manusia karena keterpurukan umat
Islam). Ini menunjukkan bahwa manusia tidak akn pernah menemukan
kemanusiaanya selama tidak kembali kepada islam. Terbukti memang bahwa
manusia tanpa Islam, benar-benar hidup dalam kebingungan. Disebutkan
dalam buku tersebut bahwa pada zaman jahiliah -sebelum datangnya
Islam- kaum wanita didzalimi. Mereka tidak mendapatkan hak-hak
kemanusiaannya sama sekali. Tidak sedikit dari putri-putri mereka yang
dibunuh hidup-hidup. Jauh sebelum itu di Ramawi pada abad ke VI masehi
manusia sungguh terpuruk dalam kebinatangan. Tontonan yang paling
menyenangkan pada waktu itu adalah pertarungan yang berdarah-darah dan
bahkan tidak sedikit yang harus melayangkan nyawanya. Para gladiator
diadu dengan sesama mereka, atau mereka dipaksa harus bertarung
melawan binatang buas seperti singa dan lain sebagainya. Suatu
pertarungan yang menunjukkan tingkat kejamnya manusia terhadap
kemanusiaannya sendiri. Dengan kata lain di sana nampak bahwa manusia
benar-benar tidak ada harganya sama sekali.

Islam Agama Yang Menegakkan Keseimbangan

Di dalam Islam manusia menemukan dirinya benar-benar diperlakukan
secara seimbang: (a) Seimbang antara fisik dan ruhani. Artinya tidak
seperti agama lain yang cendrung menghilangkan makna keseimbangan ini.
Sebagian agama cendrung meletakkan manusia sebagai mahluk ruhani saja,
sehingga ia dilarang memenuhi kebutuhannya fisiknya, seperti tidak
boleh menikah dan lain sebagainya. Sebagian yang lain cendrung
menyikapi manusia sebagai mahluk fisik saja, sehingga ia diajarkan
menyembah materi, bukan menyembah Allah yang ghaib. Tuhan mereka
divisualisasaikan menjadi patung. Hidup mereka bergelimang materi
tanpa ada unsur ruhaninya sama sekali. Islam tidak demikian. Islam
meletakkan manusia sebagai mahluk fisik dan ruhani sekaligus. Tidak
ada dalam Islam hak-hak kemanusiaan yang digerogoti. Semuanya, baik
fisik maupun ruhani dipenuhi secara seimbang.

Perhatikan Rasululllah saw. sebagai contoh yang paling konkrit dalam
hal ini. Ia berpuasa dan juga berbuka, ia juga menikah dan mengurus
istri-istrinya, pun ia juga shalat malam dan tidur. Jadi tidak ada
yang diabaikan dari hak-hak fisik dan ruhani. Bahkan Rasulullah
bersabda: "Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh
Allah dari pada seorang mukmin yang lemah" (HR. Muslim no. 4816) Ini
menunjukkan perhatiannya kepada pentingnya pembinaan fisik, lalu dalam
hadits ketika menegaskan tetantang hakikat ihsan ia bersabda:
"hendaknya kau menyembah Allah sekan melihatNya, dan jika tidak,
ingatlah bahwa Ia melihamu" (HR. Muslim no 8). Ini menggambarkan
bagaimana seharusnya manusia membina ruhaninya.

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw. pernah mengucapkan:

"Celakalah mutanath thi'uun tiga kali." (HR. Muslim no 2670).

Artinya celaka orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beribadah.
Bahkan suatu saat ketika Aisyah memberitahukan mengenai seorang wanita
yang berlebih-lebihan dalam menegakkan shalat, Rasulullah saw. segera
menegurnya: "hendaknya kau mengerjakan itu sebatas kemampuanmu, dan
Allah tidak akan pernah bosan (memberikan pahala yang setimpal dengan
amalmu) sampai kau sendiri yang bosan". (HR. Bukahri 3/31, Muslim no
785). Ini semua menunjukkan betapa mempertahankan keseimbangan antara
jasmani dan ruhani adalah inti ajaran Islam.

(b) Seimbang antara dunia dan akhirat. Islam mengajarkan bahwa manusia
diciptakan bukan untuk di dunia saja melainkan juga di akhirat. Bahkan
tujuan hidup manusia sebenarnya untuk akhirat, Allah berfirman:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al-Qashash: 77).

Jadi berdasarkan ini dunia hanyalah keperluan. Sebab kehidupan hakiki
yang seharusnya manusia capai adalah akhirat, Allah berfirman:

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui." (Al-Ankabuut: 64).

Konsep keseimbangan ini tentu sangat berbeda dengan konsep
materialisme yang hanya mengajarkan manusia menjadi mahluk
materlistis. Sebab materialisme hanya membuat manusia menjadi seperti
komoditi yang diperjual belikan, atau seperti mesin yang dipaksa harus
bekerja siang dan malam tanpa ada kesempatan untuk ibadah dan
berdzikir. Secara ruhani ia pasti akan mengalami kekeringan. Akibatnya
ia akan menderita tidak hanya di dunia melainkan lebih dari itu di
kahirat. Perhatikan Allah berfriman:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada
hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha 124).

Dalam ayat yang lain Allah menggambarkan kesalapahaman orang-orang
kafir yang hanya sibuk membangun dunia:

"Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang
kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la 16-17).

Di sini nampak bahwa mengutamakan dunia saja adalah langkah yang
salah, melainkan harus keduanya dipersiapkan secara seimbang.

Adanya Bisyaraat (kabar gembira)

Allah berfirman:

"Musa berkata kepada kaumnya, `Minta tolonglah kalian kepada Allah dan
bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan- Nya
kepada siapa yang dikehendaki- Nya dari hamba-hamba- Nya. Dan kesudahan
yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al A'raf 128).

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan akan diberikan kepada
hamba-hambaNya yang bertakwa. Maksudnya adalah Islam dan umatnya. Dan
ini pasti terjadi cepat atau lambat, sebab Allah tidak pernah
mengingkari janji. Allah berfirman: "innallaaha laa yukhliful mii'aad
(sesungguhnya Allah tidak pernah menyalahi janji." Ali Imran 9.

Rasulullah saw. dalam banyak kesempatan seringkali juga memberikan
bisyarat ini. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah telah
mengumpulkan untukku dunia, maka aku menyaksikannya dari ujung timur
dan barat, dan kerajaan umatku akan melampaui timur dan barat seperti
yang dikumpulkan untukku, dan aku diberi dua kekayaan (emas dan perak
atau kekayaan dua kerajaan Romawi dan Persia) (HR. Muslim no. 5144).
Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda: "berilah kabar
gembira kepada umatku dengan kemenangan, ketenangan di negerinya,
pertolongan Allah, dan kemulyaan agamanya, siapa yang menjadikan amal
akhiratnya untuk dunia, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa di
akhirat" (HR. Imam Ahmad no 20273).

Penutup

Seluruh yang kita sebutkan di atas, menjadi bukti nyata bahwa Islam
adalah agama masa depan. Sampai kapanpun manusia tetap akan
membutuhkannya. Sebab ia adalah way of life, dan suara firahnya.
Dengan Islam manusia akan memperlakukan dirinya sebagai manusia. Dan
di saat yang sama ia akan bisa menajalani hidupnya secara seimbang di
muka bumi. Lebih-lebih Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan bahwa
Islam dan umatnya pasti akan menang. Dan Allah tidak pernah
mengingkari janjiNya.

Tetapi semua ini tidak bisa dicapai dengan hanya mengkahyal. Islam
adalah pedoman hidup, yang harus diamalkan. Umat Islam harus bergerak
untuk mengamalkannya tidak hanya dipojok-pojok masjid melainkan harus
merambah ke dataran kehidupan nyata denga segala dimensinya; politik,
sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Inilah Islam yang
diyakini Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya. Perhatikan mereka
tidak hanya duduk beribadah di masjid, melainkan terus bergerak
menyebarkannya dan merealisakannya dalam kehidupan nyata, secara
integral. Dan dengan upaya yang integral inilah, Islam dan umatnya
benar-benar pernah mampu menalukkan dua kekuatan super power pada
masanya: Romawi dan Persia. Wallahu a'lam bishshawab.

http://www.dakwatuna.com