Wali Allah Versus Wali Thaghut
23 Agu 08 14:53 WIB
Oleh Ihsan Tandjung
Dalam buku Jahiliyyah Abad Duapuluh, Muhammad Quthb menyebutkan adanya kriteria sebuah masyarakat jahiliyyah. Ia membantah pendapat yang membatasi jahiliyyah hanya pada masyarakat Arab di masa awal da’wah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Menurutnya di zaman kapanpun dan di negeri manapun suatu masyarakat pantas disebut masyarakat jahiliyyah bila memenuhi empat kriteria.
Pertama, tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.
Kedua, tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia (QS al-Maidah: 49-50).
Ketiga, hadirnya berbagai thaghut di muka bumi yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada Allah ta’aala serta menolak syariat-Nya. Lalu, mengalihkan peribadatannya kepada thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut nafsunya. (QS al-Baqarah: 257).
Keempat, hadirnya sikap menjauh dari agama Allah ta’aala, sehingga penyelewengan menjurus kepada nafsu syahwat. Masyarakat itu tidak melarang dan tidak merasa berkepentingan untuk melawan perbuatan asusila.
Dalam poin ketiga disebutkan istilah thaghut. Apa dan siapakah thaghut? Dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menulis: “Thaghut” adalah variasi bentuk kata dari “thughyan”, yang berarti segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran dan melampaui batas yang telah ditetapkan Allah ta’aala bagi hamba-hambaNya. Tidak berpedoman kepada aqidah Allah ta’aala, tidak berpedoman kepada syariat yang ditetapkan Allah ta’aala. Dan, yang termasuk dalam kategori thaghut adalah juga setiap manhaj “tatanan, sistem” yang tidak berpijak pada peraturan Allah ta’aala. Begitu juga setiap pandangan, perundang-undangan, peraturan, kesopanan atau tradisi yang tidak berpijak pada peraturan dan syariat Allah ta’aala.”
Adapun oknum thaghut ialah siapa saja yang memiliki otoritas kepemimpinan. Dan dalam mengelola kepemimpinannya ia berlaku melampaui batas dalam menuntut ketaatan, penghormatan dan pengagungan dari para pengikutnya. Maka sebagian ulama mendefinisikannya sebagai:
طاغوت: كل ما يعبد من دون الله من صنم أو بشر أو جن أو غير ذلك
Thaghut: “semua yang disembah selain Allah berupa berhala atau manusia atau jin atau selainnya.”
Dalam sejarah, Allah ta’aala abadikan sosok thaghut yang paling fenomenal, yakni Fir’aun. Tatkala memimpin rakyat Mesir Fir’aun berlaku sedemikian represif dalam menuntut ketaatan rakyatnya sampai ia berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan yang maha tinggi.
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
”(Fir’aun) berkata, "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS An-Naazi’at ayat 24)
Dalam Islam keimanan seseorang baru menjadi benar dan sempurna bila keimanannya kepada Allah ta’aala diiringi pengingkarannya akan thaghut. Ia ibarat dua sisi mata uang atau koin.
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“...barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah ta’aala, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS Al-Baqarah ayat 256)
Dalam suatu masyarakat jahiliyyah kehadiran thaghut sangat signifikan. Ada thaghut kecil, sedang dan besar. Ada thaghut organisasi, asosiasi, kelompok, suku, bangsa, lembaga, mafia atau partai. Ada thaghut perkotaan dan pedesaan. Dialah fihak atau person yang memperoleh perlakuan dalam hal ketaatan, penghormatan dan pengagungan berlebihan sampai menyaingi penghormatan, pengagungan dan ketaatan semestinya kepada Allah ta’aala.
Islam datang untuk menghapus eksistensi thaghut dalam segenap macam, bentuk dan skalanya. Sehingga semua warga menjadi hamba-hamba Allah ta’aala yang saling bersaudara, saling mencintai dan saling menghargai semata karena Allah ta’aala. Namun, dalam sebuah masyarakat jahiliyyah thaghut-thaghut yang ada saling bersaing, saling menjatuhkan dan saling berlomba memperlihatkan kebesaran pengaruh massa dan kekayaan.
Karena masyarakat orang beriman hanya mengagungkan, menghormati dan mencintai Allah ta’aala Yang Maha Esa dan Maha Tunggal di atas segala sesuatunya, maka masyarakat tersebut menjadi solid. Terpelihara kesatuan dan persatuannya karena Allah ta’aala semata. Masyarakat tersebut akan bergerak menuju cahaya yang terang. Sedangkan masyarakat jahiliyyah pasti menjadi masyarakat yang rapuh dan selalu potensial tercerai-berai, karena di dalamnya terdapat banyak thaghut yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Masyarakat tersebut pasti akan menuju kegelapan yang menghancurkan.
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
”Allah ta’aala Wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, wali-walinya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah ayat 257)
Ketika Allah ta’aala dijadikan sebagai wali (pemimpin, pelindung dan penolong), maka orang-orang beriman akan keluar dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman. Sedangkan ketika orang-orang kafir menjadikan berbagai thaghut sebagai para wali mereka, maka mereka bakal menuju kegelapan kekafiran yang berujung pada derita neraka di akhirat.
Pahitnya lagi, menurut Sayyid Quthb, dalam sebuah masyarakat jahiliyyah fihak yang termasuk paling sering terjebak menjadi thaghut ialah para pemegang otoritas keagamaan. Artinya, tidak jarang ditemui dalam suatu masyarakat jahiliyyah justeru para pemuka agamalah yang menjadikan dirinya sebagai fihak yang berlebihan dalam menuntut penghormatan, pengagungan dan ketaatan dari para pengikut atau jama’ahnya.
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Puasaku Tahun-Tahun Lalu
Puasaku Tahun-Tahun Lalu
".........Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan" [Al 'Araaf;7:31]
-----------
Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa.
Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa
kegembiraan dan suasana yang berbeda.
Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa.
Aku menjanjikan jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi
abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.
Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku.
Rupanya dari isteriku. "Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli
kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya,
saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah"
" Pasti", jawabku, "Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. "
Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman.
Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk.
Isteriku setiap sore hari rajin ke rumahmakan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa.
Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria.
Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.
Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih
lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal.
Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran.
Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku
berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid,
tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.
Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan
oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya.
Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah.
Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai
macam tajil yang tersedia.
Kami ini layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil
piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.
Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas
sholat. Sholatpun rasanya kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera.
Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung.
Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka sup jagung, soto madura, tekwan....
Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa,
obrolan ringan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.
Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk.
Ketika pulang, kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat
penyakit 'lapar mata' yang parah dari hampir semua undangan.
Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.
Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan
dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut.
Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa
tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja.
Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya.
Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.
Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana.
Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan.
Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji,
lebih mendekat pada anak-anak sambil menunggu waktu Subuh.
Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta.
Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa.
Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum.
Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat
makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya :-)
Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan.
Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu
membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?
Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum.
Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum;
tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah 'membalasdendam' - dan terlalu berlebihan?
[Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
l.meilany
030908/3ramadhan142 9h
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
".........Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan" [Al 'Araaf;7:31]
-----------
Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa.
Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa
kegembiraan dan suasana yang berbeda.
Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa.
Aku menjanjikan jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi
abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.
Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku.
Rupanya dari isteriku. "Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli
kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya,
saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah"
" Pasti", jawabku, "Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. "
Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman.
Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk.
Isteriku setiap sore hari rajin ke rumahmakan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa.
Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria.
Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.
Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih
lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal.
Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran.
Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku
berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid,
tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.
Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan
oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya.
Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah.
Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai
macam tajil yang tersedia.
Kami ini layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil
piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.
Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas
sholat. Sholatpun rasanya kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera.
Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung.
Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka sup jagung, soto madura, tekwan....
Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa,
obrolan ringan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.
Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk.
Ketika pulang, kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat
penyakit 'lapar mata' yang parah dari hampir semua undangan.
Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.
Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan
dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut.
Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa
tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja.
Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya.
Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.
Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana.
Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan.
Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji,
lebih mendekat pada anak-anak sambil menunggu waktu Subuh.
Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta.
Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa.
Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum.
Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat
makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya :-)
Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan.
Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu
membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?
Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum.
Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum;
tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah 'membalasdendam' - dan terlalu berlebihan?
[Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
l.meilany
030908/3ramadhan142 9h
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
PUASA DIMULAI DENGAN NIAT
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Maaf, seharusnya dikirim sebelum masuk Ramadhan...
Tapi saya rasa nggak ada salahnya kalau dikirim sekarang,
Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya.. .
PUASA DIMULAI DENGAN NIAT
Puasa hendaklah dimulai dengan niat. Tanpa niat puasa tidak syah
Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang
berbunyi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niat. Dan
sesungguhnya tiap-tiap orang yang beramal itu ditentukan oleh apa yang IA
niatkan”
Niat dalam menjalankan ibadah puasa ini adalah semata-Mata
karena Allah. Karena mengharap ridho Dan kasih-Nya. Dengan kata lain bukan
dikarenakan malu kepada tetangga atau kepada orang lain, Dan bukan pula
karena faktor politis Dan sebagainya, akan tetapi dikarenakan oleh Allah
semata. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an surat
Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi: “Mereka tidaklah disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
Apa itu niat ?
Kalau Kita bicara tentang niat, kami kira sudah tidak Ada lagi
yang tidak tahu atau mengerti apa itu niat. Sebab niat itu sudah menjadi
bahasa Indonesia Dan sudah sering Kita pakai sehari-Hari.
Namun demikian tidak Ada salahnya kalau hal ini Kita kaji
kembali untuk menyegarkan ingatan. Niat adalah keinginan hati yang kemudian
diiringi dengan perbuatan. Dalam bahasa Arab didefinisikan sebagai berikut:
“Menyengajakan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan”
Umpamanya, Kita mempunyai keinginan untuk pergi ke salah satu
tempat. Katakanlah ke Medan atau ke Surabaya. Kemudian keinginan tersebut
Kita iringi atau barengi dengan pelaksanaan, maka itulah yang dikatakan
niat. Tapi andaikata tidak dibarengi dengan perbuatan atau pelaksanaan maka
belum dikatakan niat. Yang demikian ini baru dikatakan angan-angan. Dalam
bahasa Arab disebut dengan “Tamanni”.
Demikian juga halnya dalam menjalankan ibadah puasa ini. Kalau
Kita sudah Ada keinginan untuk mengerjakan puasa, kemudian Kita laksanakan
keinginan itu, maka sudah termasuk dengan apa yang disebut niat.
Menempatkan niat
Ada yang mengatakan niat puasa itu hendaklah dilakukan setiap
malam bulan Ramadhan. Demikian pendapat Imam Syafi’i. Hal ini berdasarkan
kepada salah satu hadist Nabi yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak
berniat puasa pada malam Hari, maka tidak Ada puasa baginya.” (Riwayat
Malik)
Kemudian Ada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud,
Tarmidzi Dan Nasa’i, yang berbunyi: “barang siapa yang tidak berniat puasa
sebelum fajar, maka tidak Ada puasa baginya.”
Namun demikian, Ada ulama yang mengatakan niat itu cukup sekali
saja waktu awal Ramadhan atau waktu memulai puasa. Demikian pendapat Imam
Maliki Dan Imam Ahmad.
Kesimpulannya, niat itu harus Ada, sebab tidak syah puasa kalau
tidak pakai niat. Permasalahannya niat itu perlu dilapazdkan atau tidak ?
Niat itu sebaiknya dilafadzkan, seandainya tidak dilafadzkan juga tidak
apa-apa Dan tetap syah puasanya. Mengenai waktu memasang niat itu sama saja.
Apakah itu pada awal Ramadhan atau setiap malam mau puasa.
Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”
Tambahan:
Niat puasa adanya di dalam hati Dan hukumnya wajib, sedangkan melapadzkannya
(mengucapkan niatnya) sunah.
Perbedaan antara puasa sunah dengan puasa wajib adalah pada waktu niatnya.
Kalau puasa sunah lupa niat pada malam Hari boleh saja niatnya pada pagi
Hari, asalkan belum makan/minum apa-apa, sedangkan puasa wajib pada bulan
Ramadhan diniatkan pada malam Hari atau sebelum fajar ketika makan sahur.
Kalau niatnya sudah masuk fajar, menurut ilmu “Mantik” Dan kitab ‘Ushul
Fiqih “ghoyatul wushul” bukannya tidak ada puasa / puasanya tidak syah.
Puasanya tetap syah, hanya nilainya jadi puasa sunah biasa. Sedangkan
puasanya tetap harus diteruskan sebagaimana biasanya, tidak boleh dibatalkan
Nanti setelah Ramadhan puasanya harus diQodho (diganti dengan niat membayar
puasa Ramadhan).
Memasang niat sebaiknya pada malam awal Ramadhan Kita niatkan puasa satu
bulan penuh, sedangkan pada malam-malam berikutnya tetap Kita niatkan setiap
malam.
Keterangan:
Niat puasa satu bulan seluruhnya adalah untuk menjaga-jaga takut Ada yang
lupa niat pada malam berikutnya.
Niat puasa setiap malam Ramadhan adalah untuk menyegarkan atau memperbaharui
niat Kita. Tapi walaupun seumpamanya Kita lupa niat, Kita tidak usah
mengqodho-nya karena diawal Ramadhan Kita sudah niat untuk seluruhnya.
Adapun bacaan niatnya sbb:
- Untuk bacaan niat satu bulan penuh pada awal Ramadhan: “Nawaitu
shauma sahri romadhona kullihi” (Saya niat puasa pada bulan Ramadhan satu
bulan seluruhnya).
- Untuk niat puasa pada setiap malam: “Nawaitu shauma ghodin ’an
adaai fardhu syahri romadhona hadzihis-sanati lillahi ta’ala” (Saya niat
puasa esok Hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah
Ta’ala)
Lebih bagus lagi menurut tata bahasa Arab bacanya di-idhofatkan semua
(kashroh) yaitu :
- Untuk niat puasa pada setiap malam: “Nawaitu shauma ghodin ’an
adaai fardhi syahri romadhoni hadzihis-sanati lillahi ta’ala” (Saya niat
puasa esok Hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah
Ta’ala)
Wassalaamu’alaikum waroh matullaahi wabarokaatuh.
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Maaf, seharusnya dikirim sebelum masuk Ramadhan...
Tapi saya rasa nggak ada salahnya kalau dikirim sekarang,
Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya.. .
PUASA DIMULAI DENGAN NIAT
Puasa hendaklah dimulai dengan niat. Tanpa niat puasa tidak syah
Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang
berbunyi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niat. Dan
sesungguhnya tiap-tiap orang yang beramal itu ditentukan oleh apa yang IA
niatkan”
Niat dalam menjalankan ibadah puasa ini adalah semata-Mata
karena Allah. Karena mengharap ridho Dan kasih-Nya. Dengan kata lain bukan
dikarenakan malu kepada tetangga atau kepada orang lain, Dan bukan pula
karena faktor politis Dan sebagainya, akan tetapi dikarenakan oleh Allah
semata. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an surat
Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi: “Mereka tidaklah disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
Apa itu niat ?
Kalau Kita bicara tentang niat, kami kira sudah tidak Ada lagi
yang tidak tahu atau mengerti apa itu niat. Sebab niat itu sudah menjadi
bahasa Indonesia Dan sudah sering Kita pakai sehari-Hari.
Namun demikian tidak Ada salahnya kalau hal ini Kita kaji
kembali untuk menyegarkan ingatan. Niat adalah keinginan hati yang kemudian
diiringi dengan perbuatan. Dalam bahasa Arab didefinisikan sebagai berikut:
“Menyengajakan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan”
Umpamanya, Kita mempunyai keinginan untuk pergi ke salah satu
tempat. Katakanlah ke Medan atau ke Surabaya. Kemudian keinginan tersebut
Kita iringi atau barengi dengan pelaksanaan, maka itulah yang dikatakan
niat. Tapi andaikata tidak dibarengi dengan perbuatan atau pelaksanaan maka
belum dikatakan niat. Yang demikian ini baru dikatakan angan-angan. Dalam
bahasa Arab disebut dengan “Tamanni”.
Demikian juga halnya dalam menjalankan ibadah puasa ini. Kalau
Kita sudah Ada keinginan untuk mengerjakan puasa, kemudian Kita laksanakan
keinginan itu, maka sudah termasuk dengan apa yang disebut niat.
Menempatkan niat
Ada yang mengatakan niat puasa itu hendaklah dilakukan setiap
malam bulan Ramadhan. Demikian pendapat Imam Syafi’i. Hal ini berdasarkan
kepada salah satu hadist Nabi yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak
berniat puasa pada malam Hari, maka tidak Ada puasa baginya.” (Riwayat
Malik)
Kemudian Ada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud,
Tarmidzi Dan Nasa’i, yang berbunyi: “barang siapa yang tidak berniat puasa
sebelum fajar, maka tidak Ada puasa baginya.”
Namun demikian, Ada ulama yang mengatakan niat itu cukup sekali
saja waktu awal Ramadhan atau waktu memulai puasa. Demikian pendapat Imam
Maliki Dan Imam Ahmad.
Kesimpulannya, niat itu harus Ada, sebab tidak syah puasa kalau
tidak pakai niat. Permasalahannya niat itu perlu dilapazdkan atau tidak ?
Niat itu sebaiknya dilafadzkan, seandainya tidak dilafadzkan juga tidak
apa-apa Dan tetap syah puasanya. Mengenai waktu memasang niat itu sama saja.
Apakah itu pada awal Ramadhan atau setiap malam mau puasa.
Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”
Tambahan:
Niat puasa adanya di dalam hati Dan hukumnya wajib, sedangkan melapadzkannya
(mengucapkan niatnya) sunah.
Perbedaan antara puasa sunah dengan puasa wajib adalah pada waktu niatnya.
Kalau puasa sunah lupa niat pada malam Hari boleh saja niatnya pada pagi
Hari, asalkan belum makan/minum apa-apa, sedangkan puasa wajib pada bulan
Ramadhan diniatkan pada malam Hari atau sebelum fajar ketika makan sahur.
Kalau niatnya sudah masuk fajar, menurut ilmu “Mantik” Dan kitab ‘Ushul
Fiqih “ghoyatul wushul” bukannya tidak ada puasa / puasanya tidak syah.
Puasanya tetap syah, hanya nilainya jadi puasa sunah biasa. Sedangkan
puasanya tetap harus diteruskan sebagaimana biasanya, tidak boleh dibatalkan
Nanti setelah Ramadhan puasanya harus diQodho (diganti dengan niat membayar
puasa Ramadhan).
Memasang niat sebaiknya pada malam awal Ramadhan Kita niatkan puasa satu
bulan penuh, sedangkan pada malam-malam berikutnya tetap Kita niatkan setiap
malam.
Keterangan:
Niat puasa satu bulan seluruhnya adalah untuk menjaga-jaga takut Ada yang
lupa niat pada malam berikutnya.
Niat puasa setiap malam Ramadhan adalah untuk menyegarkan atau memperbaharui
niat Kita. Tapi walaupun seumpamanya Kita lupa niat, Kita tidak usah
mengqodho-nya karena diawal Ramadhan Kita sudah niat untuk seluruhnya.
Adapun bacaan niatnya sbb:
- Untuk bacaan niat satu bulan penuh pada awal Ramadhan: “Nawaitu
shauma sahri romadhona kullihi” (Saya niat puasa pada bulan Ramadhan satu
bulan seluruhnya).
- Untuk niat puasa pada setiap malam: “Nawaitu shauma ghodin ’an
adaai fardhu syahri romadhona hadzihis-sanati lillahi ta’ala” (Saya niat
puasa esok Hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah
Ta’ala)
Lebih bagus lagi menurut tata bahasa Arab bacanya di-idhofatkan semua
(kashroh) yaitu :
- Untuk niat puasa pada setiap malam: “Nawaitu shauma ghodin ’an
adaai fardhi syahri romadhoni hadzihis-sanati lillahi ta’ala” (Saya niat
puasa esok Hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah
Ta’ala)
Wassalaamu’alaikum waroh matullaahi wabarokaatuh.
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
SAHUR MENJELANG FAJAR
Just share
Semoga bermanfaat.. .
SAHUR MENJELANG FAJAR
Makan sahur tidaklah wajib. Dan tidak pula termasuk dari salah
satu rukun atau syarat syahnya puasa. Tanpa makan sahur puasa akan tetap
syah selama tidak melanggar ketentuan yang membatalkan puasa. Cuma saja,
kalau Kita makan sahur, setidaknya akan memperoleh dua keuntungan:
Menambah daya tahan tubuh dalam menjalankan ibadah puasa.
Mendapat pahala sunah karena Rasulullah melakukannya.
Rasulullah kalau berpuasa selalu makan sahur berarti mengikuti apa yang
telah dilakukan Nabi. Barang siapa yang mengikuti perbuatan Nabi akan
mendapat ganjaran pahala. Justru itu, jangan beranggapan orang yang tidak
makan sahur akan memperoleh pahala lebih banyak. Tidak sekali-kali tidak.
“Bersahurlah kamu bahwasanya sahur itu membawa berkah” (Muttafaqa’alaih)
Waktu makan sahur
Waktu makan sahur bukan tengah malam Dan bukan pula seusai
sholat taraweh. Banyak orang yang makan sahur seusai sholat taraweh atau
menjelang tidur. Dengan tujuan agar tidak perlu bangun lagi lewat tengah
malam. Nampaknya bangun setelah lewat tengah malam, maksudnya sepertiga
malam terakhir, yang lebih dikenal dengan istilah menjelang fajar, terasa
berat. Justru itulah, seusai sholat taraweh atau menjelang tidur langsung
makan dengan niat makan sahur. Dan Ada juga yang melakukan makan sahur itu
tengah malam tepat.
Semua itu salah Dan keliru. Rasulullah tidak pernah melakukan
itu. Orang yang makan sahur tengah malam atau seusai sholat taraweh tidaklah
mendapat pahala sahur. Karena tidak termasuk dalam katagori apa yang
dinamakan dengan sahur.
Maka kalau ingin mendapat pahala, ikutilah petunjuk Rasulullah.
Kalau Rasulullah makan sahur, waktunya itu diatur sedemikian rupa. Yaitu
beberapa saat menjelang fajar menyingsing. Biasanya tidak lama seusai
Rasulullah makan sahur, beliau langsung ke Masjid untuk sholat Subuh. Hal
ini dijelaskan oleh Rasul dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari Dan
Muslim Dan Zait bin Tsabit, yang bunyinya: “Kami bersahur bersama Rasulullah
Saw, kemudian bangun untuk sembahyang Subuh. Ketika bertanya berapa lama
diantara sahur hingga sembahyang Subuh itu ? Jawabnya, sekitar membaca 50
ayat.”
Demikianlah Rasulullah menjelaskan dalam salah satu haditsnya
tentang waktu makan sahur itu. Sementara kalau Kita melihat pula ayat
Al-Quran atau firman Allah, memang tidak jauh berbeda. Lapadznya yang tidak
sama, tapi isinya tetap serupa. Untuk lebih jelasnya lihat firman Allah
dalam surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya: “Makan Dan minumlah kamu
hinga terang bagimu benang yang putih dari benang yang hitam dari fajar.
Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam Hari.”
Dengan jalan demikian jelaslah bagi Kita bahwa yang namanya
makan sahur waktunya menjelang fajar menyingsing. Dengan kata lain, bukan
tengah malam Dan tidak pula seusai sholat taraweh. Barangsiapa yang makan
sahur sesuai dengan garis yang ditentukan akan mendapat pahala. Dan hukumnya
sunah.
Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Semoga bermanfaat.. .
SAHUR MENJELANG FAJAR
Makan sahur tidaklah wajib. Dan tidak pula termasuk dari salah
satu rukun atau syarat syahnya puasa. Tanpa makan sahur puasa akan tetap
syah selama tidak melanggar ketentuan yang membatalkan puasa. Cuma saja,
kalau Kita makan sahur, setidaknya akan memperoleh dua keuntungan:
Menambah daya tahan tubuh dalam menjalankan ibadah puasa.
Mendapat pahala sunah karena Rasulullah melakukannya.
Rasulullah kalau berpuasa selalu makan sahur berarti mengikuti apa yang
telah dilakukan Nabi. Barang siapa yang mengikuti perbuatan Nabi akan
mendapat ganjaran pahala. Justru itu, jangan beranggapan orang yang tidak
makan sahur akan memperoleh pahala lebih banyak. Tidak sekali-kali tidak.
“Bersahurlah kamu bahwasanya sahur itu membawa berkah” (Muttafaqa’alaih)
Waktu makan sahur
Waktu makan sahur bukan tengah malam Dan bukan pula seusai
sholat taraweh. Banyak orang yang makan sahur seusai sholat taraweh atau
menjelang tidur. Dengan tujuan agar tidak perlu bangun lagi lewat tengah
malam. Nampaknya bangun setelah lewat tengah malam, maksudnya sepertiga
malam terakhir, yang lebih dikenal dengan istilah menjelang fajar, terasa
berat. Justru itulah, seusai sholat taraweh atau menjelang tidur langsung
makan dengan niat makan sahur. Dan Ada juga yang melakukan makan sahur itu
tengah malam tepat.
Semua itu salah Dan keliru. Rasulullah tidak pernah melakukan
itu. Orang yang makan sahur tengah malam atau seusai sholat taraweh tidaklah
mendapat pahala sahur. Karena tidak termasuk dalam katagori apa yang
dinamakan dengan sahur.
Maka kalau ingin mendapat pahala, ikutilah petunjuk Rasulullah.
Kalau Rasulullah makan sahur, waktunya itu diatur sedemikian rupa. Yaitu
beberapa saat menjelang fajar menyingsing. Biasanya tidak lama seusai
Rasulullah makan sahur, beliau langsung ke Masjid untuk sholat Subuh. Hal
ini dijelaskan oleh Rasul dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari Dan
Muslim Dan Zait bin Tsabit, yang bunyinya: “Kami bersahur bersama Rasulullah
Saw, kemudian bangun untuk sembahyang Subuh. Ketika bertanya berapa lama
diantara sahur hingga sembahyang Subuh itu ? Jawabnya, sekitar membaca 50
ayat.”
Demikianlah Rasulullah menjelaskan dalam salah satu haditsnya
tentang waktu makan sahur itu. Sementara kalau Kita melihat pula ayat
Al-Quran atau firman Allah, memang tidak jauh berbeda. Lapadznya yang tidak
sama, tapi isinya tetap serupa. Untuk lebih jelasnya lihat firman Allah
dalam surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya: “Makan Dan minumlah kamu
hinga terang bagimu benang yang putih dari benang yang hitam dari fajar.
Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam Hari.”
Dengan jalan demikian jelaslah bagi Kita bahwa yang namanya
makan sahur waktunya menjelang fajar menyingsing. Dengan kata lain, bukan
tengah malam Dan tidak pula seusai sholat taraweh. Barangsiapa yang makan
sahur sesuai dengan garis yang ditentukan akan mendapat pahala. Dan hukumnya
sunah.
Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Jangan Lagi Salahkan Setan Atau Iblis
Jangan Lagi Salahkan Setan Atau Iblis
http://www.dtjakarta.or.id
Surat ini ditujukan dari setan untuk manusia….
Wahai manusia, ketahuilah bahwa pada bulan ramadhan ini aku telah
dirantai oleh Tuhan ku yang maha perkasa. Aku sudah dibuat tak berdaya
oleh Nya yang maha kuat dan maha gagah. Sungguh aku ingin sekali
menggodamu di bulan ini. Yah… kau harus maklumi itu karena moyangku dan
moyangmu telah lama berselisih dengan sengit.
Wahai manusia, di bulan inilah kau bebas dari kekuasaanku. Aku sungguh
sangat kesal dengan situasi ini. Aku sungguh marah tatkala melihat
karibku berbondong-bondong pergi ke mesjid yang selama ini tidak pernah
mereka kunjungi. Duhai…ternyata mereka telah mengkhianati janji setia
mereka kepadaku. Tapi… aku toh masih bisa tersenyum bahkan tertawa
terbahak-bahak dengan amat puas. Lihatlah disana…banyak ternyata manusia
yang meskipun tidak aku goda ternyata masih saja masih berbuat dusta.
Lihatlah di sudut jalan itu.. ahaaaa… sepasang muda mudi masih asyik
masyuk bercumbu dengan dosa. Lihat pula disana…kawan pemabukku masih
dengan santai meneguk minuman racun buatanku. Ha ha ha ha …manusia
bodoh….. mereka berkata merka terjerumus dosa karena aku ???? haaa..
yang benar saja!!!.. aku sedang terikat… manusia bodoh… jangan lagi
memfitnahku.. aku tidak menggodamu.. kaulah yang telah menjadi iblis..!!!!
Hai manusia terlaknat !!!! ingatlah aku sebenarnya masih takut pada
Tuhan. Aku takut pada Allah. Aku tahu neraka itu ada. Aku tahu azab
tuhanku itu teramat pedih. Aku tahu juga bahwa aku tidak akan kuat
menahan siksaan dari Allah yang maha perkasa itu oleh karena itulah aku
mengajakmu serta wahai manusia, Aku tidak ingin sendirian di neraka. Aku
ingin musuh abadikupun merasakan siksa dari Allah. Karena kaulah
manusia, aku terlaknat dan terlempar dari tanah syurga. Ha ha ha
rasakanlah balas dendamku ini… rasakan kesumatku ini…..
Ah sudahlah manusia bodoh.. jangan lagi berteriak penuh kemarahan ketika
kau membaca suratku ini. Kemarahmu tak berguna. Karena kau telah menjadi
manusia yang sangat munafik dan terlaknat. Kau berteriak membenciku tapi
kau lakukan segala amalanku. Kau katakan kau sedang shaum tapi kau masih
juga dengan tanpa beban bergunjing dan bergibah. Kau katakan kau rajin
melakukan sholat tapi kau masih saja korupsi waktu dengan terlambat
masuk kantor tanpa beban. Sudahlah manusia laknat…perutku sakit melihat
tingkahmu yang sungguh keterlaluan. Kau bilang memusuhiku tapi juga kau
telah memusuhi Allah, jadi… siapakah kau… makhluk apakah kau. Kau lebih
mengerikan dariku wahai manusia laknat…!!!!
Sudahlah.. aku harus menghemat energiku di bulan ini. Kerangkeng dan
rantai Allah ini telah sangat membuatku lemah…. sampai jumpa nanti di
selepas ramadhan. Kita rayakan kembali kebebasan kita. Kita rayakan
kebebasan kita dari Allah, bukankah kita memiliki musuh yang sama ?
Ditulis oleh abuhaydar
http://abuhaydar.wordpress.com/
------------------------------------
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links
http://www.dtjakarta.or.id
Surat ini ditujukan dari setan untuk manusia….
Wahai manusia, ketahuilah bahwa pada bulan ramadhan ini aku telah
dirantai oleh Tuhan ku yang maha perkasa. Aku sudah dibuat tak berdaya
oleh Nya yang maha kuat dan maha gagah. Sungguh aku ingin sekali
menggodamu di bulan ini. Yah… kau harus maklumi itu karena moyangku dan
moyangmu telah lama berselisih dengan sengit.
Wahai manusia, di bulan inilah kau bebas dari kekuasaanku. Aku sungguh
sangat kesal dengan situasi ini. Aku sungguh marah tatkala melihat
karibku berbondong-bondong pergi ke mesjid yang selama ini tidak pernah
mereka kunjungi. Duhai…ternyata mereka telah mengkhianati janji setia
mereka kepadaku. Tapi… aku toh masih bisa tersenyum bahkan tertawa
terbahak-bahak dengan amat puas. Lihatlah disana…banyak ternyata manusia
yang meskipun tidak aku goda ternyata masih saja masih berbuat dusta.
Lihatlah di sudut jalan itu.. ahaaaa… sepasang muda mudi masih asyik
masyuk bercumbu dengan dosa. Lihat pula disana…kawan pemabukku masih
dengan santai meneguk minuman racun buatanku. Ha ha ha ha …manusia
bodoh….. mereka berkata merka terjerumus dosa karena aku ???? haaa..
yang benar saja!!!.. aku sedang terikat… manusia bodoh… jangan lagi
memfitnahku.. aku tidak menggodamu.. kaulah yang telah menjadi iblis..!!!!
Hai manusia terlaknat !!!! ingatlah aku sebenarnya masih takut pada
Tuhan. Aku takut pada Allah. Aku tahu neraka itu ada. Aku tahu azab
tuhanku itu teramat pedih. Aku tahu juga bahwa aku tidak akan kuat
menahan siksaan dari Allah yang maha perkasa itu oleh karena itulah aku
mengajakmu serta wahai manusia, Aku tidak ingin sendirian di neraka. Aku
ingin musuh abadikupun merasakan siksa dari Allah. Karena kaulah
manusia, aku terlaknat dan terlempar dari tanah syurga. Ha ha ha
rasakanlah balas dendamku ini… rasakan kesumatku ini…..
Ah sudahlah manusia bodoh.. jangan lagi berteriak penuh kemarahan ketika
kau membaca suratku ini. Kemarahmu tak berguna. Karena kau telah menjadi
manusia yang sangat munafik dan terlaknat. Kau berteriak membenciku tapi
kau lakukan segala amalanku. Kau katakan kau sedang shaum tapi kau masih
juga dengan tanpa beban bergunjing dan bergibah. Kau katakan kau rajin
melakukan sholat tapi kau masih saja korupsi waktu dengan terlambat
masuk kantor tanpa beban. Sudahlah manusia laknat…perutku sakit melihat
tingkahmu yang sungguh keterlaluan. Kau bilang memusuhiku tapi juga kau
telah memusuhi Allah, jadi… siapakah kau… makhluk apakah kau. Kau lebih
mengerikan dariku wahai manusia laknat…!!!!
Sudahlah.. aku harus menghemat energiku di bulan ini. Kerangkeng dan
rantai Allah ini telah sangat membuatku lemah…. sampai jumpa nanti di
selepas ramadhan. Kita rayakan kembali kebebasan kita. Kita rayakan
kebebasan kita dari Allah, bukankah kita memiliki musuh yang sama ?
Ditulis oleh abuhaydar
http://abuhaydar.wordpress.com/
------------------------------------
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links
Subscribe to:
Posts (Atom)