Cinta Itu keikhlasan

Cinta Itu keikhlasan

By: agussyafii

Cinta terkadang membutuhkan keikhlasan menerima. keikhlasan dalam cinta menempatkan diri kita ke dalam diri orang lain. Memahami segenap perasaan dan keinginannya. Itulah yang juga terjadi pada diri seorang pemuda yang baru pulang bekerja di Arab. Pemuda itu menghubungi ayah dan ibunya yang berada dikampung.

'Ayah, ibu..saya akan pulang.' katanya.

'Syukurlah nak..ayah & ibu berbahagia.' jawab kedua orang tuanya.

'Tapi bu..' 'Tapi apa nak?'tanya ibunya.

'Saya akan membawa pulang teman. Teman ini mengalami kecelakaan kerja. Kaki dan tangannya patah. Bolehkah saya membawa ibu?' Kata pemuda itu.

'Kami turut berduka nak atas peristiwa itu, mungkin kita bisa membantunya untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak untuknya.' jawab ayahnya.

'Tidak ayah, saya ingin dia hidup bersama kita.'jawab pemuda itu.

'Sudahlah, cepatlah pulang. Kami, ayah dan ibumu sudah rindu pada dirimu nak..urusan yang lainnya nanti kita urusan setelah engkau tiba dikampung halaman.' jawab ayahnya.'

Setelah pembicaraan itu, seminggu kemudian ayah dan ibunya dikampung mendapatkan kabar dari polisi di jakarta bahwa putranya meninggal dunia akibat kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kedua orang tua itu langsung ke Jakarta diantar ke kamar jenazah untuk mengindentifikasi jenazah anaknya. Mereka mengenali dengan jelas wajah putranya namun betapa terkejutnya mereka, jenazah putranya hanya dengan tangan sebelah dan kaki sebelah.

Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta

By: agussyafii

Orang yang berada di dalam rumah atau orang-orang disekeliling kita juga termasuk anak-anak kita cenderung berbuat didasarkan apa yang dipikiran kita. Pikiran kita terkadang memiliki kekuatan menggerakkan orang-orang disekeliling kita. Misalnya ketika saya menulis tentang cerita cinta hampir setiap hari saya bertemu dengan berbagai orang dijalanan, di kantor, tetangga tumah bahkan termasuk anak dan istri saya yang senantiasa bertemu dengan wajah senyum. sayapun sempat berpikir, 'apa karena saya ge-er ya..?'

Namun setelah saya ingat, awalnya saya menelaah hadis Nabi tentang 'Man la yarham, la yurham' barang siap tidak menyayangi, tidak akan disayangi (HR Muslim) saya merasakan betul kekuatan cinta seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhamad SAW. Cinta menyebar bagaikan virus, menyebar keseluruh penjuru disetiap relung. Merubah energi negatif menjadi kekuatan yang membuat dunia menjadi indah.

Apa yang terjadi diri kita dengan orang-orang disekeliling kita adalah hasil pikiran dan perasaan kita itulah sebabnya kita bertanggungjawab terhadap apapun yang kita pikirkan. Keputusan kita untuk mengubah citra seseorang menjadi berbeda dalam kerangka positif membuat diri kita menjadi lebih nyaman terhadap diri sendiri. Dalam kesendirian kita suka berpikir, apakah kita bahagia? ternyata kita sendirilah yange menentukan pikiran dan perasaan kita untuk menciptakan kebahagiaan itu.

Hidup bahagia adalah wujud kekuatan cinta. Cinta merupakan bahan bakar yang sungguh dahsyat dalam diri kita yang melahirkan pengakuan diri, hubungan baik dengan orang lain. Energi cinta dan sentuhan menjadikan tubuh kita menjadi lebih lembut dan terbebas dari Energi negatif. Seperti malam ini Hana sebelum tidur menyempatkan mencium pipi saya dengan mengucap, 'Hana sayang ayah..' Itulah kekuatan cinta.

Kala Airmata Itu Mengalir

Kala Airmata Itu Mengalir

By: agussyafii

Kala airmata itu terus mengalir cukuplah Alloh SWT sebagai pelindungku, itulah yang diucapkan oleh seorang teman, perempuan yang begitu tegar dalam hidupnya tetapi senantiasa berpikir bahwa hidupnya penuh keberkahan. Pernikahannya yang pertama mengalami kegagalan. Hatinya gundah, airmatanya mengalir dengan kepasrahan bahwa hidup dan matinya hanya untuk Alloh semata.

Walau hanya dengan 'kaki sebelah' dirinya sanggup untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. perlahan semuanya membaik, Anak-anaknya bangkit. awal dirinya diterima disalahsatu perusahaan hingga dirinya dipercaya sebagai salah petinggi diperusahaannya, tantangannya semakin berat.

'Saya selalu membaca tulisan-tulisan Mas Agus dan semakin menguatkan saya, benteng perlindungan yang paling aman hanyalah Alloh SWT' begitu yang dikatakannya pada saya.

Beliau bertutur bahwa setiap kali dalam kesulitan selalu membaca ayat suci al-Quran seolah Alloh SWT menuntunnya untuk menemukan jawabannya. Pernah sehabis sholat subuh saya membaca surat an-Naml, seolah Alloh SWT mengingatkanku agar menjadi pemimpin yang arif dan bijak. aku selalu membaca surat al-kahfi agar diberi kekuatan lahir dan batin dalam mengaruhi hidup yang kian tidak menentu ini.

Tak lama ujian berikutnya tiba, ketika dirinya diharuskan berhadapan dengan pengadilan karena urusan sengketa. Sekuat apapun sebagai seorang perempuan dirinya hanya bisa bersujud dihadapan Alloh SWT memohon ampunanNya. 'Inilah bukti Alloh mencintai hamba-hambaNya yang dilimpahkan karunia dengan berbagai bentuk.' berkat doanya yang selalu dipanjatkan, kebiasaannya yang selalu membantu orang tetap saja dilakukan, disaat teman-temannya mengingatkan tentang dirinya yang terlalu baik terhadap orang lain.

Kebiasaannya yang selalu membantu orang lain, tetangganya yang selalu kesusahan menjadikan rumahnya sebagai pilihan pertama untuk meminta pertolongan tetap dilakukan sekalipun dirinya dirundung berbagai masalah, 'begitulah orang tua saya mendidik untuk selalu membantu orang lain.'katanya.

Sampai keputusan dipengadilan menyatakan dirinya menang, banyak teman-temannya yang terheran bagaimana mungkin dirinya bisa menang dipengadilan? 'hanya Alloh yang Maha Mengatur semuanya..'begitu jawabnya.

'Saya rasakan Alloh SWT melimpahkan karuniaNya buat kami sekeluarga, rizki yang kami terima juga mengalir untuk orang-orang disekeliling kami yang membutuhkan karena kami yakin, kami hanyalah pintu rizki bagi mereka..alhamdulill ah, terima kasih ya Alloh....ucapnya dengan penuh rasa syukur.

'Sesungguhnya Allah membantu dan menolong orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan' (QS. An-Nahl ayat 128)

Anak Perempuan Kecil itu dan ojek payungnya

Anak Perempuan Kecil itu dan ojek payungnya

Kejadiannya hari Jum'at di bulan February 2009 yang lalu, selesai makan
siang di Mall Ambasador.
Hujan deras, sementara aku harus segera kembali ke kantor, bagaimana pun
caranya.
Walaupun lokasi kantor dan Mall Ambasador sangat dekat (cuma nyebrang saja),
tapi hujan yang deras gak mungkin di terjang begitu saja. Alhasil Ojek
payung pun menjadi alternatif utama.

Ketika itu berdiri tepat didepanku seorang anak perempuan kecil yang masih
mengenakan seragam putih merah. Lusuh, basah kuyup, menggigil, sambil
memegang payung dan menawarkan jasa mengantar ku ke tempat tujuan.
Sempat sedikit terenyuh melihat wajah lugu anak perempuan itu, dan lalu
menerima jasanya untuk mengantarku kesebrang.
Sepanjang perjalanan itu sedikit pertanyaan terlontar dariku. Kira-kira
obrolan singkat kami seperti ini :

Tera (T) : "Kok masih pakai seragam sekolah?? bolos ya?"

Ojek Payung (OP) : "Udah pulang bu.. terus langsung ngojek payung.."

T : "Emang kamu kelas berapa sekolahnya?? kok enggak ganti baju dulu sih..??
Kan bajunya bisa kotor lho.."

OP : "Saya kelas 3 Bu. Enggak sempet bu, soalnya ibu saya udah nyuruh supaya
cepetan ngojekin payung disini.."

T : "Lhoo.. emang uang hasil ojek payung ini untuk apa?? untuk jajan kamu
atau untuk ibu kamu dek?"

OP : "Buat ibu saya Bu, trus kalo ada sisa baru deh buat beli buku tulis dan
pensil."

*aku sempet terdiam mendenger jawaban polos anak perempuan itu*

T : "emangnya bapak kamu kemana?? kamu punya kakak nggak??"

*dua pertanyaan itu sepertinya sedikit membuat bingung anak itu. Maka aku
ulangi dengan lebih pelan*

T : "Bapak kamu kerja dimana dek?"

OP : "Bapak saya enggak ada Bu.."

T : "Kemana..? " *duuhh ini sungguh pertanyaan bodoh yang spontan terlontar*

OP : "Enggak tau kemana. Dari kecil saya enggak pernah ketemu bapak saya
Bu.."

*aku bener-bener ngerasa bersalah atas pertanyaan itu. Sungguh, seketika
pengen banget peluk anak perempuan kecil itu dan bilang : tinggal sama kakak
aja yuk, biar gak perlu hujan-hujanan cari uang seperti ini... :((

T : "Kamu punya kakak??"

OP : "Enggak punya Bu. Adanya adek, 2 orang"

*haduuhhh, aku semakin terenyuh sama keadaan anak ini. Udah, aku
menghentikan pertanyaan yang akan makin membuat aku sedih itu*

Akhirnya, sampai juga kami didepan teras gedung kantor aku.
Sambil mengambil dompet, aku menatap iba anak perempuan yang sedang sibuk
melipat payungnya.

T : "Kamu udah makan siang dek?"

*anak itu hanya diam. Tapi aku mengerti maksut dari diamnya itu*

T : *sambil memberikan beberapa lembar rupiah* "Ini untuk ongkos ojek payung
barusan ya, terus ini saya tambahin untuk untuk makan siang kamu, yang ini
beneran buat beli makan siang ya, gak boleh untuk yang lain. Uang hasil ojek
payung hari ini, kamu kasih ke ibu kamu semuanya ya. Nah ini saya kasih lagi
ke kamu untuk beli buku tulis dan pinsil yah.."

*anak itu cuma bengong sambil melihat wajah aku dengan mata berkaca. Iya
berkaca-kaca beneran, terus dia salim (cium tangan) ke aku.*

T : "eh lho... gak apa-apa dek. Sekolah yang rajin yaa.. Nanti kalo pas
hujan ketemu lagi sama saya yaa.. ntar kita beli buku tulis yaa..."
*ucapanku sempet sedikkit bergetar karna menahan haru*

OP : "Terimakasih ya Bu..."

T : "Iya. Gih, tuh sana balik lagi.. masih banyak yang mau ojek payung..
yah.."

Anak itu pun berlalu. Dan aku menahan haru yang dalam banget.
Anak perempuan kecil kelas 3 SD yang tidak kenal siapa Bapaknya. Harus ikut
menanggung beban membantu ibunya mencari nafkah dan sekedar untuk membeli
buku tulis untuk sekolah.
Tanpa mengetahui persis latar belakang keluarganya, aku yakin pasti
kehidupan keluarga anak perempuan itu jauh dari kata baik.

Jelas saja jika aku merasa sangat terharu dan iba. Bahkan lebih merajam
bahwa HIDUP INI TIDAK ADIL UNTUK ANAK SEKECIL ITU yang seharusnya sedang
merasakan indahnya masa kecil dengan bermain, bermain dan belajar. Bukan
mencari nafkah!!

Sampai beberapa hari setelah moment mengharukan itu, aku masih sering
terbayang wajah menggigil yang menawarkan jasa ojek payung di teras Mall
Ambasador itu.
Berharap bisa bertemu lagi dengan anak itu dan sedikit meringankan bebannya
untuk membeli buku tulis dan pinsil.

Apa yang dunia tawarkan kepada anak itu, adalah kenyataan yang bener-bener
kejam.
Dan anak perempuan kecil itu bukanlah satu-satunya! !!

Berikanlah Cinta

Berikanlah Cinta


By: agussyafii

Setiap sore hari ketika saya pulang nampak dari kejauhan Hana sudah menyambut dengan senyuman. Senyum indah putriku..dengan teriakan, 'ayah..ayah. .' sambil membuka kedua tangannya berlari-lari terkadang membuat saya takut terjatuh. Luka dikakinya belum sembuh benar, kemaren kakinya terluka dengan 6 jahitan. rasanya hati saya masih teriris setiap kaki melihat luka dikakinya dengan 6 jahitan itu.

Satu-satunya kekuatan penyembuh luka bagi anak-anak kita karena faktor cinta kita sebagai orang tua. Cinta juga menjadi faktor yang menolong kita memecahkan berbagai masalah dengan anak-anak kita. Pernahkah anda bertanya pada diri sendiri bagaimana mungkin cinta dapat membantu kita? Ditengah kehidupan yang dituntut serba cepat dengan pusaran kegelisahan, kemarahan, keinginan untuk mengalahkan orang lain, cinta menjadi sebuah barang langka namun jika kita bisa menemukan cinta maka berarti kitalah pemenangnya.

Saya teringat satu ayat 'Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah'(Q.S. Al Baqarah 2: 165), cinta kita kepada Alloh SWT adalah landasan utama cinta kita kepada anak-anak kita dan cinta kita kepada pasangan hidup yang setia menemani karena Setiap cinta memberikan karunia dan hikmah. seperti cinta orang tua adalah karunia bagi anak-anaknya.

Itulah sebabnya anak-anak yang mengalami luka kecil atau sakit, mereka rewel, menangis, membutuhkan makan dan istirahat. Anak-anak ketakutan, membutuhkan perlindungan. Saat lututnya gemetar mereka membutuhkan kita. Masalah kecil bagi kita bisa jadi itu tragedi bagi anak-anak. Mereka menangis dan putus asa. Kita bisa melupakan semua dan membiarkan berlalu disetiap masalah tetapi anak-anak tidak mengerti. jadi tugas kitalah memberikan cinta, menghibur, menolong dan kehangatan pada Sang Buah Hati kita.

Wassalam,
agussyafii