Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan
Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 23 Jul 2008 - 2:50 am
Malam tak pernah seindah itu. Suara-suara orang mengaji bergaung dan
bergema di seluruh pelosok Kota Pahlawan. Langit dan bumi merendah bak
menyambut malaikat yang bertasbih memuji Ar-Rahman. Sepuluh malam terakhir
di bulan suci Ramadhan menjadi saksi kebahagiaan tak terperi dalam hidup
saya, Eko Prasetyo.
Saya lahir dan besar di keluarga penganut Katolik yang taat. Kami tinggal
di Bekasi. Tiap Minggu, tak pernah alpa kami beribadat ke gereja. Masa
kecil sampai remaja terasa begitu membekas dengan kebahagiaan keluarga
kami. Nama baptis saya adalah Yohanes. Nama tersebut masih menempel di
ijazah terakhir saya sebelum akhirnya hidayah itu menyapa pada 2005.
Pada Agustus 1999, saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di
Universitas Negeri Surabaya (Unesa, dulu IKIP Negeri Surabaya).
Singkatnya, saya kemudian tinggal bersama kakek dan nenek saya.
Hari-hari awal menjadi arek Suroboyo begitu saya nikmati. Jauh dari
orangtua adalah awal saya belajar untuk mandiri. Meski selalu mendapat
uang saku tiap bulan, saya mulai kasihan dengan ibu yang cuma berjualan
kue dan menjadi penjaga kantin sebuah sekolah menengah pertama di Bekasi.
Saya ingin bisa memiliki pendapatan sendiri.
Singkatnya, saya kemudian nyambi mengajar privat selepas kuliah. Lumayan,
dari hasil memberi les privat tersebut, saya bisa menambah uang saku dan
beli bensin. Sempat cuti kuliah pada semester lima karena telat membayar
SPP, saya pernah bekerja sebagai cleaning service di sebuah toko buku.
Sebagai mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa betapa berbedanya dunia
kerja dengan dunia mahasiswa yang penuh dengan idealismenya.
Sungguh, saya menyadari betapa susahnya hidup di kota besar seperti
Surabaya. Apalagi, gaji sebagai cleaning service itu tak sampai Rp. 500
ribu saat itu! Namun, semua itu memiliki hikmah bagi saya. Sukses itu
tidak turun langsung dari langit, tapi harus ada usaha! Do'a, usaha, dan
kerja keras. Itulah fondasi sukses. Karena itu, tekad saya bulat, saya
harus bisa menjadi sarjana, meski sarjana pun terkadang sulit untuk
mencari kerja.
April 2004, kebahagiaan menyelimuti saya dan keluarga. Ya, saya resmi
mengakhiri pendidikan di Unesa bersama ribuan wisudawan lain di Islamic
Center, Surabaya. Tak pernah terbayang di benak saya bahwa anak seorang
ibu penjaga kantin dan bapak supir bisa jadi sarjana. Menjadi raja sehari
sebelum esoknya bingung harus membuat lamaran kerja ke sana-sini. Meski
demikian, rasa haru dan bangga menyelinap di hati saat saya kali pertama
memakai toga.
Setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa Timur. Saya
bersyukur, setelah menganggur beberapa lama, akhirnya saya mendapat
pekerjaan sebagai guru SMP di Kabupaten Malang. Meski penghasilan sebagai
guru sangat kecil, saya begitu menikmati profesi tersebut.
Awal 2005, nenek saya sakit dan diopname di RS RKZ Surabaya. Saat itu,
karena tak ada di antara anak-anaknya yang bisa jaga malam, akhirnya saya
memutuskan ke Surabaya dan menjaga beliau. Meski, konsekuensinya saya
harus keluar dari pekerjaan saya. Dan di situlah awal saya mengalami hal
yang kemudian mengubah hidup saya.
Tiap pukul empat sore, saat jam besuk, saya sudah ada di RKZ untuk menjaga
nenek. Menyuapi saat beliau makan dan mengambilkan pispot saat beliau
buang air kecil, menjadi pengalaman pertama saya merawat orang sakit.
Malam ketiga nenek sakit, saya tak kuat menahan kantuk tertidur dengan
posisi duduk di samping paviliun beliau. Jam menunjukkan pukul setengah
tiga pagi. Saat itulah, saya bermimpi yang menurut saya aneh. Dalam mimpi
tersebut, saya melihat diri saya yang seolah-olah melakukan
gerakan-gerakan yang kelak saya ketahui adalah shalat. Ketika terbangun,
saya tak menghiraukannya. Saya berpikir, mungkin itu hanya bunga tidur
saja karena terlalu capai.
Namun, saya tak menyangka, pada malam keempat mimpi itu datang lagi. Saya
bermimpi melihat diri saya melakukan ruku yang kelak saya ketahui juga
bagian dari shalat. Begitu cepat sehingga saya terbangun dan ketakutan.
"Ada apa ini, Tuhan?" ucap saya dalam hati setengah ketakutan.
Entahlah, saat itu mulai terlintas rasa penasaran saya terhadap Islam.
Ketakutan saya masih berlanjut. Malam kelima, mimpi itu datang lagi dan
kali ini saya melihat diri saya bersujud. Setelah tiga malam
berturut-turut bermimpi aneh, saya sadar bermimpi melihat diri saya sedang
shalat. Keinginan saya mengetahui Islam menjadi besar mulai saat itu.
Setelah nenek sembuh, kejadian itu berlalu dan hanya saya simpan dalam
hati. Diam-diam, saya mulai mempelajari Islam dari buku-buku yang saya
beli. Puncaknya, keluarga kami merayakan Paskah dan saya sempat bermalam
di Gereja Katedral Surabaya. Menjelang subuh, saya hendak keluar dan
membeli makan. Ketika bersiap menggeber motor, saya mendengar sayup-sayup
adzan Subuh. Entah mengapa, saya mendadak mematikan mesin motor dan
mendengarkan kumandang adzan tersebut. Mulai Allaahu Akbar sampai Laa
ilaaha illallaah, meski tak tahu artinya saat itu, hati saya bergetar
hebat. Indah sekali lantunan suara adzan Subuh tersebut.
Kepada seorang kawan, saya mulai mengutarakan niat untuk masuk Islam.
Meski, saya tahu bahwa keputusan itu akan sangat berisiko karena keluarga
saya adalah pemeluk Katolik yang sangat taat. Tiga hari setelah peristiwa
itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya.
Hanya ada saya, dua sahabat saya, dan seorang ustadz pembimbing. Allahu
Akbar! Saya menjadi muslim. Damai sekali. Dua sahabat saya memeluk saya
dan menangis. Suasana begitu mengharukan kala itu.
Saat saya berterus terang kepada orangtua bahwa saya telah menjadi mualaf,
ayah saya sangat murka. Begitu marahnya hingga saya mendapat tamparan di
wajah. Hari-hari awal menjadi muslim begitu berat saya rasakan. Namun,
saya yakin bahwa Allah Mahatahu. Saya menghormati dan sangat menyayangi
orangtua saya. Ketika itu, yang bisa saya lakukan hanya berdo'a bagi ibu
dan bapak saya. Di Surabaya, suasana diskriminasi dari keluarga sempat
saya rasakan. Hal yang wajar karena menjadi muslim saya dicap sebagai
pengkhianat. Meski demikian, semua saya syukuri tanpa henti mendo'akan
kedua orangtua tercinta.
Akhirnya, malam membahagiakan bagi kami itu datang di bulan suci Ramadhan
pada 2006. Malam setelah mengikuti shalat tarawih menjelang Ramadhan
berlalu, saya mendapat telepon dari ibu di Bekasi. Secara mengejutkan ibu
mengatakan bahwa beliau dan bapak telah masuk Islam setelah bermimpi
melihat saya shalat.
Allahu Akbar! Mahaindah Engkau, ya Allah. Tak sanggup berucap sepatah
kata, malam itu juga saya sujud syukur dan tiada henti menangis. Menangis
bahagia. Cinta itu datang berupa hidayah yang tak ternilai dengan apa pun
di dunia ini. Teriring salam terindah untuk Rasulullah, kuucapkan syukur
Alhamdulillah atas karunia ini. (kotasantri)
Ibnu Khaldun : Peletak Dasar Ilmu Sosial
Ibnu Khaldun : Peletak Dasar Ilmu Sosial
Ia pun membagi masyarakat menjadi masyarakat kota dan desa.
Ibnu Khaldun
lahir di Tunis, Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H atau 27 Mei 1332 M. Nama
lengkapnya adalah Abdurahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin
Al-Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurahman bin Ibnu
Khaldun.
Nenek moyang Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut, Yaman yang
berimigrasi ke Sevilla, Andalusia, Spanyol. Namun keluarganya akhirnya
meninggalkan Sevilla menunju Melilia, Maroko kemudian menuju ke Tunisia
saat Abi Zakariya hafsid pada 1228-1249. Ibnu Khaldun berasal dari
keluarga cendekiawan yang tak begitu tertarik dengan persoalan politik.
Sejumlah bidang menjadi bagian penting dalam proses pendidikannya. Di
antaranya adalah Alquran, tata bahasa, hukum, hadis, retorika,
filologi, matematika, filsafat, dan astronomi.
Ayahnya sendiri, Muhammad, yang memberikan pengajaran pertama kepada
Ibnu Khaldun. Selanjutnya, ia menimba ilmu dari banyak cendekiawan yang
ada di Tunis. Apalagi saat itu, Tunis seakan menjadi pusat cendekiawan
Muslim dari Andalusia. Menurut Ensiklopedi Islam, pada 751 H, yaitu
saat Ibnu Khaldun berusia 21 tahun, ia diangkat menjadi sekretaris
Sultan Dinasti Hafs, al Fadl yang berkedudukan di Tunisia. Namun tak
lama kemudian, ia berhenti karena penguasa yang didukungnya kalah dalam
pertempuran pada 753 H.
Ibnu Khaldun kemudian menuju Baskara, Maghrib Tengah, Aljazair. Di sana
ia berupaya untuk mendapatkan pekerjaan dari Sultan Abu Anan yang
menjadi penguasa Bani Marin. Dan pada 755 H, ia berhasil mendapat
kedudukan sebagai anggota Majelis Ilmu Pengetahuan. Setahun kemudian ia
diangkat menjadi sekretaris Sultan. Dan jabatan itu ia jabat hingga 763
H. Pada 764 H, ia berangkat ke Granada karena mendapatkan tugas dari
Sultan Bani Ahmar sebagai duta di Castilla. Ia menjalankan tugasnya
dengan gemilang.
Namun
pada suatu saat, hubungannya dengan Sultan retak. Hingga kemudian pada
766 H, ia mendapat undangan dari penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah
Muhammad, untuk datang Bijayah, daerah pesisir Laut Tengah di Aljazair.
Kemudian ia diangkat sebagai perdana menteri. Baru setahun, Bijayah
jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, yang sebelumnya menjabat
sebagai gubernur di Qasanthinah. Meksi berganti penguasa, Ibnu Khaldun
tetap diberi jabatan yang sama. Hingga kemudian ia memutuskan untuk
berangkat ke Baskara.
Serangkian peristiwa di dunia politik ia alami. Hingga ia memutuskan
untuk menjauhi politik. Ia memutuskan untuk tinggal di Qal'at,
Aljazair. Di sanalah ia menulis kitab monumentalnya Kitab al-I'bar wa
Diwan al Mubtada wa al-Khabar fi Ayyam al A'rab wa al Barbar atau al
I'bar. Kitab yang berisi tujuh jilid ini, berisi kajian sejarah yang
didahului Muqaddimah, jilid satu yang membahas tentang masalah-masalah
sosial manusia. Muqaddimah ini membuka jalan pembahasan mengenai
ilmu-ilmu sosial.
Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa politik tak dapat dipisahkan dari
kebudayaan. Ia pun membagi masyarakat menjadi masyarakat kota dan desa.
Tak heran, bila kemudian Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar
ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Pada 780 H, Ibnu Khaldun, kembali
ke Tunisia. Ia menelaah sejumlah kitab yang dibutuhkan untuk merevisi
kitab al-I'bar. Empat tahun kemudian ia pergi ke Iskandaria, Mesir
untuk menghindari kekacaun politik yang terjadi di tempat kelahirannya.
Dari sana ia lalu ke Kairo.
Di Kairo, Ibnu Khaldun mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para
ulama di sana. Ia bahkan membentuk sebuah halaqah di Al Azhar. Selain
Kitab al-I'bar, Ibnu Khaldun juga menulis sejumlah kitab lainnya yang
berkualitas tinggi. Kitab itu adalah at-Ta'rif bi Ibn Khaldun, sebuah
otobiografi, yang merupakan catatan kitab sejarahnya. Ia pun menulis
kitab mengenai teologi, Lubab al-Muhassal di Usul ad-Din. Ini merupakan
ringkasan dari kirab Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al Muta'akhirin,
karya Imam Fakjruddin ar- Razi. Kitab ini memuat pandangan-pandangan
teologi dari Ibnu Khaldun. fer/RioL
Sumber : http://swaramuslim. com
Ia pun membagi masyarakat menjadi masyarakat kota dan desa.
Ibnu Khaldun
lahir di Tunis, Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H atau 27 Mei 1332 M. Nama
lengkapnya adalah Abdurahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin
Al-Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurahman bin Ibnu
Khaldun.
Nenek moyang Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut, Yaman yang
berimigrasi ke Sevilla, Andalusia, Spanyol. Namun keluarganya akhirnya
meninggalkan Sevilla menunju Melilia, Maroko kemudian menuju ke Tunisia
saat Abi Zakariya hafsid pada 1228-1249. Ibnu Khaldun berasal dari
keluarga cendekiawan yang tak begitu tertarik dengan persoalan politik.
Sejumlah bidang menjadi bagian penting dalam proses pendidikannya. Di
antaranya adalah Alquran, tata bahasa, hukum, hadis, retorika,
filologi, matematika, filsafat, dan astronomi.
Ayahnya sendiri, Muhammad, yang memberikan pengajaran pertama kepada
Ibnu Khaldun. Selanjutnya, ia menimba ilmu dari banyak cendekiawan yang
ada di Tunis. Apalagi saat itu, Tunis seakan menjadi pusat cendekiawan
Muslim dari Andalusia. Menurut Ensiklopedi Islam, pada 751 H, yaitu
saat Ibnu Khaldun berusia 21 tahun, ia diangkat menjadi sekretaris
Sultan Dinasti Hafs, al Fadl yang berkedudukan di Tunisia. Namun tak
lama kemudian, ia berhenti karena penguasa yang didukungnya kalah dalam
pertempuran pada 753 H.
Ibnu Khaldun kemudian menuju Baskara, Maghrib Tengah, Aljazair. Di sana
ia berupaya untuk mendapatkan pekerjaan dari Sultan Abu Anan yang
menjadi penguasa Bani Marin. Dan pada 755 H, ia berhasil mendapat
kedudukan sebagai anggota Majelis Ilmu Pengetahuan. Setahun kemudian ia
diangkat menjadi sekretaris Sultan. Dan jabatan itu ia jabat hingga 763
H. Pada 764 H, ia berangkat ke Granada karena mendapatkan tugas dari
Sultan Bani Ahmar sebagai duta di Castilla. Ia menjalankan tugasnya
dengan gemilang.
Namun
pada suatu saat, hubungannya dengan Sultan retak. Hingga kemudian pada
766 H, ia mendapat undangan dari penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah
Muhammad, untuk datang Bijayah, daerah pesisir Laut Tengah di Aljazair.
Kemudian ia diangkat sebagai perdana menteri. Baru setahun, Bijayah
jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, yang sebelumnya menjabat
sebagai gubernur di Qasanthinah. Meksi berganti penguasa, Ibnu Khaldun
tetap diberi jabatan yang sama. Hingga kemudian ia memutuskan untuk
berangkat ke Baskara.
Serangkian peristiwa di dunia politik ia alami. Hingga ia memutuskan
untuk menjauhi politik. Ia memutuskan untuk tinggal di Qal'at,
Aljazair. Di sanalah ia menulis kitab monumentalnya Kitab al-I'bar wa
Diwan al Mubtada wa al-Khabar fi Ayyam al A'rab wa al Barbar atau al
I'bar. Kitab yang berisi tujuh jilid ini, berisi kajian sejarah yang
didahului Muqaddimah, jilid satu yang membahas tentang masalah-masalah
sosial manusia. Muqaddimah ini membuka jalan pembahasan mengenai
ilmu-ilmu sosial.
Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa politik tak dapat dipisahkan dari
kebudayaan. Ia pun membagi masyarakat menjadi masyarakat kota dan desa.
Tak heran, bila kemudian Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar
ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Pada 780 H, Ibnu Khaldun, kembali
ke Tunisia. Ia menelaah sejumlah kitab yang dibutuhkan untuk merevisi
kitab al-I'bar. Empat tahun kemudian ia pergi ke Iskandaria, Mesir
untuk menghindari kekacaun politik yang terjadi di tempat kelahirannya.
Dari sana ia lalu ke Kairo.
Di Kairo, Ibnu Khaldun mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para
ulama di sana. Ia bahkan membentuk sebuah halaqah di Al Azhar. Selain
Kitab al-I'bar, Ibnu Khaldun juga menulis sejumlah kitab lainnya yang
berkualitas tinggi. Kitab itu adalah at-Ta'rif bi Ibn Khaldun, sebuah
otobiografi, yang merupakan catatan kitab sejarahnya. Ia pun menulis
kitab mengenai teologi, Lubab al-Muhassal di Usul ad-Din. Ini merupakan
ringkasan dari kirab Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al Muta'akhirin,
karya Imam Fakjruddin ar- Razi. Kitab ini memuat pandangan-pandangan
teologi dari Ibnu Khaldun. fer/RioL
Sumber : http://swaramuslim. com
Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang Kedua
Assalamu’alaikum wr wb,
http://syiarislam.wordpress.com
Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang Kedua
Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat
syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar,
Maghrib, dan Isya).
Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk
shalat 5 waktu:
”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir
sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.
Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat).” [Al Israa’:78]
”... Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
[An Nisaa’:103]
”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'” [Al
Baqarah:43]
”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan
berkorbanlah” [Al Kautsar:2]
”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan
kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu,
tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu
kerjakan.” [Al Baqarah:110]
a. Shalat Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar
Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:
”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu
Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al
’Ankabuut:45]
Shalat untuk mengingat Allah:
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan
dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]
b. Didiklah Anak/Keluarga Anda Untuk Shalat
Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka)
dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap
apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
[Luqman:17]
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan
shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya"
(Thaha : 132)
Hendaknya kita tetap memelihara/mengerja kan shalat
kita:
"Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat
wusthaa" (Al Baqarah :238)
Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama.
Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia
meruntuhkan agama:
"Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang
mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang
siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama"
(HR. Baihaqi)
c. Shalat Pembeda Orang Islam dengan Orang Kafir
Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah
shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:
"Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan
kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat,
maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia
kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu
Majah no. 1079
Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia
tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah,
dia langsung dimasukkan ke neraka:
”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk
seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat,
maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah
seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu
rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan
yang lain (Thabrani)
Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh
bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai
meninggalkannya.
Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:
“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka
Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak
termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….”
(Al-Muddatstsir: 42-43)
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu
mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya….”
(Al-Ma’un: 4-5)
“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek
yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa
nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.”
(Maryam: 59)
d. Shalat Tepat Waktu dan Berjama’ah
Hendaknya kita shalat tepat waktu:
”Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah
mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu
berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad
menegakkan agama Allah (Bukhori dan Muslim)
Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah:
Anas r.a.: Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk
sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar
sebelum imam mereka pergi (Muslim)
Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat
sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh
tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian)
(Bukhori dan Muslim)
Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam.
Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam
sujud dulu, baru anda sujud:
Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu
dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah
kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)
Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat
di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang
lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)
Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan
orang yang mengerjakan shalat.
http://syiarislam.wordpress.com
Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang Kedua
Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat
syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar,
Maghrib, dan Isya).
Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk
shalat 5 waktu:
”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir
sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.
Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat).” [Al Israa’:78]
”... Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
[An Nisaa’:103]
”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'” [Al
Baqarah:43]
”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan
berkorbanlah” [Al Kautsar:2]
”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan
kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu,
tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu
kerjakan.” [Al Baqarah:110]
a. Shalat Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar
Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:
”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu
Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al
’Ankabuut:45]
Shalat untuk mengingat Allah:
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan
dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]
b. Didiklah Anak/Keluarga Anda Untuk Shalat
Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka)
dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap
apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
[Luqman:17]
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan
shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya"
(Thaha : 132)
Hendaknya kita tetap memelihara/mengerja kan shalat
kita:
"Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat
wusthaa" (Al Baqarah :238)
Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama.
Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia
meruntuhkan agama:
"Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang
mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang
siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama"
(HR. Baihaqi)
c. Shalat Pembeda Orang Islam dengan Orang Kafir
Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah
shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:
"Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan
kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat,
maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia
kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu
Majah no. 1079
Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia
tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah,
dia langsung dimasukkan ke neraka:
”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk
seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat,
maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah
seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu
rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan
yang lain (Thabrani)
Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh
bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai
meninggalkannya.
Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:
“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka
Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak
termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….”
(Al-Muddatstsir: 42-43)
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu
mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya….”
(Al-Ma’un: 4-5)
“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek
yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa
nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.”
(Maryam: 59)
d. Shalat Tepat Waktu dan Berjama’ah
Hendaknya kita shalat tepat waktu:
”Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah
mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu
berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad
menegakkan agama Allah (Bukhori dan Muslim)
Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah:
Anas r.a.: Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk
sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar
sebelum imam mereka pergi (Muslim)
Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat
sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh
tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian)
(Bukhori dan Muslim)
Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam.
Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam
sujud dulu, baru anda sujud:
Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu
dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah
kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)
Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat
di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang
lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)
Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan
orang yang mengerjakan shalat.
Based On The Qur'an And Psychology Theory
--- In ...@yahoogroups. com, "mjhd87" wrote:
THE DOG'S PERSONALITY*
Based On The Qur'an And Psychology Theory
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami
berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab),
kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia
diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk
orang-orang yang sesat.
176. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)
nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan
menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.
(Q.S. Al-A'raf: 175-177)
Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah
proses yang ditumukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing,
dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus
bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang
diinginkan.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada
seekor anjing, sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar.
Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur
anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang
diperlihakan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan
sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang
demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan
hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun
akan keluar pula.
(Teori Pengkondisian Klasik: Ivan Pavlov 1849-1936)
PROFIL UMUM ANJING
Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan
pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih,
diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialiasi
dengan manusia dan anjing yang lain. Anjing memiliki posisi unik
dalam hubungan antarspesies. Kesetiaan dan pengabdian yang
ditunjukkan anjing sangat mirip dengan konsep manusia tentang cinta
dan persahabatan. Walaupun sudah merupakan naluri alami anjing
sebagai hewan kelompok, pemilik anjing sangat menghargai kesetiaan
dan pengabdian anjing dan menganggapnya sebagai anggota keluarga
sendiri. Anjing kesayangan bahkan sering sampai diberi nama keluarga
yang sama seperti nama pemiliknya. Sebaliknya, anjing menganggap
manusia sebagai anggota kelompoknya. Anjing hanya sedikit membedakan
kedudukan sang pemilik dengan rekan anjing yang masih satu kelompok,
dan bahkan sering tidak membedakannya sama sekali.
Anjing memiliki banyak peran dalam masyarakat manusia dan sering
dilatih sebagai anjing pekerja. Berbagai anjing pekerja dari segala
jenis banyak bekerja sebagai anjing penggembala dan pekerjaan baru
seperti anjing pelacak dan anjing penuntun tuna netra atau anjing
pelayanan. Untuk anjing yang tidak bekerja, ada banyak olah raga
anjing untuk memamerkan kemampuan alami mereka. Di banyak negara,
peran anjing yang paling umum dan paling penting adalah sebagai
binatang peliharaan. Anjing telah bekerja dan tinggal bersama manusia
dengan banyak peran yang membuat mereka digelari "teman terbaik
manusia".[7] Sebaliknya, anjing dianggap binatang yang tidak bersih
(najis) di beberapa tempat di dunia. Di beberapa negara, anjing
diternakkan sebagai hewan ternak untuk menghasilkan daging anjing. Di
sebagian besar kebudayaan di dunia, konsumsi daging anjing diangap
tabu.
PROFIL ANJING DALAM AL-QUR'AN DAN TEORI PSIKOLOGI
Dalam al-qur'an surat al-a'raf 175-177 ini menceritakan tipelogi
kepribadian manusia yang menghilangkan identitasnya sebagai
manusiayang senantiasa hidup secara terhormat sesuai dengan kelebihan
yang dmilikinya dari makhluk hidup yang lain. sehingga berganti
dengan identitas hewan yang bernama anjing. Yang didalam al-qur'an
dijelaskan bahwa "anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya
dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Atau
lebih konkritnya ditampilkan dalam profilnya secara umum. Ini adalah
suatu tipelogi kepribadian yang didalam teori "Need Hirearchy"
Maslow, tipelogi kepribadian yang telah mencapai semua tingkatan
kebutuhan yakni; kebutuhan fisiologis, safety needs, Belonging needs,
esteem need, dan self actualization. Tapi kemudian kepribadian ini
kembali dan menjadi orientasi utama bagi hidupnya pada kebutuhan
fisiologis. Yakni kebutuhan pada pemuasan terhadap materi, walaupun
ia telah memiliki materi itu. Dan kebutuhan ini yang merupakan
tingkat kebutuhan yang paling rendah dalam teori kebutuhan Maslow.
Meskipun kepribadian ini telah mencapai self esteem yang berupa
kebenaran, kebaikan, rasa keindahan, kebermaknaan hidup dan
sebagainya. Akan tetapi kepribadian ini melepaskan self esteem dalam
dirinya dan kembali pada berorientasi pada kebutuhan fisiologis. Yang
kemudian menghilangkan semua tingkat kebutuhan yang telah ia capai.
PEMBAHASAN
Kepribadian inilah yang digambarkan dalam al-qur'an bahwasanya." Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan
kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian
dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh
syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang
yang sesat.Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Inilah tipelogi
kepribadian yang sangat rendah dan senantiasa ditampakkan didalam
kehidupan manusia dalam semua tempat, masa, dan lingkungan. Akan
tetapi tipelogi kepribadian anjing ini tidak menimpa pada orang yang
bodoh karena tidak memiliki pengetahuan atau karena intelejensinya
yang kurang. Akan tetapi tipelogi kepribadian anjing ini menimpa pada
diri yang telah memiliki berbagai pengetahuan dan ilmu yang
dimilikinya yang seharusnya dapat meninggikan derajatnya sebagai
manusia. Akan tetapi kemudian mengikuti dorongan basic instingnya
yang rendah. Sehingga ia menjadi orang yang paling buruk dalam
hidupnya.
Dan kondisi manusia yang memiliki tipelogi kepribadian anjing ini
akan sangat rentan dengan kegoncangan jiwanya. Yang akan selalu
merasa cemas dan tidak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya.
Dan kepribadian ini kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran yang
ada disekitarnya dan memungkinkan kepribadian ini tidak akan pernah
berubah untuk meninggikan kembali derajatnya sebagai manusia.
Tapi mungkin ada yang berpendapat, bahwa perumpamaan ini hanyalah
perumpamaan saja, bukanlah tipelogi kepribadian. Tapi yang perlu kita
ketahui dan yakini bahwasanya ketika Al-Qur'an memberikan
perumpamaan, maka perumpamaan itu adalah sebaik dansesempurnanya
perumpamaan yang sesuai dengan objek yang diumpamakan. Sehingga
perumpamaan al-qur'an terhadap manusia yang mendustakan ayat-ayat
Allah SWT/manusia yang kehilangan sensitivitasnya terhadap norma-
norma yang diberikan tuhanannya adalah seperti anjing yang
menjulurkan lidahnya secara terus menerus.
Sungguh suatu perumpamaan yang memberikan gambaran yang cukup jelas
bagi manusia yang disebutkan Allah SWT, sebagai manusia yang tidak
konsisten terhadap apa yang telah di berikannya kepada manusia. Yaitu
manusia yang telah diberikan pengetahuan dan kebenaran dari Allah.
Sehingga Allah SWT menyamakannya dengan salah satu kepribadian anjing
yang utama ketika diberikan stimulus. Sebagaimana yang termaktub
dalam percobaan yang dilakukan oleh ivan Pavlov dengan anjingnya yang
melahirkan teori Classic Conditioning (pengondidian klasik) hingga
saat ini hasil percoban yang menghasilkan teori itu menjadi referensi
didalam dunia psikologi modern saat ini. Yang jika kita perhatikan
dan cermati percobaan ini memiliki korelasi yang baik dengan
pernyataan Allah SWT yang sebagaimana di tukil dari ayat 175-177 dari
surat Al-A'raf sekitar 14 abad yang lalu. Yang disampaikan oleh
Rasulullah kepada umatnya dengan sebaik-baiknya penyampaian saat itu.
Sehingga menjadi pelajaran yang sangat berarti dari generasi
kegenerasi yang memiliki kejernihan fitrah dan kematangan dalam
berfikir dan tulus dalam beramal.
Hingga dapat kita berfikir dan merasakan sejenak dengan melihat
kedalam diri kita dan melihat kedalam permasalahan bangsa ini. Apakah
kita merasakan kepribadian ini didalam diri kita, ada pada diri anak
bangsa ini. Sehingga kita bisa membaca apa yang terjadi pada diri
kita kemrin, saat ini, dan esok. Dan membaca nasib anak bangsa ini
kemrin, hari ini,dan hari esok kedepannya yang terjadi. Jika kemudian
perumpamaandan kebenaran dari hasil percobaan ini dimiliki diri kita
dan bangsa ini.
REFERENSI
Tafsir Fidzilail Qur'an surah Al-A'raf 138-Al-Anfal 40, Sayyid Quthb,
Gema Insani Press, Jakarta 2003
Personality Theories ; Melacak Kepibradian Anda Bersama Psikolog
Dunia , Prisma sphie, Jogjakarta 2006
Pengantar Psikologi Jilid satu, Rita L. Atkinson, Richard C.
Atkinson, Edward E. Smith, dan Darly J. Bem, Interaksara, Batam
center
Anjing, Wikipedia Indonesia ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Ivan Pavlov Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa
Indonesia.
Teori belajar behavioristik dan Teori belajar humanistik, Attin
Khalimah, pendidikan guru sekolah dasar Pendidikan guru pra sekolah
dan SD Fakultas pendidikan Universitas negeri yogyakarta 2007
* Ditulis Oleh Ridho Hudayana (Mahasiswa Fak. Psikologi UIN
Malang '05) yang saat ini diamanahi sebagai Ketua Pelaksana Magang
Peminat Psikologi Industri Fakultas Psikologi UIN Malang 2008
--- End forwarded message ---
THE DOG'S PERSONALITY*
Based On The Qur'an And Psychology Theory
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami
berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab),
kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia
diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk
orang-orang yang sesat.
176. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)
nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan
menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.
(Q.S. Al-A'raf: 175-177)
Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah
proses yang ditumukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing,
dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus
bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang
diinginkan.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada
seekor anjing, sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar.
Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur
anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang
diperlihakan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan
sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang
demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan
hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun
akan keluar pula.
(Teori Pengkondisian Klasik: Ivan Pavlov 1849-1936)
PROFIL UMUM ANJING
Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan
pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih,
diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialiasi
dengan manusia dan anjing yang lain. Anjing memiliki posisi unik
dalam hubungan antarspesies. Kesetiaan dan pengabdian yang
ditunjukkan anjing sangat mirip dengan konsep manusia tentang cinta
dan persahabatan. Walaupun sudah merupakan naluri alami anjing
sebagai hewan kelompok, pemilik anjing sangat menghargai kesetiaan
dan pengabdian anjing dan menganggapnya sebagai anggota keluarga
sendiri. Anjing kesayangan bahkan sering sampai diberi nama keluarga
yang sama seperti nama pemiliknya. Sebaliknya, anjing menganggap
manusia sebagai anggota kelompoknya. Anjing hanya sedikit membedakan
kedudukan sang pemilik dengan rekan anjing yang masih satu kelompok,
dan bahkan sering tidak membedakannya sama sekali.
Anjing memiliki banyak peran dalam masyarakat manusia dan sering
dilatih sebagai anjing pekerja. Berbagai anjing pekerja dari segala
jenis banyak bekerja sebagai anjing penggembala dan pekerjaan baru
seperti anjing pelacak dan anjing penuntun tuna netra atau anjing
pelayanan. Untuk anjing yang tidak bekerja, ada banyak olah raga
anjing untuk memamerkan kemampuan alami mereka. Di banyak negara,
peran anjing yang paling umum dan paling penting adalah sebagai
binatang peliharaan. Anjing telah bekerja dan tinggal bersama manusia
dengan banyak peran yang membuat mereka digelari "teman terbaik
manusia".[7] Sebaliknya, anjing dianggap binatang yang tidak bersih
(najis) di beberapa tempat di dunia. Di beberapa negara, anjing
diternakkan sebagai hewan ternak untuk menghasilkan daging anjing. Di
sebagian besar kebudayaan di dunia, konsumsi daging anjing diangap
tabu.
PROFIL ANJING DALAM AL-QUR'AN DAN TEORI PSIKOLOGI
Dalam al-qur'an surat al-a'raf 175-177 ini menceritakan tipelogi
kepribadian manusia yang menghilangkan identitasnya sebagai
manusiayang senantiasa hidup secara terhormat sesuai dengan kelebihan
yang dmilikinya dari makhluk hidup yang lain. sehingga berganti
dengan identitas hewan yang bernama anjing. Yang didalam al-qur'an
dijelaskan bahwa "anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya
dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Atau
lebih konkritnya ditampilkan dalam profilnya secara umum. Ini adalah
suatu tipelogi kepribadian yang didalam teori "Need Hirearchy"
Maslow, tipelogi kepribadian yang telah mencapai semua tingkatan
kebutuhan yakni; kebutuhan fisiologis, safety needs, Belonging needs,
esteem need, dan self actualization. Tapi kemudian kepribadian ini
kembali dan menjadi orientasi utama bagi hidupnya pada kebutuhan
fisiologis. Yakni kebutuhan pada pemuasan terhadap materi, walaupun
ia telah memiliki materi itu. Dan kebutuhan ini yang merupakan
tingkat kebutuhan yang paling rendah dalam teori kebutuhan Maslow.
Meskipun kepribadian ini telah mencapai self esteem yang berupa
kebenaran, kebaikan, rasa keindahan, kebermaknaan hidup dan
sebagainya. Akan tetapi kepribadian ini melepaskan self esteem dalam
dirinya dan kembali pada berorientasi pada kebutuhan fisiologis. Yang
kemudian menghilangkan semua tingkat kebutuhan yang telah ia capai.
PEMBAHASAN
Kepribadian inilah yang digambarkan dalam al-qur'an bahwasanya." Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan
kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian
dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh
syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang
yang sesat.Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Inilah tipelogi
kepribadian yang sangat rendah dan senantiasa ditampakkan didalam
kehidupan manusia dalam semua tempat, masa, dan lingkungan. Akan
tetapi tipelogi kepribadian anjing ini tidak menimpa pada orang yang
bodoh karena tidak memiliki pengetahuan atau karena intelejensinya
yang kurang. Akan tetapi tipelogi kepribadian anjing ini menimpa pada
diri yang telah memiliki berbagai pengetahuan dan ilmu yang
dimilikinya yang seharusnya dapat meninggikan derajatnya sebagai
manusia. Akan tetapi kemudian mengikuti dorongan basic instingnya
yang rendah. Sehingga ia menjadi orang yang paling buruk dalam
hidupnya.
Dan kondisi manusia yang memiliki tipelogi kepribadian anjing ini
akan sangat rentan dengan kegoncangan jiwanya. Yang akan selalu
merasa cemas dan tidak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya.
Dan kepribadian ini kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran yang
ada disekitarnya dan memungkinkan kepribadian ini tidak akan pernah
berubah untuk meninggikan kembali derajatnya sebagai manusia.
Tapi mungkin ada yang berpendapat, bahwa perumpamaan ini hanyalah
perumpamaan saja, bukanlah tipelogi kepribadian. Tapi yang perlu kita
ketahui dan yakini bahwasanya ketika Al-Qur'an memberikan
perumpamaan, maka perumpamaan itu adalah sebaik dansesempurnanya
perumpamaan yang sesuai dengan objek yang diumpamakan. Sehingga
perumpamaan al-qur'an terhadap manusia yang mendustakan ayat-ayat
Allah SWT/manusia yang kehilangan sensitivitasnya terhadap norma-
norma yang diberikan tuhanannya adalah seperti anjing yang
menjulurkan lidahnya secara terus menerus.
Sungguh suatu perumpamaan yang memberikan gambaran yang cukup jelas
bagi manusia yang disebutkan Allah SWT, sebagai manusia yang tidak
konsisten terhadap apa yang telah di berikannya kepada manusia. Yaitu
manusia yang telah diberikan pengetahuan dan kebenaran dari Allah.
Sehingga Allah SWT menyamakannya dengan salah satu kepribadian anjing
yang utama ketika diberikan stimulus. Sebagaimana yang termaktub
dalam percobaan yang dilakukan oleh ivan Pavlov dengan anjingnya yang
melahirkan teori Classic Conditioning (pengondidian klasik) hingga
saat ini hasil percoban yang menghasilkan teori itu menjadi referensi
didalam dunia psikologi modern saat ini. Yang jika kita perhatikan
dan cermati percobaan ini memiliki korelasi yang baik dengan
pernyataan Allah SWT yang sebagaimana di tukil dari ayat 175-177 dari
surat Al-A'raf sekitar 14 abad yang lalu. Yang disampaikan oleh
Rasulullah kepada umatnya dengan sebaik-baiknya penyampaian saat itu.
Sehingga menjadi pelajaran yang sangat berarti dari generasi
kegenerasi yang memiliki kejernihan fitrah dan kematangan dalam
berfikir dan tulus dalam beramal.
Hingga dapat kita berfikir dan merasakan sejenak dengan melihat
kedalam diri kita dan melihat kedalam permasalahan bangsa ini. Apakah
kita merasakan kepribadian ini didalam diri kita, ada pada diri anak
bangsa ini. Sehingga kita bisa membaca apa yang terjadi pada diri
kita kemrin, saat ini, dan esok. Dan membaca nasib anak bangsa ini
kemrin, hari ini,dan hari esok kedepannya yang terjadi. Jika kemudian
perumpamaandan kebenaran dari hasil percobaan ini dimiliki diri kita
dan bangsa ini.
REFERENSI
Tafsir Fidzilail Qur'an surah Al-A'raf 138-Al-Anfal 40, Sayyid Quthb,
Gema Insani Press, Jakarta 2003
Personality Theories ; Melacak Kepibradian Anda Bersama Psikolog
Dunia , Prisma sphie, Jogjakarta 2006
Pengantar Psikologi Jilid satu, Rita L. Atkinson, Richard C.
Atkinson, Edward E. Smith, dan Darly J. Bem, Interaksara, Batam
center
Anjing, Wikipedia Indonesia ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Ivan Pavlov Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa
Indonesia.
Teori belajar behavioristik dan Teori belajar humanistik, Attin
Khalimah, pendidikan guru sekolah dasar Pendidikan guru pra sekolah
dan SD Fakultas pendidikan Universitas negeri yogyakarta 2007
* Ditulis Oleh Ridho Hudayana (Mahasiswa Fak. Psikologi UIN
Malang '05) yang saat ini diamanahi sebagai Ketua Pelaksana Magang
Peminat Psikologi Industri Fakultas Psikologi UIN Malang 2008
--- End forwarded message ---
Aku Selalu Mengingat-MU?
Aku Selalu Mengingat-MU?
Oleh Mashadi
-----------------
Mihrab itu terasa amat teduh. Begitu kuat pengaruhnya. Pada
jiwa-jiwa mulia. Jiwa orang-orang yang hanya mendambakan ridha dari
Rabbnya. Tak pernah sepi. Selalu ada orang-orang duduk di dalamnya.
Dengan tangan tengadah. Berdo’a dan mengingat-Nya. Air matanya terus
menetes sepanjang malam.
Para generasi salaf, tabi’in, dan orang-orang mu’min yang mukhlisin,
terus-menerus dalam mengingat Rabbnya. Dalam lantunan dzikir yang
panjang. Mendekatkan diri. Bermunajat.
Berdo’a. Tujuannya mengharapkan
ampunan dan ridha-Nya. Dengan kesabaran yang tak terbatas. Tak pernah
merasa letih. Betapa beratnya beban itu. Mereka hanya merasakan
kenikmatan yang tak terhingga. Dapat berkalwat (berduaan). Berkalwat
bukan dengan makhluk dan nafsu. Berkalwat dengan yang menciptakan
makhluk, manusia dan seluruh jagad alam semesta, yaitu Allah Azza Wa
Jalla. Betapa manusia yang mempunyai derajat ma’rifat, dan melakukan
‘perjumpaan’ dengan Rabbnya, tak terhijab oleh apapun, karena hanya
semata-mata kesucian jiwanya. Mereka akan mendapatkan kemuliaan, yang
tidak dimiliki oleh orang lain.
Allah Azza Wa Jalla memerintahkan hambanya lebih banyak berdzikir.
“Wahai orang-orang yang beriman yang beriman! Ingatlah kepada Allah,
dengan mengingat nama-Nya,
sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbilah
kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”. (al-Qur’an: 33:41). Bahkan,
Allah Tabarakallahu Ta’ala, menegaskan bahwa Dia akan mengingat orang
yang ingat atau berdzikir kepada-Nya. “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun
akan ingat kepadamu”. (al-Qur’an: 152). Hubungan yang bersifat
kasualitas, timbal-balik, yang mutlak itu telah melahirkan generasi
Rabbani. Orang-orang yang ‘ittijahnya’ (orientasinya), menginginkan
kemuliaan dan kesucian. Mereka senantiasa istijabah dengan
panggilan-Nya.
Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:
“Aku ini adalah menurut dugaan hamba-Ku, dan Aku menyertaimu, di mana
saja ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir atau ingat kepada-Ku di
dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku, dan
kalau ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di
depan khalayak yang lebih baik. Seandainya ia mendekatkan dirinya
kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku sehasta. Jika ia
mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya
sedepa.Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, Aku akan datang
dengan berlari”.
Begitulah. Sikap dari Allah Azza Wa Jalla terhadap hambanya. Hamba,
yang mencintai-Nya dengan diri yang tulus. Mereka yang senantiasa
berdzikir dan mengingatkan-Nya, tak akan pernah disia-siakan atas
segala permohonannya. Baginda
Rasulullah shallallahu alaihi wa salam,
Abu Bakar ra, Umar Ibn Khaththab ra, Utsman ra, Ali Ibn Tholib ra, dan
para sahabat lainnya, memberi tauladan dari generasi yang sempurna
dalam kehidupan. Menjadi cermin yang indah. Menjadi ibroh yang kekal.
Menjadi sumber yang tak kering-kering, terutama dari generasi-generasi
mendatang. Perjalanan hidup seorang hamba akan sangatlah ditentukan
bagaimana kualitas dan tingkat hubungan dengan Rabbnya. Kedudukan dan
posisi seorang hamba juga akan ditentukan oleh tingkat hubungan dengan
Allah Azza Wa Jalla.
Hari ini. Makhluk manusia terus dirundung nista dan hina.
Kehidupannya tak memiliki nilai berarti bagi masa depan kemanusiaan.
Seluruh potensi hidupnya hanya sia-sia. Berbagai simpton dan penomena
yang hadhir dalam kehidupan, cenderung akan terus mengarah kepada
kerusakan dan kehancuran yang sifatnya akut.Manusia tak dapat
menghindari kondisi itu. Dimensi krisis menjadi sangat komplek, yang
membuat manusia semakin frustasi. Mereka kehilangan kepercayaan atas
hari depan mereka. Manusia sebagai hamba menjadi sangat aneh bentuk
perilakunya. Karena penyimpangan alenasi.
Waktu-waktu yang ada
tercurahkan hanya kepada hal-hal yang artifisial. Semua itu, karena
manusia hanya ‘berdzikir’ atau ‘mengingat’ kepada mereka yang lemah,
yang tak berhak, yang terbatas, dan yang pasti akan mati. Manusia,
siang-siang malam, terus hilir-mudik, dari satu tempat ke tempat
lainnya, dan berhubungan dengan tanpa landasan tujuan yang jelas dan
bermakna. Karena, semata-mata arah kehidupannya ditujukan kepada
kehidupan yang serba nisbi atau relatif. Para pemuja kehidupan dunia
dan materialisme telah sampai di ujung, yang tak mungkin lagi dapat
menyelesaikan persoalan masa depan persoalan kemanusiaan hari ini.
Mereka akan berputar dan berkutat di antara persoalan-persoalan yang
terus tumbuh dari sistem nilai yang salah. Hakekatnya, mereka tak
pernah berdzikir dan mengingat kepada Sang Pencipta, Allah Azza Wa
Jalla, dan Yang Maha Sempurna.
Baginda Rasulullah shallalllahu alaihi wa salam, melalui khotbahnya
Beliu bersabda: “Wahai umat manusia! Negeri dunia ini adalah negeri
yang bengkok, bukan negeri yang lurus. Dunia adalah tempat kesusahan,
bukan tempat kesenangan. Barangsiapa mengetahuinya, maka ia tidak
gembira dengan kelapangan yang dimilikinya, atau bersedih karena
kesengsaraan yang dialaminya. Ketahuilah Allah menciptakan dunia
sebagai negeri tempat ujian, dan akhirat termpat kembali”.
Dunia itu akan cepat pergi. Segera berubah. Waspadalah. Kenikmatan
dunia yang sekarang ini, jangan sampai memalingkan dari mengingat-Nya.
Jangan bersusah payah memakmurkan negeri dunia yang Allah telah
pastikan akan hancur. Termasuk mereka yang memujanya.
Perbanyaklah mengingat dan berdzikir kepada Allah Azza Wa Jalla,
karena hanya dengan cara itu, yang dapat menyelamatkan hari depan
manusia. Kehidupan yang akan lebih panjang dan bersifat kekal,
dibanding dengan kehidupan dunia. Kehidupan akhirat. Ramadhan jangan
menjadi sia-sia. Wallahu ‘alam.
sumber :eramuslim.com
Oleh Mashadi
-----------------
Mihrab itu terasa amat teduh. Begitu kuat pengaruhnya. Pada
jiwa-jiwa mulia. Jiwa orang-orang yang hanya mendambakan ridha dari
Rabbnya. Tak pernah sepi. Selalu ada orang-orang duduk di dalamnya.
Dengan tangan tengadah. Berdo’a dan mengingat-Nya. Air matanya terus
menetes sepanjang malam.
Para generasi salaf, tabi’in, dan orang-orang mu’min yang mukhlisin,
terus-menerus dalam mengingat Rabbnya. Dalam lantunan dzikir yang
panjang. Mendekatkan diri. Bermunajat.
Berdo’a. Tujuannya mengharapkan
ampunan dan ridha-Nya. Dengan kesabaran yang tak terbatas. Tak pernah
merasa letih. Betapa beratnya beban itu. Mereka hanya merasakan
kenikmatan yang tak terhingga. Dapat berkalwat (berduaan). Berkalwat
bukan dengan makhluk dan nafsu. Berkalwat dengan yang menciptakan
makhluk, manusia dan seluruh jagad alam semesta, yaitu Allah Azza Wa
Jalla. Betapa manusia yang mempunyai derajat ma’rifat, dan melakukan
‘perjumpaan’ dengan Rabbnya, tak terhijab oleh apapun, karena hanya
semata-mata kesucian jiwanya. Mereka akan mendapatkan kemuliaan, yang
tidak dimiliki oleh orang lain.
Allah Azza Wa Jalla memerintahkan hambanya lebih banyak berdzikir.
“Wahai orang-orang yang beriman yang beriman! Ingatlah kepada Allah,
dengan mengingat nama-Nya,
sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbilah
kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”. (al-Qur’an: 33:41). Bahkan,
Allah Tabarakallahu Ta’ala, menegaskan bahwa Dia akan mengingat orang
yang ingat atau berdzikir kepada-Nya. “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun
akan ingat kepadamu”. (al-Qur’an: 152). Hubungan yang bersifat
kasualitas, timbal-balik, yang mutlak itu telah melahirkan generasi
Rabbani. Orang-orang yang ‘ittijahnya’ (orientasinya), menginginkan
kemuliaan dan kesucian. Mereka senantiasa istijabah dengan
panggilan-Nya.
Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:
“Aku ini adalah menurut dugaan hamba-Ku, dan Aku menyertaimu, di mana
saja ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir atau ingat kepada-Ku di
dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku, dan
kalau ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di
depan khalayak yang lebih baik. Seandainya ia mendekatkan dirinya
kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku sehasta. Jika ia
mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya
sedepa.Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, Aku akan datang
dengan berlari”.
Begitulah. Sikap dari Allah Azza Wa Jalla terhadap hambanya. Hamba,
yang mencintai-Nya dengan diri yang tulus. Mereka yang senantiasa
berdzikir dan mengingatkan-Nya, tak akan pernah disia-siakan atas
segala permohonannya. Baginda
Rasulullah shallallahu alaihi wa salam,
Abu Bakar ra, Umar Ibn Khaththab ra, Utsman ra, Ali Ibn Tholib ra, dan
para sahabat lainnya, memberi tauladan dari generasi yang sempurna
dalam kehidupan. Menjadi cermin yang indah. Menjadi ibroh yang kekal.
Menjadi sumber yang tak kering-kering, terutama dari generasi-generasi
mendatang. Perjalanan hidup seorang hamba akan sangatlah ditentukan
bagaimana kualitas dan tingkat hubungan dengan Rabbnya. Kedudukan dan
posisi seorang hamba juga akan ditentukan oleh tingkat hubungan dengan
Allah Azza Wa Jalla.
Hari ini. Makhluk manusia terus dirundung nista dan hina.
Kehidupannya tak memiliki nilai berarti bagi masa depan kemanusiaan.
Seluruh potensi hidupnya hanya sia-sia. Berbagai simpton dan penomena
yang hadhir dalam kehidupan, cenderung akan terus mengarah kepada
kerusakan dan kehancuran yang sifatnya akut.Manusia tak dapat
menghindari kondisi itu. Dimensi krisis menjadi sangat komplek, yang
membuat manusia semakin frustasi. Mereka kehilangan kepercayaan atas
hari depan mereka. Manusia sebagai hamba menjadi sangat aneh bentuk
perilakunya. Karena penyimpangan alenasi.
Waktu-waktu yang ada
tercurahkan hanya kepada hal-hal yang artifisial. Semua itu, karena
manusia hanya ‘berdzikir’ atau ‘mengingat’ kepada mereka yang lemah,
yang tak berhak, yang terbatas, dan yang pasti akan mati. Manusia,
siang-siang malam, terus hilir-mudik, dari satu tempat ke tempat
lainnya, dan berhubungan dengan tanpa landasan tujuan yang jelas dan
bermakna. Karena, semata-mata arah kehidupannya ditujukan kepada
kehidupan yang serba nisbi atau relatif. Para pemuja kehidupan dunia
dan materialisme telah sampai di ujung, yang tak mungkin lagi dapat
menyelesaikan persoalan masa depan persoalan kemanusiaan hari ini.
Mereka akan berputar dan berkutat di antara persoalan-persoalan yang
terus tumbuh dari sistem nilai yang salah. Hakekatnya, mereka tak
pernah berdzikir dan mengingat kepada Sang Pencipta, Allah Azza Wa
Jalla, dan Yang Maha Sempurna.
Baginda Rasulullah shallalllahu alaihi wa salam, melalui khotbahnya
Beliu bersabda: “Wahai umat manusia! Negeri dunia ini adalah negeri
yang bengkok, bukan negeri yang lurus. Dunia adalah tempat kesusahan,
bukan tempat kesenangan. Barangsiapa mengetahuinya, maka ia tidak
gembira dengan kelapangan yang dimilikinya, atau bersedih karena
kesengsaraan yang dialaminya. Ketahuilah Allah menciptakan dunia
sebagai negeri tempat ujian, dan akhirat termpat kembali”.
Dunia itu akan cepat pergi. Segera berubah. Waspadalah. Kenikmatan
dunia yang sekarang ini, jangan sampai memalingkan dari mengingat-Nya.
Jangan bersusah payah memakmurkan negeri dunia yang Allah telah
pastikan akan hancur. Termasuk mereka yang memujanya.
Perbanyaklah mengingat dan berdzikir kepada Allah Azza Wa Jalla,
karena hanya dengan cara itu, yang dapat menyelamatkan hari depan
manusia. Kehidupan yang akan lebih panjang dan bersifat kekal,
dibanding dengan kehidupan dunia. Kehidupan akhirat. Ramadhan jangan
menjadi sia-sia. Wallahu ‘alam.
sumber :eramuslim.com
Subscribe to:
Posts (Atom)