Desain Kejiwaan Yang Sempurna
By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
Dari al Qur’an surat as Syams dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki desain kejiwaan yang sempurna, memiliki potensi untuk memahami kebaikan dan kejahatan, bisa ditingkatkan kualitasnya menjadi suci dan dapat tercemar sehingga menjadi kotor.
artinya : dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaan Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q/91:7-10).
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Tuhan menciptakan jiwa manusia sebagai sesuatu yang sempurna. Kata wa pada wa nafsin adalah bentuk qasam . Dalam al Qur’an, kata yang dijadikan sumpah Tuhan (yang didahului wawu qasam), seperti was syamsi, wad dluha, wal `ashri menunjuk pada sesuatu yang mengandung arti dahsyat, hebat atau rumit. Kalimat wa nafsin menunjuk bahwa nafs itu sesuatu yang memiliki kualitas hebat, dahsyat, rumit dan sempurna. Apalagi kalimat berikutnya, yakni wama sawwaha secara tegas menyebut kesempurnaan dari jiwa itu.
Wujud kesempurnaan jiwa itu antara lain diberinya potensi (ilham) untuk memahami perilaku (nilai-nilai) buruk dan membedakannya dengan perilaku takwa atau perilaku baik. Semua manusia pada desain awalnya dipersiapkan untuk mampu membedakan yang buruk dari yang baik, tetapi apakah potensi itu akan menjadi aktual atau tidak masih bergantung pada proses berikutnya. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa setiap bayi yang lahir, ia lahir dalam keadaan fitrah (jiwanya dalam keadaan memiliki potensi universal, dan bersih dari dosa warisan), kedua orang tuanya (lingkungan hidup)lah yang selanjutnya akan berperan mengaktualkan potensi fitrah itu menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi atau yang lainnya.
Jika seekor kuda dilahirkan langsung bisa berdiri dan sebentar kemudian sudah bisa berlari, maka potensi fitrah manusia baru bisa beraktual jika fungsi-fungsi kejiwaan yang lain dan fisiknya mencapai kesempurnaan. Bayi manusia secara berangsur-angsur dari bisa menangis dan menyusu ke bisa ngoceh, merangkak, duduk, berdiri, berlari, berbicara, menghitung, berimajinasi, berfikir logis, merenung, berfilsafat dan seterusnya, dalam waktu yang relatip panjang. Jika potensi anak kuda berhenti pada kemampuan lari kencang, maka aktualisasi potensi kejiwaan manusia berkembanag sangat luas seakan hampir tak berbatas.
Dalam ayat 9 surat as Syams tersebut diatas disebutkan bahwa secara fitri Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia pengetahuan tentang keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa). Mengapa dalam ayat tersebut keburukan (fujur) disebutkan lebih dahulu, baru kebaikan (taqwa), bukanlah sekedar penyebutan, tetapi mengandung makna bahwa jiwa manusia lebih mudah mengenali keburukan dibanding kebaikan. Secara fitri, manusia akan langsung mempersepsi keburukan sebagai keburukan, karena keburukan berseberangan dengan fitrah dasar manusia sebagai makhluk yang baik. Manurut al Qur’an manusia juga secara psikologis lebih mudah mengerjakan kebaikan, karena sesuai dengan desain fitrahnya (laha ma kasabat), sedangkan untuk berbuat jahat manusia harus “berjuang” melawan suara hatinya, suara nuraninya, sehingga terasa berat (wa `alaiha ma iktasabat). Kalimat kasabat dan iktasabat dalam bahasa Arab mengandung arti dasar yang sama, tetapi kasabat mengandung arti mudah
mengerjakanya dan iktasabat mengandung arti susah mengerjakannya (Q/2:286).
Dalam al Qur’an terdapat term al khair dan fahisyah. Al Khair mengandung arti kebaikan normatip yang datangnya dari Tuhan dan bersifat universal, seperti keadilan, kejujuran, berbakti kepada orang tua, menolong yang lemah dan sebagainya. Pandangan ini secara fitri dimiliki oleh semua manusia sepanjang zaman, bahkan pada masyarakat primitip yang belum mengenal pendidikan. Sedangkan bagaimana cara menegakkan keadilan dan kejujuran, atau bagaimana caranya berbakti kepada orang tua atau bagaimana caranya membela orang lemah, tidak lagi masuk kategori al khoir, tetapi masuk apa yang dalam al Qur’an disebut al ma`ruf, ya’muruna bi al ma`ruf.(Q/3:104). Ma`ruf adalah sesuatu yang secara sosial dipandang memiliki kepantasan. Secara lughawi , al ma`ruf artinya sesuatu yang diketahui, tetapi kemudian diartikan sebagai kebaikan, mengandung makna bahwa pada dasarnya secara fitri manusia mengetahui nilai-nilai kepantasan, nilai-nilai kepatutan, yang secara
sosial dipandang sebagai kebaikan.
Sedangkan fahisyah mengandung arti sesuatu yang secara universal dipandang sebagai kekejian. Dalam al Qur’an (Q/4:15) fahisyah sering digunakan untuk menyebut perbuatan zina. Artinya secara fitri, semua manusia sepanjang sejarah kemanusiaan pada dasarnya mengerti bahwa hubungan seks di luar nikah (zina) adalah perbuatan keji. Para pezina professionalpun tersinggung jika isterinya dizinahi orang lain karena secara fitri zina adalah fahisyah, sesuatu yang jelas kekejiannya. Berbeda dengan fahisyah adalah munkar. Term munkar disebut al Qur’an (wa yanhauna `an al munkar) untuk menyebut perbuatan jahat yang diperdebatkan. Perbuatan munkar adalah kejahatan yang dilakukan sebagai wujud dari kecerdasan seseorang, sehingga kejahatannya bisa disembunyikan atau dilapis dengan logika, seakan perbuatan itu tidak jahat. Munkar adalah prestasi negatip dari kecerdikan. Mark up atau komisi adalah contoh perbuatan munkar, tidak nampak nyata kejahatannya, terhindar
dari pasal-pasal hukum meskipun berdampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat.
sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com
Mahluk Allah itu Bernama Anjing
Mahluk Allah itu Bernama Anjing
Kediaman orang tuaku terletak di pinggiran jakarta. Walaupun hampir sama padatnya dengan Jakarta, tetapi banyaknya pohon-pohon sebagai sarana penghijauan dan penahan serapan air membuat beberapa warga dilingkungan tersebut mengembangkan hobi mereka memelihara binatang seperti burung, ayam, kelinci dan kambing bahkan di pinggiran rawa ada yang memelihara bebek. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, di halaman rumah belakang tiba-tiba muncul seekor anak anjing yang baru bisa jalan, karena tampak masih tertatih-tatih yang bermain bersama anak kucing. Entah tersasar atau ada yang membuang, yang jelas sejak hari itu anak anjing tersebut seperti mengikat tali persaudaraan dengan anak kucing dan tinggal dengan damai di halam belakang rumah orang tuaku.
Satu tahun kemudian perkembangan anak anjing tersebut melampaui anak kucing, tetapi kemesaraan mereka tetap tidak berubah. Berbeda dengan kucing, anjing lebih berkarakter artinya mereka lebih spontan membela orang yang memberi mereka makan jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan sedangkan kucing , lenggang tidak mau tahu seperti mengatakan " akukan binantang, tidak ikut campur urusan manusia" seperti kejadian ada yang mengambil pisang di pekarangan belakang maka anjing ini langsung menyalak dengan keras yang membangunkan tidak hanya isi rumah tetapi juga tetangga.
Ayahku sebenarnya risih dengan keberadaan anjing ini karena kemanapun ayahku pergi dia sesalu mengikuti termasuk pergi kemasjid. Anjing ini seperti terlatih untuk menunggu sampai selesai sholat, atau sampai selesai berbelanja dipasar dekat rumah, atau sampai selesai bertamu ketetangga, sehingga para tetangga mengira ayahku sengaja memelihara anjing ini padahal tidak. Walaupun demikian ayah tetap rutin memberi makan anjing dan kucing ini sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari .
Ada satu alasan mengapa ayah tidak pernah mengusir atau membuang anjing ini selain loyalitasnya, yaitu tidak pernah membuang kotoran di pekarangan rumah, entah dimana dia membuangnya dan juga tidak ada tetangga yang mengeluh karena perpindahan lokasi pembuangan tersebut. Disamping itu kebiasaaan anjing lain yaitu suka menjilat dan mengendus, tidak dilakukan oleh anjing ini, entah karena terbiasa bergaul dengan kucing atau ada faktor lain sehingga bisa merubah kebiasaan dari habitatnya oleh karena itu ayah tidak pernah ragu dengan sandal atau sarung yang di gunakannya terkena najis.
Namun belakangan ini, ayah ingin memberikannya kepada orang lain, karena gunjingan tetangga semakin keras, mungkin bagi mereka tetap aneh seorang muslim yang taat memelihara seekor anjing walaupun anjing itu sangat jinak dan tidak pernah mengganggu siapapun, dan kebetulan ada tetangga lain RT yang beragama kristen bersedia menampung.
Pada hari ahad dua minggu yang lalu anjing itu tidak mau makan seharian, dia tampak murung dan ketakutan, selalu berada di pojok rumah, sekilas ayah melihat pada sore itu setitik air dimatanya, dia seperti rudung suatu kesedihan, seperti akan berpisah sangat jauh. Pada malam harinya ayahku melihat dia masih berada di pojokan rumah tertidur atau hanya sekedar berbaring.
Pagi harinya tiba-tiba anjing itu menghilang entah kemana. Ayah walaupun memang berniat memberikannya kepada orang lain tetapi merasa seperti ada yang meresahkan hatinya dan itulah yang membuatkan nya mencari seharian tetapi tidak ketemu. Beberapa hari kemudian terdengar berita bahwa ada beberapa anjing jalanan yang masih muda dibunuh untuk di konsumsi bahkan setelah di potong ada yang diperjual belikan untuk kalangan tertentu. Mendengar berita tersebut ayahku cuma terdiam tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak pernah memegang hak kepemilikan binatang tersebut. Mata ayah nampak berkaca-kaca mendengar khabar tersebut.
Ada sesuatu yang hilang, yang kurang diharapkan ketika dia ada tetapi membekas cukup dalam ketika dia tidak ada. Binatang yang sampai tiga kali disebutkan di dalam surat Al Kahfi itu seperti pelajaran dari ayat-ayat kauniyah Allah di alam semesta tentang suatu kasih sayang. tentang sebuah kesetiaan, tentang kebersamaan walau hanya dari seekor binantang yang telah bertamu satu tahun lebih dirumah pinggiran Jakarta tersebut.
Dari Abu Hurairah , Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan terasalah olehnya dahaga yang sangat. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia meneruninya untuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba dia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi lalu turunlah dia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu digigit agar dapat naik kembali. Kemudian ia meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuninya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kami akan mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini? Rasulullah saw. menjawab: Pada setiap yang bernyawa (mahluk hidup) ada pahalanya. (Shahih Muslim No.4162) didalam riwayat lain pelakunya di gambarkan seorang wanita pelacur ( lihat sahih Bukhari atau sahih Muslim nomor selanjutnya )
Salam
David
Kediaman orang tuaku terletak di pinggiran jakarta. Walaupun hampir sama padatnya dengan Jakarta, tetapi banyaknya pohon-pohon sebagai sarana penghijauan dan penahan serapan air membuat beberapa warga dilingkungan tersebut mengembangkan hobi mereka memelihara binatang seperti burung, ayam, kelinci dan kambing bahkan di pinggiran rawa ada yang memelihara bebek. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, di halaman rumah belakang tiba-tiba muncul seekor anak anjing yang baru bisa jalan, karena tampak masih tertatih-tatih yang bermain bersama anak kucing. Entah tersasar atau ada yang membuang, yang jelas sejak hari itu anak anjing tersebut seperti mengikat tali persaudaraan dengan anak kucing dan tinggal dengan damai di halam belakang rumah orang tuaku.
Satu tahun kemudian perkembangan anak anjing tersebut melampaui anak kucing, tetapi kemesaraan mereka tetap tidak berubah. Berbeda dengan kucing, anjing lebih berkarakter artinya mereka lebih spontan membela orang yang memberi mereka makan jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan sedangkan kucing , lenggang tidak mau tahu seperti mengatakan " akukan binantang, tidak ikut campur urusan manusia" seperti kejadian ada yang mengambil pisang di pekarangan belakang maka anjing ini langsung menyalak dengan keras yang membangunkan tidak hanya isi rumah tetapi juga tetangga.
Ayahku sebenarnya risih dengan keberadaan anjing ini karena kemanapun ayahku pergi dia sesalu mengikuti termasuk pergi kemasjid. Anjing ini seperti terlatih untuk menunggu sampai selesai sholat, atau sampai selesai berbelanja dipasar dekat rumah, atau sampai selesai bertamu ketetangga, sehingga para tetangga mengira ayahku sengaja memelihara anjing ini padahal tidak. Walaupun demikian ayah tetap rutin memberi makan anjing dan kucing ini sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari .
Ada satu alasan mengapa ayah tidak pernah mengusir atau membuang anjing ini selain loyalitasnya, yaitu tidak pernah membuang kotoran di pekarangan rumah, entah dimana dia membuangnya dan juga tidak ada tetangga yang mengeluh karena perpindahan lokasi pembuangan tersebut. Disamping itu kebiasaaan anjing lain yaitu suka menjilat dan mengendus, tidak dilakukan oleh anjing ini, entah karena terbiasa bergaul dengan kucing atau ada faktor lain sehingga bisa merubah kebiasaan dari habitatnya oleh karena itu ayah tidak pernah ragu dengan sandal atau sarung yang di gunakannya terkena najis.
Namun belakangan ini, ayah ingin memberikannya kepada orang lain, karena gunjingan tetangga semakin keras, mungkin bagi mereka tetap aneh seorang muslim yang taat memelihara seekor anjing walaupun anjing itu sangat jinak dan tidak pernah mengganggu siapapun, dan kebetulan ada tetangga lain RT yang beragama kristen bersedia menampung.
Pada hari ahad dua minggu yang lalu anjing itu tidak mau makan seharian, dia tampak murung dan ketakutan, selalu berada di pojok rumah, sekilas ayah melihat pada sore itu setitik air dimatanya, dia seperti rudung suatu kesedihan, seperti akan berpisah sangat jauh. Pada malam harinya ayahku melihat dia masih berada di pojokan rumah tertidur atau hanya sekedar berbaring.
Pagi harinya tiba-tiba anjing itu menghilang entah kemana. Ayah walaupun memang berniat memberikannya kepada orang lain tetapi merasa seperti ada yang meresahkan hatinya dan itulah yang membuatkan nya mencari seharian tetapi tidak ketemu. Beberapa hari kemudian terdengar berita bahwa ada beberapa anjing jalanan yang masih muda dibunuh untuk di konsumsi bahkan setelah di potong ada yang diperjual belikan untuk kalangan tertentu. Mendengar berita tersebut ayahku cuma terdiam tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak pernah memegang hak kepemilikan binatang tersebut. Mata ayah nampak berkaca-kaca mendengar khabar tersebut.
Ada sesuatu yang hilang, yang kurang diharapkan ketika dia ada tetapi membekas cukup dalam ketika dia tidak ada. Binatang yang sampai tiga kali disebutkan di dalam surat Al Kahfi itu seperti pelajaran dari ayat-ayat kauniyah Allah di alam semesta tentang suatu kasih sayang. tentang sebuah kesetiaan, tentang kebersamaan walau hanya dari seekor binantang yang telah bertamu satu tahun lebih dirumah pinggiran Jakarta tersebut.
Dari Abu Hurairah , Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan terasalah olehnya dahaga yang sangat. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia meneruninya untuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba dia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi lalu turunlah dia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu digigit agar dapat naik kembali. Kemudian ia meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuninya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kami akan mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini? Rasulullah saw. menjawab: Pada setiap yang bernyawa (mahluk hidup) ada pahalanya. (Shahih Muslim No.4162) didalam riwayat lain pelakunya di gambarkan seorang wanita pelacur ( lihat sahih Bukhari atau sahih Muslim nomor selanjutnya )
Salam
David
MENIR LONDO vs TUAN TANAH
MENIR LONDO vs TUAN TANAH
"Wah, macet banget di depan - tuh liat, padahal kan sekarang malem senen, ada apa ya...?", kata saya. "Apa ga ada jalan lain..."? lanjut saya. "Putar balik aja, nanti di depan setelah jembatan ambil kiri - kita lewat jalan tikus" kata teman saya sambil tangannya menunjuk arah jalan di seberang kali sana.
Kamipun memutar motor kami, dan karena
kami belum masuk ke"tengah" kemacetan - mudah bagi kami untuk membalik arah
menghindari "kancah stres" yang hampir tiap hari kita temui. Motor saya pacu
karena jalan kebalikannya cukup kosong. Mungkin banyak kendaraan yang tertahan
dan berebut untuk berusaha menembus kemacetan. Setelah jembatan, kami belok ke
kiri dan memasuki jalan aga sepi berukuran lebar 2 mobil dan terus menelusuri
jalan tersebut. Sesekali temanku itu memberikan arahan jalan mana yang harus
dilalui. "Di depan ambil kanan ya..", sahutnya penuh keyakinan dan saya pun
yakin menjalankan kendaraan ini.
Tiba-tiba, "Lho kok di blokir
jalannya", teriak teman saya. Saya memang melihat tepat di tengah jalan ada
bangku kayu panjang - seperti bangku yang biasa dipakai tukang ketoprak atau mie
ayam pinggir jalan dan di sebelahnya duduk beberapa orang yang sepertinya sedang
menjaga penutupan jalan itu. "Motor terus aja ntar di depan bangku kecil ada
jalan ke kiri", kata salah seorang yang duduk-duduk di samping jalan yang
diblokir itu.
Sayapun melanjutkan perjalanan tanpa
berhenti sambil membunyikan klakson dan mengangkat tangan kiri saya sebagai
tanda terima kasih atas informasinya. Beberapa menit perjalanan, saya melihat
bangku yang dimaksud orang tadi dan kira-kira 300 meter sesudahnya saya melihat
sekumpulan orang sedang melakukan kegiatan keagamaan. Bangku yang dimaksud sudah
kami lewati tapi kami belum menemukan jalan yang orang itu maksud. Tidak lama
saya melihat jalan setapak selebar 2 motor dan tanpa pikir panjang kamipun masuk
jalan tersebut.
Jalan sempit tersebut cukup
gelap karena hanya diterangi oleh lampu-lampu rumah di sisi kiri dan kanannya.
Hampir disetiap pemukiman padat memang seperti ini - jalan kecil, rumah
rapet-rapet dan sesekali terlihat beberapa orang sedang duduk berkumpul di teras
salah satu rumah. Mungkin mereka jenuh berada di dalam rumah mereka dengan
segala keterbatasan ruang, sarana dan suasananya, sehingga mereka memilih untuk
berkumpul sekedar mencari angin di tempat-tempat biasanya mereka berkumpul. Bagi
warga pemukiman padat tersebut, biasanya mereka sudah hapal dimana tempat-tempat
warga lain berkumpul dan hapal pula kapan mereka akan datang untuk berkumpul.
Tiap melewati kerumunan warga tersebut, saya selalu
mematikan lampu motor, jalan perlahan dan mengucapkan kata "permisi". beberapa
kerumunan malah ada yang memakai sedikit jalan, sehingga kami harus benar-benar
perlahan agar tidak menyenggol. Belum lagi motor dari arah yang berlawanan
juga cukup membuat rintangan tersendiri.
"Gue ga tau jalannya nih...lue tau
nga?", sahut saya bertanya ke teman saya di belakang. Sambil sedikit
tertawa, teman saya bilang, "hahaha...sama sekali buta bos". Nah loh...! Tidak
ada salah satu dari kamipun yang tahu jalan yang kami lalui ini. "Jalan buntu
tuh", teriak salah satu warga yang sedang berdiri di depan salah satu rumah.
Benar saja, apa yang saya takutkan terjadi...Nyasar ! Segera saja saya memutar
motor ini dan kali ini aga kesulitan karena jalannya sangat kecil sehingga saya
harus turun dari motor untuk membalikkan arah kendaraan dan sedikit menuntunnya
ke persimpangan tadi di mana seharusnya saya belok ke kanan. "Ambil kanan Pak,
terus nanti di depan ambil kanan lagi", kata bapak yang tadi memberitahu saya
bahwa jalan yang saya lewati buntu. "Terima kasih pak", sahut kami sambil
melanjutkan perjalanan. Kamipun mengikuti informasi yang kami terima dari bapak
tersebut dan benar informasi itu mengantar kami ke jalan yang lebih besar
selebar 2 mobil yang sebelumnya kami lalui.
Saya memberhentikan motor tepat di
depan warung roko yang terletak persis di pinggir jalan dengan maksud membeli
air minum mineral dan sambil membuka helm kami, kamipun memesan satu botol air
minum mineral membukanya kemudian meminumnya. "Pak, kalo jalan ini terus
tembusnya di mana ?", tanya saya pada salah seorang yang sedang duduk santai
sambil mengangkat sebelah kakinya ke bangku. "Cempaka Putih, emang mas mau
kemana?" dia balik bertanya. "Mau ke Senen", timpal saya dengan asal menjawab
pertanyaannya.
Tidak lama berselang, ada sebuah
mobil Jeep keluaran Chrysler - jika saya tebak sepertinya keluaran terbaru dan
dari pintu sisi kirinya turun seorang anak muda berkulit bersih dan
berpenampilan rapih dan jika dilihat dari penampilannya mungkin ini anak pemilik
mobil itu atau setidaknya anak ini dari keluarga yang mempunyai tingkat ekonomi
yang lebih dari cukup.
"Permisi Pak", kata anak muda itu
sambil membukukkan kepalanya sedikit. "Mau tanya - kalo mau ke Cempaka Putih
lewat jalan mana ya Pak...?", tanyanya lagi dengan intonasi suara yang lembut.
"Oooooh...terus aja De' lewat jalan ini, ntar tembusnya di Cempaka Putih Raya
deket bengkel Honda sebelumnya ITC Cempaka", jawab Bapak yang tadi saya tanya
sambil Bapak itu bangkit dari duduknya dan menunjuk salah satu arah. "Terima
kasih ya Pak", ucap anak muda tersebut sambil kembali membungkukkan kepalanya.
Bergegas anak muda tersebut kembali naik ke mobilnya dan ketika pintu mobil
terbuka - sepintas saya lihat seorang bapak yang berpenampilan bersih dan gagah
duduk di belakang kemudi. Sebelum mobil itu melaju, anak muda tersebut membuka
kaca jendelanya lebar-lebar. "Mari Pak," kata anak muda tersebut. "Terima kasih
ya Pak," sambung bapak yang berada di belakang kemudi sambil melihat ke arah
bapak yang memberikan informasi tersebut dan bapak pemberi informasi tersebut
hanya mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan menghadap ke depan. Dan
mobilpun melaju meninggalkan warung roko tersebut.
Betapa sopan santunnya kedua bapak
dan anak tersebut. Hanya untuk keperluan menanyakan arah jalan saja mereka
memberhentikan kendaraannya, turun dari kendaraan dan menanyakannya dengan
sopan. Hasilnya...luar biasa, Bapak yang tadi saya tanyapun bereaksi sangat
baik. Dia bangkit dari duduknya dan mengerakan tangannya untuk mempertegas
penjelasan lisannya, sementara ketika saya yang bertanya, dia hanya menjawab
begitu saja dan tetap duduk sambil mengangkat sebelah kakinya.
Saya jadi teringat masa lalu saya ketika
masih remaja dan masih sering kongkow sama teman-teman yang lain di warung atau
pinggir jalan. Ketika itu ada seseorang yang menanyakan salah satu alamat
jalan di lingkungan tempat tinggal saya. Saat itu teman saya menjawab "tidak
tahu, tanya aja di depan" padahal saya tahu persis teman saya itu tahu alamat
yang dimaksud oleh orang itu.
Ketika saya tanya, kenapa ? "Males
gue jawabnya...lue pada liat ga gayanya...? sombong banget ! - Apasih susahnya
dia turun dari mobil terus dia tanya kita baik-baik, ini mah tau-tau "Mas, tau
jalan Delima ga..?" cuma ngelongo doang dari jendela - ga sopankan," teman saya
menjawab sambil sewot.
Lamunan saya makin jauh ke belakang, dan
jadi ingat film-film jaman penjajahan dimana para Menir-menir Belanda (Londo)
dan para Tuan-Tuan Tanah dengan angkuhnya duduk di atas kudanya atau di dalam
kereta kudanya sementara para "rakyat kebanyakan" hanya bisa menunduk sambil
duduk di tanah. Mereka (para Menir dan Tuan Tanah tersebut) jika ingin bicara
dengan "rakyat kebanyakan" mereka tidak turun dahulu dari kendaraannya, tetapi
langsung berbicara dengan cara sekenanya.
Dalam agama saya (saya kira semua
agama menganjurkan hal yang sama) orang yang sedikit memberi salam kepada orang
yang banyak dan orang yang berkendara memberi salam kepada orang yang berjalan
kaki. Artinya sudah bisa dipastikan semua dari kita sudah tahu - semata untuk
menimbulkan saling menghargai dan agar tidak menimbulkan kesenjangan atau jurang
yang lebih jauh.
Sepertinya bukan hal yang sulit
untuk dilakukan sesuatu dengan sopan santun, misalnya memberikan salam
(Assalamu'alaikum atau permisi atau apapun itu) sambil sedikit diperkuat dengan
gerakan baik itu tangan maupun kepala, intonasi suara yang santun atau apapun
bentuk kesopanan lainnya. Hasilnya...hampir bisa dipastikan lawan bicara kitapun
akan melakukan hal yang sama. Sekiranya kita masih mendapat perlakuan yang tidak
mengenakan, setidaknya kita sudah menebarkan "kelembutan" dan "Persahabatan"
sesama kita.
"Wah, macet banget di depan - tuh liat, padahal kan sekarang malem senen, ada apa ya...?", kata saya. "Apa ga ada jalan lain..."? lanjut saya. "Putar balik aja, nanti di depan setelah jembatan ambil kiri - kita lewat jalan tikus" kata teman saya sambil tangannya menunjuk arah jalan di seberang kali sana.
Kamipun memutar motor kami, dan karena
kami belum masuk ke"tengah" kemacetan - mudah bagi kami untuk membalik arah
menghindari "kancah stres" yang hampir tiap hari kita temui. Motor saya pacu
karena jalan kebalikannya cukup kosong. Mungkin banyak kendaraan yang tertahan
dan berebut untuk berusaha menembus kemacetan. Setelah jembatan, kami belok ke
kiri dan memasuki jalan aga sepi berukuran lebar 2 mobil dan terus menelusuri
jalan tersebut. Sesekali temanku itu memberikan arahan jalan mana yang harus
dilalui. "Di depan ambil kanan ya..", sahutnya penuh keyakinan dan saya pun
yakin menjalankan kendaraan ini.
Tiba-tiba, "Lho kok di blokir
jalannya", teriak teman saya. Saya memang melihat tepat di tengah jalan ada
bangku kayu panjang - seperti bangku yang biasa dipakai tukang ketoprak atau mie
ayam pinggir jalan dan di sebelahnya duduk beberapa orang yang sepertinya sedang
menjaga penutupan jalan itu. "Motor terus aja ntar di depan bangku kecil ada
jalan ke kiri", kata salah seorang yang duduk-duduk di samping jalan yang
diblokir itu.
Sayapun melanjutkan perjalanan tanpa
berhenti sambil membunyikan klakson dan mengangkat tangan kiri saya sebagai
tanda terima kasih atas informasinya. Beberapa menit perjalanan, saya melihat
bangku yang dimaksud orang tadi dan kira-kira 300 meter sesudahnya saya melihat
sekumpulan orang sedang melakukan kegiatan keagamaan. Bangku yang dimaksud sudah
kami lewati tapi kami belum menemukan jalan yang orang itu maksud. Tidak lama
saya melihat jalan setapak selebar 2 motor dan tanpa pikir panjang kamipun masuk
jalan tersebut.
Jalan sempit tersebut cukup
gelap karena hanya diterangi oleh lampu-lampu rumah di sisi kiri dan kanannya.
Hampir disetiap pemukiman padat memang seperti ini - jalan kecil, rumah
rapet-rapet dan sesekali terlihat beberapa orang sedang duduk berkumpul di teras
salah satu rumah. Mungkin mereka jenuh berada di dalam rumah mereka dengan
segala keterbatasan ruang, sarana dan suasananya, sehingga mereka memilih untuk
berkumpul sekedar mencari angin di tempat-tempat biasanya mereka berkumpul. Bagi
warga pemukiman padat tersebut, biasanya mereka sudah hapal dimana tempat-tempat
warga lain berkumpul dan hapal pula kapan mereka akan datang untuk berkumpul.
Tiap melewati kerumunan warga tersebut, saya selalu
mematikan lampu motor, jalan perlahan dan mengucapkan kata "permisi". beberapa
kerumunan malah ada yang memakai sedikit jalan, sehingga kami harus benar-benar
perlahan agar tidak menyenggol. Belum lagi motor dari arah yang berlawanan
juga cukup membuat rintangan tersendiri.
"Gue ga tau jalannya nih...lue tau
nga?", sahut saya bertanya ke teman saya di belakang. Sambil sedikit
tertawa, teman saya bilang, "hahaha...sama sekali buta bos". Nah loh...! Tidak
ada salah satu dari kamipun yang tahu jalan yang kami lalui ini. "Jalan buntu
tuh", teriak salah satu warga yang sedang berdiri di depan salah satu rumah.
Benar saja, apa yang saya takutkan terjadi...Nyasar ! Segera saja saya memutar
motor ini dan kali ini aga kesulitan karena jalannya sangat kecil sehingga saya
harus turun dari motor untuk membalikkan arah kendaraan dan sedikit menuntunnya
ke persimpangan tadi di mana seharusnya saya belok ke kanan. "Ambil kanan Pak,
terus nanti di depan ambil kanan lagi", kata bapak yang tadi memberitahu saya
bahwa jalan yang saya lewati buntu. "Terima kasih pak", sahut kami sambil
melanjutkan perjalanan. Kamipun mengikuti informasi yang kami terima dari bapak
tersebut dan benar informasi itu mengantar kami ke jalan yang lebih besar
selebar 2 mobil yang sebelumnya kami lalui.
Saya memberhentikan motor tepat di
depan warung roko yang terletak persis di pinggir jalan dengan maksud membeli
air minum mineral dan sambil membuka helm kami, kamipun memesan satu botol air
minum mineral membukanya kemudian meminumnya. "Pak, kalo jalan ini terus
tembusnya di mana ?", tanya saya pada salah seorang yang sedang duduk santai
sambil mengangkat sebelah kakinya ke bangku. "Cempaka Putih, emang mas mau
kemana?" dia balik bertanya. "Mau ke Senen", timpal saya dengan asal menjawab
pertanyaannya.
Tidak lama berselang, ada sebuah
mobil Jeep keluaran Chrysler - jika saya tebak sepertinya keluaran terbaru dan
dari pintu sisi kirinya turun seorang anak muda berkulit bersih dan
berpenampilan rapih dan jika dilihat dari penampilannya mungkin ini anak pemilik
mobil itu atau setidaknya anak ini dari keluarga yang mempunyai tingkat ekonomi
yang lebih dari cukup.
"Permisi Pak", kata anak muda itu
sambil membukukkan kepalanya sedikit. "Mau tanya - kalo mau ke Cempaka Putih
lewat jalan mana ya Pak...?", tanyanya lagi dengan intonasi suara yang lembut.
"Oooooh...terus aja De' lewat jalan ini, ntar tembusnya di Cempaka Putih Raya
deket bengkel Honda sebelumnya ITC Cempaka", jawab Bapak yang tadi saya tanya
sambil Bapak itu bangkit dari duduknya dan menunjuk salah satu arah. "Terima
kasih ya Pak", ucap anak muda tersebut sambil kembali membungkukkan kepalanya.
Bergegas anak muda tersebut kembali naik ke mobilnya dan ketika pintu mobil
terbuka - sepintas saya lihat seorang bapak yang berpenampilan bersih dan gagah
duduk di belakang kemudi. Sebelum mobil itu melaju, anak muda tersebut membuka
kaca jendelanya lebar-lebar. "Mari Pak," kata anak muda tersebut. "Terima kasih
ya Pak," sambung bapak yang berada di belakang kemudi sambil melihat ke arah
bapak yang memberikan informasi tersebut dan bapak pemberi informasi tersebut
hanya mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan menghadap ke depan. Dan
mobilpun melaju meninggalkan warung roko tersebut.
Betapa sopan santunnya kedua bapak
dan anak tersebut. Hanya untuk keperluan menanyakan arah jalan saja mereka
memberhentikan kendaraannya, turun dari kendaraan dan menanyakannya dengan
sopan. Hasilnya...luar biasa, Bapak yang tadi saya tanyapun bereaksi sangat
baik. Dia bangkit dari duduknya dan mengerakan tangannya untuk mempertegas
penjelasan lisannya, sementara ketika saya yang bertanya, dia hanya menjawab
begitu saja dan tetap duduk sambil mengangkat sebelah kakinya.
Saya jadi teringat masa lalu saya ketika
masih remaja dan masih sering kongkow sama teman-teman yang lain di warung atau
pinggir jalan. Ketika itu ada seseorang yang menanyakan salah satu alamat
jalan di lingkungan tempat tinggal saya. Saat itu teman saya menjawab "tidak
tahu, tanya aja di depan" padahal saya tahu persis teman saya itu tahu alamat
yang dimaksud oleh orang itu.
Ketika saya tanya, kenapa ? "Males
gue jawabnya...lue pada liat ga gayanya...? sombong banget ! - Apasih susahnya
dia turun dari mobil terus dia tanya kita baik-baik, ini mah tau-tau "Mas, tau
jalan Delima ga..?" cuma ngelongo doang dari jendela - ga sopankan," teman saya
menjawab sambil sewot.
Lamunan saya makin jauh ke belakang, dan
jadi ingat film-film jaman penjajahan dimana para Menir-menir Belanda (Londo)
dan para Tuan-Tuan Tanah dengan angkuhnya duduk di atas kudanya atau di dalam
kereta kudanya sementara para "rakyat kebanyakan" hanya bisa menunduk sambil
duduk di tanah. Mereka (para Menir dan Tuan Tanah tersebut) jika ingin bicara
dengan "rakyat kebanyakan" mereka tidak turun dahulu dari kendaraannya, tetapi
langsung berbicara dengan cara sekenanya.
Dalam agama saya (saya kira semua
agama menganjurkan hal yang sama) orang yang sedikit memberi salam kepada orang
yang banyak dan orang yang berkendara memberi salam kepada orang yang berjalan
kaki. Artinya sudah bisa dipastikan semua dari kita sudah tahu - semata untuk
menimbulkan saling menghargai dan agar tidak menimbulkan kesenjangan atau jurang
yang lebih jauh.
Sepertinya bukan hal yang sulit
untuk dilakukan sesuatu dengan sopan santun, misalnya memberikan salam
(Assalamu'alaikum atau permisi atau apapun itu) sambil sedikit diperkuat dengan
gerakan baik itu tangan maupun kepala, intonasi suara yang santun atau apapun
bentuk kesopanan lainnya. Hasilnya...hampir bisa dipastikan lawan bicara kitapun
akan melakukan hal yang sama. Sekiranya kita masih mendapat perlakuan yang tidak
mengenakan, setidaknya kita sudah menebarkan "kelembutan" dan "Persahabatan"
sesama kita.
MAMPUKAH ZAKAT BERPERAN SERTA MEMBANGUN BANGSA
ZAKAT OUTLOOK 2009:
MAMPUKAH ZAKAT BERPERAN SERTA MEMBANGUN BANGSA
Di Indonesia, kemiskinan masih menjadi isu utama pembangunan. Hingga saat ini, pemerintah masih belum mampu
mengatasi kemiskinan secara tuntas.
Hingga 2008, angka kemiskinan masih berada pada kisaran 15%, jauh diatas
target 2009 yang dipatok di kisaran 5%.
Oleh karena itu, diperlukan komponen lain yang memiliki potensi sangat
besar dalam proses pembangunan bangsa, namun belum mendapat tempat strategis
dalam peta pembangunan nasional, yaitu zakat.
Zakat memiliki berbagai fungsi strategis, selain sebagai wujud ibadah
dan kewajiban moral, berfungsi pula sebagai alternatif instrumen kebijakan fiskal untuk mewujudkan
pemerataan pendapatan. Zakat merupakan
sarana untuk mewujudkan keadilan social.
Indonesia memiliki potensi
zakat yang sangat besar. Akan tetapi, karena berbagai faktor, potensi zakat
tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memberantas kemiskinan
dan mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Realisasi
penerimaan zakat hingga kini masih berkisar di angka Rp 0.5 – 1 trilyun rupiah
per tahun. Padahal, potensi zakat
disinyalir mencapai angka Rp 9 trilyun per tahun (menurut PIRAC), Rp 17.5
trilyun per tahun (menurut Forum Zakat), bahkan Rp 19 trilyun per tahun
(menurut PBB UIN Syarif Hidayatullah) .
Dalam rentang enam dekade pasca kemerdekaan negeri
ini, zakat mengalami pasang surut perkembangan. Walau telah mendapat perhatian
sejak awal pemerintahan orde baru, namun kebangkitan zakat Indonesia justru
dimulai oleh masyarakat sipil. Kurang
aspiratif dan optimalnya pengelolaaan zakat yang dilakukan oleh negara
menyebabkan sebagian masyarakat berinisiatif untuk mengelola zakat secara lebih
produktif. Berbagai
Lembaga Amil Zakat bermunculan di tanah air. Ada yang berafiliasi dengan
lembaga sosial-keagamaan yang sudah ada dan ada pula yang murni muncul karena
kepedulian perusahaan atau sekelompok masyarakat tertentu. Kehadiran Lembaga Amil zakat ini melahirkan
aktitivitas yang menjadi inspirasi masyarakat.
Terlepas dari masih
minimnya peran zakat dalam pembangunan nasional secara makro yang dilakukan oleh Lembaga
Amil Zakat, dalam skala mikro
atau komunitas, pengalaman berbagai kelompok mustahik dan berbagai
indikator awal lainnya menunjukkan bahwa telah cukup banyak program-program
pendayagunaan zakat yang berhasil meningkatkan kesejahteraan komunitas yang
dibantunya. Hal ini terlihat antara lain dalam pendayagunaan zakat untuk bidang
kesehatan, pendidikan, bantuan untuk bencana alam, dan bidang ekonomi.
Dalam jagat perzakatan di Indonesia, selain dikenal
Badan Amil Zakat (BAZ) bentukan pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
non-pemerintah sesuai amanat UU No.38/1999, masih terdapat institusi-institusi
pengelola zakat yang bersifat informal bahkan seringkali beroperasi secara
temporer. Walau terdapat
indikasi bahwa zakat yang mereka kelola cukup besar, tetapi data-data tentang
itu tidak tersedia. Ketaktersediaan data, menyulitkan memproyeksikan dan
merancang perubahan dengan optimalisasi zakat secara nasional. Sampai saat ini secara nasional tidak
terdapat angka yang pasti mengenai pendayagunaan dana zakat. Hal ini karena
belum semua BAZ dan LAZ melaporkan dan mengaudit penggunaan dana tersebut dalam
laporan keuangan mereka. Kalaupun ada, masih sulit mengakses data itu.
Salah satu ikhtiar meyakinkan semua pihak, agar zakat
perlu masuk dalam ranah kebijakan nasional, Circle of Information and Development (CID) – Dompet Dhuafa
merilis sebuah Laporan Proyektif bertajuk “Indonesia Zakat and Development Report
(IZDR) 2009” bekerjasama dengan Pusat
Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (PEBS FE UI). IZDR 2009 ini digelar dalam bentuk Seminar Zakat Outlook dengan mengusung tema “Zakat dan Pembangunan: Era Baru Zakat Menuju Kesejahteraan Umat”. Seminar Zakat Outlook ini menghadirkan
sejumlah pakar dan narasumber, yaitu: Dr.
Iman Sugema (pengamat ekonomi), Ir. Adiwarman Karim, MBA. MAEP (pakar ekonomi
syariah), Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat (Ditjen Pemberdayaan Masyarakat,
DepSos RI), Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si (Walikota Padang, Sumatera Barat), dan
Hilman Rosyad, Lc. (Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI).
Para
pakar, pengamat dan praktisi zakat ini akan berupaya mengusung dan menghadirkan
zakat pada posisi yang strategis dalam mainstream
pembangunan nasional, agar mampu mengambil peran dan kontribusi nyata untuk
mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Pembahasan juga dimungkinkan memperoleh perspektif yang menyeluruh
tentang dunia zakat, pergerakan serta capaian-capaian yang telah diraih, bagaimana
interaksi stakeholders perzakatan,
dan yang tak kalah pentingnya analisis peluang ke arah yang lebih baik di masa
mendatang.
Seminar
Zakat Outlook 2009 ini, mengemban tiga tujuan utama: (1) mengkaji perkembangan
zakat dari waktu ke waktu; (2) memberikan informasi-informasi penting untuk
analisis kebijakan dan pengembangan zakat seperti proyeksi pertumbuhan,
penghimpunan, penyaluran atau pendayagunaan zakat, serta regulasi zakat; (3)
melakukan analisis kebijakan/ regulasi yang telah dikeluarkan dan memberikan
rekomendasi kebijakan yang dibutuhkan.
Direncanakan
setiap tahun Circle of Information and Development (CID) – Dompet Dhuafa
bekerja sama dengan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (PEBS FE UI), akan
rutin menerbitkan Indonesia Zakat and
Development Report (IZDR).
Dalam
IZDR 2009 ini menawarkan gagasan arsitektur zakat Indonesia sebagai bentuk
pengaturan kelembagaan (institutional
arrangement) dengan fitur utama pemisahan fungsi regulator dan operator. Hal ini terkait dengan rencana
amandemen UU No. 38/1999 sebagai
dasar regulasi dan kerangka institusional perzakatan nasional. Laporan ini juga menawarkan gagasan reposisi zakat dalam sistem fiskal nasional,
bagaimana relasi zakat dengan negara, bagaimana mendekatkan potensi dan
realisasi zakat dalam konteks kekinian Indonesia.
Untuk kinerja pengelolaan zakat yang baik, IZDR 2009 menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas
organisasi pengelola zakat untuk meraih kepercayaan publik. Beberapa langkah yang
direkomendasikan IZDR 2009 untuk mendekatkan potensi dan realisasi zakat,
yaitu: (i) mengokohkan kerangka regulasi zakat; (ii) penguatan kelembagaan
pengelolaan zakat; (iii) meningkatkan dukungan, kesadaran, dan kepercayaan
publik kepada institusi pengelola zakat; (iv) koordinasi dan sinergi zakat
dengan program pembangunan; dan (v) revitalisasi BAZ-LAZ. Laporan ini juga menekankan besarnya potensi
zakat dalam konteks otonomi daerah dan menggagas pentingnya sinkronisasi zakat
di tingkat pusat dan daerah.
Rendahnya
penerimaan dana zakat di Indonesia disebabkan tiga hal pokok, yaitu: (i) Rendahnya kesadaran wajib zakat dan rendahnya
kepercayaan terhadap BAZ-LAZ.; (ii) Basis zakat yang tergali masih
terkonsentrasi pada zakat fitrah dan zakat profesi; dan (iii) Masih rendahnya insentif bagi wajib zakat untuk
membayar zakat. Untuk itu dibutuhkan strategi penghimpunan dana zakat yang
lebih baik ke depan.
Selain itu, IZDR 2009 juga
menawarkan agenda-agenda ke depan terkait zakat dan pembangunan. Dalam jangka pendek-menengah, agenda terpenting adalah
meningkatkan kredibilitas zakat, terutama dalam program pengentasan kemiskinan.
Upaya meningkatkan efektifitas dan kredibilitas zakat semestinya berfokus pada
4 agenda. Pertama, peningkatan penerimaan dana
zakat baik melalui upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi. Kedua, peningkatan efektifitas
pendayagunaan dana zakat. Ketiga,
perbaikan arah regulasi dan kerangka institusional zakat. Keempat, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan institusi
pengelola zakat.
Diperlukan strategi pendistribusian yang tepat
agar dana zakat menjadi efektif. Setidaknya terdapat
tiga isu penting disini. Pertama, prioritas
dalam distribusi zakat. Kedua, bentuk pendistribusian zakat yang
sesuai. Ketiga, menyesuaikan dengan
kondisi lokal dan perkembangan terkini. Fokus pendayagunaan zakat oleh Lembaga Pengelola Zakat di Indonesia mengalami transformasi besar
dari ranah “charity and relief” ke
ranah “development and empowerment”,
“advocacy and policy making” hingga
ke “thought and civilization”. Isu
penting lainnya dalam aspek pendayagunaan zakat
adalah masalah identifikasi mustahik agar zakat tepat sasaran dan efektif dalam
mengentaskan kemiskinan.
Tema zakat,
sejatinya demikian luas dan kaya daya tarik. Bahkan, ketika ekonomi dunia dan
nasional tengah muram, terlihat seberkas cahaya. Di sudut-sudut negeri ini,
kilau zakat tersaput prasangka, terhalang onak dan duri kebelumfahaman. Mari
bersama menyibakkannya agar cahayanya terangi negeri. InsyaAllah. []
Informasi Lebih Lanjut:
CID (021-7416050 Ext. 350)/
Nana Mintarti, Direktur CID
(0812-802-6942) /
Yusuf Wibisono, Wakil Direktur PEBS FE UI
(0815-972-7904)
Bot Pranadi, Staf Riset CID
(0818-762-077)
MAMPUKAH ZAKAT BERPERAN SERTA MEMBANGUN BANGSA
Di Indonesia, kemiskinan masih menjadi isu utama pembangunan. Hingga saat ini, pemerintah masih belum mampu
mengatasi kemiskinan secara tuntas.
Hingga 2008, angka kemiskinan masih berada pada kisaran 15%, jauh diatas
target 2009 yang dipatok di kisaran 5%.
Oleh karena itu, diperlukan komponen lain yang memiliki potensi sangat
besar dalam proses pembangunan bangsa, namun belum mendapat tempat strategis
dalam peta pembangunan nasional, yaitu zakat.
Zakat memiliki berbagai fungsi strategis, selain sebagai wujud ibadah
dan kewajiban moral, berfungsi pula sebagai alternatif instrumen kebijakan fiskal untuk mewujudkan
pemerataan pendapatan. Zakat merupakan
sarana untuk mewujudkan keadilan social.
Indonesia memiliki potensi
zakat yang sangat besar. Akan tetapi, karena berbagai faktor, potensi zakat
tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memberantas kemiskinan
dan mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Realisasi
penerimaan zakat hingga kini masih berkisar di angka Rp 0.5 – 1 trilyun rupiah
per tahun. Padahal, potensi zakat
disinyalir mencapai angka Rp 9 trilyun per tahun (menurut PIRAC), Rp 17.5
trilyun per tahun (menurut Forum Zakat), bahkan Rp 19 trilyun per tahun
(menurut PBB UIN Syarif Hidayatullah) .
Dalam rentang enam dekade pasca kemerdekaan negeri
ini, zakat mengalami pasang surut perkembangan. Walau telah mendapat perhatian
sejak awal pemerintahan orde baru, namun kebangkitan zakat Indonesia justru
dimulai oleh masyarakat sipil. Kurang
aspiratif dan optimalnya pengelolaaan zakat yang dilakukan oleh negara
menyebabkan sebagian masyarakat berinisiatif untuk mengelola zakat secara lebih
produktif. Berbagai
Lembaga Amil Zakat bermunculan di tanah air. Ada yang berafiliasi dengan
lembaga sosial-keagamaan yang sudah ada dan ada pula yang murni muncul karena
kepedulian perusahaan atau sekelompok masyarakat tertentu. Kehadiran Lembaga Amil zakat ini melahirkan
aktitivitas yang menjadi inspirasi masyarakat.
Terlepas dari masih
minimnya peran zakat dalam pembangunan nasional secara makro yang dilakukan oleh Lembaga
Amil Zakat, dalam skala mikro
atau komunitas, pengalaman berbagai kelompok mustahik dan berbagai
indikator awal lainnya menunjukkan bahwa telah cukup banyak program-program
pendayagunaan zakat yang berhasil meningkatkan kesejahteraan komunitas yang
dibantunya. Hal ini terlihat antara lain dalam pendayagunaan zakat untuk bidang
kesehatan, pendidikan, bantuan untuk bencana alam, dan bidang ekonomi.
Dalam jagat perzakatan di Indonesia, selain dikenal
Badan Amil Zakat (BAZ) bentukan pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
non-pemerintah sesuai amanat UU No.38/1999, masih terdapat institusi-institusi
pengelola zakat yang bersifat informal bahkan seringkali beroperasi secara
temporer. Walau terdapat
indikasi bahwa zakat yang mereka kelola cukup besar, tetapi data-data tentang
itu tidak tersedia. Ketaktersediaan data, menyulitkan memproyeksikan dan
merancang perubahan dengan optimalisasi zakat secara nasional. Sampai saat ini secara nasional tidak
terdapat angka yang pasti mengenai pendayagunaan dana zakat. Hal ini karena
belum semua BAZ dan LAZ melaporkan dan mengaudit penggunaan dana tersebut dalam
laporan keuangan mereka. Kalaupun ada, masih sulit mengakses data itu.
Salah satu ikhtiar meyakinkan semua pihak, agar zakat
perlu masuk dalam ranah kebijakan nasional, Circle of Information and Development (CID) – Dompet Dhuafa
merilis sebuah Laporan Proyektif bertajuk “Indonesia Zakat and Development Report
(IZDR) 2009” bekerjasama dengan Pusat
Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (PEBS FE UI). IZDR 2009 ini digelar dalam bentuk Seminar Zakat Outlook dengan mengusung tema “Zakat dan Pembangunan: Era Baru Zakat Menuju Kesejahteraan Umat”. Seminar Zakat Outlook ini menghadirkan
sejumlah pakar dan narasumber, yaitu: Dr.
Iman Sugema (pengamat ekonomi), Ir. Adiwarman Karim, MBA. MAEP (pakar ekonomi
syariah), Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat (Ditjen Pemberdayaan Masyarakat,
DepSos RI), Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si (Walikota Padang, Sumatera Barat), dan
Hilman Rosyad, Lc. (Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI).
Para
pakar, pengamat dan praktisi zakat ini akan berupaya mengusung dan menghadirkan
zakat pada posisi yang strategis dalam mainstream
pembangunan nasional, agar mampu mengambil peran dan kontribusi nyata untuk
mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Pembahasan juga dimungkinkan memperoleh perspektif yang menyeluruh
tentang dunia zakat, pergerakan serta capaian-capaian yang telah diraih, bagaimana
interaksi stakeholders perzakatan,
dan yang tak kalah pentingnya analisis peluang ke arah yang lebih baik di masa
mendatang.
Seminar
Zakat Outlook 2009 ini, mengemban tiga tujuan utama: (1) mengkaji perkembangan
zakat dari waktu ke waktu; (2) memberikan informasi-informasi penting untuk
analisis kebijakan dan pengembangan zakat seperti proyeksi pertumbuhan,
penghimpunan, penyaluran atau pendayagunaan zakat, serta regulasi zakat; (3)
melakukan analisis kebijakan/ regulasi yang telah dikeluarkan dan memberikan
rekomendasi kebijakan yang dibutuhkan.
Direncanakan
setiap tahun Circle of Information and Development (CID) – Dompet Dhuafa
bekerja sama dengan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (PEBS FE UI), akan
rutin menerbitkan Indonesia Zakat and
Development Report (IZDR).
Dalam
IZDR 2009 ini menawarkan gagasan arsitektur zakat Indonesia sebagai bentuk
pengaturan kelembagaan (institutional
arrangement) dengan fitur utama pemisahan fungsi regulator dan operator. Hal ini terkait dengan rencana
amandemen UU No. 38/1999 sebagai
dasar regulasi dan kerangka institusional perzakatan nasional. Laporan ini juga menawarkan gagasan reposisi zakat dalam sistem fiskal nasional,
bagaimana relasi zakat dengan negara, bagaimana mendekatkan potensi dan
realisasi zakat dalam konteks kekinian Indonesia.
Untuk kinerja pengelolaan zakat yang baik, IZDR 2009 menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas
organisasi pengelola zakat untuk meraih kepercayaan publik. Beberapa langkah yang
direkomendasikan IZDR 2009 untuk mendekatkan potensi dan realisasi zakat,
yaitu: (i) mengokohkan kerangka regulasi zakat; (ii) penguatan kelembagaan
pengelolaan zakat; (iii) meningkatkan dukungan, kesadaran, dan kepercayaan
publik kepada institusi pengelola zakat; (iv) koordinasi dan sinergi zakat
dengan program pembangunan; dan (v) revitalisasi BAZ-LAZ. Laporan ini juga menekankan besarnya potensi
zakat dalam konteks otonomi daerah dan menggagas pentingnya sinkronisasi zakat
di tingkat pusat dan daerah.
Rendahnya
penerimaan dana zakat di Indonesia disebabkan tiga hal pokok, yaitu: (i) Rendahnya kesadaran wajib zakat dan rendahnya
kepercayaan terhadap BAZ-LAZ.; (ii) Basis zakat yang tergali masih
terkonsentrasi pada zakat fitrah dan zakat profesi; dan (iii) Masih rendahnya insentif bagi wajib zakat untuk
membayar zakat. Untuk itu dibutuhkan strategi penghimpunan dana zakat yang
lebih baik ke depan.
Selain itu, IZDR 2009 juga
menawarkan agenda-agenda ke depan terkait zakat dan pembangunan. Dalam jangka pendek-menengah, agenda terpenting adalah
meningkatkan kredibilitas zakat, terutama dalam program pengentasan kemiskinan.
Upaya meningkatkan efektifitas dan kredibilitas zakat semestinya berfokus pada
4 agenda. Pertama, peningkatan penerimaan dana
zakat baik melalui upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi. Kedua, peningkatan efektifitas
pendayagunaan dana zakat. Ketiga,
perbaikan arah regulasi dan kerangka institusional zakat. Keempat, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan institusi
pengelola zakat.
Diperlukan strategi pendistribusian yang tepat
agar dana zakat menjadi efektif. Setidaknya terdapat
tiga isu penting disini. Pertama, prioritas
dalam distribusi zakat. Kedua, bentuk pendistribusian zakat yang
sesuai. Ketiga, menyesuaikan dengan
kondisi lokal dan perkembangan terkini. Fokus pendayagunaan zakat oleh Lembaga Pengelola Zakat di Indonesia mengalami transformasi besar
dari ranah “charity and relief” ke
ranah “development and empowerment”,
“advocacy and policy making” hingga
ke “thought and civilization”. Isu
penting lainnya dalam aspek pendayagunaan zakat
adalah masalah identifikasi mustahik agar zakat tepat sasaran dan efektif dalam
mengentaskan kemiskinan.
Tema zakat,
sejatinya demikian luas dan kaya daya tarik. Bahkan, ketika ekonomi dunia dan
nasional tengah muram, terlihat seberkas cahaya. Di sudut-sudut negeri ini,
kilau zakat tersaput prasangka, terhalang onak dan duri kebelumfahaman. Mari
bersama menyibakkannya agar cahayanya terangi negeri. InsyaAllah. []
Informasi Lebih Lanjut:
CID (021-7416050 Ext. 350)/
Nana Mintarti, Direktur CID
(0812-802-6942) /
Yusuf Wibisono, Wakil Direktur PEBS FE UI
(0815-972-7904)
Bot Pranadi, Staf Riset CID
(0818-762-077)
Karena Cinta, Ia Rela Berkorban
Karena Cinta, Ia Rela Berkorban
oleh M. Arif As-Salman
------------ ----
Sering kali saya perhatikan ketika melintasi jalan, seorang suami menggandeng
tangan istrinya dan ia mengangkat tangan memberi isyarat pada mobil
yang akan lewat agar berhenti atau mengurangi kecepatannya karena ia
dan istrinya ingin melewati jalan tersebut. Seperti halnya juga yang
saya lakukan ketika melintasi jalan raya.
Hal apa yang mendorong suami melakukan itu? Dan hal apakah yang bisa
kita petik dari pemandangan yang sudah biasa kita saksikan setiap hari
tersebut ketika melintasi sebuah jalan ?
Kalau tiba-tiba terjadi kecelakaan, maka yang pertama kali akan kena
tabrak adalah sang suami. Dan bila sang suami tersebut tanggap, dengan
cepat ia mendorong tubuh istrinya ke tepi jalan agar menghindarkan
istrinya dari tabrakan. Dan tinggallah sang suami terbaring dalam balut
darah yang deras mengalir di sekujur tubuhnya. Dalam keadaan seperti
itu ia masih tetap bisa tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah istri
saya selamat."
Seorang suami yang baik dan cinta pada istrinya selalu terdepan
menjaga dan membela istrinya. Ia rela menempuh kesulitan, kepedihan dan
bahkan kesakitan demi istrinya.
Semua itu ia lakukan dengan landasan
cinta. Bunga cinta yang telah bermekaran di taman hati, nyanyian cinta
yang selalu mengisi hari-hari, matahari cinta yang menerangi jalan
kehidupan dan rembulan cinta yang menerangi kegelapan malam menjadi
sumber kekuatan menempuh pahit manisnya kehidupan.
Karena cinta, sang suami sanggup hidup susah dan menderita. Dan karena
cinta sang suami tak akan tega melihat istrinya sibuk mengurus rumah
dan anak sendiri. Panggilan suara-suara cinta yang selalu bergema dalam
hatinya membuatnya tak akan rela menyaksikan istrinya dalam
kesengsaraan.
Dan sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing masing ...?
Adakah kecintaan kita pada Allah, Rasul, agama dan kaum muslimin
seperti halnya atau melebihi kecintaan seorang suami pada istrinya
sebagaimana yang kita gambarkan pada tulisan diatas?
Adakah kita mencintai Allah dengan sebenarnya sehingga kita patuh pada
perintahNya, meninggalkan laranganNya dan rela berkorban apapun untuk
keridhaanNya?
Adakah kita mencintai Rasulullah, sehingga kita menjadikan beliau
sebagai qudwah kita dalam menjalani kehidupan ini dan terdepan ketika
ada yang menghina dan melecehkan dirinya?
Adakah kita cinta pada agama ini, sehingga kita selalu dengan senang
hati menjalankan ajaran-ajarannya dan ketika ada yang merusak,
menghina, melecehkan dan menodai agama ini, kita berada di barisan
terdepan untuk membelanya?
Adakah kita mencintai kaum muslimin sehingga kita selalu hidup
rukun, damai dan tentram dalam bingkai ukhuwah tanpa ada yang menghina,
melecehkan, saling hantam, saling menyalahkan dan saling bunuh?
Pertanyaan-pertanya an tersebut sangat penting untuk selalu kita
tanyakan pada diri kita masing-masing. Kita perlu untuk selalu mengukur
rasa cinta yang kita miliki pada Allah, Rasul, agama dan kaum muslimin.
Dibanyak tempat, beberapa orang yang mengaku islam belum tampak
kesan keislaman pada tutur kata, pola pikir, tingkah laku dan amalan
ibadahnya. Mereka hanya baru islam dimulut atau islam KTP. Ketika azan
sudah berkumandang mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing,
dirumah, di kantor, di sawah, di kebun, di pasar dan berbagai tempat
lainnya. Tidak berpuasa di bulan ramadhan dan masih suka melakukan
praktek hidup bebas, korupsi dan berbagai tindak kriminal lainnya.
Di beberapa tempat lainnya Rasulullah dihina, islam dilecehkan,
Al-Qur`an dihujat, kaum muslimin dibantai dan para wanitanya dinodai.
Namun hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang jumlahnya 1 miliar
lebih di muka bumi ini yang bergerak untuk menyadarkan kaum muslimin
yang telah salah jalan untuk kembali ke jalan yang benar, untuk
berjuang membela Nabi Muhammad, membela islam yang ternodai dan membela
kaum muslimin yang terzholimi.
Kemana mereka yang mengaku mencintai Allah dan Rasul tersebut?
Kenapa ketika bahaya datang menyerang bangunan islam kita tidak melihat
mereka berdiri di depan. Seakan-akan mereka telah ditelan oleh bumi.
Ataukah mereka hanya mencintai islam agar dapat mengantarkan mereka
meraih keuntungan dunia dan nafsu semata dengan menjadikan agama
sebagai kendaraan untuk meraih harta dan jabatan dunia.
Kemana mereka yang katanya rela dicampakkan kedalam kesengsaraan dan penderitaan demi menjauhkan islam dari bahaya?
Sebenarnya mereka tidak mencintai islam. Karena sikap seperti itu
bukanlah dinamakan cinta. Karena cinta adalah memberi bukan meminta
dari yang dicintai. Karena cinta adalah berkorban untuk yang dicintai
bukan mengorbankan yang dicintai untuk meraih keuntungan peribadi.
Pemandangan sang suami yang menggandeng tangan istrinya ketika
melintasi sebuah jalan sedikit banyaknya bisa kita ambil pelajaran,
bahwa cinta yang telah menghujam kuat dalam hati sang suami membuatnya
berada dalam barisan tedepan menjaga, membela dan rela berkorban untuk
istrinya.
Begitu juga semestinya yang harus dilakukan oleh setiap muslim,
perasaan cinta yang yang telah menghujam kuat dalam dirinya juga harus
membuat ia selalu terdepan dalam membela dan menjaga agama Allah ini.
Dan kalaulah kecintaan setiap muslim pada Allah, RasulNya, agama dan
kaum muslim seperti halnya dan melebihi kecintaan sang suami pada istri
sebagaimana yang kita gambarkan pada tulisan diatas, maka insya Allah
Islam akan berjaya, umat islam akan menjalankan agamanya sesuai yang
Allah perintahkan dan kita tidak akan mendengar lagi musuh-musuh islam
yang berani menghina Allah, menghujat Rasulullah, menodai agama dan
membunuh kaum muslimin dan menodai wanita-wanita kaum muslimin. Islam
akan dihargai, dihormati dan dengan izin Allah akan berbondong-bondong
manusia memeluk agama Allah yang mulia dan sempurna ini. Semoga bisa
menjadi renungan kita bersama.
Salam,
Abu Fathma
oleh M. Arif As-Salman
------------ ----
Sering kali saya perhatikan ketika melintasi jalan, seorang suami menggandeng
tangan istrinya dan ia mengangkat tangan memberi isyarat pada mobil
yang akan lewat agar berhenti atau mengurangi kecepatannya karena ia
dan istrinya ingin melewati jalan tersebut. Seperti halnya juga yang
saya lakukan ketika melintasi jalan raya.
Hal apa yang mendorong suami melakukan itu? Dan hal apakah yang bisa
kita petik dari pemandangan yang sudah biasa kita saksikan setiap hari
tersebut ketika melintasi sebuah jalan ?
Kalau tiba-tiba terjadi kecelakaan, maka yang pertama kali akan kena
tabrak adalah sang suami. Dan bila sang suami tersebut tanggap, dengan
cepat ia mendorong tubuh istrinya ke tepi jalan agar menghindarkan
istrinya dari tabrakan. Dan tinggallah sang suami terbaring dalam balut
darah yang deras mengalir di sekujur tubuhnya. Dalam keadaan seperti
itu ia masih tetap bisa tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah istri
saya selamat."
Seorang suami yang baik dan cinta pada istrinya selalu terdepan
menjaga dan membela istrinya. Ia rela menempuh kesulitan, kepedihan dan
bahkan kesakitan demi istrinya.
Semua itu ia lakukan dengan landasan
cinta. Bunga cinta yang telah bermekaran di taman hati, nyanyian cinta
yang selalu mengisi hari-hari, matahari cinta yang menerangi jalan
kehidupan dan rembulan cinta yang menerangi kegelapan malam menjadi
sumber kekuatan menempuh pahit manisnya kehidupan.
Karena cinta, sang suami sanggup hidup susah dan menderita. Dan karena
cinta sang suami tak akan tega melihat istrinya sibuk mengurus rumah
dan anak sendiri. Panggilan suara-suara cinta yang selalu bergema dalam
hatinya membuatnya tak akan rela menyaksikan istrinya dalam
kesengsaraan.
Dan sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing masing ...?
Adakah kecintaan kita pada Allah, Rasul, agama dan kaum muslimin
seperti halnya atau melebihi kecintaan seorang suami pada istrinya
sebagaimana yang kita gambarkan pada tulisan diatas?
Adakah kita mencintai Allah dengan sebenarnya sehingga kita patuh pada
perintahNya, meninggalkan laranganNya dan rela berkorban apapun untuk
keridhaanNya?
Adakah kita mencintai Rasulullah, sehingga kita menjadikan beliau
sebagai qudwah kita dalam menjalani kehidupan ini dan terdepan ketika
ada yang menghina dan melecehkan dirinya?
Adakah kita cinta pada agama ini, sehingga kita selalu dengan senang
hati menjalankan ajaran-ajarannya dan ketika ada yang merusak,
menghina, melecehkan dan menodai agama ini, kita berada di barisan
terdepan untuk membelanya?
Adakah kita mencintai kaum muslimin sehingga kita selalu hidup
rukun, damai dan tentram dalam bingkai ukhuwah tanpa ada yang menghina,
melecehkan, saling hantam, saling menyalahkan dan saling bunuh?
Pertanyaan-pertanya an tersebut sangat penting untuk selalu kita
tanyakan pada diri kita masing-masing. Kita perlu untuk selalu mengukur
rasa cinta yang kita miliki pada Allah, Rasul, agama dan kaum muslimin.
Dibanyak tempat, beberapa orang yang mengaku islam belum tampak
kesan keislaman pada tutur kata, pola pikir, tingkah laku dan amalan
ibadahnya. Mereka hanya baru islam dimulut atau islam KTP. Ketika azan
sudah berkumandang mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing,
dirumah, di kantor, di sawah, di kebun, di pasar dan berbagai tempat
lainnya. Tidak berpuasa di bulan ramadhan dan masih suka melakukan
praktek hidup bebas, korupsi dan berbagai tindak kriminal lainnya.
Di beberapa tempat lainnya Rasulullah dihina, islam dilecehkan,
Al-Qur`an dihujat, kaum muslimin dibantai dan para wanitanya dinodai.
Namun hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang jumlahnya 1 miliar
lebih di muka bumi ini yang bergerak untuk menyadarkan kaum muslimin
yang telah salah jalan untuk kembali ke jalan yang benar, untuk
berjuang membela Nabi Muhammad, membela islam yang ternodai dan membela
kaum muslimin yang terzholimi.
Kemana mereka yang mengaku mencintai Allah dan Rasul tersebut?
Kenapa ketika bahaya datang menyerang bangunan islam kita tidak melihat
mereka berdiri di depan. Seakan-akan mereka telah ditelan oleh bumi.
Ataukah mereka hanya mencintai islam agar dapat mengantarkan mereka
meraih keuntungan dunia dan nafsu semata dengan menjadikan agama
sebagai kendaraan untuk meraih harta dan jabatan dunia.
Kemana mereka yang katanya rela dicampakkan kedalam kesengsaraan dan penderitaan demi menjauhkan islam dari bahaya?
Sebenarnya mereka tidak mencintai islam. Karena sikap seperti itu
bukanlah dinamakan cinta. Karena cinta adalah memberi bukan meminta
dari yang dicintai. Karena cinta adalah berkorban untuk yang dicintai
bukan mengorbankan yang dicintai untuk meraih keuntungan peribadi.
Pemandangan sang suami yang menggandeng tangan istrinya ketika
melintasi sebuah jalan sedikit banyaknya bisa kita ambil pelajaran,
bahwa cinta yang telah menghujam kuat dalam hati sang suami membuatnya
berada dalam barisan tedepan menjaga, membela dan rela berkorban untuk
istrinya.
Begitu juga semestinya yang harus dilakukan oleh setiap muslim,
perasaan cinta yang yang telah menghujam kuat dalam dirinya juga harus
membuat ia selalu terdepan dalam membela dan menjaga agama Allah ini.
Dan kalaulah kecintaan setiap muslim pada Allah, RasulNya, agama dan
kaum muslim seperti halnya dan melebihi kecintaan sang suami pada istri
sebagaimana yang kita gambarkan pada tulisan diatas, maka insya Allah
Islam akan berjaya, umat islam akan menjalankan agamanya sesuai yang
Allah perintahkan dan kita tidak akan mendengar lagi musuh-musuh islam
yang berani menghina Allah, menghujat Rasulullah, menodai agama dan
membunuh kaum muslimin dan menodai wanita-wanita kaum muslimin. Islam
akan dihargai, dihormati dan dengan izin Allah akan berbondong-bondong
manusia memeluk agama Allah yang mulia dan sempurna ini. Semoga bisa
menjadi renungan kita bersama.
Salam,
Abu Fathma
Subscribe to:
Posts (Atom)