Pak Salman Pemimpin Impian

oleh Anas Ayahara

Pagi-pagisekali Pak Salman sudah memberi makan nasi sisa dan pelet
padaIkan-ikan Lelenya , pelet dan nasi yang ia tebarkan ke kolam
terbuatdari terpal warna biru yang diletakkan di lubang dan gentong
berisi airdi pekarangan rumahnya.

Pagi itu lain dari biasanya SetiapTetangga yang lewat berteriak menyapa
dengan sapaan yang berbeda dandengan tambahan beberapa kata antara lain:

"Selamat ya Pak Salman …. Bapak Walikotaku,
Selamat Pagi Pak Walikota, tadi malam saya melihat perolehan suara bapak
unggul mutlak 70an% menurut survei perhitungan cepat"

"Oh ya. ?" jawab Pak Salman, sambil agak melotot

PakSalman memang tak begitu peduli dengan pencalonan dirinya
sebagaiwalikota, bahkan segala atribut dan spanduk, disiapkan dan
dimodalioleh kader sebuah partai yang masih saudara dan masih
tetangganya juga,dan tak disangka sangka, ternyata Pak Salman menang
pilkada terpilihsebagai walikota yang juga tetap merangkap bekerja
sebagai peternakikan lele.

Sebelumnya Pak Salman rajin mengikuti pengajian rutindengan niat ibadah
menambah ilmu di sebuah Pengajian yang tidakmengharamkan partai. Di
pengajian rutin itu Pak Salman memancarkanPesona Kecerdasan dan Pesona
Rendah Hatinya.

Karena rajinnyamengkuti kegiatan jamaah. Maka tak disangka para kader
partai memilihdirinya menjadi calon walikota dalam sebuah Pilkada. Dan
takdisangka- sangka Pak Salman bisa menang atas Izin Allah dan kerja
samayang solid dari tim suksesnya.

Kini Pak Salman mendapat duapenghasilan yaitu dari hasil penjualan
ternak Lele di halaman rumahnyadan penghasilan dari gaji sebagai
walikota.

Akibatnya,
Beliau menjadi punya kesempatan hidup bergelimang kemewahan, pulangpergi
bisa dikawal Polisi Patwal. tetapi dirinya tidak maubermewah- mewah. Pak
Salman tak mau mengambil satu rupiahpun darigajinya sebagai walikota.

Sehingga,
Uang Gajinya sebagai Walikota menjadi sering habis untuk:
• kegiatan-kegiatan sosial,
• menyumbang anak yatim,
• menambal jalan-jalan berlubang ,
• menyumbang sekolah yang rusak
• dan lain-lain sesuai keadaan yang dilaporkan anak buahnya atau
keadaan yang ditemuinya Langsung.

Suatuketika, Pak Salman ingin berbelanja dapur ke pasar, untuk
mengindaripengawala n dan pujian yang berlebihan dari rakyatnya, Pak
Salmanterpaksa menyamar menjadi orang biasa berpakaian sederhana,
berkacamatabening, memakai sendal Jepit, Pak Salman pergi ke pasar
berjalan kakitanpa pengawalan polisi, beberapa ratus meter menuju pasar,
beliaubertemu seorang laki-laki dari kota lain yang baru pulang
berbelanjasedang berjalan memikul barang bawaan sepertinya untuk dijual
lagi.barang bawaan dua karung plastik yang lumayan berat yang membuat
lelakiitu kelelahan.

Karena dia melihat Pak Salman yang hanya berpakaian sederhana, lalu
lelaki itu memanggilnya

"Pak… ..tolong bawakan barang ini sampai angkot 03 itu ya Pak, nanti
saya kasih upah"

PakSalman menurut saja, dia memikul salah satu karung tersebut
kepunggungnya dan mereka berjalan bersama sama. di tengah
perjalananmereka berpapasan dengan rombongan orang. Lalu rombongan itu
berhentidan mengucapkan salam berkata: "assalamu'alaykum" .

"waalaykumussalam wr. Wb" Jawab lelaki dan Pak Salman secara bersamaan.

Rupanya,salah seorang lelaki dari rombongan itu mengenali suara Pak
Salman danbergegas mendekati Pak Salman yang saat itu memakai topi.

orangitu menatap serius wajah Pak Salman sambil berkata: "eh Pak
Salmanya.... , biar saya yang bawakan Pak, waduh masak Bapak walikota
maurepot-repot membawa barang berat begini"

Pak Salman menolak,
Lelaki si pemilik barang tersentak kaget, dia baru sadar bahwa orangyang
membantunya membawakan barang ialah Pak Salman S.Kom sang walikotayang
terkenal dermawan itu yang Juga Peternak Lele yang sukses danlaris.

Lelaki pemilik barang itu menjadi salah tingkah danberusaha terus
menerus meminta maaf atas kelancangannya dan mencobamenarik karung yang
sedang dipikul Pak Salman.

"tidak usah, sebelum ku antarkan sampai angkot 03 itu" Jawab Pak Salman
menjawab sambil tersenyum...

"Kok masih ada ya walikota yang begitu" ku berkata dalam
hatiku,badankuyang baru saja mengulet dan bibirku menguap selesai bangun
tidur siang.
***

bila ada kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka
kisah di atas hanya rekaan yang suatu saat bisa terjadi,
semoga bisa saja terjadi di Indonesia Kita yang tercinta..

Membangun kemampuan mencintai

Membangun kemampuan mencintai

Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan
menumbuhkan orang lain. Selanjutnya adalah kemampuan baik yang menjembatani
gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan. Cinta yang
hanya berkembang di batas gagasan dan kemampuan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tidak berbuah.

Bagian cinta yang pertama dan kedua, gagasan dan kemampuan baik, biasanya
terbentuk dari serangkaian penghayatan akan nilai-nilai luhur kemanusiaan
dan keagamaan tentang kehidupan dan hubungan antar manusia didalamnya,
hubunga manusia dengan sang kholik dan hubungan manusia dengan alam. Sedalam
apa penghayatan itu dalam diri seorang pecinta sedalam itupula energi cinta
yang ada dalam dirinya.

Bagian ketiga cinta adalah kemampuan, memerlukan latihan dan proses
pembelajaran. Kalau kita mau memberi, kita harus melatih dan belajar
bagaimana memiliki. Kalau kita mau memperhatikan orang yang kita cintai,
kita harus belajar dan berlatih untuk tidak membutuhkan perhatian orang
lain. Kalau kita membutuhkan kekasih, kita harus belajar bagaimana bertumbuh
terlebih dahulu. Begitu seterusnya : memberi, memperhatikan, menumbuhkan,
merawat, dan melindungi mengharuskan kita memiliki kemampuan pribadi untuk
melakukan tindakan-tindakan produktif.

Produktifitas adalah indikator kematangan seorang pencinta. Seorang pecinta
yang tidak produktif adalah seperti pohon rindang yang tidak berbuah.

Sebuah pelajaran bagaimana kita mengembangkan diri menjadi
kemampuan-kemampuan baru, mengarahkan kemampuan baru itu menjadi sumber
produktifitas.

Mencintai dengan semua siklusnya adalah kerja dari dalam keluar. Seorang
pecinta sejati adalah seseorang yang mampu keluar dari dirinya sendiri
menuju orang lain. Tapi jauh sebelum seseorang mampu keluar dari dirinya
sendiri, ia harus masuk ke dalam dirinya sendiri. Sedalam mungkin. Pelajaran
cinta adalah pelajaran tentang bagaimana kita masuk kedalam diri sendiri
untuk kemudian keluar dengan cara yang lain. Ini latihan untuk menjadi lebih
baik, untuk kemudian menjadikan orang lain lebih baik. Dan akhirnya ini
adalah pelajaran tentang bagaimana mengubah kehidupan menjadi taman yang
indah dipandang dan lebih nyaman di huni. Karena disana kita bertumbuh.
Karena dalam pertumbuhan itu kita bahagia.

"Serial cinta", dari ustd. Anis Matta.

Kerinduan Pak Samsuar kepada Masjid...

Kerinduan Pak Samsuar kepada Masjid...
Written by Munawar

Pak Sam, saat penyerahan santunan anak yatimAda Pak Samsuar di MJNY, katanya mau ketemu - (SMS dari Pak Haji Fahmi), rupanya sore itu memang sudah berkumpul sahabat-sahabat dan jamaah MJNY untuk ketemu Pak Samsuar. Walaupun dalam kondisi lemah di kursi roda, tangan, kaki dan mulut sulit di gerakkan, beliau menangis setiap kali disalami oleh para jamaah masjid yang dulu selalu bertemu, berjamaah sholat dan sama2 belajar di setiap pengajian di masjid.

Memang beliau ini adalah salah satu jamaah yang patut dicontoh, karena termasuk yang sangat rajin melaksanakan sholat berjamaah di masjid dari subuh sampai isya', panas atau hujan, beliau walau usia sudah 70an selalu berusaha untuk berjamaah di masjid, sampai kadang menggelar karpet dan yang spesial dari beliau adalah suara kumandang iqomah untuk sholat magrib, isya dan subuh, yang dulu selalu bisa kita dengarkan.

Menurut cerita istri dan kedua anak beliau yang mengantar, memang setelah pernah opname di rumah sakit, beberapa dokter dan alternatif pengobatan yang sudah dijumpai mengatakan sebenarnya kondisi tekanan darah, gula dan lain2 termasuk normal, hanya mungkin ada keinginan terpendam dari dalam hati Pak Samsuar yang sulit dikeluarkan, salah satunya ternyata adalah kerinduan beliau kepada Masjid Jami' Nurul Yaqin dan sahabat-sahabat beliau di MJNY, setelah setahun lebih beliau pindah dari Cikarang ke Jakarta.

Mudah-mudahan dengan pertemuan ini dan do'a bersama yang bacakan ust. Atang setelah sholat maghrib sedikit banyak bisa menghilangkan kerinduan Pak Samsuar kepada Masjid Jami' Nurul Yaqin, kepada seluruh jamaah yang sudah dianggap sebagai anak, kawan, sahabat serta guru-guru sekaligus dapat mengobati sakit yang sedang di deritanya.

Tak lupa kami juga mohon do'a kebaikan dari seluruh jamaah Masjid Nurul Yaqin khususnya untuk Pak Samsuar, semoga kita semua termasuk golongan yang akan mendapatkan payung ALLAH di Padang Mahsyar nanti karena mencintai masjid. Semoga juga kita masih dapat mendengarkan kumandang Iqomah beliau suatu saat nanti. Amin ya mujibassaailin

Ingin Cepat Kaya? Buruan Menikah!

Ingin Cepat Kaya? Buruan Menikah!
Penulis : Sultoni

Majelis Ta’aruf Klab Santri :Pernikahan itu pasti indah, nyaman, dan menyenangkan. Itu garansi dari Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya yang suci { “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar Ruum : 21) }. Apabila ada ungkapan “pernikahan tidak selamanya indah”, pasti ada error yang dilakukan oleh para pelaku pernikahan. Entah itu berupa pelanggaran atas rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proses pencapaiannya. Ataupun sikap manusia yang makin tidak apresiatif terhadap kewajiban universal dari Pencipta alam semesta ini.
Islam memandang, pernikahan bukan saja sebagai satu-satunya institusi yang sah, tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Tapi yang tak kalah penting adalah, pernikahan sanggup memberikan jaminan proteksi pada sebuah masyarakat dari ancaman kehancuran moral dan sosial.
Itulah sebabnya, Islam selalu mendorong dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur : 32).
Dalam haditsnya, Rasulullah SAW juga menekankan para pemuda untuk bersegera menikah. “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (HR. Bukhari).
Dari sini makin jelas, ke mana orientasi perintah menikah itu sesungguhnya. Tujuan pembentukan institusi-institusi pernikahan (keluarga) tak lain adalah, agar terpancang sendi-sendi masyarakat yang kokoh. Sebab keluarga merupakan elemen dasar penopang bangunan sebuah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat akan kuat dan kokoh apabila ditopang sendi-sendi yang juga kokoh. Dan kekokohan itu tidak mungkin tercapai kecuali lewat penumbuhan institusi-institusi keluarga yang bersih.
Pasal kewajiban menikah adalah merupakan sunnah Nabi SAW yang harus ditaati setiap Muslim, tidak akan kita bahas lebih jauh di sini. Begitu pun soal pernikahan merupakan aktualisasi keimanan atau aqidah seseorang terhadap Tuhannya, juga tidak akan kita perpanjang dalam tulisan ini. Sehingga dia menjadi alasan mendasar Islam, kenapa pernikahan hanya sah jika dilakukan oleh pasangan manusia yang memiliki aqidah, manhaj (konsep) hidup, serta tujuan hidup yang sama. Yakni mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla.
Ada sisi krusial lain dari pernikahan yang akan kita bahas lebih jauh. Yakni pernikahan dan kaitannya dengan peradaban manusia. Pasal ini yang mungkin jarang dicermati oleh kebanyakan masyarakat, termasuk masyarakat Islam.
Bahwa ada korelasi kuat antara keberadaan institusi pernikahan dengan potret masyarakat yang akan muncul (seperti telah disinggung sebelumnya), adalah tidak bisa kita pungkiri. Sebab indikasinya gampang sekali dilihat dan dirasakan. Masyarakat yang menghargai pernikahan, pasti mereka merupakan masyarakat yang beradab. Demikian sebaliknya.
Maka tatkala kita telusuri, apa penyebab masyarakat Barat menjadi masyarakat yang tumbuh liar tanpa nilai-nilai etika, moral, dan agama. Itu sangat mudah kita pahami. Lantaran mereka adalah masyarakat yang tidak memahami makna sakral pernikahan. Hasrat seksual menurut mereka, bisa mereka lampiaskan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sehingga tak ada kaitan antara kehormatan dan kesucian seseorang dengan pernikahan.
Dari sinilah awal munculnya masyarakat Barat yang tidak beradab. Mereka menjadi masyarakat pemuja syahwat, menawarkan budaya buka-bukaan aurat alias telanjang, memamerkan secara vulgar budaya hidup seatap tanpa menikah antara laki-laki dan wanita. Maka kasus-kasus perceraian kian tidak terhitung jumlahnya. Ribuan anak-anak lahir tanpa jelas nasabnya (garis keturunannya) . Setelah besar, generasi tanpa bapak itu pun membentuk komunitas anak-anak jalanan yang selalu menimbulkan problem bagi masyarakat mereka sendiri. Dari situlah siklus budaya nista bermula.
Ironisnya, dalam masyarakat Islam pun mulai muncul sikap yang kurang apresiatif terhadap perintah menikah. Jika tidak sampai dikatakan enggan menikah, setidaknya ada gejala masyarakat Islam mulai bersikap mengulur-ulur waktu pernikahan. Padahal ini sangat berbahaya. Boleh jadi gaya hidup hedonis Barat yang sangat intens disuguhkan lewat bacaan dan film-film, telah menyebabkan perubahan pola pemikiran masyarakat Islam. Khususnya dalam menyikapi perintah menikah.
Inilah barangkali yang menyebabkan pasangan muda-mudi dalam masyarakat kita, lebih senang berlama-lama pacaran ketimbang memikirkan untuk serius membangun rumah tangga. Kalau pun di sana-sini marak acara-acara pesta pernikahan, itu mungkin tak lebih hanya sebuah basa-basi kultural. Semuanya terlepas dari ikatan nilai-nilai religius yang sakral. Sehingga kita sering menyaksikan pesta-pesta pernikahan, tak lebih hanya sebagai ajang pamer kemewahan dan bahkan pamer kemaksiatan. Sebab boleh jadi, sebelum pesta itu berlangsung, mereka sudah menjalani praktek-praktek layaknya kehidupan suami-isteri. Astaghfirullah!
Kenapa Islam menggesa para pemuda untuk menikah, semakin jelas kita pahami. Bahwa di tengah maraknya budaya hedonisme yang menjangkiti dunia, sudah barang tentu institusi-institusi pernikahan kian dibutuhkan keberadaannya. Namun tentu saja bukan hanya memperbanyak lembaga-lembaga Rabbani itu saja yang kita perhatikan. Tapi yang lebih penting adalah, bagaimana rambu-rambu suci untuk mencapainya, bisa tetap kita jaga. Sehingga banyaknya lembaga-lembaga pernikahan berbanding lurus dengan tumbuh suburnya budaya kesadaran masyarakat untuk memelihara kesucian diri. Dari keluarga-keluarga yang bersih inilah, kelak akan lahir generasi yang kokoh.
Jika ini yang terjadi, dapat dipastikan janji Allah, bahwa masyarakat bisa makmur (kaya) dan kuat lewat jalur pernikahan, akan terbukti. Karena itu, makin tertutup alasan bagi para pemuda-pemudi untuk tidak segera menikah, jika mereka nyata-nyata telah sanggup melaksanakannya. Dengan kata lain, sikap menunda-nunda untuk segera menikah di kalangan muda-mudi, memang sangat aneh.
“Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari kekayaan dengan cara menikah. Padahal Allah berfirman : Jika mereka miskin, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan Keutamaan-Nya,” kata Umar bin Khattab RA.
Ayo, tunggu apa lagi? Jangan tunda-tunda pernikahan!

Calon Istri yang Dicari

Calon Istri yang Dicari
Penulis : Ibnu Latief
Majelis Ta’aruf Klab Santri :Sulitkah mencari istri?

Kalau melihat populasi antara laki-laki dan wanita saat ini, 1 banding 4, untuk sementara kita akan mengatakan tidak terlalu sulit mencari seorang calon istri. Kalau mencari istri hanya kriterianya cukup dia berjenis kelamin wanita saja, tanpa embel-embel lain, rasanya mudah. Setidaknya logika kita akan mengatakan, jika tidak berhasil dengan calon pertama kan ada peluang kedua. Gagal lagi yang kedua, masih ada yang ketiga dan keempat. Belum lagi peluang orang lain yang tak diambil. Lalu kalau mencari istri, tapi ingin yang cantik dan mempesona, sulitkah?
Jika saat ini semakin banyak produk-produk kecantikan, semisal berbagai merk lotion, spa, facial, atau apalah yang lainnya, yang dapat memoles penampilan wanita menjadi lebih cantik dan anggun, kulit hitam menjadi putih, rambut keriting jadi lurus, badan gemuk jadi langsing, gigi tonggos jadi rapi, bibir dipoles jadi sensual, dan gaun-gaun yang modis lagi menggoda, seharusnya signifikan dengan semakin bertambahnya wanita-wanita cantik di negeri ini. Rasanya kita juga akan menjawab “MUDAH”. Sekarang kemungkinan besar tidak sulit juga memilih istri yang cantik dan mempesona secara lahiriah.
Memang memiliki istri cantik, apalagi kaya dan dari keturunan terhormat, merupakan idaman para lelaki. Kecantikan menjadi salah satu sumber kesenangan di hati. Dari mata turun ke hati, begitu kata pepatah. Seperti orang-orang kota yang sumpek melihat jejalan beton-beton raksasa kemudian menjatuhkan pandangannya pada keindahan alam pegunungan, di situ letak kesenangan dan hiburan bagi mereka. Begitu pula halnya istri yang memiliki paras cantik, ia menghadirkan kesenangan di hati suaminya. Lalu mungkin ada yang bertanya, sampai kapan kesenangan itu? Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Apalagi menjawab, apakah mereka yang mempesona dalam segi fisik pasti akan membawa kita dalam ketentraman dan kebahagiaan rumah tangga? Ah, tidak ada yang mau menjamin. Kalau hanya senang secara biologis kemungkinan iya, tapi kesenangan semacam ini sifatnya tidak lama dan tidak menjadi penentu ketentraman rumah tangga melainkan sedikit saja.
Memang bagi yang belum menikah, kecantikan kadang menjadi yang utama. Faktor fisik menjadi segala-galanya. Ketika usia bertambah tua, kecantikan juga akan semakin sirna. Padahal, menikah belum setahun, secara naluriah akan muncul perasaan begini, sang istri yang dulu primadona, sekarang tampak seperti biasa-biasa saja. Jika seorang suami tidak juga menemukan “kecantikan lain” pada istrinya, yang bukan berasal dari parasnya saja, bisa jadi kecantikan itu malah menjadi fitnah rumah tangga. Fitnah yang seperti apa? Dengarkanlah sabda Rasulullah, “Jangan menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukannya. Dan jangan menikahi wanita karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampaui batas. Tetapi, nikahilah wanita atas perkara agamanya. Sungguh, hamba sahaya wanita yang sebagian hidungnya terpotong lagi berkulit hitam tapi taat beragama adalah lebih baik.” (HR. Ibnu Majah).
***
Kecantikan yang Memburukan
Seperti apakah kecantikan yang memburukan? Wallahu a’lam bishshawab. Mungkin saja mereka adalah yang merasa kecantikannya harus dihargai lebih. Mereka adalah yang merasa suaminya tak bisa menghargai kelebihannya. Mereka adalah yang kecantikannya digunakan untuk menyimpang, memuaskan nafsunya. Masih herankah kita, apa yang menjadi alasan artis-artis itu dengan mudahnya kawin cerai? Ya, salah satunya karena merasa memiliki kemampuan untuk memperoleh suami yang lebih baik melalui kecantikan dan kekayaannya. Itulah kecantikan yang memburukan. Atau kecantikan yang memburukan itu terjadi karena naluriah yang tak terbendung. Yaitu menonjol-nonjolkan kecantikannya di hadapan orang lain selain suaminya dengan maksud riya. Walau ia tak bermaksud menggoda lelaki lain, bukankah itu hal yang buruk?
Kecantikan atau harta belum cukup menjadi kriteria untuk kita menetapkan pendamping hidup. Ada yang perlu kita buka kembali. Secara arif, mengenai wawasan kita, mengenai harapan kebarokahan pernikahan, tentang cita-cita kesakinahan keluarga, tentang kebersamaan mengarungi hidup. Tentang dambaan keturunan-keturunan yang shaleh, tentang keadaan hidup setelah mati. Sabda Rasulullah berikut ini sudah sering kita dengar, kita ulang kembali, mudah-mudahan tidak sekedar lewat di telinga, tapi merupakan bekal yang membekas di hati, “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beruntung! Kalau yang menyampaikan kata “beruntung” itu adalah seorang pengusaha atau pedagang, maka makna beruntung itu tidak jauh dari yang namanya uang. Tapi kalau yang menyampaikan Rasulullah, katakan, keberuntungan seperti apakah itu? Bukankah keberuntungan itu mengenai kebahagiaan dunia berupa rumah tangga yang diberkahi Allah dan kebahagiaan akhirat berupa tabungan pahala dan kebaikan?
Coba sebut apa yang kita harapkan sebagai suami dari istri kita? Bukankah kita ingin ia menjadi penyemangat saat kita putus asa, penghibur saat kita sedih, penyejuk saat kekeringan, pendorong amal ibadah. Kemudian mau bersabar saat musibah, dan bersyukur dengan apa pun karunia yang diterima. Dan istri yang bisa memberikan itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan cantik tidaknya atau kaya tidaknya dia. Mereka adalah wanita-wanita yang baik agamanya. Mereka bertaqwa pada Allah dan patuh pada suaminya. Mereka yang tidak hanya melihat aktivitas melayani suami, mendidik anak, menjaga rumah, atau tugas-tugasnya yang lain sebagai urusan dunia semata. Tapi ada harapan yang lebih besar, yakni keridhaan Allah dan balasan Surga-Nya di akhirat kelak.
Percayalah, tidak ada yang membuat seorang suami merasa tentram kecuali karena sikap baik seorang istri. Tidak ada sikap baik istri yang lebih jujur kecuali karena lahir dari ketulusan. Dan tidak ada ketulusan yang kokoh kecuali karena keikhlasan untuk bertaqwa kepada Allah. Inilah mengapa Rasulullah memerintahkan kita perihal menentukan calon istri berdasarkan kualitas agamanya. Karena agama adalah akhlak mulia, Addiinu Akhlakul Kariimah. Termasuk akhlak mulia seorang istri untuk bersedia melayani suaminya dengan tulus, ikhlas, dan sebab taqwanya kepada Allah SWT, ” Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisaa' : 34).
Maka jatuhkan pandangan hanya pada faktor agama. Semata-mata agama. Kita juga tidak pernah menginginkan anak-anak yang alakadarnya atau bahkan yang jauh dari agama bukan? Ibunyalah sebagai seniman yang akan melukis kepribadian dan karakter anak-anak itu. Tentu yang kita inginkan, Ibu yang tak hanya mampu memberi cinta, namun juga pendidikan dan keteladanan menyangkut agama dan akhlak mereka.
***
Baik Agamanya
Soal kriteria baiknya agama seorang wanita, ada dasar dan cabang-cabangnya. Seorang wanita melaksanakan shalat wajib, menjaga kemaluannya, menutup aurat, patuh pada suami, dan menjauhi kemaksiatan, itu lebih dari cukup untuk menjadi dasar bahwa ia baik agamanya. Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, telah dapat memelihara kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang disukainya.” (HR. Ahmad).
Seorang wanita, misalnya ahli Tahajjud, atau luas pemahaman agamanya, memiliki kepedulian tinggi terhadap dakwah, dermawan, misal juga suka menghafal Al-Qur’an, itu adalah cabang-cabang kriteria yang kita tentukan untuk memperoleh yang lebih baik dari yang sudah baik. Kalau kita mampu, mudah-mudahan kita beruntung bisa menikahi wanita yang memiliki kemuliaan agama dan akhlak seperti itu, aamiin…
Namun, kadang kebaikan terbentuk seiring berjalannya waktu. Boleh jadi kedewasaan berpikir dan semangat untuk meningkatkan kualitas agama baru terbentuk setelah menikah. Setelah hadirnya seorang suami yang menjadi imam, dan hadirnya anak-anak yang membutuhkan keteladanan. Mungkin saat ini, calon istri kita tidak terlalu kuat dalam menunaikan perkara-perkara amaliah kecuali hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, sopan dalam bergaul, dan menutup aurat. Subhanallah, sungguh jika selaras dengan keikhlasan di hatinya, yang seperti itu telah mulia di sisi Allah dan mulia di hadapan manusia, Insya Allah.
Mari saling berbagi nasehat, tetaplah kaki berpijak kepada sunnatullah. Berusaha dan berdo’a agar Allah menghadirkan seorang istri shalehah yang bertaqwa kepada Allah dan patuh pada suaminya. Tanyalah kepada siapa pun yang bisa ditanyai. Mintalah bantuan kepada siapa pun yang rela memberikan bantuan.
Berikhtiarlah di atas garis syari’at yang sudah ditetapkan. Bersabarlah untuk tidak mendekat pada proses-proses yang diharamkan. Hingga saatnya takdir benar-benar mendekatkan kita dengannya. Selanjutnya, dengan sangat percaya diri, kita akan menyambut datangnya pendamping terbaik, “khairunnisa”, siapakah khairunnisa itu?
“Khairunnisa” (Wanita Terbaik) adalah yang dapat menyenangkan hati suami apabila ia memandang, menaatinya apabila ia memerintah, dan tidak menentangnya dalam diri dan hartanya dengan sesuatu yang dibencinya.” (HR. Ahmad).
Sumber : Majalah Nurul Hayat